NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Sistem / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
​Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
​Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
​Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
​Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Amukan Si Oren

Sisa-sisa bau d4rah kering yang amis dan aroma tajam racun dari kelompok Viper's Fang masih menyengat kuat di udara, seolah menolak untuk hilang meskipun angin padang rumput bertiup kencang. Bau itu seperti menempel erat pada mereka. Reruntuhan Oeryth berdiri di hadapan mereka seperti kerangka raksasa dari masa lalu, sunyi dan mencekam. Namun, Aruna tidak memedulikan sejarah atau aura mistis tempat itu. Fokusnya hanya satu: titik di bawah pilar batu utama yang sudah retak dimakan usia.

Di sana, kudanya berdiri dengan kepala tertunduk lesu, kakinya sesekali menggaruk tanah dengan gerakan gelisah. Tepat di atas pelana, terlihat gumpalan bulu oren yang sangat dikenal Aruna. Kucing itu tampak sangat tenang, terlalu tenang untuk sifatnya.

"Oyen!" Aruna berlari mendekat, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya. Perasaan lega luar biasa membuncah di dadanya, setidaknya satu beban berkurang.

Mendengar suara panggilan dari tuannya, telinga si Oyen bergerak sedikit, memberikan tanda bahwa dia sadar akan kehadiran Aruna. Ia membuka satu matanya, menatap Aruna sedetik dengan tatapan dingin, datar, dan penuh penghakiman yang sangat dalam. Kemudian, dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat-buat, ia melompat turun dari pelana. Bukannya berlari menyambut Aruna dengan dengkuran manja, si Oyen justru berjalan menjauh dengan langkah angkuh, ekornya tegak lurus sebagai tanda protes. Ia duduk membelakangi Aruna tepat di depan sebuah retakan batu kuno, memandang tembok dengan penuh minat seolah Aruna hanyalah angin yang lewat.

Ia mogok komunikasi. Benar-benar ngambek karena ditinggal semalaman di tempat dingin sendirian.

"Lho? Oyen, sini sayang... Maaf ya, kemarin situasinya benar-benar gawat," bujuk Aruna sambil berlutut perlahan, mencoba menyentuh bulu oranye itu.

"Meong!" Si Oyen membalas dengan nada tinggi, suaranya terdengar seperti makian kucing yang panjang dan penuh tuntutan. Ia bahkan menggeser duduknya lebih jauh saat tangan Aruna hampir menyentuhnya.

Fenrir dan Aerlisto mendekat dengan langkah waspada. Mata tajam mereka menyisir setiap celah reruntuhan, namun sesekali lirikan mereka tertuju pada tangan kosong Aruna. Mereka seolah menanti jika benda hitam besar yang tadi menghancurkan barisan assassin akan muncul lagi.

"Nona... Ahem... Artefak bulat yang kau gunakan untuk meremukkan kepala tikus-tikus tadi... kenapa kau menyimpannya sekarang? Siapa tahu kucing itu akan patuh jika kau menunjukkan wibawa senjata hebatmu itu. Biasanya mereka tunduk pada energi yang kuat."

Aruna memejamkan mata sejenak, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Fenrir, untuk kesekian kalinya, itu bukan artefak untuk pamer wibawa. Dan berhenti menyebutnya senjata hebat seolah itu adalah pedang legendaris. Ini masalah perasaan kucing yang sedang terluka secara emosional!"

"Perasaan?" Ellish menyahut dari belakang sambil memiringkan kepalanya yang berambut pink, ekor rubahnya bergoyang bingung. "Maksudmu, benda bulat itu memiliki jiwa yang bisa bicara dengan kucing? Luar biasa... artefak itu benar-benar multifungsi dan misterius."

"Huuff" Aruna hanya bisa menghela napas panjang dalam batinnya. 'Alamak, mereka benar-benar menganggap wajanku itu benda keramat peninggalan dewa,' gerutunya frustrasi.

"Aruna, dia sepertinya tidak akan luluh hanya dengan permohonan maaf. Kucing ini punya harga diri yang lebih tinggi dari raja," celetuk Verdy sambil menyandarkan palu godam besarnya ke pilar batu dengan bunyi dentang yang berat. Tangan lainnya tampak memainkan salah satu cakram logam bergerigi yang tersampir di pinggangnya. "Dia butuh sogokan."

Aruna menyerah. Waktu terus berjalan dan bayangan wajah pucat Asher terus menghantuinya. Ia memejamkan mata dan memanggil sistem dengan perintah tegas. 'Sistem, panggilin ikan tongkol suwir. Porsi paling enak dan harum, sekarang!'

Ding!

[Memproses permintaan host.

Mengakses Memori Materialization.

Mengaktifkan sub-skill Magi Catering.

Memanggil item: Ikan Tongkol Suwir Premium]

Puff! Sebuah piring kecil berisi ikan suwir yang aromanya sangat menggoda, gurih dan segar muncul di telapak tangan Aruna. Bau ikan itu langsung menembus indra penciuman si Oyen. Harga diri si kucing oranye itu goyah seketika. Telinganya bergerak-gerak, dan meskipun ia tetap pasang muka judes, kakinya pelan-pelan melangkah ke arah piring itu tanpa memutar tubuhnya. Ia mulai melahap ikan itu dengan rakus sambil tetap mengeluarkan suara geraman kecil dari tenggorokannya, seolah ingin menegaskan bahwa dia makan hanya karena lapar, bukan karena sudah memaafkan pengkhianatan Aruna.

