21+
Laura Anastasia, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun, pemilik sebuah panti asuhan. Suatu hari ia dihadapkan dengan kenyataan bahwa mendiang sang ibu yang telah meminjam uang sebanyak 300 juta kepada seorang rentenir. Dengan menggadaikan sertifikat tanah panti asuhannya.
Mampukah Laura mendapatkan uang itu dalam waktu 2 hari? Atau ia harus rela kehilangan panti asuhan milik orang tuanya?
Edward Alexander Hugo, seorang pria mapan berusia 35 tahun. Seorang pewaris tunggal dari keluarga Hugo. Sampai saat ini, tidak ada yang tau tentang status hubungannya. Tidak pernah terdengar memiliki kekasih, mungkinkah dia seorang pria lajang atau mungkin sudah beristri?
Hingga suatu ketika, sang gadis yatim piatu dan sang pewaris di pertemukan oleh sebuah TAKDIR.
“Aku hanya membutuhkanmu saat aku tidur, jadi kembali lah sebelum aku tidur”. Edward Alexander Hugo.
.
.
.
.
Hai, aku baru belajar menulis. Mohon kritik dan saran dari pembaca sekalian.
Terima Gaji 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5. Menerima Tawaran Edward
Dering alarm di pagi hari membangunkan Laura dari tidurnya. Semalam ia baru bisa memejamkan matanya saat waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 malam.
Tangannya terulur meraih ponsel untuk mematikan alarm tersebut. Namun matanya terbelalak saat melihat sebuah pesan di layar ponselnya.
‘Kak… Ibu sakit’
Itulah isi pesan yang di kirim oleh adiknya Leo, bayi laki-laki yang pertama kali ayahnya temukan. Yang usianya 5 tahun lebih muda dari Laura.
Laura langsung menghubungi nomer kontak Leo, di deringan ketiga baru diangkat. Mungkin adiknya itu baru bangun.
"Halo kak?" Suara serak khas bangun tidur Leo terdengar diseberangkan sana.
"Leo.. ibu sakit apa dek ?" Tanya Laura khawatir.
"Semalam ibu pingsan dan badannya demam kak".
"Leo.. berikan telpon nya pada bibi Lily". Perintah Laura.
"Halo... Lala ?" Suara bibi Lily terdengar dari seberang sambungan telepon.
"Halo bi.. apa yang terjadi dengan ibu, bi..?" Tanya Laura khawatir
"Maria demam sepertinya di memikirkan masalah uang ini, nak".
"Huhh..." Laura menghela nafasnya. Dia berpikir sejenak, dia tidak boleh egois dan mementingkan dirinya sendiri. Ada ibu, bibi dan adik-adiknya yang bergantung nasib padanya.
"Nak.. kamu masih disana?" Bibi Lily kembali bersuara.
"Iya Bi, aku masih disini. Bibi, tolong katakan pada ibu, jangan khawatir kan masalah uang, besok aku pulang dengan uang itu. Tolong rawat ibu, aku janji besok aku pulang dengan membawa uang itu". Kata Laura tegas
"Darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, nak ? Jangan katakan kalau kamu..?" Tanya bibi Lily curiga.
"Bibi tidak perlu khawatir, aku mendapatkan pekerjaan baru, dan atasanku memberi aku pinjaman, asalkan aku mau ikut bekerja dengannya, hemm, semacam menjadi asisten pribadi". Dusta Laura.
"Benarkah? Baik sekali atasanmu itu. Semoga Tuhan membalas kebaikannya".
"Amiin" tanpa sadar Laura mengamini ucapan bibi Lily. "Ya sudah bi, aku tutup dulu telponnya, aku akan bersiap menemui atasan baru ku". Pamit Laura
"Baiklah Nak, hati-hati dimana pun kamu berada".
Panggilan pun berakhir. Dengan menghela nafas panjang. Laura bangkit dari tempat tidurnya dan membersihkan diri. Ya, dia telah mengambil keputusan, Edward nama itu satu-satunya yang terlintas di benaknya kini.
*****
Laura tiba di parkiran bawah tanah gedung yang ia singgahi kemarin. Masih duduk didalam mobilnya, dengan menggenggam kartu nama yang diberi Edward, ia masih menimbang-nimbang, menghubungi atau tidak. Dan pada akhirnya.
"Ha-halo Tuan, ini aku Laura". Suara Laura seakan tercekat ditenggorokannya.
"Halo Ara. Ada yang bisa aku bantu". Suara maskulin menyapa dengan nada lembut.
"Tuan aku...aku ada di parkiran di depan lift apartemen mu". Suara Laura terdengar melemah.
"Tetap disitu, Jo akan menjemput mu".
Pangggilan pun terputus. Tak berapa lama, pintu lift terbuka. Ya, lift itu khusus lift menuju unit penthouse milik Edward, jika ingin masuk kedalam lift dari basemen, harus menggunakan kartu akses khusus, tetapi jika ingin masuk lift dari lantai atas menuju basemen, bisa tanpa menggunakan kartu akses.
