Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Tak pernah kusangka keputusanku menikah di usia muda dengan menerima pinangan dari seoarang Hanafi Rahmad. Pria yang mampu menyetuhku dengan alunan merdu saat membaca Ayat suci Al-qur'an, membawaku dalam pengalaman hidup yang begitu luar biasa.
Pria kelahiran kota Pati yang kebetulan 3 tahun lebih tua dariku itu juga berhasil meluluhkan sikap dingin ayah terhadap pria yang selama ini berusaha mendekatiku. Tutur sapanya begitu halus,tindak tanduknya yang penuh tata krama, membuat kelaurgaku menerimanya dengan baik. Terlebih begitu mengenalku dia langsung menemui ayahku, dia juga langsung meminta restu kepada ayah untuk dekat denganku. Gentleman bukan ?
Tapi rasa kagumku perlahan memudar saat kami sudah resmi menikah dan dia memboyongku untuk tinggal bersama orang tuanya yang berdomisili dikota Pati. Sikapnya memang masih begitu lembut, tak sekalipun bersuara keras meskipun sedang marah. Akan tetapi sikapnya yang tak pernah tegas jika menyangkut kemauan umminya membuatku merasa elfeel.
Aku tau memang sebuah kewajiban bagi seorang anak laki-laki menghormati dan menyayangi ibunya. Akan tetapi sikap mas Hanafi benar-benar membuatku jengah. Apapun itu harus sesuai apa kata Umminya. Bahkan sekeras apapun aku bersuara tidak akan mengubah keputusannya jika, itu sudah sesuai intruksi umminya.
Seberapa besar nafkah yang mas Hanafi berikan padaku pun dalam pengaturan ummi. Bahkan sekedar warna baju yang kami beli pun harus sesuai selera ummi. Tahun pertama membuatku benar-benar merasa frustasi, terlebih aku sedang mengandung putri pertama kami waktu itu. Tapi, untuk menyerah rasanya aku pun tak sanggup. Aku takut membuat ayah malu dan kecewa. Kulalui masa-masa sulit itu dengan terus berusaha sabar. Sejauh ini bahkan tak ada satupun yang tau kondisi ku kecuali, kelaurga dekat mas Hanafi.
Aku bukan tak pernah membicarakan hal ini pada mas Hanafi. Akan tetapi setiap aku bicara hasilnya juga selalu nihil, mas Hanafi selalu memintaku bersabar dan memahami dia yang tidak ingin durhaka pada ibunya.
Hal paling membuatku nelangsa adalah ketika Azizah putri pertamaku yang baru berusia 6 tahun di antar ummi ke pesantren dan itu jauh di jauh berada di Tuban. Sekeras apapun aku menolak ummi dan mas Hanafi tetap mengantar putri kecilku ke pesantren. Aku benar-benar kalut saat itu. Aku yang sedang dalam kondisi mengandung Naufal putra kedua kami tak dapat berbuat banyak. Karena untuk bangun saja aku tidak mampu.
Raungan tangis Azizah yang tidak mau berpisah dariku bahkan masih selalu tergiang di telingaku. Bukan aku tak suka anak di pesantren, aku hanya merasa Azizah masih terlalu kecil untuk jauh dari pengawasanku. Beruntung Azizah gadis kecil yang begitu tangguh. Hanya sebulan dia rewel di pesantren, selebihnya dia sudah mulai bisa beradaptasi.
Semenjak saat itu aku semakin sibuk mengisi seminar dan menulis novel. Karena Ummi hanya mengantarkan Azizah ke pesantren, sementara untuk administrasi dan uang saku Azizah beliau dan mas Hanafi tutup mata. Perih rasanya mendengar Azizahku mengeluh kehabisan uang jajan dan belum mendapat kiriman dari abinya. Dan setiap aku tanya ummi selalu bilang
" Dia kan anakmu, yang tangung jawabmu lah memenuhi biaya hidupnya, sudah bagus ummi carikan pesantren bagus buat Azizah "
Konyol bukan ?
Setiap bulan aku harus mengirim uang sebanyak 2 juta untuk administrasi pesantren dan 1 juta untuk uang saku Azizah, padahal uang dari mas Hanafi hanya 1,5 juta. Itupun masih dipergunakan untuk belanja dapur dan lain-lain.
