IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Tuduhan yang Menghancurkan
Tiga hari telah berlalu sejak Liam menyaksikan Brooklyn tertawa bersama pria asing itu di kedai kopi The Amber Cup. Selama tiga hari itu, ia berusaha mengabaikan perasaan aneh yang terus mengganggu pikirannya, menyibukkan diri dengan pekerjaan dan berbagai pertemuan bisnis untuk menghindari harus menghadapi kenyataan bahwa sesuatu di dalam dirinya telah terusik oleh pemandangan yang ia saksikan sore itu.
Namun malam ini, ketika Liam pulang lebih awal dari biasanya dan mendapati Brooklyn sedang berbicara di telepon dengan nada yang cukup akrab—meski Brooklyn segera mengakhiri panggilan itu begitu menyadari kehadirannya—amarah yang selama tiga hari ini ia tahan akhirnya meledak tanpa bisa ia kendalikan lagi.
"Siapa itu?" tanya Liam tajam, matanya menyipit penuh curiga menatap ponsel di tangan Brooklyn.
"Hanya teman lama," jawab Brooklyn tenang, meletakkan ponselnya di meja. "Vincent. Kau mungkin tidak mengenalnya."
"Vincent," ulang Liam dengan nada sinis, langkahnya mendekat dengan tatapan yang semakin gelap. "Pria yang kutemui—maksudku, pria yang kulihat bersamamu di kedai kopi beberapa hari lalu itu?"
Brooklyn terkejut mendengar hal itu, matanya membelalak menatap Liam. "Kau melihat kami?"
"Tentu saja aku melihatnya!" bentak Liam, suaranya mulai meninggi, amarah yang selama ini terpendam kini meluap tanpa terbendung. "Aku melihat istriku sendiri tertawa dengan begitu bebas bersama pria lain, sesuatu yang tidak pernah kau tunjukkan padaku sepanjang pernikahan kita!"
"Liam, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Vincent hanya teman masa kecilku, kami hanya—"
"Hanya apa?" potong Liam kasar, mendekat dengan langkah tegas hingga Brooklyn terpaksa mundur beberapa langkah. "Hanya berbincang mesra sambil tertawa-tawa seperti sepasang kekasih? Kau pikir aku bodoh, Brooklyn?"
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!" bantah Brooklyn, mulai merasakan amarahnya sendiri ikut terpancing oleh tuduhan yang tidak berdasar itu. "Justru kau yang selingkuh dengan wanita dari bar itu! Kau yang berhak untuk menuduhku seperti ini?"
Kata-kata itu rupanya menjadi pemicu yang membuat kendali diri Liam benar-benar runtuh sepenuhnya. Wajahnya memerah oleh amarah yang meluap, matanya dipenuhi kegelapan yang belum pernah Brooklyn lihat sebelumnya.
"Setidaknya aku tidak berpura-pura menjadi istri yang baik di depan umum sementara diam-diam bertemu dengan pria lain di belakangku!" bentaknya, tangannya mencengkeram bahu Brooklyn dengan kasar, jari-jarinya menekan kuat hingga membuat Brooklyn meringis kesakitan. "Kau pikir aku tidak tahu wanita macam apa dirimu sebenarnya, Brooklyn? Semua kebaikan dan perhatian yang kau tunjukkan selama ini, semua itu hanya topeng, bukan?"
"Liam, kau menyakitiku!" jerit Brooklyn, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Liam yang semakin erat, namun pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskannya.
"Menyakitimu?" Liam tertawa sinis, suaranya penuh kepahitan dan amarah yang tidak terkendali. "Kau ingin bicara tentang rasa sakit? Bagaimana denganku yang harus menikahi wanita yang ternyata diam-diam bertemu pria lain di belakangku? Kau pikir kau begitu suci, begitu tulus, sementara kenyataannya kau tidak lebih baik dari pelacur munafik yang berpura-pura menjadi istri setia!"
Kata-kata kejam itu menghantam Brooklyn seperti tamparan yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan tamparan fisik yang pernah ia terima sebelumnya. Air mata langsung menggenang di matanya, namun kali ini bukan hanya kesedihan yang ia rasakan, melainkan kemarahan yang meluap-luap atas ketidakadilan tuduhan tersebut.
"Beraninya kau mengatakan itu!" balas Brooklyn, suaranya bergetar antara amarah dan luka yang mendalam. "Aku tidak pernah berselingkuh! Aku bahkan tidak pernah melakukan apa pun yang salah! Sementara kau, kau yang jelas-jelas tidur dengan wanita lain, kau yang terus mencintai Helena bahkan setelah menikahiku, kau yang terus merendahkanku setiap hari—dan sekarang kau berani menuduhku sebagai pelacur?"
