NovelToon NovelToon
My Sexy Daddy

My Sexy Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / One Night Stand / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Careerlit
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.

Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.

Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.

Farris Delaney.

Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.

Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.

୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yoyot Sang Preman

...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...

Begitu Farris pergi, aku tutup pintu dan bersender ke sana.

Gila.

Aku angkat tangan menyusuri wajah, ujung jariku menyentuh bibir.

Aku belum pernah dicium kayak begitu.

Hangatnya menyebar di dadaku, sementara perutku berkunang-kunang.

Aku memejam, tenggelam dalam ingatan saat tubuhnya menahanku di sofa, sementara mulutnya membelit mulutku yang hampir membuatku menangis karena haru.

Cowok itu benar-benar membuatku merasa spesial.

Jangan bodoh.

Aku buka mata, geleng-geleng kepala, lalu buka pintu dan pergi ke apartemen Nasrin.

Aku mengetuk cepat dan dia buka pintu dalam hitungan detik dengan senyum di wajahnya.

"Jadi, kamu sama bos kamu?"

"Hampir aja aku kena serangan panik waktu kamu mulai nanya-nanya ke dia!" balasku, sambil masuk ke dalam yang lebih hangat. "Farris enggak tahu kalau aku cuma tukang bersih-bersih di perusahaannya."

Kening Nasrin berkerut. "Kenapa?"

"Karena aku belum siap kalau dia tahu." Aku duduk di sofanya dan bilang, "Pemanas di apartemenku mati."

"Mau tidur di sini malam ini?"

"Enggak, aku masih punya selimut cadangan. Besok aku bakal bilang ke Marion biar dia benerin."

Nasrin duduk di kursi dan menatapku serius. "Jadi kenapa kamu belum siap bos kamu tahu kalau kamu kerja buat dia?"

"Ya jelas, lah." Aku mengibaskan tangan. "Tunjukin satu cowok tajir yang mau pacaran sama cewek yang bersihin toilet dan ngepel lantai!"

"Enggak ada yang salah jadi tukang bersih-bersih," gumam Nasrin. "Itu duit halal."

"Aku tahu." Aku mengeluarkan napas panjang. "Tapi gimana kalau dia tahu dan mecat aku?"

"Kenapa dia harus mecat kamu? Kamu enggak lakuin apa-apa yang salah."

"Iya, aku salah. Aku nyolong setengah jam waktu kerja buat nari di salah satu studio."

"Bilang aja kamu lakuim itu saat jam istirahat. Kamu boleh istirahat, kan?"

"Benar juga." Gigiku menarik bibir bawah, lalu aku melihat Nasrin. "Aku benar-benar suka sama dia."

Senyum melebar di wajahnya. "Iya? Kamu pikir dia juga suka sama kamu?"

Senyum bego muncul di wajahku saat aku mengangguk. "Cara dia cium aku bikin aku merasa spesial."

"Itu cuma cowoknya aja yang jago." Nasrin mengangkat alis ke arahku. "Tapi pastiin dia pakai pengaman sebelum kamu kena AIDS!"

Aku pasang ekspresi jijik. "Ih … jangan mulai bahas soal burung deh."

Sambil tertawa, dia bilang, "Kamu yang mulai ngomongin ciuman. Aku cuma mau pastiin kamu enggak hamil."

Ganti topik ke yang lebih aman, aku bertanya, "Menurut kamu, gimana Farris?"

Nasrin menggeleng. "Aku enggak sempat banyak ngobrol sama dia, jadi susah nilai." Dia angkat bahu lalu tertawa. "Entah itu cowoknya lagi naksir berat sama kamu, atau dia emang punya mental baja. Maksud aku, dia berani datang ke sini dan segala macam. Dia kelihatan enggak khawatir sama sekali soal keselamatan kamu."

"Iya juga," gumamku.

Farris memang kelihatan santai, kayak dia sudah sering ke sini.

"Ada satu hal lagi!" pikir Nasrin.

Mataku langsung ke wajahnya. "Apa?"

"Bajingan itu, Ambon. Itu cuma perasaan aku aja, atau dia emang ngangkat dagu ke arah kita pas lewat tadi?"

