Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Mbak Sari menghampiri Anindya jam sembilan pagi dengan wajah orang yang sedang menyampaikan kabar buruk dan tidak suka melakukannya.
"Nin, malam ini ada rombongan arisan, empat puluh orang. Pesan dari kemarin. Piringnya bakal gila-gilaan."
"Iya, Mbak."
"Kamu bisa lembur sampai jam delapan? Ada uang lemburnya. Saya udah bilang ke Mas Reyhan, dia setuju."
"Bisa, Mbak."
"Beneran? Nggak ada yang nungguin di kos?"
"Cuma kasur, Mbak."
Mbak Sari menatapnya sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Anindya masuk, sudut bibirnya naik sedikit. Hampir tidak kelihatan. "Kasur bisa nunggu."
Jawaban itu tidak sepenuhnya bercanda, dan Anindya tahu. Ia memang tidak punya siapa-siapa yang menunggu di kos. Ia hanya punya kamar dengan dinding bercak lembap, buku tulis, dan ponsel yang tidak pernah berbunyi. Uang lembur berarti satu hari lebih tenang di akhir bulan. Itu saja sudah cukup alasan.
Dan memang, malam itu seperti perang. Rombongan arisan datang jam enam sore, memenuhi seluruh ruang makan, dan piring-piring kotor menggunung seperti bukit kecil yang terus bertambah tinggi. Yoga ikut membilas lagi, dan kali ini Dimas juga turun tangan mengangkat baskom, entah karena kasihan atau karena alasan lain yang tidak ia akui. Jam tujuh lewat, bahkan Jaka, laki-laki lebar dan tenang dari bagian goreng, datang dengan wajah pasrah dan sebuah lap di bahu.
"Kuat?" tanyanya.
"Kuat, Mas."
"Bohong," katanya, tapi ia tersenyum.
Tangan Anindya perih di dalam sarung tangan kuning, bukan karena air panas, tapi karena sudah terlalu lama terendam. Punggungnya terasa seperti dipukul. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian di tengah tumpukan piring itu. Ada tangan-tangan lain di samping tangannya, dan itu lebih menghangatkan dari apa pun.
Jam delapan lewat dua puluh, tumpukan terakhir akhirnya habis. Anindya melepas sarung tangannya dan menatap telapak tangannya yang berkerut basah. Seluruh badannya terasa seperti baru dipakai ulang tiga kali. Para laki-laki sudah pulang bergantian, Teh Lilis dan Mbak Sari sudah pergi sejak jam delapan. Ruang makan sepi, dan dapur diam. Hanya bunyi tetesan air dari keran bengkok yang belum sepenuhnya tertutup.
---
"Belum pulang?"
Anindya hampir melompat. Reyhan berdiri di ambang pintu belakang, lengan kemeja digulung, dasi sudah dilepas. Di tangannya ada sebuah piring berisi nasi putih, telur dadar, dan sambal terasi.
"Baru selesai, Mas. Mau ganti baju dulu."
"Sudah makan?"
"Belum sempat."
Reyhan menatapnya sebentar. Lalu ia berbalik, masuk dapur, mengambil satu piring lagi dari rak, dan menyendokkan nasi dari panci besar di sudut. Gerakannya cepat, seperti orang yang sudah terbiasa mengambil makan sendiri di dapur sepi jam segini.
"Duduk," katanya, sambil menaruh piring itu di meja kecil di belakang dapur.
"Mas, saya nggak enak..."
"Duduk, Anin."
Ini pertama kalinya ia memanggil namanya. Bukan *kamu,* bukan *dia,* bukan nama lengkap yang tertulis di map. Hanya *Anin,* sependek yang dipakai semua orang di dapur ini, tapi dengan nada yang entah kenapa terdengar berbeda ketika keluar dari mulutnya.
Anindya duduk.
Mereka makan dalam diam, di bangku plastik di belakang dapur, dengan lampu neon yang berdengung pelan dan aroma sambal terasi memenuhi udara. Telur dadarnya dimasak sedikit gosong di pinggir, persis seperti yang disukai orang yang tidak sabar menunggu. Anindya mengunyah pelan dan menyadari betapa lapar dirinya sejak tadi. Dan juga betapa lama ia tidak makan bersama seseorang.
