NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Presiden

Istri Kontrak Sang Presiden

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Mafia / Wanita perkasa / Beda Usia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.

Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.

Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.

Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.

Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.

Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.

Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Kebenaran di Antara Kita

Bella

Aku terbangun dalam rengkuhan Riccardo.

Kupejamkan mata sesaat. Aromanya begitu akrab, begitu menenangkan... aku sangat merindukannya. Rindu pelukannya, suaranya, rasa aman di sisinya.

Lalu ingatan beberapa hari terakhir menghantamku seperti pukulan.

Dia menghilang. Tidak meneleponku. Tidak membalas pesanku. Meninggalkanku menunggu, membayangkan ribuan hal.

Aku bukan mainannya.

Aku melepaskan diri dari pelukannya tanpa sedikit pun kelembutan. Begitu duduk di ranjang, kepalaku berputar beberapa detik. Kuabaikan. Aku berdiri. Rasa haus mencekik tenggorokanku, tapi aku terus berjalan.

Riccardo terbangun oleh gerakanku. Dia duduk di ranjang dan tersenyum tipis.

"Selamat pagi, sayang."

Aku bahkan tak menoleh padanya.

Aku langsung ke ruang ganti, memilih pakaian seadanya, dan masuk kamar mandi. Kukunci pintu sebelum dia sempat mencapaiku.

Beberapa detik kemudian, kudengar gagang pintu bergerak.

"Bella... kumohon, sayang."

Dia mengetuk pelan.

"Biarkan aku masuk."

Pura-pura tak mendengar.

Aku berdiri di bawah pancuran dan membiarkan air panas mengalir di tubuhku. Selama beberapa menit, aku berhasil melupakan rasa sakit, rindu, dan amarah.

Setelah selesai, tiba bagian yang sulit.

Mengganti perban sendirian.

Lenganku memprotes setiap gerakan. Aku berusaha sebaik mungkin, tapi perbannya tetap miring. Aku menarik napas dalam, pasrah. Hanya segitu yang bisa kulakukan.

Ketika akhirnya keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk, kutemukan kamar kosong.

Riccardo tak ada lagi di sana.

Tanpa sadar, aku mendesah lega.

Aku menuruni tangga dan menuju ruang makan.

Mengejutkanku, Riccardo sudah di sana.

Tanpa jas. Hanya mengenakan kemeja berlengan digulung, sesaat tampak seperti pria biasa, bukan presiden yang dikenal semua orang.

"Selamat pagi, Dolores."

Dia membalas dengan senyum malu-malu, tetapi matanya melirik bolak-balik antara aku dan Riccardo. Suasana berat di ruangan itu mustahil diabaikan.

"Saya tinggalkan Anda berdua."

Begitu dia keluar, keheningan menguasai ruangan.

Aku menyajikan sarapanku sambil merasakan tatapan Riccardo sepanjang waktu.

Suaranya memecah keheningan.

"Di sisi kirimu ada obat pereda nyeri. Kamu pasti sakit kepala."

Memang. Kepalaku seperti berdenyut di setiap detak jantung.

Meski begitu, aku menolak.

"Tidak perlu."

Dia menghela napas.

"Bisa kita bicara, Bella?"

Kuambil cangkirku dan menjawab tanpa menatapnya.

"Tidak."

Riccardo hanya tersenyum miring. Dia melipat tangan dan mengamatiku beberapa detik sebelum bicara.

"Aku tahu. Kamu hanya memperlakukanku dengan timbal balik yang sama seperti caraku memperlakukanmu selama seminggu terakhir."

Perlahan kuangkat mata dan menahan tatapannya.

"Persis."

Suaraku keluar mantap.

"Kamu sudah mendapatkan yang kamu mau dariku. Pernikahan sempurna selama empat tahun."

Aku berhenti sejenak.

"Pemilihan ulangmu terjamin."

Kata-kata itu menggantung di antara kami, cukup berat untuk membuat ruangan terasa lebih sempit.

Riccardo menahan tatapanku beberapa detik.

Senyum menghilang dari wajahnya.

"Itu yang benar-benar kamu pikirkan?"

Aku tidak menjawab.

Dia menarik napas dalam dan mengusap wajah, seakan mencari kata yang tepat.

"Kamu kira aku menghabiskan seminggu penuh jauh darimu karena sudah mendapatkan yang kuinginkan?"

Aku tetap diam.

Dia berdiri perlahan, tetapi menjaga jarak hormat.

"Kalau aku hanya butuh istri sempurna untuk difoto, Bella, aku bisa memilih perempuan mana pun dari kalangan atas. Itu akan jauh lebih mudah."

Suaranya goyah sesaat.

