NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Jenaka di Balik Pintu

Matahari pagi menyusup melalui celah jendela kamar kost milik Rohita. Setelah kejadian demam Dewi dan drama tikus kemarin, suasana hati ketiga sahabat ini tampak jauh lebih ringan. Rohita menyuruh Devi dan Dewi bersiap. Mereka pun berangkat berjalan-jalan keliling kampung, menikmati suasana pemukiman yang masih asri dengan pepohonan hijau di sisi jalan setapak.

Devi, berjalan paling depan. Ia melompat-lompat kecil sambil sesekali bersenandung. Perhatiannya tiba-tiba teralihkan oleh seekor kupu-kupu dengan sayap berwarna biru cerah yang menari-nari di atas semak. Tanpa pikir panjang, Devi mulai mengejar makhluk kecil itu. "Tunggu! Jangan lari!" teriaknya sambil tertawa lepas. Dewi hanya tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya, sementara Rohita menggerutu di belakang, mengingatkan Devi untuk hati-hati. Namun, peringatan itu terlambat. Fokus pada langit membuat Devi tidak melihat tepi jalan. Byur! Dengan suara deburan yang cukup keras, Devi terperosok masuk ke dalam selokan di pinggir jalan.

Meskipun selokan itu tidak terlalu dalam dan airnya sedang surut, tubuh Devi kini berlumuran lumpur hitam dan bau yang menyengat. Rohita hampir meledakkan tawanya jika tidak melihat wajah Devi yang hendak menangis, sementara Dewi segera membantu Devi berdiri. Mereka akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Sesampainya di kost, Devi yang merasa sangat risih langsung berlari menuju kamar mandi di area belakang. Ia melepaskan pakaian kotornya dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air,

Di luar, Rohita memberikan kode kepada Dewi. Sebuah ide jahil melintas di benak wanita pemarah itu untuk memberi pelajaran pada Devi agar tidak terlalu ceroboh. Dengan gerakan perlahan, Rohita mendekati pintu kamar mandi dan menguncinya dari luar menggunakan kunci cadangan yang memang ia pegang . Ia lalu memberi isyarat pada Dewi untuk tetap diam. Saat Devi mencoba mendorong pintu setelah selesai mandi, pintu itu tidak bergeming. "Rohita? Dewi? Tolong, pintunya macet!" teriak Devi mulai panik.

Suasana hening di luar membuat imajinasi Devi liar. Ia mulai membayangkan hal-hal gaib atau tikus raksasa yang menunggunya di luar. "Tolong! Jangan bercanda! Aku takut!" teriaknya histeris sambil menggedor-gedor pintu dengan kencang. Setelah merasa durasi "hukuman" itu cukup, Rohita segera membuka kunci dengan cepat dan berpura-pura sedang sibuk mengutak-atik gagang pintu dengan obeng yang entah sejak kapan ia ambil. "Sabar, bodoh! Engselnya macet karena karatan!" bentak Rohita dengan wajah serius yang dibuat-buat saat pintu terbuka. Devi langsung menghambur keluar dengan handuk yang melilit erat, wajahnya pucat karena syok, sementara Rohita terus mengomel tentang "kerusakan" pintu itu agar sandiwaranya tidak terbongkar.

Setelah insiden kamar mandi , Devi berjalan lunglai menuju kamar. Rambutnya masih basah, dan ia langsung menjatuhkan diri ke atas kasur besar yang menjadi tempat tidur mereka bertiga. Di sana, Dewi sudah duduk manis sambil merapikan bantal. Melihat ekspresi Devi yang tampak sangat kesal Dewi tidak bisa menahan diri. Ia menutup mulutnya, namun suara tawa kecil tetap lolos dari bibirnya. "Maaf, Devi... tapi mukamu lucu sekali tadi," bisik Dewi pelan.

Devi hanya bisa mendengus kesal dan berbaring di samping Dewi, menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Namun, Dewi yang tahu cara menghibur sahabatnya segera merogoh sebuah kantong plastik di samping kasur. Ia mengeluarkan sebuah gorengan yang masih hangat dan menyodorkannya ke depan hidung Devi. Aroma gurih tempe goreng itu seketika membuat perut Devi berbunyi. Tanpa banyak bicara, Devi mengambilnya dan mulai mengunyah dengan lahap. Tak lama kemudian, Rohita masuk ke kamar dengan tangan bersedekap. "Jangan cuma makan camilan. Ayo ke depan, makan nasi supaya tenaga kalian tidak habis untuk teriak-teriak tidak jelas," perintahnya tegas.

Mereka bertiga akhirnya duduk melingkar di atas tikar ruang tengah. Rohita telah menyajikan sisa nasi dan beberapa lauk sederhana yang mereka miliki. Suasana mulai hangat saat mereka mulai menyuap nasi. Namun, di tengah keasyikan mereka makan, sebuah gerakan cepat di sudut dinding tertangkap mata Dewi. Seekor kecoa terbang dengan sayap yang bergetar keras tiba-tiba meluncur rendah menuju tengah-tengah piring makanan mereka.