"Aku enggak lihat. Aku lagi sibuk natap kamu yang teriak-teriakin mereka. Kamu harus berhenti begitu!" tegurku.

Nasrin mengomel sesuatu yang enggak aku tangkap, lalu bangkit dari kursi. "Kamu mau kopi atau teh?"

"Enggak, aku baru minum kopi. Tapi makasih." Aku ikut berdiri. "Aku mau tidur. Sampai besok."

Nasrin mulai menyiapkan secangkir teh dan melihatku. "Mimpi indah, bocah."

"Kamu juga." Aku keluar dari apartemennya dan balik ke tempat aku.

Aku kunci pintu depan, matikan lampu ruang tamu, lalu jalan ke kamar buat ganti pakaian hangat, yang isinya celana training dan sweater.

Aku ke kamar mandi, cuci muka cepat, lalu berjuang melawan pasta gigi buat mengeluarkan sisa terakhirnya. Akhirnya aku robek saja bungkusnya dan tersenyum waktu lihat masih cukup buat besok pagi.

Aku sikat gigi, dan begitu selesai, aku mengeluarkan HP dari saku jaket lalu menaruhnya di meja samping ranjang buat mencharger semalaman.

Aku matikan sisa lampu dan merayap masuk ke bawah selimut di tempat tidur, bersandar manja ke bantal.

Pikiranku langsung dipenuhi Farris.

Kencan hari ini mungkin awalnya canggung, tapi akhirnya jauh lebih baik dari yang aku kira.

Farris menerima dengan baik soal tempat tinggal aku dan melihat langsung apartemenku apa adanya. Aku enggak merasa dia menghakimi.

Apa mungkin semua ini benar-benar bisa berjalan di antara kami?

Jantungku berdetak lebih cepat membayangkan pacaran sama Farris.

Tapi kenapa aku?

Dari sekian banyak perempuan yang dia temui tiap hari, kenapa dia memilih aku?

Dia bisa saja memilih salah satu balerina cantik. Atau penyanyi opera di gedung miliknya. Atau salah satu cewek kaya di circle nya.

Tapi yang kencan sama dia hari ini itu aku.

Dia cium aku.

Kalau dia cuma pengin seks, aku enggak bakal ketemu dia hari ini. Artinya, dia benar-benar tertarik sama aku.

Senyum bahagia merekah di bibirku.

Farris Delaney suka sama aku.

Ketukan di pintu depan menarikku keluar dari lamunan. Aku menghela napas, menyibakkan selimut, lalu bangun dari tempat tidur.

Aku nyalakan lampu, sementara suara ketukan makin kencang. Keluar dari kamar, aku lari ke pintu depan dan membuka kuncinya.

Sahara sempoyongan mencoba masuk, tapi aku dorong dia mundur.

"Nggak! Pergi dari sini!" geramku.

"Ayolah!" pekiknya. Mabuknya parah banget, sampai ajaib dia masih bisa berdiri. "Biarin Mama kamu masuk."

Pintu apartemen Nasrin terbuka. Begitu melihat Sahara, wajahnya langsung mengeras karena marah. "Cukup, Sahara. Cari tempat lain buat tidur."

"Diam! Kita lagi mau tidur!" teriak Nyonya Sonetta dari ujung koridor.

"Tutup mulut kamu!" balas Sahara sebelum kasih aku senyum linglung. "Aku lagi nengok anak perempuan aku yang cantik."

Sudah muak, aku mencengkeram lengan Sahara dan seret dia turun tangga untuk usir dia dari gedung.

"Hei, hei, hei!" ocehnya sambil berusaha mengikuti. "Jadi anak baik dan biarin Mama kamu tidur di sofa. Di luar dingin."

Aku tarik Sahara sampai trotoar dan hampir kena serangan jantung waktu melihat Yoyot, salah satu anak buah Ambon, parkir tepat di depan pintu masuk.

Sial.

Yoyot keluar dari mobil dan pasang wajah masam ke arah Sahara dan aku. Perutku mual dan otot-ototku menegang karena takut.

