NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

​Bau antiseptik yang tajam menyambut kedatangan Lian saat dia berlari masuk ke ruang instalasi gawat darurat sambil menggendong Mori. Wajah Lian tegang, rahangnya mengeras, dan kaos basketnya masih lembap oleh keringat. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang; fokusnya hanya pada gadis di pelukannya yang masih terisak menahan perih di tangannya.

​"Suster! Tolong, tangan dia diinjak!" seru Lian dengan suara yang bergetar karena emosi.

​Mori segera dibaringkan di atas bed pasien. Tim medis langsung memeriksa telapak tangan kanannya yang membiru dan bengkak. Lian berdiri di samping bed, menggenggam tangan kiri Mori erat-erat, seolah ingin memindahkan rasa sakit itu ke tubuhnya sendiri. Visual Gabriel Guevara-nya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak sangat kacau dan penuh rasa bersalah.

​Namun, ketenangan itu terusik saat pintu tirai IGD tersingkap kasar. Vano muncul dengan napas tersengal, masih mengenakan almamater OSIS-nya. Begitu melihat Mori yang terbaring lemah, Vano langsung berlari mendekat.

​"Mori! Kamu nggak apa-apa?" Vano langsung merengkuh bahu Mori, memeluknya dengan sangat protektif. "Maafin aku, Mor. Harusnya aku tadi nggak biarin kamu sendirian. Aku denger dari anak-anak soal Alina..."

​Mori yang masih syok hanya bisa menangis di pundak Vano. Pemandangan itu bagaikan bensin yang menyiram api di hati Lian.

​Lian menarik bahu Vano dengan kasar. "Lepasin dia. Dia butuh ruang buat napas, bukan pelukan lo."

​Vano berdiri, menatap Lian dengan tatapan yang tidak kalah tajam. "Kalau lo bisa jagain dia dengan bener, kejadian ini nggak bakal ada, Lian. Ini semua karena obsesi lo yang bikin dia jadi sasaran Alina!"

​"Cukup! Jangan berantem di sini!" lirih Mori dengan suara parau.

​Setelah pemeriksaan rontgen—untungnya tidak ada tulang yang patah, hanya memar otot yang parah—Mori dipindahkan ke ruang observasi. Tangannya sudah dibalut gips kain dan perban putih. Karena tangan kanannya tidak bisa digerakkan, Mori kesulitan saat suster membawakan nampan berisi bubur rumah sakit.

​Lian dan Vano, yang sejak tadi duduk berseberangan dengan aura permusuhan, langsung berdiri bersamaan.

​"Sini, biar gue yang suapin," ucap Lian sambil menyambar mangkuk bubur itu lebih dulu.

​"Lian, lo lagi emosi, tangan lo gemetar. Biar aku aja yang suapin Mori, biar dia tenang," Vano mencoba mengambil alih sendok dari tangan Lian.

​"Gue nggak gemetar! Gue yang bawa dia ke sini, jadi gue yang tanggung jawab!" bentak Lian, meskipun suaranya ditahan agar tidak ditegur perawat.

​Lian menyendok bubur, meniupnya sedikit, lalu menyodorkannya ke mulut Mori. "Ayo, Mor. Makan dikit."

​Baru saja Mori mau membuka mulut, Vano menyodorkan segelas air jeruk dengan sedotan. "Minum dulu, Mor, biar tenggorokan kamu enak."

​Mori melihat ke kiri (Lian dengan wajah posesifnya) dan ke kanan (Vano dengan wajah perhatiannya). Dia merasa seperti objek rebutan di tengah pasar. "Gue bisa makan sendiri pake tangan kiri..."

​"NGGAK BISA!" sahut Lian dan Vano kompak.

​Di tengah ketegangan itu, Jessica, Nadya, dan Alissa masuk ke ruangan dengan heboh. Mereka membawa buah-buahan dan bunga, tapi langkah mereka terhenti saat melihat pemandangan di depan mata.

​"Waduh... kita salah jam kunjung ya?" goda Jessica sambil menutup mulutnya.

​"Gila, Mori! Lo emang beneran magnet cowok-cowok keren ya? Tangan satu luka, yang jagain dua pangeran sekolah," celetuk Alissa sambil terkekeh.

​Nadya menghampiri bed Mori, melirik ke arah Lian dan Vano yang masih memegang sendok dan gelas. "Ini namanya musibah membawa berkah ya, Mor? Diperebutkan Ketua OSIS sama Raja Basket sekaligus. Kalau gue jadi lo, gue betah-betahin deh sakitnya."

​"Apaan sih kalian! Malu tau!" Mori menyembunyikan wajahnya di balik tangan kirinya yang sehat, pipinya merona merah meskipun hatinya masih terasa sakit karena kejadian Alina.

​"Jangan malu dong, Mor. Nikmatin aja pelayanannya. Jarang-jarang kan liat Lian mode 'babysitter' begini?" ledek Jessica yang langsung dapet lirikan maut dari Lian.

​Satu jam berlalu, dokter menyatakan Mori boleh pulang setelah diberikan obat pereda nyeri dan antibiotik. Kondisinya sudah lebih stabil, meskipun tangannya masih harus digantung dengan sling.

​Masalah baru muncul saat mereka sampai di lobi rumah sakit.

​"Mori pulang bareng gue. Motor gue udah gue titipin, gue bakal pesen taksi biar dia nyaman," ucap Lian tegas sambil memegang tas medis Mori.

​"Mori bareng aku, Lian. Mobil aku ada di depan, ada AC-nya, dan nggak akan kena angin malam. Itu lebih aman buat kondisi dia sekarang," balas Vano tidak mau kalah.

​Lian mendengus sinis. "Mobil lo pelan. Mori butuh istirahat cepet. Gue yang lebih tau rumah dia di mana."

​"Aku juga tau rumah Mori. Dan aku sudah minta izin ke Mamanya lewat telepon tadi," skakmat dari Vano membuat Lian terdiam sejenak dengan wajah merah padam karena cemburu.

​Mori melihat kedua cowok itu yang sudah siap saling tarik urat lagi. Dia menghela napas panjang, lalu menatap ke arah sahabat-sahabatnya.

​"Gue pulang bareng Jessica dan yang lainnya. Kita bakal naik taksi bareng-bareng. Titik. Nggak ada bantahan," putus Mori dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat.

​Lian dan Vano melongo. Jessica langsung merangkul Mori dengan bangga. "Nah, bener tuh! Girls night out sekalian ngerawat Mori. Kalian berdua mending pulang, mandi, terus tobat!"

​Lian hanya bisa menatap mobil taksi yang membawa Mori pergi dengan tatapan lesu. Dia merasa gagal karena tidak bisa menjadi orang yang mengantar Mori sampai ke depan pintu. Sedangkan Vano berdiri dengan tenang, meski dalam hatinya dia tahu bahwa perhatian Mori mulai terbagi.

​Di dalam taksi, Mori menyandarkan kepalanya ke jendela. Tangannya sakit, badannya lelah, tapi ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya. Dia ingat bagaimana Lian begitu panik saat menyelamatkannya, dan bagaimana Vano begitu tulus mengkhawatirkannya.

​"Gue harus gimana ya?" gumam Mori sangat pelan.

​"Gimana apa, Mor? Bingung pilih yang mana?" goda Jessica yang ternyata masih bisa mendengar.

​Mori hanya memejamkan mata, membiarkan dinginnya malam menghapus sisa-sisa air matanya, sementara bayangan wajah Lian dan Vano terus menari-nari di kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!