Setelah urusan "diplomasi" kucing selesai, Aruna segera menuntun kudanya. Mereka memutuskan untuk tetap berjalan kaki bersama. Ellish menjadi pengintai, Aruna di tengah menuntun kuda, diapit oleh Fenrir dan Aerlisto sebagai baris depan, sementara Luna dan Verdy mengawasi bagian belakang.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan hingga mereka menginjakkan kaki di perbatasan hutan yang rimbun. Bau d4rah dari pertempuran sebelumnya ternyata tidak hanya mengundang rasa penasaran, tapi juga memancing predator yang jauh lebih ganas.

"Berhenti," perintah Aerlisto secara tiba-tiba. Suaranya rendah namun penuh otoritas saat melihat isyarat dari Ellish. Mata emas sang ksatria elf itu berkilat tajam, menembus kerapatan pepohonan purba yang seolah menyembunyikan sesuatu yang besar.

Dari balik bayangan pepohonan, muncul tiga sosok raksasa dengan tinggi hampir empat meter. Earth-Crusher Ape. Kera raksasa dengan kulit berwarna abu-abu pekat sekeras granit, dengan otot-otot yang menonjol seperti bongkahan batu. Mata mereka merah menyala, memancarkan amarah murni karena wilayah mereka dicemari oleh aroma d4rah manusia.

"Sepertinya tikus-tikus tadi melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan banyak d4rah di sini. Mereka membangunkan para penguasa hutan," geram Fenrir. Ia menarik Greatsword-nya dengan satu gerakan cepat, membuat angin di sekitarnya berputar. "Nona, biarkan aku yang di depan. Aku perlu membakar sisa kalori dari rendangmu yang sangat enak tadi!"

"Jangan serakah, Serigala kasar. Fokuslah pada pertahananmu," Aerlisto mengangkat tangannya ke udara. Seketika, akar-akar pohon di sekitar mereka berderit, mencuat dari tanah dan bergerak melilit seperti cambuk raksasa yang patuh pada kehendaknya.

Pertempuran pecah dengan dentuman yang mengguncang tanah. Kera raksasa pertama melompat ke arah mereka, menghantamkan tinjunya ke tanah hingga menciptakan retakan dalam. Fenrir tidak mundur; ia justru menerjang maju, menangkis serangan itu dengan bilah pedangnya yang besar. Suara benturan logam dan kulit batu menghasilkan bunga api yang terang.

Di sisi lain, Luna bergerak lincah di antara pepohonan, meluncurkan anak panah dengan ritme yang konstan. Ellish juga menyerang dengan cakar mananya. Verdy yang tidak mau kalah, ia berteriak lantang sembari melemparkan cakram logam bergerigi dari tangannya. Cakram itu berputar sangat cepat, membelah udara dengan suara bising sebelum menghantam bahu salah satu kera, menciptakan luka dalam meski kulitnya sekeras batu. Begitu jarak memendek, Verdy langsung menghantamkan palu godamnya ke lutut kera tersebut, membuat makhluk raksasa itu meraung kesakitan.

Aruna melihat kera ketiga mencoba memutar, berniat melompat ke arah Luna yang sedang dalam posisi membidik. Aruna tidak bisa membiarkan teman pertamanya terluka. emosinya melonjak, dan dalam benaknya, sistem merespons dengan cepat.

Ding!

[Terdeteksi host dalam bahaya.

Mengaktifkan skill utama Memori Materialization. Memanggil Item.]

Wush! Cahaya hitam pekat memadat di tangannya, membentuk wajan raksasa yang berat dan kokoh. Aruna berlari dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi seorang putri, menggunakan akar pohon yang dimunculkan Aerlisto sebagai pijakan untuk meluncur tinggi ke udara.

Saat berada di titik tertinggi, Aruna memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum jatuh untuk memberikan tenaga maksimal pada senjatanya. Dengan kemarahan yang meluap mengingat penderitaan Asher, ia menghantamkan sisi datar wajannya tepat ke puncak kepala kera raksasa itu.

TANGGGG!

Suara benturan logam itu begitu keras hingga menggema ke seluruh penjuru hutan, menelan suara teriakan musuh dan denting pedang Fenrir. Kekuatan hantaman Aruna menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu dan daun kering di sekitarnya. Kepala kera yang sekeras batu granit itu retak seribu, dan makhluk raksasa itu tumbang ke tanah dengan suara debuman keras, tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan suara.

Fenrir dan Aerlisto terdiam sejenak, mata mereka terpaku pada kera yang kepalanya remuk dalam satu serangan itu. "Artefak itu... benar-benar mengerikan. Kekuatannya murni berasal dari hantaman fisik yang tidak masuk akal," gumam Fenrir dengan rasa ngeri yang mulai berubah menjadi rasa hormat.

Sementara pertempuran maut berlangsung hanya beberapa meter darinya, si Oyen tetap duduk tenang di atas pelana kuda. Ia menjilati bulu di kakinya dengan santai, seolah-olah amukan kera raksasa dan kekuatan dahsyat Aruna hanyalah hiburan murahan untuk menemaninya makan ikan tongkol.

"Selesai," ucap Aruna singkat, napasnya ngos-ngosan. Wajan hitamnya perlahan menghilang, berubah menjadi partikel cahaya yang cantik, kembali ke dalam sistemnya. Ia menatap teman-temannya dengan tatapan tegas. "Ayo cepat. Jangan beri waktu untuk predator lain muncul. Kita harus kembali sebelum malam tiba."

1
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!