Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang Osis dan Matematika
🕊
Bel pulang belum juga berbunyi, tapi kelas sudah mulai lengang. Beberapa bangku kosong, suara langkah kaki pelan terdengar menjauh satu per satu. Aku duduk di pojok kelas, kepala tertunduk di atas buku catatan, menulis ulang angka-angka dan rumus yang sebenarnya sudah kupahami, sekadar mengisi waktu sambil menunggu Tami.
Tanganku bergerak perlahan, menyalurkan sisa energi yang ada. Tapi di dalam dada, rasanya tetap hampa.
“Kaka Alea, kamu nggak ikut latihan OSIS hari ini?” suara Tami terdengar ceria saat ia duduk di sampingku, tasnya diletakkan begitu saja di lantai.
Aku mengangkat wajah sebentar. Wajahnya selalu sama—mata bulat yang berbinar, rambut terikat rapi, dan senyum hangat yang entah bagaimana selalu berhasil membuat suasana terasa lebih ringan. “Aku nunggu hari ini saja, Tami,” jawabku pelan. “Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dulu.”
Tami menepuk tanganku singkat, seolah mengerti kata-kata yang tak sempat kuucapkan. “Kamu tuh selalu serius banget, Kaka,” katanya sambil terkekeh. “Tapi justru itu yang bikin kamu kelihatan keren.”
Aku tersenyum tipis. Mendengar panggilan Kaka dari Tami selalu memberi rasa hangat yang aneh—akrab, manis, tapi juga getir. Sebutan itu mengingatkanku pada rumah, pada sepupu-sepupuku, pada Tante Gita, pada masa ketika aku masih merasa benar-benar menjadi bagian dari keluarga.
Bel akhirnya berbunyi. Aku menutup buku catatan dan menatap lorong kelas yang kembali ramai oleh siswa-siswa yang bersiap pulang. Tapi aku tidak langsung beranjak. Hari ini masih ada urusan OSIS yang harus aku selesaikan—jadwal kegiatan mingguan yang belum rampung.
Di ruang OSIS, Tami sudah lebih dulu menunggu sambil menata berkas. “Ayo, kita cek daftar peserta lomba minggu depan,” katanya antusias. “Aku siap bantu.”
Kami bekerja berdampingan—menyusun jadwal piket, memeriksa daftar nama, menyiapkan pengumuman. Tanganku sibuk, tapi pikiranku tetap melayang. Di antara kesibukan itu, aku merasa seperti berdiri di dua dunia: satu dunia yang ramai dan teratur, satu lagi dunia sunyi yang sepenuhnya milikku sendiri.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Pak Dimas, guru matematika, masuk dengan langkah tenang. “Alea, boleh bicara sebentar?” katanya. Aku terkejut, tapi segera mengangguk. “Iya, Pak.”
Tatapan Pak Dimas hangat namun serius. “Aku perhatikan kemampuanmu di matematika cukup menonjol. Sekolah akan mengirim peserta untuk Olimpiade Matematika. Aku ingin kamu ikut.”
Jantungku berdegup lebih cepat. Olimpiade? Aku? Pikiran tentang rumah, perjalanan pulang, OSIS, dan semua tanggung jawab lain berputar bersamaan. Tapi di balik gugup itu, ada sesuatu yang jarang kurasakan—harapan.
“Aku… aku bisa mencoba, Pak,” jawabku pelan. Pak Dimas tersenyum tipis dan menepuk bahuku. “Bagus. Aku yakin kamu mampu.”
Setelah beliau pergi, Tami langsung menepuk bahuku dengan semangat. “Kaka Alea pasti bisa! Aku dukung kamu.” Aku tersenyum, tulus kali ini. Tami—seperti OSIS dan perhatian kecil dari guru—adalah oase di tengah hari-hariku yang sering terasa kering.
Saat bersiap, pikiranku kembali ke rumah. Tentang Dahayu yang selalu mendapat perhatian. Tentang Adikara yang disiapkan menjadi penerus keluarga. Tentang Chandrika yang selalu dipeluk dengan penuh kasih. Dan tentang aku—yang ada, tapi jarang benar-benar dianggap.
Perjalanan pulang terasa panjang. Di angkutan pertama, aku duduk di pojok, menatap keluar jendela. Matahari sore merunduk perlahan, cahayanya hangat, tapi bayangan rumah dan kenangan lama terus menghantui.
Di angkutan kedua, suasana semakin ramai. Tawa anak-anak sebaya, wajah-wajah lelah orang pulang kerja. Aku menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. Kaka Alea, kamu bisa, bisikku dalam hati, mengingat kata-kata Tami.
Ketika kendaraan berhenti di depan rumah, aku melihat siluet Tante Gita di teras. Senyumnya menenangkan, tapi juga mengingatkanku bahwa kehangatan itu tidak selalu sepenuhnya untukku. Aku melangkah masuk… dan langsung merasakan sesuatu yang berbeda.
Rumah yang biasanya sunyi terasa hidup. Ada suara langkah cepat, bisik-bisik, dan ketukan pelan di dalam. Jantungku berdebar. Di ruang tamu, tampak bayangan seseorang—seseorang yang tidak seharusnya ada di sana.
Siapa itu…?
Rasa takut dan penasaran bercampur jadi satu. Dan di saat itu, aku sadar—hari ini bukan hari biasa. Hidupku tidak hanya akan menuntutku bertahan dalam sunyi, tapi juga menghadapi sesuatu yang belum pernah kuhadapi sebelumnya. Sesuatu yang mungkin… akan mengubah segalanya.
☀️☀️