Bahkan baru ku tau satu bulan setelahnya, uang pendaftaran Azizah di dapat dari menjual perhiasan yan dulu mas Hanafi berikan sebagai maharku. Aku hanya bisa mengelus dada sembari terus menguatkan diri.
" Ya Rabb, dia pria pilihanku. Semoga Engkau memberi aku kekuatan untuk terus membersamainya "
Dan hari ini sepertinya akan menjadi puncak dari rasa sabarku. Aku baru saja pulang dari mengisi sebuah seminar di semarang, lelah rasanya meskipun aku pergi dengan supir. Akan tetapi senyum Naufal membaut rada lelahku seketika hilang. Kasihan dia, karena sedang demam terpaksa aku meninggalkannya diruma bersama pengasuhnya.
" Bunda kok baru pulang sih ?" Aku terkekeh mendengar protes putraku yang tubuhnya masih sedikit hangat.
" Maaf ya sayang, bunda baru saja selesai kerjanya. Tapi, bunda bawa oleh-oleh lho buat Naufal " ku serahkan dua buah paperback berisi mainan dan makanan favorit Naufal.
" Makasih banyak bunda " Aku menganguk sembari tersenyum.
" Sama-sama sayang"
" Ummi disini ya mbak Mir ?" Mirna menganguk.
" Iya bu, sudah dari dua jam lalu "
" Marah-marah tidak beliau ?" Mirna lagi-lagi menganguk.
" Ya sudah, tolong bawa Naufal masuk kekamarnya. Takut akan ada drama setelah ini " Mirna menganguk. Seisi rumah memang sudah paham dengan tabiat ummi.
Kulangkahkan kakiku, masuki rumah yang berhasilku bangun dua tahun lalu hasil dari novel ketigaku. Benar saja ada ummi yang tengah asyik melihat tayangan gosip di televisi. Tapi tidak kulihat mas Hanafi disana, entah kemana suamiku itu.
" Assalamu'alaikum ummi !" Baliau menoleh kearahku.
" Wa'alaikum salam, baru pulang kamu Fis ?"
" Njeh ummi "
" Habis ngeluyur kemana kamu, anak lagi deman bukan di rawat malah di tinggal-tinggal begini ?" Ku urungkan niatku yang ingin menyalami tangan beliau.
" Maaf ummi, saya baru dari Semarang, mengisi sebuah seminar "
" Kamu walau sibuk jangan lupa urus anak dan suami dong. Jangan mentang-mentang kamu punya penghasilan besar terus semaunya sendiri begini, semena-mena sama anak dan suami " Aku hanya bisa menghela nafas sembari beristigfar dalam hati.
" Maaf ummi, meskipun saya sibuk. Saya selalu berusaha untuk tidak meninggalkan kodrat saya sebagai seorang ibu dan istri. Hanya hari ini Naufal saya tinggal dan itupun bersama pengasuhnya "
" Lalu siapa yang memikirkan Hanafi ?"
Dalam hati aku menjawab " Kan ada anda yang ngurus "
" Jam segini bukannya sibuk menyiapkan makanan buat suami malah sibuk keluyuran di luar tidak jelas, lupa kamu sama kodratmu sebagai seorang istri "
" Bukankah anak anda yang lupa kodratnya sebagai seorang suami ?" Lagi-lagi pertanyaan itu hanya aku ucapkan dari dalam hati.
" Mohon maaf ummi, Nafis keluar rumah bukan tanpa tujuan yang jelas. Saya keluar rumah untuk mencari nafkah, bukan keluyuran seperti yang panjenengan maksud " Sakit rasanya mendengar tuduhan ummi yang sangat tidak berdasar itu. Hampir saja aku kembali menangis.
Kulihat mas Hanafi datang dari pintu samping rumah. Sepertinya dia mendengar perbincanganku dengan umminya dan lihatlah lagi-lagi pria yang menikahiku iru hanya dia. Tidak ada sedikitpun upaya untuk menjaga kehormatanku sebagai istrinya. Entah karena dia takuk sama umminya atau merasa tersindir atas ucapanku tadi. Biarlah memang kenyataannya begitu, aku pun mulai tak peduli toh sudah terbiasa ini.
