NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman

Satu nama itu, Estrel, adalah mantra terkutuk yang membatalkan keajaiban.

Kehangatan singkat dari kata “terima kasih” menguap seperti embun fajar, digantikan oleh embusan beku dari kutub neraka.

Darian menarik tangannya dari ponsel seolah benda itu baru saja membakarnya, dan topeng es yang familier itu kembali terpasang di wajahnya, lebih tebal dan lebih dingin dari sebelumnya.

Rahangnya mengeras, dan secercah kelembutan di matanya yang baru saja Queenora saksikan kini padam, ditelan oleh badai gelap yang berkecamuk di dalamnya.

Pria bertubuh tegap itu berbalik, gerakannya kaku dan penuh kendali yang menakutkan. Ia tidak lagi menatap Queenora sebagai sesama manusia yang baru saja berbagi vigili semalam suntuk. Ia menatapnya seolah Queenora adalah bidak catur yang harus diposisikan sebelum badai datang.

“Dengar baik-baik,” desis Darian, suaranya kembali menjadi bilah tajam yang menusuk keheningan.

“Ibu mertuaku ... beliau ibu dari Luna, beliau akan datang ke sini. Hari ini. Namanya Madam Estrel, kau sudah bertemu denganya di rumah sakit.”

Queenora hanya bisa menatapnya, napasnya tertahan di tenggorokan. Nama itu terdengar seperti vonis.

“Kau tahu dia membencimu sejak pandangan pertama,” lanjut Darian tanpa basa-basi, setiap katanya adalah sebuah peringatan yang brutal.

“Baginya, Elios adalah satu-satunya bagian dari Luna yang masih ada. Siapa pun yang menyentuh cucunya harus setara menurutnya, dan kau ...." Darian menjeda ucapannya, menghela nafas panjang dan dalam.

"Kau sangat jauh dari kata setara itu ... Menyentuh Elios saja kau tidak pantas bagi Madam Estrel, apalagi memberinya susu dari tubuhmu ... Dia akan menganggap mu hama yang harus dibasmi.”

Rasa dingin merayap di tulang punggung Queenora, lebih dingin dari demam Elios semalam.

“Jadi, ini yang akan kau lakukan.” Darian melangkah mendekat, menginvasi ruang pribadi Queenora, memaksanya untuk mendongak.

“Kau akan bersikap sempurna. Kau tidak akan bicara kecuali ditanya. Jawabanmu harus singkat dan sopan. ‘Ya, Nyonya.’ ‘Tidak, Nyonya.’ Jangan tawarkan informasi apa pun tentang dirimu, tentang Elios, tentang apa pun. Kau mengerti?”

“Saya… saya mengerti, Tuan.”

“Kau bukan ibu pengganti. Kau bukan teman Elios. Kau bukan apa-apa selain salah satu pekerja yang disewa untuk sebuah fungsi. Pastikan dia melihatmu seperti itu. Tidak lebih, tidak kurang.” Matanya menyapu penampilan Queenora dari atas ke bawah, kaus longgar dan celana katun yang nyaman untuk merawat bayi sepanjang malam.

Tatapannya penuh celaan.

“Dan ganti bajumu. Pakai sesuatu yang lebih… pantas. Sesuatu yang tidak membuatmu terlihat seperti kau tinggal di sini.”

Setiap kalimat adalah tamparan tak terlihat. Setelah keintiman sunyi yang mereka bagi semalam, Darian kini dengan sengaja membangun kembali tembok di antara mereka, lebih tinggi dan lebih tebal, seolah untuk membuktikan pada dirinya sendiri, dan mungkin pada hantu istrinya, bahwa momen kelemahan itu tidak pernah terjadi.

“Saya akan bersiap-siap,” bisik Queenora, menundukkan pandangannya ke lantai marmer yang dingin.

“Bagus.” Darian memberinya satu tatapan tajam terakhir sebelum berbalik.

“Aku tidak mau ada kesalahan, Queenora. Sedikit pun.”

Dengan ancaman itu menggantung di udara, ia pergi, meninggalkan Queenora sendirian di koridor bersama gema kata-katanya yang kejam dan bayangan seorang wanita bernama Estrel yang sudah terasa seperti monster dalam lemari.