"Telurnya enak, Mas."
"Saya yang goreng."
"Pantes agak gosong."
Reyhan menoleh, dan untuk sesaat Anindya mengira ia akan marah. Tapi sudut bibir laki-laki itu bergerak, hampir menjadi senyum, lalu cepat-cepat kembali datar.
"Ibu saya bilang telur dadar yang bagus itu harus agak gosong. Biar ada rasa."
"Ibu saya juga bilang begitu."
"Oh ya?"
"Dulu ibu saya jualan nasi uduk di depan rumah. Jam lima pagi udah buka. Saya yang bantu goreng telur dadar, bikin sambal, bungkus-bungkus. Telurnya selalu saya gosongin dikit, soalnya kalau nggak, ibu bilang nggak ada karakter."
Reyhan menaruh sendoknya. "Sekarang masih jualan?"
"Udah nggak, Mas." Anindya menunduk menatap piringnya. "Sejak ibu... nggak ada, saya nggak pernah goreng telur dadar lagi. Rasanya aneh. Kayak ngelakuin sesuatu yang bukan buat siapa-siapa."
Kalimat itu keluar begitu saja, lebih jujur dari yang ia rencanakan. Ia langsung menyesal dan mengalihkan pandangan. Tapi Reyhan tidak berkata apa-apa, tidak mengucapkan *turut berduka* yang hampa seperti yang biasa ia dengar dari orang lain. Ia hanya diam, dan diam itu terasa seperti tangan yang menunggu dengan sabar.
"Itu telur dadar pertama kamu makan setelah itu?" tanyanya akhirnya, pelan.
"Yang dibuatin orang lain, iya."
Reyhan mengangguk, dan Anindya melihat jakunnya bergerak sekali. Ia menatap piring di depannya, lalu telur dadar gosong yang tersisa setengah, dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Kamu suka masak?" tanyanya setelah beberapa saat.
"Suka banget, Mas. Dulu ada mimpi..." Ia berhenti, malu. "Ah, nggak penting."
"Apa?"
"Nggak penting, Mas."
"Anin."
Anindya menghela napas. "Pengen punya usaha makanan sendiri. Kecil aja. Lapak, atau warung kecil. Yang penting rasa. Tapi ya, kan, modal, tempat, dan..." Ia mengangkat bahu. "Mimpi doang."
Reyhan menatapnya cukup lama sampai Anindya mulai salah tingkah. Lalu laki-laki itu berkata pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri, "Mimpi jangan disimpan terlalu lama. Nanti basi."
"Mas pernah punya mimpi yang basi?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja, sebelum Anindya sempat menahannya. Ia langsung menyesal. Tapi Reyhan tidak marah. Ia hanya menatap piring kosongnya, lalu menjawab sangat pelan.
"Pernah. Satu. Dan satu lagi, saya bikin sendiri, ya warung ini." Ia diam sebentar. "Yang satunya saya telat."
Anindya ingin bertanya apa maksudnya. Tapi ia melihat bahu Reyhan yang tegang, dan memutuskan untuk tidak mendesak.
"Kalau Mas," katanya akhirnya, hati-hati, "kenapa kayak orang yang... nggak percaya ada yang peduli?"
Reyhan menoleh. Matanya tajam, tapi ada sesuatu di baliknya yang bergetar sangat halus, seperti permukaan air ketika batu kecil jatuh jauh di bawahnya.
"Saya..."
Hening. Neon berdengung. Dari keran bengkok, setetes air jatuh. Satu. Dua.
Jari Reyhan mengetuk meja, dua kali.
Lalu ia berdiri. "Sudah malam. Saya panggilkan ojek."
Anindya menatap punggungnya yang menjauh, dan ia tahu persis apa yang baru saja terjadi: pintu itu hampir terbuka, lalu ditutup, bukan dengan bantingan, tapi dengan sangat pelan dan sangat rapi. Ia tidak marah. Ia hanya merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, bukan kecewa, tapi lebih mirip rasa kehilangan atas sesuatu yang belum sempat dimiliki.