Aku memilih masuk kedalam ruang kerjaku. Lelah rasanya. Kuhempaskan tubuhku ke sofa usai meletakan tas dan perlengkapan kerjaku. Aku berangkat sebelum subuh tadi dengan di sopiri oleh kang Joko, supir yang dikirim bapak beserta mobilnya.
Padahal semalam pun tidurku tak nyenyak karena Naufal yang tiba-tiba demam. Di Semarang pun aku hanya kurang lebih 2 jam, begitu seminar selesai aku langsung pulang, karena terus kepikiran putraku. Baru setelah as'ar sampai rumah egh malah kena semprot ummi mertuaku.
" Capek banget ya Allah " Keluhku.
Usai istirahat sebentar dan merasa jauh lebih tenang, aku memilih kembali ke kamar. Rencananya mau langsung mandi dan lanjut masak untuk makan malam. Aku nggak mau ummi semakin menjadi marahnya kalau aku biarkan mbak Nur yang masak. Berharap sih ummi sudah pulang kerumahnya. Sayang beliau masih asyik di duduk di ruang kelaurga dan kali ini di temani mas Hanafi.
" Sudah pulang kamu dek ?" Tegur mas Hanafi.
" Iya mas, setelah As'ar tadi, maaf aku mau mandi dulu mas " Mas Hanafi hanya mengangguk.
Setelah selesai dengan ritual mandiku dan beganti pakaian rumahan, aku memilih menengok putraku terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk memasak untuk kami makan malam. Alhamdulillah Naufal sudah turun demannya.
Kulihat ummi masih betah berada ruang keluarga biarlah, aku memilih untuk berlalu ke dapur tanpa menyapa beliau.
Aku memasak sup jagung request Naufal lalu, aku juga memasak tumis kangkung dan mangut ikan asap. Kali ini aku tidak menyiapkan masakan kesukaan Ummi tiap kali ikut makan di rumah ku.
Meskipun aku benar-benar lelah tapi, jika ku biarkan mbak Nur masak sendiri sudah dapat di pastikan ummi semakin kemana-mana marahnya.
" Apa tidak sebaiknya ibu istirahat saja, biar untuk makan malam kali ini saya yang masak sendiri. Ibu pasti sangat capek, kan ibu juga baru pulang ?" Nafis tau perempuan yang sudah ikut dengannya selama 3 tahun ini, begitu mengkhawatirkannya.
" Tidak apa-apa mbak Nur, takuknya kalau aku biari mbak Nur masak sendiri, makin kemana-mana ummi marahnya " jawabku sembari mengaduk sup yang sedang dia buat.
" Yang sabar ya buk ?"
" Harus dong mbak "
semoga kluarga istri ke 2 dan kluarga suami zalim dpt karma.
kl ortu istri ke 2 punya harga diri hrse cerai kan anak nya bukan mlh laki orang Mau di bawa pulang. alasan ae buat di didik. aslinya ya biar menang istri 2 dpt hanafi sepenuhnya tanpa berbagi. pasti alasan hamil di pake buat itu. istri ke 2 pling jg gk Mau ngalah merasa menang krn istri pertama mundur.. semoga dpt karma orang ngerti agama tp pada bejat.
nunggu karma nya, semoga anak Dr istri ke 2 gk lahir normal kasian anak Dr istri pertama dpt saudara tiri Dr Pelakor.
ya Pelakor Mau se sholehah apa pun wanita kl sdh merusak rumah tangga orang lain ttp Pelakor Dan ortu perempuan ttp mendukung 🤣🤣 Gila sih label kyai sekarang serem serem dng dalil agama.
hrse cerai semua, istri ke 2 tau diri nglepas hanafi bukan me lanjut kan pernikhan. mang dasarnya istri ke 2 doyan saja.
kl takut melukai ya hrse pisah.
hanafi me lanjut kan dakwah eh siapa yg Mau denger dakwah laki model bgitu. yg di omongin pasti poligami tok🤣. ustad cabul.