Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.
Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertukaran penyakit
Meskipun bukti pengkhianatan sudah terpampang nyata, politik di dalam klan Zhang ternyata jauh lebih busuk dari yang dibayangkan. Tibet Zhang, sang kepala keluarga, mengambil keputusan yang sangat tidak adil—sebuah hukuman yang "berat sebelah" demi menjaga nama baik klan di mata publik.
Tibet Zhang terdiam lama, lalu menghela napas berat. Alih-alih mengusir Paman Besar, ia justru berkata:
"Paman Besarmu... dia hanya terlalu bersemangat memikirkan masa depan klan. Dokumen ini akan disita, dan dia dilarang mengelola aset luar selama satu tahun. Itu saja."
Keluarga besar mengangguk setuju, sementara Paman Besar tersenyum licik sambil berdiri dan merapikan setelannya. Ia tidak kehilangan posisinya, hanya "ditegur" secara formal.
Mengenai David yang telah menipu kakeknya dengan luka palsu, Tibet Zhang hanya melambaikan tangan.
"David adalah harapan masa depan klan. Masalah luka ini hanyalah kenakalan anak muda. Biarkan dia tetap mendapatkan kompensasi medis dari kas keluarga."
Namun, kemarahan Tibet justru beralih kembali kepada Luna dan Chen Song. Ia butuh "kambing hitam" untuk meluapkan rasa malunya karena hampir tertipu.
"Luna! Kau telah mempermalukan pamanmu sendiri di depan umum. Dan kau, Chen Song... kau telah mencuri dokumen pribadi milik keluarga Zhang! Tindakan mencuri dan menguping tidak bisa dimaafkan dalam klan ini!"
Luna Zhang dicopot dari jabatannya sebagai direktur di perusahaan cabang.
Chen Song harus menerima 20 cambukan kayu di depan aula sebagai hukuman karena "berani ikut campur urusan internal klan" dan mencuri dokumen.
Mereka berdua diusir kembali ke Mansion Gou Tun dan dilarang menghadiri rapat keluarga selama enam bulan.
Keluarga besar kembali tertawa mengejek. Mereka merasa menang. Paman Besar menatap Chen Song dengan tatapan penuh dendam, sementara David Zhang tertawa sinis dari kursi rodanya.
Luna jatuh terduduk, air mata kemarahan mengalir di pipinya. Ia tidak menyangka kakeknya akan sepicik itu. Ia menoleh ke arah Chen Song, takut melihat suaminya disiksa.
Saat algojo klan mendekat dengan tongkat kayu besar untuk memulai hukuman cambuk, Chen Song masih terdiam. Namun, Mata Dewanya kini berkilat merah, bukan lagi emas. Ia melihat aliran Qi di tubuh Tibet Zhang yang kini berada di ambang pecah karena emosi yang tidak stabil.
Ketika tongkat itu diayunkan ke arah punggungnya, Chen Song tidak menghindar. Namun, tepat sebelum kayu itu menyentuh kulitnya, ia mengaktifkan Perisai Qi tak terlihat.
BRAKK!
Tongkat kayu itu pecah berkeping-keping saat menyentuh punggung Chen Song, namun Chen Song tidak bergerak sedikit pun. Semua orang di aula tertegun.
Chen Song menatap Tibet Zhang tepat di matanya. Suaranya kini terdengar seperti guntur yang tertahan:
"Kakek... kau baru saja membuang satu-satunya kesempatanmu untuk tetap hidup. Dalam sepuluh hitungan, pembuluh darah jantungmu akan pecah karena ketidakadilan yang kau buat sendiri. Dan saat itu terjadi, jangan biarkan paman pengkhianatmu ini yang menyentuhmu... karena dia hanya ingin memastikan kau benar-benar mati."
10... 9... 8...
Wajah Tibet Zhang tiba-tiba memucat. Ia memegangi dadanya, matanya melotot ke arah Chen Song dengan rasa takut yang amat sangat.
Senyum David Zhang merekah lebar, sebuah seringai penuh kemenangan yang menjijikkan. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi roda, menikmati pemandangan saat Chen Song—pria yang membuatnya kehilangan martabat di restoran—kini berdiri di tengah aula untuk menerima hukuman cambuk.
Bagi David, tidak masalah jika pengkhianatannya terbongkar sedikit, toh Kakek Tibet tetap membelanya. Melihat Chen Song dihina dan Luna menangis adalah obat terbaik bagi rasa sakit di kakinya.
