Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Layvin
Minggu pertama bed rest Naura terasa seperti setahun.
Tujuh hari berbaring di tempat tidur dengan hanya langit langit putih sebagai teman, tujuh hari Bi Ijah yang bolak balik bawa makanan yang hampir ga pernah Naura habiskan, tujuh hari Nathan yang cuma masuk kamar sekali untuk taruh cek tambahan di meja nakas tanpa ngomong apa-apa.
Tujuh hari paling sepi dalam hidup Naura.
Sampai hari kedelapan.
Pagi itu Bi Ijah masuk dengan nampan sarapan seperti biasa, tapi kali ini ada yang beda.
Di samping semangkuk bubur ayam dan segelas susu hangat, ada kotak kecil dari kardus coklat dengan pita sederhana.
Naura duduk dengan punggung bersandar ke bantal, menatap kotak itu dengan alis berkerut, "Itu apa Bi?"
Bi Ijah menaruh nampan dengan hati hati, senyumnya tipis tapi ada kehangatan di sana. "Tadi ada yang antar ke pintu belakang Nyonya, titipan buat Nyonya."
"Dari siapa?"
Bi Ijah ga langsung jawab.
Dia buka kotak itu pelan pelan, di dalam ada mangkuk sup ayam ginseng yang masih panas mengepul, roti gandum yang baru dipanggang, buah buahan segar yang udah dipotong rapi, dan satu amplop putih kecil.
"Dari orang yang sangat peduli sama Nyonya," Bi Ijah akhirnya bilang sambil taruh amplop itu di samping mangkuk sup.
Naura meraih amplop dengan tangan yang entah kenapa gemetar.
Dia buka pelan, di dalam ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi, tulisan yang Naura langsung kenali.
Layvin.
"Nyonya Naura, saya dengar kondisi kesehatan Anda mengkhawatirkan. Ini sup yang saya buat sendiri, resep ibu saya untuk ibu hamil yang butuh kekuatan. Tolong makan yang banyak. Anda harus sehat, untuk diri Anda dan untuk bayi. Saya tau ini sulit, tapi Anda wanita paling kuat yang pernah saya kenal. Bertahanlah."
Kata-kata sederhana, tanpa kata romantis atau puisi gombal. Tapi entah kenapa, kata kata itu bikin dada Naura sesak dengan cara yang berbeda dari sesak karena sedih.
Ini sesak karena ada yang peduli, karena ada yang mengingat dia masih hidup. Sesak karena ada yang bilang dia kuat padahal Naura merasa dia paling lemah sedunia.
"Layvin," Naura berbisik sambil megang kertas itu erat. "Dia yang buat ini semua?"
Bi Ijah mengangguk. "Pak Layvin datang setiap pagi jam lima, sebelum security pagi datang, dia titip lewat pintu belakang, minta saya sampaikan ke Nyonya, dia bilang Tuan Nathan ga boleh tau."
Naura menatap mangkuk sup yang masih beruap. "Dia buat sendiri?"
"Iya Nyonya, saya liat sendiri pagi pertama dia datang membawa kotak ini, masih hangat banget, pasti dia bangun subuh buat masakin Nyonya."
Air mata Naura jatuh, tapi kali ini bukan air mata sedih.
Ini air mata karena ada seseorang di luar sana yang bangun subuh buat masakin dia sup, yang rela datang diam diam sebelum matahari terbit cuma buat pastikan dia makan, yang masih peduli walau dia udah dipecat dan dilarang dekati Naura.
"Kenapa dia lakuin ini, Bi," Naura ngelap air matanya tapi tetep jatuh lagi. "Dia udah gak ada hubungan sama aku, dia udah ga kerja sama Nathan, kenapa dia masih."
"Karena Pak Layvin sayang sama Nyonya," Bi Ijah bilang dengan lembut, tapi lembut yang tegas. "Saya tau itu dari dulu Nyonya, dari cara dia ngeliat Nyonya, dari cara dia selalu pastikan Nyonya baik baik aja, dari cara dia rela dimarahin Tuan Nathan berkali kali demi bela Nyonya."
Naura menggeleng. "Tapi dia ga pernah bilang."
"Karena dia tau posisinya," Bi Ijah duduk di pinggir tempat tidur. "Pak Layvin itu pria yang baik Nyonya, dia ga akan rusak pernikahan orang, dia cuma mau Nyonya bahagia, makanya dia diam aja walau hatinya sakit."
Naura menatap mangkuk sup dengan pandangan kabur.
