"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sudah tak terhitung berapa kali Naina pergi ke perusahaan PT Adijaya Grafis. Tetap saja penolakan dan juga pengusiran yang ia terima. Tak ada sekali pun Naina berpapasan dan melihat batang hidung Ryan.
Dari mulai "buat dulu janji dengan beliau."
Atau.... " Pak Ryan sedang tidak ada di tempat."
"Pak Ryan sedang rapat."
"Pak Ryan lagi dinas keluar kota."
Dan berbagai penolakan lainnya. Sesulit itu kah bertemu dengan seorang suami? Haruskan membuat janji terlebih dahulu? Sepenting apa posisi Ryan sampai Naina tak dapat bertemu dengannya.
Naina mulai frustasi, uangnya mulai menipis. Naina butuh kejelasan dalam rumah tangganya. Jika ingin pisah lakukanlah dengan benar. Jika ingin bersama, temui lah. Mengapa terkesan seperti pecundang yang bersembunyi di dalam kandang.
"Cici, aku punya makanan, bisa bantu aku memberikan saran. Aku ingin memulai berjualan bakpao." Naina memberikan beberapa biji bakpao pada Cecilia.
"Kamu mau berjualan dimana?"
"Alun-alun kota, katanya besok ada CDF gitu."
Cecilia mengerutkan dahinya bingung, "CDF? Apa itu CDF?"
"Itu yang katanya bebas kendaraan."
"Owalah,, CFD. Alias car free day."
"Hehehe... Iya itu maksudnya."
Cecilia memberikan bakpao itu pada suaminya, dan mereka pun memberikan saran yang membangun. Bakpao buatan Naina enak dan lembut, cuma harus di beri modifikasi. Di kota ini orang-orang lebih suka makanan dengan berbagai varian rasa.
Cecilia membantu Naina memberikan resep dan bakpao yang paling banyak diminati. Mulai dari rasa kacang ijo, coklat, keju, dan ayam suir. Menurut Cecilia itu bakpao yang paling ia sukai dan paling banyak di minati.
"Lalu nanti bagaimana dengan Nayla?" Tanya Chandra suami dari Cecilia.
"Mau bagaimana lagi, aku akan membawanya berjualan."
"Tidak, aku tidak izinkan. Biar Nayla aku yang urus." Sela Cecilia.
"Tapi, Ci...."
"Gak ada tapi, tapi. Aku ikhlas kok. Sebenarnya, aku ingin mengangkat Nayla jadi anakku. Kamu tahu, kan, kalau aku belum juga di beri keturunan sama yang di Atas. Mungkin dengan merawat Nayla aku bisa di percaya sama Tuhan." Cecilia berucap lirih, hampir menangis.
"Maaf merepotkan Cici kali ini. Tolong rawat Nayla ya, Ci."
Cecilia tersenyum bahagia. Akhirnya dia menimang anak meski bukan anaknya. Semoga dengan merawat Nayla Tuhan mempercayakan keturunan pada rahim Cecilia.
...****************...
"Ryan, besok kita ada acara makan malam bersama keluarga Swandari." Ucap Ibunya sesampainya Ryan di rumah.
"Hmmm ---"
Ryan berlalu pergi menuju kamarnya. Rasa lelah dan ingin menyerah, selalu Ryan rasakan. Tapi jika ia menyerah penantiannya akan sia-sia.
Dalam sedetik pun Ryan tak pernah memikirkan Naina. Baginya Naina hanyalah mainan di saat dirinya ingin, dan sebuah pengobat di saat ia rindu.
Acara makan malam berlangsung damai, hanya membicarakan hal-hal remeh, yang sebetulnya tak begitu penting. Toh, tak ada Maeta di sana. Namun demi menghargai keluarga Maeta Ryan tetap hadir dan menjamu mereka semua.
Malam semakin larut, rasa lelah dan penat dengan mudah singgah di tubuh Ryan. Ia tertidur setelah berganti pakaian. Tanpa basa basi, Ryan langsung terbawa ke alam mimpi.
"Ayah...." teriak gadis kecil kurang lebih berumur 3 tahun.
"Ayah, aku di sini." Lagi-lagi suara nyaring itu menggangu gendang telinga Ryan.
Ryan mencari ke sana kemari sumber suara. Suara yang imut dan lucu terus memanggilnya dengan sebutan Ayah. Namun entah kenapa hati Ryan serasa rindu, dan bahagia mendengar panggilan itu.
"Ayah, Nay rindu, Ayah." Tiba-tiba kaki jenjang Ryan di peluk sosok kecil yang di kepang dua, yang tersenyum manis padanya.
"Ayah, jawab Nay dong." Ryan terpaku, ia tak bisa melihat dengan jelas wajah gadis kecil di bawah kakinya.
Wajahnya buram, namun ia tahu bahwa senyumnya itu indah. Ryan seolah kenal dan akrab dengan gadis kecil yang memeluknya. Ryan membungkukkan badannya, ia mencoba mendekati wajah cantik gadis yang memanggilnya ayah.
