Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 penuh ketegangan, drama keluarga, dan godaan pura-pura ciuman
Taksi yang membawa Marisa dan Dalend berhenti tepat di depan Restoran Le Mirage. Bangunan itu tampak seperti istana mini, dengan valet yang sigap dan lampu-lampu temaram yang memancarkan aura eksklusif. Marisa merasakan lututnya gemetar di balik gaun merah anggur yang mahal.
"Kita turun, Sayang," bisik Dalend, suaranya mantap dan penuh percaya diri.
"Gue nggak yakin bisa lakuin ini, Dalend," Marisa berbisik kembali, menatap pantulan dirinya di kaca taksi. Ia tampak seperti orang lain-kuat, cantik, dan mewah-tapi di dalam, ia masih Marisa yang patah hati dan kelaparan kemarin.
"Tentu saja bisa. Lo adalah tunangan pewaris Angkasa Raya. Senyum. Tegakkan kepala. Ingat, Lo enggak butuh mereka. Mereka yang butuh Lo. Ambil napas, Marisa," perintah Dalend.
Marisa menarik napas dalam-dalam, mengangguk dan membuka pintu taksi.
Saat Dalend merangkul pinggang Marisa dengan posesif namun elegan, Marisa merasakan semua mata tertuju pada mereka. Dalend memang magnet perhatian, dan kehadiran Marisa dalam balutan gaun mewah membuatnya menjadi pusat perbincangan.
Mereka disambut oleh maître d'hôtel yang langsung mengenali Dalend.
"Tuan Angkasarapu Junior, suatu kehormatan. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang VIP nomor tiga. "
Dalend mengangguk tanpa mengurangi senyumnya. "Terima kasih."
Mereka berjalan melewati lorong restoran yang dipenuhi karya seni. Tangan Dalend di pinggang Marisa terasa seperti jangkar.
"Kalau ketemu nyokap gue, namanya Tante Elvira. Dia pasti akan kritis. Lo jangan terlalu ramah, tapi tunjukkan integritas," bisik Dalend, merapat ke telinga Marisa.
"Papa gue, Paman Wijaya, dia cenderung diam dan mengamati. Lo harus tunjukkan kalau Lo adalah pengalih perhatian yang pantas untuk putra tunggalnya."
"Siapa keluarga Tirtayasa?" Tanya Marisa.
"Tuan Tirtayasa adalah rekan bisnis Papa. Dan putrinya, namanya Aurelia Tirtayasa yang mau dijodohkan sama gue. Dia pasti ada di sana. Fokus utama kita adalah membuat Aurelia merasa bahwa dia terlambat," ujar Dalend, nada suaranya berubah licik.
Mereka berhenti di depan pintu ruang VIP. Dalend menoleh kepada Marisa, matanya memancarkan sedikit kegelisahan yang tertutup rapat.
"Saat kita masuk, jangan pernah lepaskan genggaman tangan gue. Dan jangan tunjukkan kelemahan, bahkan jika mereka menghina Lo," pintanya.
"Gue sudah latihan dihina Bara. Gue siap" balas Marisa, suaranya kini terdengar seperti baja.
Dalend mengangguk. Ia membuka pintu.
...
Di dalam ruangan itu, ada enam orang. Di ujung meja, duduklah sepasang suami istri paruh baya yang elegan-orang tua-Tuan dan Nyonya Tirtayasa. Dan yang menarik perhatian Marisa, duduk di seberang Tuan Tirtayasa, adalah seorang wanita muda yang sangat rapi dan formal, mengenakan gaun sutra berwarna pastel. Aurelia Tirtayasa.
Dan yang terakhir, duduk agar terpisah, adalah Bima, yang memasang wajah datar penuh kemenangan saat melihat Marisa dan Dalend masuk.
Keheningan melanda ruangan saat Dalend dan Marisa melangkah masuk.
"Mama, Papa," sapa Dalend, suaranya sopan dan santai, bertentangan dengan kekacauan di hatinya. "Maaf kami terlambat. Kami baru saja menyelesaikan urusan pindahan."