"Aku memilihmu karena aku jatuh cinta padamu."

Aku tertawa pahit.

"Cara menunjukkan yang lucu sekali."

Dia memejamkan mata sedetik, seakan kalimat itu menghantamnya telak.

"Kamu benar."

Ketika bicara lagi, suaranya rendah.

"Aku salah."

"Salah?"

"Ya. Kupikir menjauh adalah satu-satunya cara menjagamu tetap hidup. Setiap hari aku ingin berlari padamu. Setiap hari aku mengambil ponsel untuk membalas pesanmu... dan setiap hari ada yang mengingatkanku bahwa semakin dekat aku denganmu, semakin besar sasaran di punggungmu."

Dia maju selangkah lagi.

"Kamu boleh membenciku karena itu. Kamu boleh marah padaku. Aku terima semuanya."

Matanya bertemu mataku.

"Tapi jangan pernah bilang aku hanya menginginkan cincinmu atau memanfaatkanmu demi pemilihan ulangku."

Dia menaruh tangan di dadanya sendiri.

"Karena kalau ini cuma politik, aku tak akan ada di sini memohon kamu bicara lagi padaku. Aku akan ada di Palazzo, dikelilingi para penasihat, pura-pura semuanya baik-baik saja."

Suaranya nyaris pecah.

"Dan aku bisa pura-pura banyak hal, Bella... kecuali bahwa aku mampu hidup jauh darimu."

Riccardo menarik napas dalam sebelum melanjutkan. Berat hal yang hendak dikatakannya tergambar jelas di wajahnya.

"Mereka membuat video intim kita... dari hari itu di balkon penthouse Palazzo."

Jantungku melewatkan satu detak.

Dia mengalihkan pandang sesaat, seakan masih malu mengucapkannya.

"Mereka memakai video itu untuk mengancamku. Kalau aku tidak melakukan persis yang mereka inginkan, video itu akan disebarkan."

Dia menatapku lagi.

"Aku tak bisa membiarkan, sehari setelah pernikahan kita, keintiman kita menjadi skandal. Aku tak sanggup melihat dunia menyerbu privasimu seperti itu."

Suaranya rendah, sarat rasa bersalah.

"Karena itulah aku menjauh. Bukan karena berhenti mencintaimu. Aku hanya ingin melindungimu."

Aku sama sekali kehilangan kata-kata.

Semua yang kurasakan minggu itu, penolakan, luka, keyakinan bahwa aku telah dibuang, mulai bercampur dengan rasa bersalah.

Riccardo bicara lagi sebelum aku sempat berkata apa pun.

"Keluargamu membantuku merahasiakannya. Mereka tahu aku sedang diperas."

Rahangnya mengeras.

"Dan kami tahu siapa di baliknya."

Aku mematung.

"Joseph Ricci."

Nama itu menggantung berat di udara.

"Dia berencana menikamku dari belakang. Videonya hanya awal. Itu bagian dari rencana jauh lebih besar untuk menghancurkan karierku... dan menyerangmu."

Matanya tetap terpaku pada mataku.

"Aku memilih memikul beban ini sendirian karena kupikir itu satu-satunya cara menjagamu tetap aman."

Hening di antara kami lebih menyakitkan daripada pertengkaran mana pun.

Riccardo diam beberapa detik.

Lalu dia menarik kursi dan berdiri.

Matanya masih mencari mataku, seakan menunggu aku mengatakan sesuatu.

Tapi aku tidak.

Dia hanya mengangguk kecil.

"Aku harus pergi."

Tenggorokanku tercekat.

Meski begitu, aku tak menjawab.

Riccardo menunggu sesaat lagi. Ketika menyadari keheningan adalah satu-satunya jawaban yang akan dia dapat, dia berbalik dan berjalan ke pintu.

Aku mengikuti setiap langkahnya tanpa sadar.

Dia berhenti sedetik sebelum keluar, seakan ingin menoleh ke belakang.

Tapi tidak.

Pintu menutup.

Dan bersamanya, keheningan kembali menguasai rumah.

Aku tetap duduk, memandangi cangkir kopi yang sudah dingin.

Beberapa menit lalu, aku yakin dia telah meninggalkanku begitu saja.

Kini aku tahu, selagi aku menangis karena merasa tak penting baginya, Riccardo memikul sendirian sebuah pemerasan yang sanggup menghancurkan hidup kami.

Amarahku masih di sana.

Rasa sakit juga.

Tapi kini ada hal lain.

Beban yang berbeda dalam diriku.

Kepastian bahwa aku tidak tahu seluruh kebenarannya.

Dan, untuk pertama kalinya sejak dia kembali, aku tak lagi yakin sepenuhnya bahwa aku benar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!