David berbisik cukup keras agar Luna bisa mendengarnya, "Lihat itu, Luna. Di keluarga ini, kebenaran tidak ada artinya dibandingkan posisi. Suamimu tetaplah sampah yang akan dipukuli, dan kau tetaplah wanita yang akan kehilangan segalanya. Setelah ini, aku akan memastikan hidup kalian di Mansion Gou Tun seperti di neraka."
Ia tertawa kecil, menantikan suara tulang punggung Chen Song yang patah akibat cambukan. Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Saat hitungan Chen Song mencapai angka "3... 2... 1...", pemandangan di depan David berubah menjadi horor.
Tepat di saat David sedang tertawa puas, wajah Tibet Zhang tiba-tiba berubah menjadi ungu kehitaman. Suara tawa David terhenti seketika saat sang Patriark memuntahkan darah hitam pekat tepat ke arah dokumen pengalihan aset yang tadi diributkan.
Melihat kakeknya ambruk dan kejang-kejang, senyum David Zhang lenyap, digantikan oleh kepanikan yang murni. Jika Tibet Zhang mati sekarang tanpa mengubah hukuman untuk Paman Besar, maka seluruh klan akan jatuh ke tangan Paman Besar yang rakus, dan David tahu dia hanya akan menjadi pion yang dibuang.
"Kakek! Dokter! Panggil dokter!" teriak David histeris, mencoba menggerakkan kursi rodanya mendekat, namun ia terjatuh karena kakinya yang sebenarnya tidak separah itu malah membuatnya tersandung sendiri.
Di tengah kepanikan massal, di mana para paman mulai saling dorong dan para bibi menjerit, Chen Song tetap berdiri tegak. Ia tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya beralih dari Tibet Zhang yang sekarat menuju David yang tersungkur di lantai.
Chen Song berjalan perlahan mendekati David. Tekanan energi Qi yang dipancarkan Chen Song membuat David merasa sesak napas, seolah-olah ada gunung yang menindih dadanya.
Chen Song: (Merunduk di depan David yang ketakutan) "Kenapa berhenti tersenyum, David? Bukankah ini yang kau inginkan? Kekacauan... kehancuran... dan kematian? Sekarang perhatikan baik-baik, karena hanya aku yang bisa menentukan siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati di ruangan ini."
Minghua, melihat suaminya (Tun Zhang) hanya bisa diam mematung dan ayahnya (Tibet) di ambang maut, akhirnya lari mendekati Chen Song. Ia mengabaikan harga dirinya, mengabaikan tatapan keluarga besar, dan berlutut di depan menantunya itu.
Minghua: "Chen Song... aku mohon... selamatkan Ayahanda Tibet. Apapun... aku akan melakukan apapun yang kau minta! Tolong hentikan ini!"
Dalam kekacauan yang melanda aula Puri Utama, Chen Song melihat peluang emas untuk melakukan sebuah "eksperimen" yang sangat gelap. Menggunakan kombinasi Mata Dewa dan Ilmu Pengobatan Surgawi, ia akan melakukan sesuatu yang melampaui logika medis manusia: sebuah pemindahan energi kehidupan dan organ secara metafisik.
Chen Song melambaikan tangannya, melepaskan gelombang Qi yang sangat kuat hingga menciptakan kabut tipis dan tekanan udara yang membuat mata semua orang di aula terasa perih dan pandangan mereka mengabur. Dalam sekejap, semua orang merasa pusing, seolah-olah waktu melambat.
Dengan Mata Dewanya, Chen Song melihat jantung Tibet Zhang yang sudah hampir mati—berwarna hitam dan penuh sumbatan. Di saat yang sama, ia melihat jantung David Zhang yang masih muda dan kuat, namun penuh dengan energi busuk hasil dari kelicikannya.
Chen Song menggerakkan jarinya seperti pisau bedah yang tak terlihat. Menggunakan teknik "Perpindahan Inti Surgawi", ia tidak membedah dada mereka secara fisik, melainkan menukar esensi kehidupan dan fungsi organ mereka melalui titik-titik meridian.
Untuk Tibet Zhang Ia menerima esensi vitalitas dari jantung David. Tiba-tiba, wajahnya yang ungu kembali memerah, napasnya stabil, namun ada sesuatu yang "dingin" di dalam dirinya.
Untuk David Zhang Tanpa disadari, jantungnya mulai "mengeriput" dan membusuk di dalam dada. Ia menerima semua penyakit, sumbatan, dan rasa sakit yang seharusnya membunuh Tibet Zhang.
Chen Song sengaja menyisakan sedikit benang energi di antara keduanya. David tidak akan mati seketika, tapi setiap kali Tibet Zhang merasa marah atau sakit, David akan merasakan rasa sakit yang sepuluh kali lebih hebat. David kini menjadi wadah rasa sakit bagi sang Patriark.
