DALAM TAHAP REVISI
AUTHOR GAK JAMIN CERITANYA BAKAL SERU
KALAU PENASARAN SILAHKAN DIBACA
Arkan dan Arta si pria cupu dan gadis cacat di persatukan dalam ikatan pernikahan untuk menyelamatkan nama keluarga kedua belah pihak lebih tepatnya menyelamatkan nama keluarga Arkan dan mantan tunangannya yang merupakan sepupu Arta.
Arta dahulu gadis yang ceria dan cantik hingga sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya mengubah segala hal dalam hidupnya.
Ia harus hidup terpisah dari sang kakak yang memiliki kepribadian ganda akibat kejadian di masa lalu, ia tinggal bersama keluarga Mahendra adik dari sang Ibu yang telah berpulang.
Bukannya disayangi, Arta justru mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental di rumah itu, tak sampai disitu ia harus mengganti posisi sepupunya uuntuk menikah dengan Arkan karena pria cupu itu telah jatuh miskin.
Namun, ada rahasia dibalik semua kejadian yang mereka alami bahkan identitas keduanya adalah rahasia terbesar yang mereka simpan selama ini.
Sang kakak menaruh curiga pada keluarga Mahendra menyebabkannya mencari tahu penyebab kecelakaan keluarga mereka.
Kejadian demi kejadian saling bertautan, merangkai puzzle menjadi satu gambar yang utuh.
Kisah cinta mereka telah diulai, misteri dibalik kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya akan diungkapkan oleh alter ego sang kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kak Arkan !!
Arkan dan keluarga kecilnya kembali ke Mansion utama keluarga Whitegar. Arta dan Arkan bersama-sama menemani si kembar bermain di taman belakang rumah itu.
"Sayang kalian mau main di taman?" tanya Arkan pada si kembar yang sudah selesai mandi.
"Mau Pa" seru si kembar semangat.
"Loh kak disini ada taman? kok Arta gak liat" ucap Arta yang memang belum tahu seluk beluk rumah besar itu.
"Ada, ada hewan peliharaan juga, oh iya kamu ingat anak anjing yang kemarin kamu kejar di rumah Mahendra?" tanya Arkan.
"Oh iya Domi!!! astaga bagaimana aku bisa lupa sama anak anjing malang itu" ucap Arta menepuk jidatnya seketika ia mengingat anak anjing yang diselamatkannya di jalan raya kala itu.
"Iya Kakak yang bawa kesini.Ya udah yok ke belakang" ucap Arkan membawa mereka ke taman belakang rumah itu.
Arta dan si kembar J dibuat terkagum-kagum dengan penataan taman belakang rumah itu, disana juga ada ruangan khusus seperti kandang namun langsung terhubung ke taman sebagai tempat tinggal beberapa hewan peliharaan disana.
"Wahh cantik sekali Pa" seru Jeni berlarian kesana kemari.
"Wah ini anjingnya lucu lucu banget Pa, Ma" ucap Josua yang lebih tertarik dengan 3 ekor anjing peliharaan disana.
"Ya udah main gih" seru Arkan pada mereka berdua.
Sementara itu, Arta pergi untuk menyiapkan beberapa snack untuk mereka. Beberapa menit kemudian ia sudah selesai dengan beberapa snack dan minuman untuk menemani mereka bermain.
Saat ia berjalan menuju taman, tak sengaja Arta mendengar percakapan Arkan yang tengah bertelepon dengan seseorang. Raut wajah Arkan tampak sangat bahagia.
"Kak Arkan bicara dengan siapa? bahagia sekali" batin Arta sambil menatap Arkan dari jauh.
"I Miss you too my girl, okay let's meet!!" ucap Arkan semangat mengakhiri teleponnya.
Arta terkejut mendengar ucapan Arkan. Ia menutup mulutnya dengan satu tangannya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Ia menetralkan perasaannya lalu memasang wajah datar seolah tak mendengar apa-apa lalu duduk di bangku taman sambil memandangi si kembar. Ia berusaha positif thinking dengan apa yang baru dia dengar.
"Sudah selesai?" tanya Arkan menghampiri Arta.
"Sudah" jawab Arta datar.
"Ar, gue mau keluar bentar ya mau jumpa temen" ucap Arkan.
"sejak kapan kak Arkan ngomong 'gue elo' ke aku?" batin Arta.
"Mau ketemu siapa kak?" tanya Arta tenang.
"Temen, gak lama kok. Lo mau titip apa biar gue bawa nanti" balas Arkan.
"nggak ada kak" jawab Arta.
"Ya udah,gue pamit ya" seru Arkan lalu langsung beranjak meninggalkan Arta tanpa mendengar balasan perempuan itu.
"Hufft apanya yang memulai dari awal. Sekarang aja dia bohong hiks hiks" ucap Arta, tak terasa matanya mulai menganak sungai karena perubahan tiba-tiba Arkan tadi.