Perlahan dia angkat sendok, ambil satu suap sup yang hangat dan gurih, rasa ginseng dan ayam menyebar di mulutnya, hangat turun ke perut yang udah lama ga ngerasa hangat dari makanan.
Rasanya enak, sangat enak. Bukan karena rasanya yang memang enak, tapi karena ada cinta di setiap suapan, ada kepedulian di setiap bumbu, ada perhatian di setiap potongan ayam yang dipotong kecil kecil supaya gampang dikunyah.
Naura makan perlahan, air matanya terus jatuh tapi dia terus makan, karena ini pertama kalinya dalam berhari hari dia bener bener pengen makan sesuatu, bener bener ngerasa makanan itu enak.
Setelah selesai, Naura ngelap mulutnya dan megang amplop itu lagi, membaca ulang kata katanya.
"Anda wanita paling kuat yang pernah saya kenal."
Gak ada yang pernah bilang dia kuat, Nathan bilang dia cengeng. Keluarga Erlangga bilang dia lemah dan ga pantas.
Tapi Layvin bilang dia kuat, dan entah kenapa, kata-kata itu bikin Naura pengen jadi kuat. Pengen buktikan Layvin gak salah.
Hari itu Naura makan lebih banyak dari biasanya, minum susu yang Bi Ijah kasih tanpa protes, bahkan tidur siang dengan lebih nyenyak.
Dan besok paginya, kotak coklat itu datang lagi. Kali ini isinya nasi tim ikan salmon dengan sayuran kukus, jus jeruk segar, dan sepotong brownies coklat.
Dan amplop dengan tulisan tangan yang sama.
"Nyonya Naura, semoga Anda tidur nyenyak tadi malam. Ini sarapan untuk hari ini. Bi Ijah bilang Anda kemarin makan habis sup nya, itu kabar paling baik yang saya dengar minggu ini. Terus makan yang banyak ya. Bayi butuh nutrisi, dan Anda juga. Ingat, Anda tidak sendirian dalam perjuangan ini."
Naura duduk di tempat tidur, sambil membaca catatan itu berulang kali. Tapi ternyata ada seseorang yang nemenin dari kejauhan, yang pastikan dia ga sendirian walau ga bisa masuk ke dalam pagar mansion.
Hari demi hari, kotak coklat itu terus datang. Setiap pagi jam lima lewat pintu belakang. Setiap pagi dengan menu berbeda yang sehat dan lezat. Setiap pagi dengan catatan yang berbeda tapi selalu hangat
Hari ketiga: "Dokter Arman bilang, kondisi Anda membaik. Saya sangat bersyukur mendengarnya, terus jaga kesehatan ya."
Hari keempat: "Ini resep ayam sup jahe ibu saya, katanya bagus untuk ibu hamil yang sering mual. Semoga membantu."
Hari kelima: "Bi Ijah bilang Anda mulai senyum sedikit. Saya senang sekali mendengarnya. Senyum Anda selalu menerangi hari."
Hari keenam: "Hari ini saya tambahkan bunga lavender di kotak, untuk membantu Anda tidur lebih nyenyak. Taruh di samping bantal ya."
Dan memang ada seikat kecil lavender segar di pojok kotak, Naura ngambil lavender itu, cium aromanya yang menenangkan, taruh di samping bantal seperti yang Layvin bilang.
Malam itu dia tidur lebih nyenyak dari malam malam sebelumnya, hari ketujuh, Naura mulai nunggu kotak coklat itu datang.
Bangun lebih pagi, duduk di tempat tidur, nunggu Bi Ijah masuk dengan senyum dan kotak yang udah jadi highlight hari harinya.
Dan kotak itu datang tepat waktu, tapi hari ini ada yang berbeda. Selain makanan dan amplop, ada kotak kecil lain di dalamnya.
Kotak kayu dengan ukiran bunga bunga kecil, Naura buka dengan tangan gemetar.
Di dalam ada gelang tangan dari batu giok hijau muda dengan ukiran kecil di setiap batu, gelang sederhana tapi cantik.
Dan catatan.
"Nyonya Naura, ini gelang dari ibu saya. Ibu bilang gelang ini punya doa doa untuk keselamatan ibu dan bayi. Ibu memberikannya untuk Anda. Semoga Anda dan bayi selalu sehat dan dilindungi. Ibu saya sangat ingin bertemu Anda suatu hari nanti, dia bilang wanita yang bisa bikin saya rela masak setiap subuh pasti wanita yang luar biasa."
Naura menatap gelang itu dengan air mata yang ga bisa ditahan lagi, Ibu Layvin, wanita yang bahkan ga kenal Naura tapi udah ngasih gelang berharga yang pasti punya nilai sentimental.
