NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Air Mata Tak Lagi Cukup

Lima bulan kehamilan.

Perut Lestari sekarang udah jelas keliatan besar. Nggak bisa disembunyiin lagi. Kalau jalan, perutnya menonjol ke depan, bikin punggungnya sakit—kayak ada beban berat nangkring di depan badan.

Kulitnya makin kusam. Rambut nya makin rontok—sekarang udah ada bagian botak kecil di bagian pelipis kanan, tempat yang sering dia garuk-garuk kalau lagi stres.

Kaki nya bengkak. Bengkak parah. Pergelangan kaki nya udah nggak keliatan—cuma betis yang langsung nyambung ke kaki, bengkak berisi air.

Gigi nya mulai goyang. Gigi geraham bawah sebelah kiri—goyang kalau dipake ngunyah. Nyeri terus. Tapi dia nggak bisa ke dokter gigi. Nggak ada uang.

Badannya... badannya kayak rongsokan. Tapi perutnya terus tumbuh.

---

Pagi itu—Senin pagi, awal minggu—Lestari bangun dengan badan lebih sakit dari biasanya.

Pinggang nya kayak ditusuk-tusuk. Punggung bawahnya kayak ada yang menekan keras. Kaki nya kram—kram parah sampe jari-jari kaki nya mengkerut sendiri, nggak bisa dilurusin.

"Aahhh..." Lestari mengerang pelan, tangan nya memijit betis sendiri. Memijit keras biar kramnya ilang.

Lima menit memijit, baru kram nya agak berkurang.

Dia bangun—pelan banget, satu tangan nahan pinggang, satu tangan nahan kasur buat menyangga badan. Berdiri juga susah—kayak nenek-nenek yang tulang nya udah rapuh.

Padahal dia baru delapan belas tahun.

Delapan belas tahun tapi udah kayak orang tua.

Dia wudhu. Shalat subuh. Sujud nya sekarang susah—perut nya udah gede, jadi posisi sujud nggak sempurna. Dia cuma bisa nunduk dikit, kepala nggak nyampe ke lantai.

Tapi dia tetep shalat. Tetep berdoa.

"Ya Allah... lindungi anak ini... lindungi Ibu... kuatkan Ibu... kumohon... Ibu udah nggak kuat lagi tapi Ibu harus kuat... kumohon bantu Ibu..."

Selesai shalat, dia ke dapur. Mulai masak.

Hari ini menu nya sama kayak kemarin—nasi, telur dadar buat Dyon sama Wulandari, tahu goreng. Lestari? Nanti dapet nasi sama kecap. Itu aja.

Tahu buat dia? Nggak ada. "Tahu mahal, lo makan nasi aja cukup!" kata Wulandari kemarin.

Jadi Lestari cuma makan nasi pake kecap manis. Kadang ditambah garam biar ada rasa asin. Gizi? Nggak ada. Protein? Nggak ada. Vitamin? Apalagi.

Tapi dia harus tetep kerja. Cuci baju tetangga. Beresin rumah. Masak. Nyuci piring.

Semuanya.

Sendirian.

Dengan perut gede yang bikin susah gerak.

---

Siang itu, sekitar jam dua belas, Lestari lagi nyuci baju di belakang rumah. Baju nya banyak banget hari ini—Ibu Tini bawa tiga karung. Tiga karung baju kotor buat dicuci.

"Maaf ya, Lestari, anak-anak lagi musim sakit semua, jadi bajunya banyak banget. Kamu kuat kan?" tanya Ibu Tini tadi pagi waktu nganter baju.

Lestari cuma senyum—senyum dipaksain—terus bilang, "Kuat, Bu. Nggak masalah."

Padahal... dia nggak kuat. Badan nya udah minta istirahat dari kemarin. Tapi kalau nggak kerja, nggak dapet uang. Kalau nggak dapet uang, nggak bisa beli makanan.

Jadi dia tetep kerja.

Tangannya menyikat baju—menyikat keras, kena sabun batangan yang kasar, bikin kulit tangan nya merah, lecet, pecah-pecah. Kuku nya item—item nggak bisa dibersihin lagi, kotoran udah nempel permanen.

Keringat mengucur dari dahi. Mataharinya panas banget—terik nusuk kulit. Tapi dia nggak bisa berhenti. Harus selesai hari ini. Besok harus diantar.

"Ugh..." Lestari mengerang. Pinggang nya makin sakit. Kayak ada yang narik dari dalem.