"Mama ini anjing kecilnya namanya siapa!!" teriak Josua menghentikan tangisan Arta. Arta dengan cepat menghapus air matanya, lalu melupakan kejadian tadi sebab ia tahu si kembar akan mendengar nya, lalu beranjak menuju Josua yang tengah duduk di atas rumput.
"Oh itu namanya Domi sayang, Mama yang temuin di jalanan terus Papa yang bawa kesini" jelas Arta sambil tersenyum dan mendudukkan tubuhnya di samping Josua, menutupi perasaannya yang kacau.
Hari sudah malam, jam menunjukkan pukul 21.00. Si kembar sudah terlelap mengarungi dunia mimpi mereka. Mereka dengan cepat terlelap setelah seharian bermain.
Sementara Arta masih menunggu Arkan yang tak kunjung pulang sejak menerima panggilan telepon tadi. Ponselnya pun tak bisa dihubungi, Arta khawatir terjadi apa-apa dengan suaminya itu.
Kakak iparnya tidak pulang karena harus menginap di kantor. Arta ingin keluar mencari Arkan. Namun, ia tak tega meninggalkan si kembar yang baru beradaptasi dengan lingkungan baru itu.
"Astaga kenapa Kak Arkan nggak bisa di hubungi? apa ia bersama wanita lain? siap perempuan yang berbicara dengannya di telepon tadi? bukannya kak Arkan gak punya saudara perempuan? " kesal Arta.
Akhirnya Arta menunggu di ruang tamu, karena mengantuk Arta terlelap di ruangan itu. Pak Kus dan pelayan lain sudah memintanya untuk kembali ke kamar namun tak dihiraukan oleh Arta.
Sudah tiga hari Arkan tidak pulang ke rumah. Ponselnya pun tidak aktif, kakak ipar Arta juga tidak pernah pulang selama 3 hari karena memang tengah mengurus perusahaan.
Bukannya Arta tidak bisa melacak Arkan, ia mencoba berpikiran positif dengan apa yang terjadi.
Hari ini adalah jadwal melepas perban di wajah Arta. Dia berangkat sendirian dan menitip si kembar pada Pak Kus. Hatinya khawatir tak karuan karena belum mendapat kabar apa-apa dari Arkan.
Arta sebelumnya sudah membatalkan rencana piknik mereka dengan Kakaknya Roki.
Sesampainya di rumah sakit, Arta langsung menjalani prosedur terakhir untuk wajahnya. Dan begitu beruntungnya, bekas luka itu sudah sirna dalam waktu tiga hari.
"Wah Nona, anda memiliki pemulihan yang paling cepat dari semua pasien yang saya tangani" puji Dokter kulit itu.
"Terimakasih dok, ini semua berkat kerja keras kalian" ucap Arta menatap wajahnya di depan cermin. Wajah yang mulus tak bercacat, ah seandainya suaminya melihat itu tapi ya sudahlah Arta hanya berharap tidak terjadi apa-apa dengan Arkan.
"Hari ini aku ke Cafe, sudah lama tak berkunjung ke sana" gumam Arta melajukan mobilnya menuju Star Cafe.
Arta masuk dengan menggunakan masker, karena belum saatnya orang-orang tahu perubahan dirinya.
"Selamat pagi nona!" sapa seorang pelayan yang mengenal Arta.
"Pagi, tolong buatkan seperti biasa ya " ucapnya lalu berjalan ke arah kursi tempat ia biasanya duduk.
Arta mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang disana.
"Halo, segera kirimkan seluruh laporan perusahaan hari ini, jangan sampai ada yang tertinggal" ucap Arta datar lalu mematikan ponselnya.
beberapa menit kemudian pesanannya tiba,"silahkan dinikmati nona, saya permisi!" ucap si pelayan.
"Terimakasih" balas Arta.
Arta melanjutkan pekerjaannya yang sudah lama tertunda. Ia lebih memilih bekerja di Cafe daripada harus turun tangan secara langsung di Perusahaan.
"Hahahah, Lo hebat Ar!" tawa seorang gadis di seberang meja Arta.
"Beruntung kita bisa memanfaatkan perempuan itu" ucap seorang pria.
Arta yang mendengar percakapan mereka merasa tidak asing dengan suara itu. Kemudian ia melirik ke arah meja sumber suara itu, disana ia melihat suaminya bersama seorang gadis yang menggandeng tangannya dengan mesra.
"Kak Arkan!!" teriak Arta bangkit berdiri menatap ke arah mereka berdua.
Sontak Arkan dan gadis itu terkejut mendengar teriakan Arta. Arta tak kuasa menahan tangisnya, ia membereskan barang-barang nya lalu berlari meninggalkan Cafe itu.
"Ar itu siapa?" tanya gadis itu.
"Waduh itu Arta!!" seru Arkan panik, ia segera mengejar Arta yang sudah berlari meninggalkan mereka di Cafe itu.