Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
" kau akan di eksekusi"
Setelah terbongkarnya pengkhianatan Li Xuan, suasana istana sedikit lebih tenang, namun ketegangan antara Yang Chi dan Long Wei justru semakin memuncak.
Long Wei berdiri membelakangi Yang Chi, menatap keluar jendela ke arah lapangan eksekusi. Tangannya masih memegang ujung tali sutra merah yang mengikat mereka.
"Emmm... Kaisar," panggil Yang Chi pelan, suaranya sedikit gemetar. "Masalah Li Xuan sudah beres, merpati rahasia sudah tertangkap. Jadi... apakah saya tetap akan dibunuh?"
Long Wei membalikkan badannya perlahan. Tatapannya kembali menjadi dingin dan tajam, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu di kamar itu. Ia menarik tali sutra merah itu pelan, memaksa Yang Chi melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut sejengkal.
"Tentu saja," jawab Long Wei datar dan tegas. "Tugasmu sudah selesai. Kau sudah tidak berguna lagi bagiku, Xiao Xi."
Yang Chi merasa jantungnya seperti merosot ke perut. Ia lupa bahwa di dunia ini, ia berada di dalam tubuh seorang pembunuh yang asli. Long Wei adalah pria yang sangat mencintai Permaisuri Yang Nan, dan dendam itu tidak akan hilang hanya karena sebuah bantuan kecil.
"Tapi... tapi saya kan sudah bantu menangkap pengkhianat! Masa tidak ada pengurangan masa tahanan atau diskon hukuman mati gitu?" Yang Chi mencoba bercanda untuk menutupi rasa takutnya, meski matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Long Wei mencengkeram rahang Yang Chi dengan lembut namun kuat, memaksanya menatap langsung ke matanya. "Membantu menangkap Li Xuan tidak menghidupkan kembali istriku yang kau tusuk dengan pedangmu sendiri. Kau tetaplah seorang pembunuh, Xiao Xi Huwan."
Yang Chi menelan ludah. Ia ingin berteriak bahwa dia bukan Xiao Xi, bahwa dia hanya mahasiswa tahun 2026 yang sedang mengerjakan tugas kelompok dan tersasar ke sini. Tapi siapa yang akan percaya?
"Kalau begitu... lakukan sekarang," tantang Yang Chi tiba-tiba, suaranya parau. "Bunuh saya sekarang kalau itu bisa membuat Tuan merasa lebih baik. Tapi tolong, sekali saja... jangan buang tubuh ini ke sungai. Saya takut air."
Long Wei tertegun melihat keberanian di mata Yang Chi. Ia melepaskan cengkeramannya dan menatap tangan mereka yang masih terikat.
"Kau akan dieksekusi besok pagi saat matahari terbit," ucap Long Wei dingin sambil berbalik pergi, menyeret Yang Chi yang terpaksa mengikuti langkahnya karena tali itu masih menyatukan mereka.
Yang Chi tertunduk lesu. Ya Tuhan, kalau besok aku mati di sini, apakah aku akan bangun di kamarku lagi atau aku benar-benar akan menghilang? batinnya pasrah.
Suasana di dalam kamar yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sangat mencekam. Long Wei benar-benar kembali menjadi sosok Kaisar yang kejam dan tak kenal ampun.
Srak!
Long Wei melepaskan tali sutra merah yang selama ini mengikat mereka. Namun, bukannya memberi kebebasan, ia justru mengambil rantai besi yang dingin dari balik lemari senjatanya. Tanpa berkata-kata, ia menarik paksa tangan Yang Chi dan melilitnya dengan rantai tersebut. Tidak berhenti di situ, Long Wei juga memasang gembok besar pada kaki Yang Chi, menguncinya rapat pada tiang penyangga ranjang yang terbuat dari kayu jati kokoh.
"Malam ini kau jangan berani-berani kabur, Xiao Xi Huwan," desis Long Wei tepat di telinga Yang Chi. Suaranya dingin, seolah tidak ada lagi sisa-sisa kelembutan saat mereka tidur bersama sebelumnya.
Yang Chi meringis kesakitan karena logam dingin itu menekan kulitnya. Ia menatap kakinya yang kini digembok di tiang. "Tuan... Tuan benar-benar serius? Sampai digembok begini? Saya bukan binatang, Tuan," ucap Yang Chi dengan suara yang bergetar.
Long Wei berdiri tegak, merapikan jubah hijaunya tanpa menoleh lagi. "Binatang tidak membunuh karena nafsu kekuasaan. Kau lebih berbahaya dari itu. Tidurlah di lantai jika kau mau, karena besok pagi, kau tidak akan punya kesempatan untuk tidur lagi."
Long Wei melangkah pergi menuju meja kerjanya yang jauh dari ranjang, membiarkan Yang Chi terduduk lemas di lantai dengan kaki yang terikat pada tiang.
Yang Chi memeluk lututnya, merasa kedinginan. Kamar yang luas ini sekarang terasa seperti penjara yang sangat sunyi. Ia menatap punggung Long Wei yang sibuk memeriksa dokumen, seolah keberadaan Yang Chi sudah tidak penting lagi.
Sial, Yang Chi... kamu benar-benar akan mati di tangan tokoh utama yang kamu buat sendiri, batinnya sedih. Air mata mulai menetes di pipinya. Dulu aku bikin karakter Long Wei ini keren dan tegas, tapi kenapa pas ketemu aslinya dia malah sesadis ini?
Di tengah kesunyian malam itu, Yang Chi mencoba memutar otaknya. Ia tahu di bawah ranjang itu—karena ia sendiri yang mendesain denah istananya—sebenarnya ada sebuah tombol rahasia untuk melepaskan pengait tiang, namun tangannya tidak sampai karena rantai di tangannya terlalu pendek.
"Tuan..." panggil Yang Chi pelan di tengah malam. "Boleh saya minta permintaan terakhir?"
Long Wei tetap diam, namun gerakan tangannya yang sedang memegang kuas tinta berhenti sejenak.
"Besok kalau saya sudah tidak ada, tolong jangan benci tubuh ini terlalu dalam. Xiao Xi yang asli memang salah, tapi... jiwa yang sekarang ini benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu," bisik Yang Chi sebelum akhirnya ia meringkuk di lantai, mencoba tidur di tengah dinginnya marmer.
Long Wei masih tidak bergeming, namun matanya yang tajam menatap kosong ke arah dokumen di depannya. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sesuatu yang membuatnya ragu untuk benar-benar mengayunkan pedangnya besok pagi.