Nyonya Elvira Angkasa, ibu Dalend, memiliki mata tajam yang identik dengan Dalend, namun kini tatapannya dipenuhi keheranan dan kekecewaan. Ia bangkit berdiri. "Dalend Angkasarapu! Berani-beraninya kamu datang dengan penampilan seperti itu! Dan siapa wanita di sampingmu?" Nyonya Elvira bersuara nyaring, menarik perhatian semua orang.
Dalend berjalan mendekat, mempertahankan rangkulannya pada Marisa.
"Mama, Papa, kenalkan. Ini Marisa Sartika Asih. Dia adalah tunangan ku. Kami akan segera menikah."
Dunia terasa berputar bagi Marisa. Ia harus mempertahankan senyumannya saat Nyonya Elvira menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu jelas menghakimi gaun merah anggur dan kulit kuning langsatnya.
"Tunangan?" Tuan Wijaya Angkasa, ayah Dalend, angkat bicara untuk pertama kalinya. Suarabya rendah dan berwibawa. "Kami tidak pernah diberitahu."
"Karena kami baru meresmikannya, Papa," jawab Dalend cepat.
Nyonya Elvira mendekati Marisa. Ia menyentuh bahan gaun Marisa, seolah mencari label haga.
"Siapa orang tuamu, Nak? Dan kamu bekerja di bidang apa?" Tanya Nyonya Elvira, nadanya meremehkan. apakah ini alasan putranya menolak perjodohan?
Saatnya berakting, Marisa.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Angkasa. Nama saya Marisa. Ayah saya sudah meninggal. Ibu saya adalah pensiunan guru di Jawa. Saya adalah Creative Consultant lepas yang kini sedang fokus pada projek pribadi," jawab Marisa, tenang, menyembunyikan fakta bahwa ia baru saja dipecat dari kafe. Ia menyebut pekerjaannya 'lepas' agar tidak bisa diverifikasi.
"Creative Consultant? Kedengarannya seperti pengangguran bergaji tinggi," cibir Nyonya Elvira.
Marisa tidak goyah. "Mungkin, Bu. Tapi saya jamin, hasil kerja saya cukup untuk membiayai kebutuhan saya, dan yang paling penting, saya berhasil merebut hati putra ibu. Saya tidak butuh Angkasa Raya," Marisa membalas dengan tatapan mata lurus, penuh integritas yang dipaksakan.
Nyonya Elvira terdiam sejenak. Balasan Marisa yang tiba-tiba berani itu mengejutkannya. Tuan Wijaya tersenyum tipis di sudut bibirnya.
Aurelia Tirtayasa, yang selama ini diam, kini angkat bicara. Ia memiliki suara yang lembut dan sopan.
"Selamat malam, Dalend. Senang bertemu denganmu. Dan Nona Marisa, gaun Anda indah sekali. Saya Aurelia Tirtayasa. Saya tidak tahu Dalend sudah bertunangan. Kenapa begitu mendadak?"
Dalend meremas tangan Marisa. Ini adalah serangan pertama dari pihak lawan.
"Aurelia, senang bertemu denganmu. Maaf, ini tidak mendadak. Hanya saja, ketika kami sudah menemukan yang paling tepat, kamu tidak ingin menunda sedetjk pun. Dan Marisa adalah yang paling tepat untukku," Dalend menjawab.
Dalend menarik Marisa ke tempat duduk, tepat di seberangnya, sehingga mereka berhadapan langsung dengan Aurelia dan orang tuanya.
Makan malam dimulai dengan suasana dingin. Semua percakapan seputar bisnis Angkasa Raya dan Tirtayasa. Marisa berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya.
"Jadi, Nona Marisa. Dalend akan melanjutkan studinya ke London besok pagi. Apakah kamu akan ikut dengannya?" Tanya Tuan Tirtayasa, mencoba menguji keseriusan Marisa.
Marisa menoleh ke Dalend.