Hasil yang Mengejutkan
Kabut menghilang. Tibet Zhang tiba-tiba terduduk dan menghirup napas panjang, tampak jauh lebih sehat dari sebelumnya. Semua anggota keluarga bersorak, menganggap Chen Song benar-benar seorang tabib dewa.
Namun, di sudut ruangan, David Zhang tiba-tiba memegangi dadanya. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin bercucuran, dan ia merasa seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya.
David: (Suara parau) "Kakek... dadaku... sesak sekali..."
Tibet Zhang (Bangkit dengan segar) "Diamlah David! Kau hanya kaget. Lihat aku, aku merasa seperti kembali berusia 40 tahun! Chen Song... kau... kau benar-benar memiliki kemampuan."
Chen Song berdiri di antara mereka, menatap David yang kini menatapnya dengan ketakutan yang tak terlukiskan. David menyadari ada yang salah, namun ia tidak bisa menjelaskannya.
Chen Song mendekati David dan berbisik sangat pelan, hanya untuk telinganya:
"Sekarang kau adalah bank nyawa bagi kakekmu. Jika dia mati, kau mati. Jika dia sakit, kau menderita. Mulai sekarang, kau akan menjadi orang yang paling bersemangat menjaga kesehatan kakekmu, bukan?"
Setelah ritual gelap itu selesai, aura menekan yang dipancarkan Chen Song tiba-tiba lenyap. Ia kembali membungkukkan tubuhnya sedikit, memasang wajah lelah yang dibuat-buat, dan menghapus kilatan emas di matanya. Di mata keluarga Zhang yang awam, apa yang baru saja terjadi hanyalah serangkaian gerakan tangan aneh dan keberuntungan belaka.
Saat Tibet Zhang mulai bisa bernapas lega, Chen Song berpura-pura hampir pingsan. Ia menyeka keringat di dahinya dan berbicara dengan nada gemetar yang sengaja dibuat agar terdengar seperti orang yang hanya beruntung.
Chen Song "Kakek... syukurlah. Sepertinya teknik pijat kuno yang aku pelajari dari buku loak di pasar Gou benar-benar manjur. Aku hanya menekan titik-titik yang katanya bisa melancarkan napas. Aku sendiri tidak menyangka Kakek akan bangun..."
Mendengar penjelasan "bodoh" itu, Paman Besar dan kerabat lainnya yang tadi sempat ketakutan mulai mengembuskan napas lega. Mereka ingin percaya bahwa Chen Song tetaplah si sampah yang beruntung, bukan sosok sakti.
Paman Besar "Cih! Jadi hanya pijatan keberuntungan? Aku pikir dia punya sihir. Dasar sampah, kau hampir membuat kami jantungan dengan gerakan tangan anehmu itu!"
Bibi Luna "Lihatlah dia, wajahnya pucat. Pasti dia tadi hanya asal tekan. Jangan besar kepala, Chen Song. Kau hanya alat yang kebetulan berfungsi di saat darurat."
Berbeda dengan yang lain, David Zhang tidak bisa ikut mencemooh. Ia merasakan jantungnya diremas oleh tangan tak terlihat. Setiap kali ia ingin berteriak bahwa Chen Song melakukan sesuatu yang jahat padanya, suaranya tercekat. Di mata orang lain, David hanya tampak syok karena kakinya yang patah dan serangan asma mendadak.
Chen Song melirik David sambil tersenyum kikuk, seolah meminta maaf. Namun di dalam batinnya, ia tertawa melihat David yang kini memikul beban penyakit Tibet Zhang.
Hanya Minghua Zhang yang tidak sepenuhnya percaya pada akting Chen Song. Ia melihat bagaimana mata Chen Song sempat berkilat sebelum Tibet Zhang bangun. Namun, karena Chen Song terus bersikap seperti pelayan yang bodoh di depan umum, Minghua tidak punya bukti.
Tibet Zhang (Meski merasa segar, sifat angkuhnya kembali karena merasa Chen Song hanya "beruntung") "Ehem! Ya, meskipun hanya keberuntungan, kau sudah menolongku. Tapi jangan lupa, kau tetap harus menjalani hukuman karena mencuri dokumen! Tapi... karena aku sedang senang, hukumannya dikurangi menjadi membersihkan seluruh toilet di Puri Utama selama seminggu!"
Chen Song menunduk patuh. "Baik, Kakek. Terima kasih atas kemurahhatian Anda," jawabnya dengan nada patuh yang menjijikkan bagi Luna.