"Selamat pagi nona". Sapa Jo dengan senyum manisnya.
"Pagi pak Jo". Jawab Laura dengan senyum canggung
"Mari nona, ikut aku". Jo menempelkan kartu akses masuk, lift terbuka dan mereka masuk kedalamnya.
Tak perlu waktu lama, lift sampai di lantai 20, lantai paling atas gedung. Pintu lift terbuka, menampakkan pintu unit penthouse yang masih terbuka lebar. Jo mempersilahkan Laura masuk.
Langkah Laura seakan melambat, ia seolah masuk kedalam kandang macam, keringat dingin tiba-tiba menetes, bulu kuduknya meremang. Akankah hidupnya berakhir hari ini? Batin Laura bertanya-tanya.
"Selamat pagi Ara.." suara bariton membuyarkan lamunan Laura
"Se-selamat pagi tuan".
"Mari nona, kita duduk dan sarapan bersama". Johan menawari.
"Terimakasih pak Jo, aku sudah sarapan tadi". Tolak Laura sambil duduk di sebalah kursi yang ditempati Edward.
"Katakan apa yang bisa aku bantu Ara?". Edward berpura-pura tidak tau maksud kedatangan Laura.
"Tu-tuan, kamu pasti sudah tau maksud kedatanganku ke sini kan. Aku..." Laura menjeda ucapannya dan menghela nafasnya dalam, lalu melanjutkan ucapannya "aku kesini ingin meminjam uang darimu tuan, aku menerima tawaranmu". Laura bicara sambil tertunduk, dan tangan saling mer*mas diatas pangkuannya.
"Jo... ambil uangnya bawa kemari". Johan pun meninggalkan mereka berdua menuju lantai dua unit itu.
"Jadi kamu setuju ? Apa kamu tau syarat apa yang aku minta untuk kamu gadaikan padaku?" Tanya Edward.
"Iya aku tau. Tuan menginginkan tubuhku kan?" Laura masih tetap menunduk.
"Tatap aku Ara, aku tidak suka berbicara dengan orang yang menunduk seperti itu. Aku di depan mu, bukan dibawah mu".
Laura pun menegakan kepalanya, takut-takut ia melihat ke arah Edward.
"Kamu benar Ara, aku memang menginginkan tubuhmu. Aku menginginkan kamu menjadi teman tidurku". Edward berbicara sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi serta melipat kedua tangannya didada.
Glek...
Laura menelan ludahnya kasar. Seakan tenggorokannya tersedak batu.
Belum sempat Laura bicara, Johan telah datang dengan membawa tas berisi uang sebanyak 300 juta. Ia meletakan di meja makan, di atara Edward dan Laura.
"Ini uangmu Ara. Bawalah uang ini ke panti mu, selamatkan adik-adikmu". Edward menyodorkan tas itu ke hadapan Laura.
Tangan Laura bergetar meraih tas itu. Ia mengurungkan menggapai tas itu, dan menarik tangannya lagi.
"Kenapa Ara? Ambilah, ini sekarang uangmu".
"Tuan, aku belum paham tentang syarat yang kamu ajukan padaku, bisakah kamu menjelaskannya lagi".
"Tentu Ara.. aku memberimu pinjaman uang ini, sebagai jaminan hutangmu, aku menginginkan tubuhmu sebagai teman tidurku. Besok setelah urusan mu dengan rentenir itu selesai, datanglah kemari bawa barang-barangmu. Kamu harus tinggal disini". Jelas Edward lantang. "Jo...."
"Ini tuan". Jo menyodorkan dompet kecil ke arah Edward.
Edward membukanya dan menyerah kan isi dompet itu kepada Laura. "Ara, ini kartu akses khusus untukmu memasuki lift". Ed menyerahkan kartu berwarna hitam. "Ini kartu akses masuk pintu utama penthouse ini". Kartu kedua berwarna silver. "Dan ini, kamu gunakan untuk uang jajanmu, membayar kuliahmu, atau apapun". Kartu ketiga adalah kartu kredit tanpa batas berwarna hitam.
Laura menolak kartu yang terakhir. "Tuan, tidak usah memberiku uang lagi, hutangku sudah banyak kepadamu, aku tidak mau berhutang lagi".
Edward kembali menyodorkan kartu itu. "Yang ini bukan pinjaman Ara, tapi aku memberimu secara percuma. Dan ingat Ara, aku tidak mau mendengar penolakan". Mata Edward menyorot tajam ke arah Laura.
Dengan gemetar Laura menerima ketiga kartu tersebut dan menyimpan nya didalam tasnya. Edward terlihat mengetikan sesuatu di handpone nya.
Ting...
Pesan masuk terdengar di handpone Laura.
"Itu pin kartu kreditmu Ara".
.
.
.
To be continue
bab nya jdi sama ceritanya
lanjutkeun... 👍👍👍
menguras emosi & air mata
terima kasih banyak
semoga judul2 yg lain lebih bagus lagi
semangat berkarya utk author
Tuhan memberkati 🙏