Sahara, sebaliknya, melirik si gangster, melepaskan diri dari pegangan aku, lalu kabur seperti pengecut.

Menggigil kedinginan, aku peluk diri sendiri sambil terus mengunci pandangan ke Yoyot.

Walaupun aku tahu kata-kata enggak bakal menghentikan dia, aku tetap bilang, "Kami enggak nyari masalah."

"Cuma jagain apartemen ini," gumamnya. "Dingin di sini, Bu. Masuk lagi!"

Apa?

Apaan ini?

Dia barusan manggil aku Bu?

Dengan dagu ternganga, aku menatap si gangster berbahaya itu.

Masih syok, aku cuma bisa nyeletuk satu kata. "K—kenapa?"

"Cuma jagain warga kami.” Dia menunjuk dagu ke arah pintu masuk. "Masuk."

Sejak kapan gengnya Ambon peduli sama “Warga sini”?

Bingung setengah mati, aku terus menatap Yoyot sambil balik ke gedung. Begitu sampai lantai tiga, Nasrin masih berdiri di dekat pintu yang terbuka.

"Jadi, barusan ada kejadian aneh," kataku. "Yoyot parkir di depan, bilang dia lagi jagain tempat ini karena dia," Aku bikin tanda kutip di udara, "Cuma jagain warga kami."

Kening Nasrin langsung mengeras. "Anak-anak bajingan itu lagi ngapain?"

"Enggak tahu." Aku jalan ke pintu depan. "Sahara kabur waktu lihat Yoyot. Aku rasa dia enggak bakal berani balik malam ini."

"Terima kasih, Tuhan!" gumam Nasrin.

Dia angkat daguku. "Balik tidur, gih!"

"Jangan hadapi Yoyot!" kataku sambil menatapnya serius.

"Iya, iya."

Aku menunggu sampai Nasrin menutup pintu depan sebelum balik ke apartemen ku. Aku mengunci pintu, lari balik ke kamar, dan cepat-cepat lepas sepatu. Aku nyemplung ke bawah selimut dan meringkuk buat menghangatkan badan lagi.

Dalam hitungan detik, pikiranku lagi-lagi dipenuhi Farris, dan dengan bayangan dia menciumku, aku pun tertidur.

1
Aditya hp/ bunda Lia
keluarga Marunda berkumpul dan Eva akan menjadi bagian nya nanti
Aditya hp/ bunda Lia
masa farris gak beliin baju?
Adellia❤
ya ampuun farriss ampe rela bersih" 😂😂
Adellia❤
sikap eva wajar bangett q yakin semua cewek polos yg enggak punya niat jahat akan bersikap sama kayak eva karna emang spt bumi dan langit minder pasti pesimis juga..
Adellia❤: hihi🤭🤭
total 4 replies
Adellia❤
duit emang bisa ngubah sikap orang😂😂
Adellia❤
enak bangett ya farrisss
Aditya hp/ bunda Lia
manisnya kaliaaaan ... 😍
Aditya hp/ bunda Lia
tuh kan farris gak apa-apa dia Nerima kamu apa adanya .... 👍
Aditya hp/ bunda Lia
mati kalian .....
ollyooliver🍌🥒🍆
lanjuttt
Adellia❤
hujaan tapi panass🔥🔥
Adellia❤
mo sampai kapan vaa
Adellia❤
eva lagi jalan" di pulau kapuk😂😂
Adellia❤
yeeyyy enggak ada sif pagi tidur sampai besok evaa😂😂
Ita Putri
karya yg menarik Thor
JD penasaran Endingnya
DityaR 🌾: Hehe, maciii🙏
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
dingin gini ada yang panas 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: segelas teh manis
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
nyanyi dong Farris .... jatuh cinta berjuta rasanya .... ahay sang mafia akhirnya jatuh cinta
Aditya hp/ bunda Lia
Nah ... udah ada bodyguard bayangan Eva 👍
Adellia❤
Eva sekarang km aman termasuk dari sahara😂😂
Adellia❤
ngobrol ajah dulu iclik kemudian🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!