"Kami sudah membahasnya, Tuan," jawab Marisa, dengan nada tulus. "Saya sudah bilang pada Dalend, saya tidak akan meninggalkan ibu saya yang sakti di Jawa hanya karena dia harus kuliah di London. Cinta bukan tentang mengorbankan karier atau keluarga. Jika Dalend mencintai saya, dia akan menunda atau mencari alternatif lain. Saya tidak memaksanya, tapi saya punya batasan,"
Nyonya Elvira hampir tersedak minumannya. "Batasan? Kamu mengatur anak saya?"
"Bukan mengatur, Bu. Ini kesempatan. Dalend memilih saya, dan dia memilih untuk tetap di sini untuk saya. Kami berdua adalah orang dewasa, dan kami membuat keputusan bersama," balas Marisa, memasang ekspresi paling yakin yang pernah ia tunjukkan.
Dalend tersenyum lebar. Marisa melebihi ekspektasinya. Ia berhasil mengubah Dalend menjadi korban cinta yang rela berkorban demi Marisa, membuatnya terlihat tak terpisahkan.
Tuan Wijaya berdehem. "Dalend, apakah ini benar? Kamu menolak London dan perjodohan demi wanita ini?"
"Ya, Pa. aku tidak akan pergi dan saya serius dengan ucapan aku waktu itu. aku akan melanjutkan bisnis di sini, dan saya akan menikahi Marisa di sini."
Nyonya Elvira menggelengkan kepalanya putus asa. "Ini tidak masuk akal. Bima, apakah kamu sudah menyiapkan tiket London untuk Dalend?"
Bima, yang sedari tadi diam, menjawab, "Sudah, Nyonya. Keberangkatan besok pagi pukul 08.00."
Dalend harus memberikan bukti yang tidak bisa dibantah. Dalend bangkit dari kursinya, berjalan cepat ke sisi Marisa, dan menariknya berdiri.
"Papa, Mama, Tuan dan Nyonya Tirtayasa, ini adalah bukti bahwa saya serius. Saya mencintai Marisa. Saya tidak akan membiarkan wanita ini pergi."
Dalend mencondongkan tubuhnya ke depan, memegang wajah Marisa dengan kedua tangannya. Marisa tahu apa yang akan terjadi. Ia memejamkan mata, jantungnya berdebar kencang.
Bibir Dalend mendekat, sangat dekat hingga Marisa bisa merasakan napas mint-nya. Dalend menghentikan gerakan itu tepat sebelum bibir mereka bertemu. Hanya menyisakan jarak satu milimeter-pura-pura ciuman yang paling menyakinkan. Dalend menahan pose itu selama beberapa detik, cukup lama bagi semua orang di ruangan untuk terdiam kaget.
Dalend menjauhkan wajahnya sedikit, namun masih memegang wajah Marisa. Tatapan mata mereka bertemu. Jarak sedekat itu membuat Marisa merasakan panas menjalari wajahnya, dan ia melihat kejutan yang nyata, bukan akting, di mata sipit Dalend.
"Kami sudah tinggal bersama di apartemen yang baru. Kami akan menikah dalam waktu sebulan. Dan tidak ada yang bisa mengubah keputusan saya," Dalend menyatakan, suaranya tercekat dan berat, karena pose yang sangat dekat itu juga memengaruhi dirinya.
Tuan Wijaya menghela napas panjang. " Duduk, Dalend. Kalian berdua. Kita akan bahas ini besok pagi di rumah."
Nyonya Elvira menatap Marisa, tidak lagi dengan cemooh, tetapi dengan kemarahan yang mengandung sedikit pengakuan. Wanita ini terlalu berani, terlalu indah malam ini, untuk diabaikan.
Marisa, yang masih sedikit syok dengan adegan pura-pura ciuman itu, kembali duduk. Di bawah meja, tangan Dalend merayap, mencari tangan Marisa, dan menggenggamnya erat, seolah menyalurkan permintaan maaf dan kemenangan secara bersamaan.
"Kita menang, Tunangan," bisik Dalend, hanya untuk didengar Marisa.
Marisa tidak membalas. Ia hanya bisa menatap kalung berlian biru safir yang ia kenakan, menyadari bahwa ia telah berhasil. Ia berhasil membuat keluarga konglomerat itu percaya. Dan malam ini, ia benar-benar melupakan Bara.
...