"Kecoa terbang!" teriak Dewi yang biasanya tenang kini ikut panik. Seketika, suasana meja makan menjadi kacau balau. Devi melompat berdiri hingga air minumnya tumpah, sementara Rohita , ternyata memiliki kejijikan luar biasa pada serangga itu. Mereka bertiga berlari tunggang-langgang masuk kembali ke dalam kamar dan membanting pintu rapat-rapat. "Kenapa dia harus terbang ke makanan kita?!" teriak Devi dari balik pintu. Rohita menarik napas panjang, wajahnya memerah karena marah sekaligus jijik. Setelah memastikan kecoa itu pergi, Rohita keluar dengan sapu. Dengan wajah tegang, ia membuang semua makanan yang telah dihinggapi oleh serangga tadi ke tempat sampah . Perut mereka yang lapar kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa makan siang mereka telah hancur.

Kini mereka bertiga terduduk lesu di atas tempat tidur. Bunyi keroncongan dari perut mereka terdengar bergantian, memecah kesunyian kamar. Harapan untuk makan enak sirna gara-gara seekor kecoa. Devi, dengan sisa-sisa semangatnya, meraba saku celana dan mengeluarkan dompet kecilnya. Ia menumpahkan isinya di atas kasur: hanya ada beberapa keping koin dan satu lembar uang kertas lusuh bernominal kecil. "Hanya ini yang tersisa di kantongku sampai kiriman bulan depan," ucap Devi lemas.

Rohita menghela napas panjang. ia biasanya memiliki cadangan, namun uang sewa bulan ini sudah ia gunakan untuk memperbaiki atap yang bocor minggu lalu. Namun, harga diri Rohita tidak membiarkan kedua sahabatnya kelaparan. Ia berdiri dan memakai jaketnya. "Tunggu di sini. Jangan ada yang berani memakan sabun karena lapar," ketusnya. Rohita pergi menuju rumah tetangga sebelah yang cukup akrab dengannya. Dengan sedikit menahan malu, ia meminjam sejumlah uang dengan janji akan mengembalikannya dalam dua hari.

Beruntung, tetangganya sangat baik hati. Rohita kembali ke kamar dengan wajah sedikit lebih cerah sambil mengayunkan beberapa lembar uang. "Ayo, kita ke warung di depan gang. Kita makan sampai kenyang," ajaknya. Devi langsung bersorak kegirangan, sementara Dewi segera merapikan kerudungnya. Mereka berjalan kaki menuju warung nasi sederhana yang masih buka. Di sana, mereka memesan makanan dengan porsi besar: nasi rames lengkap dengan telur balado dan sayur nangka.

Setelah selesai makan dan merasa perut mereka sudah tenang, Rohita tidak langsung mengajak pulang. Ia menggunakan sisa uang pinjaman tadi untuk berbelanja di bagian sembako warung tersebut. Mereka membeli beberapa bungkus mi instan, telur, cabai, bawang, dan sedikit daging ayam. "Kita harus punya stok. Aku tidak mau kejadian kecoa tadi membuat kita mati kelaparan di tengah malam," ujar Rohita sambil menjinjing plastik belanjaan yang cukup berat.

Malam tiba, dan aroma bumbu mulai memenuhi udara di dalam kost. Alih-alih hanya menggoreng telur, Rohita memutuskan agar mereka masak bersama untuk makan malam sekaligus mengisi waktu. Di dapur kecil itu, pembagian tugas terjadi secara alami. Rohita memimpin sebagai koki utama, mengiris bawang dan cabai . Dewi yang telaten bertugas mencuci sayuran dan menyiapkan piring, sementara Devi ditugaskan untuk menghaluskan bumbu, meskipun ia lebih banyak bercanda daripada bekerja.

Tawa pecah saat Devi tidak sengaja mengusap matanya setelah memegang cabai. "Aduh! Mataku terbakar! Rohita, tolong!" teriaknya sambil meringis. Rohita mendengus namun segera membantu Devi membasuh matanya dengan air mengalir, sementara Dewi mengambil alih tugas menghaluskan bumbu dengan tenang. Kerja sama itu akhirnya membuahkan hasil berupa sepanci besar oseng ayam pedas dan telur dadar yang tebal. Mereka membawa hasil masakan itu ke ruang tengah, kali ini dengan kewaspadaan penuh terhadap kemungkinan adanya kecoa susulan.

Mereka makan dengan lahap, berbagi cerita tentang rencana mereka di masa depan tanpa ada tekanan.Rasa lelah setelah seharian mengalami drama selokan, kunci pintu, hingga kecoa, seolah menguap bersama uap nasi hangat yang mereka santap. Rohita sesekali memberikan potongan ayam lebih banyak ke piring Dewi dan Devi, sebuah bentuk kasih sayang yang jarang ia tunjukkan lewat kata-kata.

Setelah semua urusan dapur selesai dan piring-piring telah bersih, kelelahan yang luar biasa mulai menyerang. Mereka bertiga masuk ke dalam kamar. Lampu utama dimatikan, digantikan oleh lampu tidur yang temaram. Seperti malam-malam sebelumnya, mereka tidur dalam satu kasur besar . Rohita mengambil posisi di tengah, Devi di sisi kanan sudah mulai mendengkur halus, sementara Dewi di sisi kiri berbisik pelan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya menutup mata. Dalam kehangatan kasur yang sama, mereka bertiga tertidur lelap, .

1
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!