Queenora bergegas kembali ke kamarnya, jantungnya berdebar kencang karena cemas. Ia membuka lemari kecilnya, menatap beberapa potong pakaian sederhana yang ia bawa. Apa itu ‘pantas’? Blus kusam? Gaun yang membuatnya tampak lebih tua? Ia merasa seperti sedang memilih kostum untuk sebuah drama di mana ia adalah tokoh antagonis yang tidak disadari.

Saat itulah, sebuah ketukan lembut terdengar di pintunya, begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.

“Nona?” Suara Nyonya Adreine terdengar dari luar.

Queenora membuka pintu.

"Nyonya," sapa Quuenora dengan terkejut, bagaimana bisa Nyonya besar memanggil dia dengan sebutan, sungguh kata itu sangat jauh dari Quuenora.

Ibu Darian itu berdiri di sana dengan senyum lembut yang menenangkan, tetapi matanya memancarkan kekhawatiran yang sama besarnya dengan yang Queenora rasakan.

“Saya dengar Estrel akan datang,” kata Adreine pelan, melangkah masuk ke kamar sempit itu.

“Darian sudah memberitahumu?”

Queenora mengangguk, tidak mampu berkata-kata.

“Jangan dengarkan semua omongan kasarnya,” bisik Nyonya Adreine, kalimat yang begitu menenangkan tapi tak bisa mengusir kecemasan Quuenora sepenuhnya.

“Anakku itu, dia membangun perisai dengan kata-kata tajam. Dia tidak bermaksud menyakitimu. Dia hanya… takut. Estrel punya cara untuk memutarbalikkan segalanya, dia selalu seperti itu.”

Adreine menatap Queenora dengan tatapan keibuan yang hangat.

“Kamu sudah melakukan hal yang luar biasa untuk cucuku, untuk kami semua. Jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa sebaliknya.”

Tangan lentik yang terawat dengan kalau berlian yang melingkar di jemarinya terulur, kemudian meraih tangan Queenora. Telapak tangannya yang hangat terasa kontras dengan telapak tangan Queenora yang dingin dan berkeringat.

Dari sakunya, Adreine mengeluarkan sesuatu yang kecil dan dingin. Sebuah liontin perak sederhana berbentuk tetesan air mata yang halus, tergantung di seutas rantai tipis. Liontin itu tampak tua, warnanya sedikit memudar, tetapi memancarkan aura ketenangan.

“Ini,” katanya, meletakkan liontin itu di telapak tangan Queenora dan menutup jari-jari gadis itu di sekelilingnya.

“Pakai ini. Selipkan di balik bajumu, jangan sampai ada yang melihatnya.”

Queenora menatap benda mungil di tangannya, lalu kembali menatap Nyonya Adreine dengan bingung.

“Ini… ini untuk apa, Nyonya?” gugup Quuenora.

Adreine tersenyum sedih, matanya menerawang sejenak.

“Anggap saja ini perlindungan. Dari… energi buruk.” Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat.

“Estrel, dia tidak seperti ibu-ibu lain. Kesedihannya atas kepergian Luna telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap dan posesif.”

Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar, sarat dengan sebuah rahasia yang berat.

“Liontin ini dulu milik Luna.”

Napas Queenora tercekat, tubuhnya menegang. Ia menatap benda di tangannya dengan ngeri sekaligus takjub. Ia memegang sesuatu yang pernah menempel di kulit wanita yang bayang-bayangnya menghantui setiap sudut rumah ini.

“Luna memakainya setiap kali tahu ibunya akan datang berkunjung,” lanjut Nyonya Adreine, matanya berkaca-kaca.

“Dia bilang, liontin ini membantunya mengingat siapa dirinya, bukan siapa yang ibunya ingin dia jadi.”

Tiba-tiba, liontin itu terasa jauh lebih berat di tangan Queenora. Ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah pusaka perlawanan sunyi. Sebuah simbol dari perjuangan yang sama yang akan ia hadapi.

“Estrel tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun yang ia anggap sebagai ancaman bagi kenangan putrinya,” desis Nyonya Adreine, cengkeramannya di lengan Queenora mengencang, mentransfer kewaspadaan dan ketakutannya.

“Dan baginya, kau…”

Adreine berhenti, menelan ludah seolah kata-kata berikutnya terasa pahit di lidahnya. Matanya menatap lurus ke mata Queenora, memohon gadis itu untuk mengerti bahaya yang sesungguhnya.

“…kau bukan sekadar pekerja atau pengganti. Baginya, kau adalah ancaman yang Estel anggap bisa menghapus Luna...”

1
Jj^
semangat update Thor 🤗
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!