Cengkeraman Liam di bahu Brooklyn semakin mengeras mendengar balasan itu, wajahnya semakin dipenuhi amarah yang tidak terkendali. Dengan gerakan kasar, ia mendorong tubuh Brooklyn hingga membentur dinding di belakangnya, membuat Brooklyn mengerang kesakitan ketika punggungnya menghantam permukaan keras tersebut.
"Diam!" bentak Liam, suaranya menggema di seluruh ruangan yang sunyi itu. "Kau tidak berhak berbicara seperti itu padaku!"
"Kenapa tidak?!" balas Brooklyn, meski rasa sakit di punggungnya masih terasa, keberaniannya justru semakin tumbuh di tengah situasi yang mengerikan ini. "Karena kau tidak sanggup menerima kenyataan bahwa akulah yang selalu benar sementara kau terus melakukan kesalahan demi kesalahan?"
Amarah Liam yang sudah mencapai puncaknya membuat tangannya kembali terangkat, dan kali ini tamparan itu mendarat lebih keras dari yang pernah Brooklyn rasakan sebelumnya, membuat kepalanya terhempas ke samping dan pandangannya sempat mengabur sejenak akibat benturan yang cukup keras.
Brooklyn tersungkur ke lantai, tangannya menahan tubuhnya sendiri agar tidak jatuh sepenuhnya, telinganya berdenging dan pipinya terasa panas membakar. Namun sebelum ia sempat bangkit, Liam mencengkeram lengannya kasar, memaksanya berdiri kembali dengan gerakan yang sama sekali tidak berperikemanusiaan.
"Kau pikir kau bisa terus bermain suci di hadapanku sambil diam-diam bertemu pria lain?" desis Liam, wajahnya begitu dekat dengan wajah Brooklyn, matanya dipenuhi kegelapan yang mengerikan. "Kau tidak lebih baik dari wanita murahan yang berpura-pura menjadi malaikat!"
"Lepaskan aku!" jerit Brooklyn, mencoba meronta dari cengkeraman Liam yang semakin menyakitkan, kuku-kuku pria itu hampir menembus kulit lengannya.
Untuk beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Liam terus mencengkeram Brooklyn dengan kasar, mengguncang tubuhnya sambil terus melontarkan kata-kata kejam yang menghina harga dirinya sebagai seorang wanita, sebagai seorang istri, dan sebagai manusia. Setiap kata itu terasa seperti pisau yang terus menyayat hati Brooklyn yang sudah begitu banyak terluka sepanjang pernikahan menyakitkan ini.
Akhirnya, seolah menyadari betapa jauh ia telah melangkah, Liam melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba, membuat Brooklyn kembali terhuyung dan jatuh terduduk di lantai. Ia menatap tangannya sendiri sejenak, napasnya masih memburu oleh amarah yang belum sepenuhnya reda, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata penyesalan pun.
Brooklyn duduk sendirian di lantai ruang keluarga yang kini terasa begitu dingin dan asing, tubuhnya gemetar hebat menahan isak tangis yang akhirnya pecah tanpa bisa ia tahan lagi. Pipinya masih terasa panas dan berdenyut nyeri akibat tamparan yang baru saja ia terima, lengannya memerah dengan bekas cengkeraman jari-jari Liam yang begitu kasar, namun rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan luka yang jauh lebih dalam yang kini menghantam harga dirinya sebagai seorang manusia.
Kata "pelacur munafik" terus terngiang di kepalanya, menggema berulang kali seperti kutukan yang tidak akan pernah bisa ia hapus dari ingatannya. Ia yang selama ini telah bersabar menghadapi penghinaan demi penghinaan, yang telah berusaha sekuat tenaga menjadi istri yang baik meski dibalas dengan kekejaman, kini merasa seluruh dunia yang selama ini ia coba pertahankan runtuh seketika oleh tuduhan yang begitu tidak adil dan kejam.
Malam itu, sambil duduk sendirian di lantai yang dingin, air mata terus mengalir tanpa henti di pipi Brooklyn yang lebam. Ia menatap ke arah cermin besar di sudut ruangan, melihat bayangan dirinya sendiri dengan pipi yang masih memerah dan mata yang sembab oleh tangisan.
"Ini yang terakhir kali, Liam Whitmore," bisiknya pelan pada bayangannya sendiri, suaranya bergetar namun penuh ketegasan yang baru. "Aku bersumpah, ini yang terakhir kalinya kau bisa menyakitiku seperti ini."