"Nay rindu Ayah. Jemput Nay, ya, Ayah --" gadis kecil itu berlari menjauh dari pandangan Ryan.
Rasa rindu yang semakin menumpuk membuatnya menangis. Rindu yang entah bagaimana ia ungkapkan. Rindu yang menyiksa namun tak bisa ia lakukan. Rindunya membuatnya sesak dan ada rasa bahagia.
Air mata menetes di kedua pipi Ryan. Ia terbangun dari tidurnya. Rasa rindu itu masih tertinggal. Rindu itu makin nyata menyiksa dadanya. Ryan kembali mengingat mimpinya namun ia mendadak lupa akan mimpi semalam yang membuatnya rindu.
"Ayah," gumam Ryan meremas dadanya yang sakit.
"Apa arti dari mimpi semalam."
Pagi ini Ryan pergi bekerja ke perusahaannya, dengan pandangan kosong dan wajah yang lesu. Rasa sakit akan rindu yang belum terpecahkan membuat Ryan tak dapat berkonsentrasi dalam bekerja. Ia lebih sering melamun dan mengabaikan pekerjaannya.
"Lu kenapa?" Tanya Dani karena seharian ini tingkah Ryan sedikit aneh.
"Dada gue sakit,"
"Pergi periksa ke dokter, gih."
Ryan menatap Dani kesal. Kali ini temannya tak bisa membantunya. Ryan pun bingung memberitahukannya pada Dani. Apa ia tahu arti sebuah mimpi?
"Kira-kira arti mimpi punya anak itu apa, ya?" Celetuk Ryan membuat Dani tertawa.
"Lu percaya sama mimpi? Mimpi, kan, cuma bunga tidur."
"Dia memanggilku Ayah. Sangat jelas. Suaranya yang nyaring dan lucu memanggil ku Ayah." Ryan masih mengoceh dengan pandangan lurus tanpa memedulikan kawannya yang merasa kebingungan.
"Lu, ingin punya anak?"
Ryan menatap tajam Dani. "Entahlah,"
"Mungkinkah, lu punya anak dari Naina?"
Kalimat itu sontak membuat dada Ryan sakit. Naina? Ryan melupakan gadis yang bersamanya selama hampir 2 bulan. Tidur satu ranjang, berbagi peluh, dan bertukar kehangatan. Ryan kembali mengenang masa-masa indah bersama Naina.
"Naina," lirihnya.
"Bagaimana jika Naina punya anak dari lu?"
Setiap pertanyaan yang Dani lontarkan, entah kenapa dada Ryan terasa sakit dan sesak.
"Gak mungkin. Gue berkali-kali melakukan hubungan dengan Maeta, dia tak pernah hamil. Masa dengannya hanya beberapa kali langsung ...."
"Kesuburan orang, kan, berbeda-beda, Yan."
Lupakan Naina. Fokuslah pada satu tujuanmu, Ryan. Begitulah Ryan menyemangati dirinya sendiri. Naina hanya bumbu penyedap dalam perjalanan hidupnya. Yang sesaat indah dan hilang tergantikan oleh rasa yang lain.
Terlebih, janji yang bertahun-tahun telah Ryan lakukan dan di pegang teguh, demi mendapatkan cinta sejatinya. Masa hanya dengan rasa yang baru dan belum yakin akan masa depannya, dapat dengan mudah menggeser rasa yang telah ada.
Terdengar kejam, begitulah pemikiran penguasa. Ryan merasa berkuasa atas apa yang ia punya. Ryan yang terbilang sukses di usia muda, bisa mengatur penyedap rasa dalam cerita hidupnya. Wanita yang mana pun dapat Ryan pilih dan tinggalkan ketika rasa itu hilang. Begitu pun Naina.
Hanya gadis desa dan hidup sebatang kara. Tak jelas asal usul dan pendidikannya. Ryan berpikir, Naina tak mungkin mengandung anak darinya. Untuk hidupnya saja Naina merasa kesulitan, apalagi bila bertambah satu dengan anak kecil yang memerlukan biaya yang lebih besar dari saat dirinya bersama Naina dulu.
Meski pikirannya berhasil melupakan Naina, tapi rindu yang entah dari mana datangnya terus mengganggu pikiran Ryan. Rindu itu terus hinggap dan menyesakkan dadanya.
Bahkan terkadang panggilan Ayah itu terus terngiang dalam gendang telinga Ryan. Bahkan membuat Ryan hampir gila. Satu mimpi yang sukses mengacukan pertahanan ego sang Ryan Adinata Varatanu.
Satu mimpi itu membuat Ryan sulit untuk tidur dan tak bisa bekerja dengan benar. Rasa rindu dan bersalah terus bersarang dalam diri Ryan. Rasa salah yang entah harus Ryan utarakan pada siapa. Dan rasa rindu yang entah untuk siapa. Sakit. Sesak. Dan tak nyaman.