"Tapi, kalau gue kepilih nanti jadi ketua OSIS, lo harus jadi pacar gue." -Kavin
"Siapa takut!" -Alina
----------
Pernah gagal move on?
Apa yang kalian lakuin saat kalian gagal move on?
Kenalin, namaku Alina. Aku salah satu dari ribuan orang yang gagal move on. Namun caraku untuk mengurangi kadar kegalauan dari gagal move on adalah dengan menulis.
Hingga aku bertemu dengan dia, tanpa sengaja. Laki-laki tengil yang membuatku menaruh rasa.
Dan, inilah kisahku .........
-----------------
Update setiap hari ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prepti ayu maharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWL 33
"Jadi nanti nggak bisa jalan ya?" tanya Kak Arga di seberang sana dengan rasa kecewa.
"Maaf ya?" ucapku yang merasa tak enak dengannya.
Aku mendengar ia menghela napas.
"Yaudah, nggak papa. Kamu selesain aja dulu tugas kamu. Lagipula kita bisa jalan lain kali."
Aku tersenyum dan mengangguk refleks. "Iya,"
"Banyak banget ya tugasnya?" tanya Kak Arga yang belum mematikan sambungannya.
"Iya. Aku sampai pusing liatnya. Di kerjain aja belum, udah pusing duluan."
Kak Arga terkekeh di seberang sana. "Yaudah, di nikmatin aja. Namanya juga kuliah, pasti ada capeknya kalau tugas udah numpuk. Aku juga dulu gitu kok."
"Makasih ya,"
"Untuk?"
"Udah ngertiin," ujarku.
Kak Arga lagi-lagi terkekeh. "Iya sayang. 'Kan aku juga sering sibuk, jadi aku harus ngertiin kalau pacar aku juga sibuk."
Aku tersenyum. "Yaudah, kalau gitu, aku matiin ya telfonnya? Mau ngeprint tugas soalnya."
"Iya,"
"Assalamualaikum,"
"Wallaikumsalam,"
Aku kembali menaruh ponselku ke dalam saku dan bangkit dari dudukku karena antrian sudah mulai menipis.
"Lo nggak ngeprint, Ga?" tanyaku pada Yoga yang masih duduk di dekatku. Sedangkan Alia sudah mengantri sejak tadi.
"Print-in gue sekalian sih, Na. Edit aja nama lo jadi nama gue."
Aku menggeleng. "Ngeprint sendirilah. Alia aja ngeprint sendiri kok, jangan manja deh Ga," ujarku lalu berjalan menuju antrian.
Namun saat aku hendak berjalan, aku tak sengaja bertemu dengan Kavin. Aku segera membuang tatapanku ke arah lain dan pura-pura tak melihatnya.
"Alina,"
Namun sepertinya percuma, mata kami sudah bertemu. Aku pun menoleh dan tersenyum. "Hai, Vin?" ucapku menyapanya.
Aku sedikit bertanya mengapa ia berada disini. Tetapi aku baru menyadari bahwa tempat foto copy ini memang sangat dekat dengan Fakultasnya, jadi wajar jika banyak anak jurusan Manajemen yang mengeprint tugas disini.
"Sendiri aja?" tanya Kavin membuka bicara.
Aku menggeleng. "Sama temen-temen," ujarku.
"Ngeprint tugas?" tanyanya dan ku jawab dengan anggukan.
Kavin mengangguk mengerti dan tersenyum.
Melihat Kavin tersenyum malah membuatku tidak fokus dan salah tingkah seperti ini dan semakin canggung. Aih, Alina! Kamu apa-apaan sih? Ingat, kamu sudah ada Arga. Jadi, lupakan Kavin!
"Emm, Vin—"
"Na,"
Kavin melebarkan matanya dan tersenyum saat kami tak sengaja memanggil secara bersamaan.
Aku terkekeh dan menggaruk tengkukku yang tidak terasa gatal.
"Kavin," panggil Nabila yang berjalan mengahampiri kami dan langsung merangkul lengan Kavin.
Aku menelan salivaku dengan susah payah saat melihat tangan itu di rangkul begitu erat.
"Hai, Alina," Nabila tersenyum ke arahku dan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami, lalu beralih lagi kepada Kavin di sampingnya. Nabila menyenderkan kepalanya pada lengan Kavin sembari berkata, "Udah yuk," ajaknya.
Kavin terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Sebelum melangkah pergi, Kavin menoleh ke arahku dan tersenyum. Lalu tangan Nabila menariknya untuk segera pergi dan keduanya pun melangkah pergi dari pandanganku.
Aku menghela napas dan menatap kedua punggung itu dengan kedua mataku. Entah mengapa masih berat rasanya melihat Kavin bersama Nabila. Meskipun aku sadar sudah ada Kak Arga disini, di hatiku.
"Sampai kapan gue kaya gini, Vin?" lirihku dengan dada yang terasa sesak.
Ternyata aku memang masih belum bisa melupakannya. Terlalu berat hatiku untuk melakukannya. Meskipun otakku berusaha keras untuk melupakannya, namun tidak dengan hati kecilku. Hati kecilku seolah berhenti pada nama Kavin dan enggan untuk mengenal nama lain.
Dan nyatanya hati dan otakku tidak dalam satu frekuensi. Walau otakku menyebut Arga, tetapi hatiku masih memegang teguh nama Kavin.
Jangan lupa klik ❤️ dan tulis komentarnya ya!
napa Alina ga balik ma Rafa ja Thor..
biar g da hati yg terluka