NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kehancuran Sektor

Seperti hamparan permata yang bersinar di tengah kegelapan, namun bagi Esmeralda Aramoa, gemerlap lampu neon tersebut tidak mampu menenangkan kegelisahan yang merambat di balik tulang rusuknya. Esme duduk di kursi belakang mobil dinasnya, menatap kosong ke arah luar jendela saat kendaraan melaju menuju markas besar pusat penelitian untuk menghadiri pertemuan darurat para investor. Panggilannya sebagai peneliti utama memang tidak bisa diabaikan, namun pikirannya tertinggal jauh di bawah tanah, di dalam sel kaca Ruang Isolasi 01.

Tepat saat pertemuan baru saja dimulai, sebuah getaran halus terasa dari saku jas lab Esme. Itu bukan panggilan telepon biasa, melainkan protokol peringatan tingkat tinggi yang terhubung langsung dengan sistem biologis AL. Esme merogoh sakunya, melihat layar perangkatnya yang kini memancarkan cahaya merah pekat. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat data yang masuk. Tingkat mutasi gen Enigma pada tubuh AL telah mencapai ambang batas absolut seratus persen.

Di laboratorium bawah tanah yang sunyi, transformasi akhir itu terjadi dengan cara yang paling mengerikan. AL, pria yang selama ini masih mampu bicara dan mengenali wajah Esme, kini telah hilang sepenuhnya. Kesadarannya sebagai manusia terkikis habis, digantikan oleh kegelapan yang murni dan dingin. Ingatan tentang masa lalunya, rasa sakitnya, bahkan nama yang diberikan padanya, semua itu terbakar habis dalam api genetik yang berkobar di dalam selnya.

AL tidak lagi meronta. Dia tidak lagi berteriak. Dia berdiri di tengah ruangan dengan keheningan yang mencekam, menjadi predator yang sangat pasif namun mematikan. Matanya yang kuning kini tidak lagi memancarkan amarah, melainkan kekosongan yang hanya memiliki satu tujuan tunggal: menghancurkan apa pun yang menghalangi instingnya untuk keluar.

Kejadian itu dimulai dengan suara retakan halus pada kaca temper yang seharusnya mampu menahan ledakan granat. AL tidak menghantamnya dengan tinju. Dia hanya menyentuhkan telapak tangannya, membiarkan energi kinetik dari mutasi Enigma yang tidak stabil merambat melalui material tersebut. Dalam sekejap, seluruh dinding kaca itu hancur berkeping-keping, berubah menjadi debu kristal yang beterbangan di udara.

Marcus, yang saat itu bertugas di ruang pengawasan, bahkan tidak sempat menekan tombol alarm darurat. Dia hanya melihat sesosok bayangan hitam bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. AL tidak melakukan serangan yang bertele-tele. Setiap gerakannya adalah efisiensi murni untuk membunuh. Dalam hitungan detik, ruang kontrol itu menjadi saksi bisu kebrutalan yang tak terlukiskan. Darah segar memercik ke layar monitor yang masih menampilkan grafik detak jantung AL yang kini telah berubah menjadi garis lurus yang konstan dan dingin.

Sistem keamanan fasilitas tersebut mencoba merespons. Gas penenang disemprotkan dari langit-langit, namun tubuh AL sudah tidak lagi mengenali zat kimia tersebut. Dia berjalan melewati kabut gas itu seolah-olah itu hanya udara pagi yang sejuk. Para ilmuwan yang sedang bekerja di lab luar berlarian dalam kepanikan saat mereka mendengar suara geraman rendah yang menggetarkan fondasi bangunan.

Kematian datang dengan sangat cepat bagi siapa pun yang berada di sana. Tidak ada teriakan yang berlangsung lama. AL bergerak seperti hantu di antara lorong-lorong beton, merobek pintu-pintu baja seolah-olah itu hanya kertas tipis. Orang-orang yang dulu memandangnya sebagai subjek eksperimen kini hanya berakhir sebagai tumpukan daging tak bernyawa di lantai keramik yang dingin. Seluruh fasilitas itu berubah menjadi ladang pembantaian dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Puncak dari kehancuran itu terjadi ketika sistem reaktor pusat laboratorium mengalami beban berlebih akibat kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh AL. Ledakan beruntun mulai mengguncang struktur bawah tanah tersebut. Api melahap semua data penelitian, menghanguskan tabung-tabung sampel genetik, dan meruntuhkan pilar-pilar penyangga utama. Laboratorium yang menjadi kebanggaan Leb City itu runtuh ke dalam dirinya sendiri, tertimbun oleh jutaan ton tanah dan beton.

Esme baru saja sampai kembali di area gerbang luar fasilitas tersebut saat ledakan terakhir mengguncang tanah di bawah kakinya. Dia keluar dari mobil dengan gemetar, melihat asap hitam membumbung tinggi dari lubang lift yang kini telah hancur. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang keluar dari sana. Suara sirine pemadam kebakaran mulai terdengar di kejauhan, namun Esme tahu bahwa sudah tidak ada yang bisa diselamatkan.

"Tidak mungkin... ini tidak mungkin terjadi," bisik Esme dengan suara parau yang tertelan oleh suara gemuruh api.

Tim penyelamat yang tiba beberapa jam kemudian hanya menemukan puing-puing yang masih membara. Mereka melakukan pencarian intensif selama berhari-hari, namun hasilnya nihil. Tidak ada satu pun ilmuwan yang selamat, dan yang lebih mengerikan, mereka tidak menemukan sisa-sisa dari subjek eksperimen nomor satu. AL menghilang tanpa jejak. Tidak ada mayat, tidak ada jejak kaki, seolah-olah makhluk itu telah menguap bersama ledakan tersebut.

Di tengah kekacauan itu, Esme berdiri di tepi garis polisi, menatap ke arah reruntuhan dengan mata yang sembap. Dia tahu betul bahwa AL tidak mati. Predator yang dia ciptakan itu kini bebas di luar sana, tanpa ingatan, tanpa hati, dan hanya dibekali insting untuk membunuh. Rasa bersalah yang selama ini menghantuinya kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Esme menyadari bahwa dunia tidak lagi aman, karena bayangan yang dia bentuk dengan tangannya sendiri kini sedang mengintai di suatu tempat, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.

Penelitian itu hancur tak bersisa, namun warisan berdarahnya baru saja dimulai. Di suatu tempat di pinggiran Leb City yang gelap, sesosok pria dengan mata kuning yang berkilat berdiri di atas bukit, menatap ke arah kota dengan ekspresi datar yang mengerikan. Dia tidak tahu siapa dirinya, namun dia tahu satu hal: perburuan ini baru saja dimulai.

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!