Naura pake gelang itu dengan tangan gemetar, ukurannya pas, dingin di kulit tapi entah kenapa bikin hati hangat.
"Bi," Naura memanggil dengan suara bergetar. "Aku pengen ketemu Layvin."
Bi Ijah terlihat ragu, "Nyonya, Tuan Nathan bilang."
"Aku ga peduli apa kata Nathan." Naura memotong dengan nada yang tegas, pertama kalinya dalam berbulan bulan dia bilang sesuatu dengan tegas. "Aku pengen bilang terima kasih, aku pengen dia tau aku." Naura berhenti, gak tau harus bilang apa.
Bi Ijah menatap Naura lama, terus akhirnya mengangguk. "Baik Nyonya, saya akan bilang ke Pak Layvin, tapi harus hati hati, ga boleh ada yang tau."
Malam itu jam sebelas, ketika mansion udah sepi, ketika Nathan udah pergi entah kemana seperti biasa, ketika semua lampu udah padam kecuali lampu kamar Naura, Bi Ijah ketuk pintu pelan.
"Nyonya, Pak Layvin ada di taman belakang."
Naura bangkit dari tempat tidur dengan jantung berdegup kencang, dia pake cardigan tebal di atas piyama, turun tangga dengan pelan supaya ga bikin suara, keluar lewat pintu belakang yang Bi Ijah udah bukakan.
Udara malam dingin menyentuh kulit, Naura jalan pelan ke taman belakang yang gelap cuma diterangi lampu taman yang redup.
Dan di sana, di bawah pohon magnolia besar, berdiri Layvin, Pria itu berbalik pas denger langkah kaki Naura, matanya membelalak liat Naura yang jalan ke arahnya dengan perut yang udah jelas membesar di balik piyama dan cardigan.
"Nyonya," Layvin langsung jalan cepat ke arah Naura. "Kenapa Anda keluar, udara dingin, Anda harus."
"Aku mau ketemu kamu," Naura memotong dengan suara pelan.
Mereka berdiri satu meter jaraknya, Naura menatap Layvin dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih."
"Untuk apa?" Layvin bertanya walau dia tau jawabannya.
"Untuk semuanya," Naura menunjuk ke gelang di tangannya. "Untuk sup setiap pagi, untuk catatan yang bikin aku kuat, untuk ga ninggalin aku walau kamu udah ga punya kewajiban, untuk..." suara Naura bergetar, "Untuk masih peduli waktu semua orang udah ga peduli lagi."
Layvin menunduk, tangannya masuk ke saku celana. "Itu hal yang wajar Nyonya."
"Bukan hal wajar," Naura melangkah lebih deket. "Gak ada yang wajar dari bangun subuh tiap hari buat masakin orang yang bahkan bukan keluarga kamu, ga ada yang wajar dari datengin mansion diam diam tiap pagi padahal kamu tau resikonya, gak ada yang wajar dari peduli sebanyak ini."
Hening.
Angin malam berhembus pelan, menerbangkan rambut Naura.
"Kenapa kamu lakuin semua ini Layvin?" Naura bertanya dengan suara yang hampir jadi bisikan. "Kenapa?"
Layvin mengangkat kepala, menatap Naura dengan tatapan yang penuh sesuatu yang Naura ga bisa baca tapi ngerasa sangat intens.
"Karena..." Layvin berhenti, rahangnya mengeras seperti berjuang dengan kata-kata yang pengen keluar tapi ga boleh keluar.
"Karena apa?" Naura mendekat lagi, sekarang tinggal setengah meter jarak mereka.
Layvin menutup matanya sebentar, napas panjang, terus buka mata dan menatap Naura dengan tatapan yang sekarang Naura bisa baca dengan sangat jelas.
Cinta.
Itu cinta.
"Karena saya tidak bisa melihat Anda menderita," Layvin akhirnya bilang dengan suara serak. "Karena setiap kali saya tau Anda sakit, saya ga bisa tidur, setiap kali saya tau Anda nangis, dada saya sesak, setiap kali saya bayangin Anda sendirian di kamar itu tanpa ada yang peduli, saya..." dia berhenti lagi.
"Kamu apa?" Naura berbisik.
"Saya ingin ada di sana," Layvin melanjutkan "Saya ingin jadi orang yang pegang tangan Anda waktu Anda takut, yang peluk Anda waktu Anda nangis, yang bilang semuanya akan baik baik aja walau ga tau itu bener atau bohong."
Naura merasakan air matanya jatuh.