Dia berhenti sebentar. Lurusin punggung—KREK—ada suara tulang yang bunyi. Tangan nya mengelus pinggang, memijit dikit.

Napasnya berat. Dada nya naik-turun cepet.

Tiba-tiba—

"LESTARI!"

Suara Wulandari dari dalem rumah. Suara nya keras, nyaring, jutek.

Lestari cepet-cepet berdiri—berdiri terlalu cepet, kepala nya pusing—pandangan nya gelap sebentar, kayak mau pingsan. Untung nggak jadi.

"I—iya, Mamah!" Lestari jalan ke dalam. Jalan pelan, tangan nahan pinggang.

Wulandari berdiri di ruang tamu, tangan di pinggang, muka jutek maksimal. Di tangan nya ada piring—piring makan siang yang udah kosong.

"Lo cuci piring gue tadi pagi nggak bersih! Masih ada nasi nempel!"

Lestari nunduk. "Maaf, Mamah... aku cuci lagi—"

"CUCI LAGI GIMANA?! Gue udah makan pake piring ini! Lo pikir gue mau makan piring kotor?!"

"Maafin aku, Mamah... aku nggak sengaja—"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Lestari. Pipi nya udah biasa ditampar—udah sering—tapi tetep aja sakit. Perih. Panas.

Lestari terhuyung, tangan nya nahan pipi. Matanya berkaca-kaca.

"Besok lo cuci piring yang bener! Nggak boleh ada sisa makanan nempel! Ngerti?!"

"Ngerti, Mamah..." Suara nya gemetar.

"Sekarang sana lanjutin cuci baju! Jangan lama-lama! Nanti sore lo harus masak lagi!"

Wulandari balik ke kamarnya, membanting pintu—BRAK.

Lestari berdiri sendirian. Pipinya masih panas. Air mata nya mau keluar tapi dia tahan. Udah capek nangis. Udah nggak ada gunanya.

Dia balik ke belakang. Lanjutin nyuci.

Tangan nya menyikat baju lagi. Tapi air mata nya akhirnya keluar juga. Netes ke ember—netes ke air sabun yang udah keruh.

"Kenapa... kenapa aku harus ngalamin ini... kenapa Tuhan kasih cobaan seberat ini ke aku... aku... aku udah nggak kuat..."

Tapi tangannya tetep menyikat. Tetep kerja. Karena nggak ada pilihan lain.

---

1
checangel_
Akhirnya, setelah sekian gerhana 🤧, kan enak lihatnya 🤝
checangel_: Iya, saking actionnya, dramanya samar tergoreskan 🤧
total 2 replies
checangel_
Ada kalanya bercanda itu harus dalam setiap keseriusan, Adriano 🤧, walaupun ujung²nya memang serius dan serius banget/Facepalm/
checangel_
Logatnya jadi Sunda an 🤧
checangel_: /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Jangan bilang begitu, 'asal jalanin saja dulu' No .... lebih baik 'pikirkan saja dulu dan istikharahlah dulu' agar kata 'Menyesal' tak menggema 😇
checangel_
Yang bener, hanya peduli sama Lestari?, coba pikirkan berulang kali lagi/Facepalm/
checangel_: Yang pasti sulit ditanyakan 🤣
total 2 replies
checangel_
Berasa lagi nonton teater genre action romance🤣, kenapa saat kejadian tegang seperti itu, ada aja kalimat yang nyempil 'nggak bisa hidup tanpamu'/Facepalm/
checangel_: /Shhh//Silent/
total 2 replies
checangel_
Iya Adriano, Lestarinya 'always waiting for you'😇
checangel_
Lah, beneran di stalking 🤭/Facepalm/
checangel_
Saat firasat seorang wanita melampaui batas kepercayaan orang lain 🤭/Facepalm/
checangel_
Wah, Dante ternyata .... topeng yang bersembunyi 🤧
checangel_: Iya, mana kalau di inget lucu lagi 🤭
total 8 replies
checangel_
Ingat! Cinta itu berbagai macam rupa, selaraskan dulu yuk perasaan dan logikamu Lestari agar seimbang, jalur langit 😇
checangel_
Cieee ngajak jalan², Lestari jangan jatuh hati ya, takutnya kamu nggak bisa move on dari Adriano 🤭
Leoruna: dan jangan terlalu percaya dengan perlakuan yg baik di awal 🤭
total 1 replies
checangel_
Bisa-bisanya Antoni dengerin Omnya curhat, masalah percintaan lagi 🤣
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Leoruna: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Leoruna: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Leoruna: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!