Di pintu dapur, Reyhan berhenti sebentar tanpa menoleh.
"Telurnya," katanya dengan suara rendah, "enak. Kamu nggak perlu berhenti bikin."
Lalu ia pergi, sebelum Anindya sempat menjawab.
---
Hanya satu orang yang menyaksikan hampir seluruh adegan itu dari balik pintu dapur yang sedikit terbuka.
Rafi baru saja kembali untuk mengambil jaketnya yang tertinggal. Ia sudah mengulurkan tangan ke gagang pintu ketika mendengar suara Reyhan, rendah, dan sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya: *Duduk, Anin.*
Ia berhenti. Mengintip lewat celah. Dua orang duduk berhadapan di bangku plastik, makan nasi dan telur dadar, dengan jarak yang terlalu dekat untuk bos dan pegawai, dan terlalu jauh untuk apa pun yang lain. Ia menahan napas selama beberapa menit. Lalu, dengan langkah yang jauh lebih pelan dari biasanya, ia mundur, meninggalkan jaketnya, dan keluar lewat pintu depan.
Di luar, motor Dimas masih terparkir di trotoar. Dimas sendiri duduk di atasnya, belum menyalakan mesin, sedang menghabiskan sebatang rokok.
"Belum pulang, Mas?"
"Nunggu hujan reda." Dimas melirik. "Kamu kok balik lagi?"
"Jaket ketinggalan." Rafi berhenti sebentar. Ia seharusnya menutup mulut. Ia tahu itu. Tapi mulut Rafi tidak pernah dikenal punya rem. "Tapi nggak jadi ngambil. Ada Mas Reyhan sama Anin di dapur. Makan berdua."
Dimas tidak menjawab. Asap rokoknya naik lurus ke langit malam.
"Makan doang kok, Mas," tambah Rafi cepat. "Cuma makan."
"Iya." Dimas menjentikkan abu rokoknya. "Cuma makan."
Nada suaranya datar, terlalu datar, dan Rafi mendadak menyesal sudah berbicara. Dimas menyalakan motornya tanpa menoleh lagi, menarik gas, dan pergi, meninggalkan Rafi sendirian di trotoar dengan firasat samar bahwa ia baru saja melemparkan sebutir kerikil ke danau yang tidak pernah ia sadari sedalam itu.
---
Di dalam dapur yang kini sepi, Anindya masih duduk di bangku plastik itu sendirian.
Piring Reyhan sudah kosong, piringnya sendiri tinggal sisa nasi. Ia menatap telur dadar gosong yang tersisa setengah, lalu mengambilnya dengan jari dan memasukkannya ke mulut perlahan.
Rasanya hangat, dan sedikit asin di ujung lidah. Ia tidak yakin itu garam atau air matanya sendiri.
*Kamu nggak perlu berhenti bikin.*
Kalimat itu terus berputar, pelan, seperti seseorang yang mengetuk pintu dari dalam rumah yang sudah lama ia kira kosong. Dua tahun ia menghindari dapur karena takut tidak ada yang bisa ia masakkan untuk siapa pun. Dan malam ini, di dapur orang lain, seorang laki-laki yang tidak pernah tersenyum baru saja memberinya izin untuk memasak lagi.
Ia menyeka matanya dengan punggung tangan, menyimpan piring di bak cuci, dan mengambil tasnya.
Di luar, hujan tipis mulai turun lagi di atas atap seng. Dan di jendela lantai atas rumah seberang, seorang ibu yang sedang menjemur handuk menutup gorden pelan-pelan. Ia tidak mendengar apa-apa. Tapi ia sudah hidup cukup lama di lingkungan ini untuk tahu bagaimana kabar menyebar: tidak dengan teriakan, tapi dengan kerikil kecil yang menggelinding dari satu mulut ke mulut berikutnya, sampai tidak ada yang ingat siapa yang melemparkannya pertama kali.
Bersambung ke Bab 6..