Layvin melangkah lebih deket, sekarang cuma sejengkal jarak mereka, tapi dia ga sentuh Naura, tangannya tetep di saku seperti menahan diri dengan susah payah.
"Tapi saya tau posisi saya," Layvin tersenyum sedih. "Saya cuma asisten, Anda istri orang, Anda hamil anak suami Anda, jadi saya ga bisa bilang apa yang saya rasain, ga bisa lakuin apa yang saya pengen lakuin, cuma bisa bantu dari jauh dengan cara cara kecil seperti masakin sup dan kirim catatan."
"Layvin."
"Tapi saya ga nyesel," Layvin memotong. "Saya gak nyesel sama sekali, karena walau cuma bisa lakuin sedikit, setidaknya saya bisa pastikan anda makan, setidaknya saya bisa bikin Anda senyum walau cuma sedikit, setidaknya saya bisa..." dia berhenti, suaranya bergetar. "Setidaknya saya bisa bilang ke diri saya sendiri, bahwa saya udah coba lindungi wanita yang saya..."
Dia ga ngelanjutin tapi Naura tau kata yang hilang.
Cintai.
Wanita yang dia cintai, Naura berdiri di sana dengan hati yang sekarang penuh dengan perasaan yang dia ga ngerti.
Semua yang gak pernah dia rasain dari Nathan, yang dia rindukan sejak hari pertama pernikahan. Dan sekarang semua itu ada di depannya, dari pria yang bukan suaminya.
Dari pria yang harusnya ga boleh dia rasain perasaan apapun selain terima kasih. Tapi perasaan di dada Naura sekarang jauh lebih kompleks dari sekadar terima kasih.
"Anda harus masuk Nyonya," Layvin mundur selangkah. "Udara dingin, ga baik buat Anda dan bayi."
Naura gak bergerak.
"Nyonya."
"Aku gak tau harus bilang apa," Naura akhirnya ngomong. "Aku bingung, aku..." dia mengelus perutnya. "Aku hamil anak Nathan, aku istri dia, tapi dia..." suaranya pecah. "Dia gak pernah bikin aku ngerasa kayak, yang kamu bikin aku rasain sekarang."
Layvin menatap Naura dengan mata yang penuh kepedihan. "Itu salah Tuan Nathan, bukan salah Anda."
"Tapi aku tetep istrinya."
"Saya tau," Layvin mengangguk. "Makanya saya gak akan pernah meminta anda tinggalin dia, gak akan pernah minta anda pilih saya, saya cuma..." dia tersenyum sedih. "Saya cuma pengen Anda tau bahwa Anda tidak sendirian, bahwa ada seseorang di luar sana yang peduli, yang akan selalu ada walau cuma dari jauh, yang akan selalu pastikan anda baik-baik aja dengan cara apapun yang saya bisa."
Naura menangis, dan tidak bisa ditahan lagi. Dia nangis dengan isakan yang pecah pecah, tangan menutup mulut supaya ga keras, bahu bergetar.
Dan Layvin, dengan susah payah menahan diri, akhirnya melangkah dan peluk Naura.
Pelukan yang ga seharusnya, pelukan yang bisa disalah artikan kalau ada yang liat. Tapi pelukan yang Naura butuhkan sekarang.
Naura menangis di dada Layvin, tangan Layvin mengelus punggung Naura dengan lembut, dagu Layvin di atas kepala Naura.
"Saya akan selalu ada," Layvin berbisik di rambut Naura. "Selalu."
Dan Naura, untuk pertama kalinya dalam berbulan bulan, ngerasa aman. Ngerasa ada yang melindunginya, dan Naura nggak sendirian.
Walau hatinya, seharusnya untuk suaminya, tapi Nathan ga pernah bikin hatinya hangat seperti ini. Gak pernah bikin dia ngerasa berharga seperti ini.
Dan Naura, di pelukan pria yang bukan suaminya, di malam yang dingin dengan bayi bergerak di perutnya, akhirnya merasakan sesuatu yang udah lama mati di dadanya.
Harapan bahwa mungkin dia gak harus sendirian, mungkin ada yang bisa jadi teman di jalan yang gelap ini. Walau itu artinya melangkah ke territory berbahaya yang bisa menghancurkan semuanya.
ada laki2 lain yg perhatian dn menjaga,kenapa gk sm laki2 itu
lagian nathan jg selingkuh lbh baik naura pergi menjauh dari nathan.
daripd sakit hati tiap hari.
suami yg blm lepas dr masa lalunya gk akn percaya sm omongan istri sah nya.
buat apa tetap cinta dn bertahan.
pergi,cari kebahagiaanmu bersama anakmu sj