Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di saat Arhan masih menahan air matanya sekuat tenaga di sofa ruang tamu yang sepi, dengan kepalan tangan yang erat di atas pahanya, ia mendengar suara engsel pintu.
Pintu kamar Anya terbuka lebar.
Dari dalam, Hendra keluar lebih dulu, disusul Soraya yang membantu merapikan selendang di bahunya. Wajah mereka berdua terlihat lelah, tapi ada sedikit lega karena sudah melihat Anya terbaring nyaman di kamarnya sendiri.
Arhan buru-buru berdiri. Ia mengusap wajahnya cepat, memastikan tidak ada jejak air mata yang tersisa.
"Pa, Bu," sapa Arhan.
Hendra berjalan menghampiri Arhan dan menepuk bahunya pelan. Tepukan seorang ayah yang berat.
"Kami pulang dulu ya, Han," kata Hendra, suaranya pelan agar tidak terdengar sampai ke kamar. "Kasihan Anya kalau kita rame-rame terus di sini, dia butuh istirahat."
Soraya mengangguk di sampingnya. "Iya, Han. Biar Anya istirahat."
Arhan mengangguk mengerti. "Iya, Pa, Bu. Hati-hati di jalan ya."
Sebelum berbalik, Hendra menatap Arhan lekat-lekat. Tatapan pria yang sudah banyak makan asam garam kehidupan.
"Han," kata Hendra, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. "Kamu juga segera istirahat ya. Dari pagi kamu jagain Anya dan mengurus semuanya sendirian. Muka kamu udah pucat banget. Jangan dipaksain."
Arhan mencoba tersenyum. "Iya, Pa. Nanti abis Anya tidur, aku istirahat."
"Janji ya?" Hendra masih menepuk bahunya. "Kabari Papa sama Mama kalau butuh apapun. Jangan ditahan sendiri. Anggap kami sebagai orang tuamu sendiri. Kalau Anya butuh apa, kalau kamu butuh apa, langsung telepon. Jangan nunggu besok."
Pesan itu sederhana, tapi bagi Arhan yang sedang menyimpan rahasia sebesar itu, pesan itu terasa seperti beban sekaligus penguat.
Arhan mengangguk dan menjawab dengan suara yang ia jaga agar tetap stabil. "Iya, Pa. Makasih banyak ya, Pa. Makasih udah datang. Maaf jadi ngerepotin."
"Nggak ngerepotin sama sekali," jawab Hendra. "Kamu yang sabar ya, Han. Jaga Anya baik-baik."
Soraya ikut mendekat. "Kami pergi dulu ya, Han. Titip Anya."
"Iya, Bu."
Arhan mengantar mereka sampai ke depan pintu rumah. Angin malam sudah mulai masuk, dingin. Taman kecil yang Anya tanam terlihat sedikit berantakan di bawah cahaya lampu teras.
Hendra dan Soraya berjalan menuju mobil tua mereka yang terparkir di depan pagar. Hendra membukakan pintu untuk Soraya.
"Dah, Han. Kunci pintunya ya," kata Soraya sambil melambaikan tangan dari dalam mobil.
"Dah, Bu, Pa. Hati-hati."
Mobil itu pelan-pelan menjauh, lampu belakangnya menghilang di tikungan jalan. Arhan berdiri di depan pintu beberapa detik, menatap jalan yang kosong.
Lalu ia mengunci pintu. Suara kunci itu terdengar keras di keheningan rumah.
Rumah itu kini benar-benar hanya milik mereka berdua lagi.
Arhan masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan. Lampu kamar sudah diredupkan, hanya lampu tidur kecil di sudut yang menyala temaram.
Anya tidak tidur. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, dengan sebuah figura foto di tangannya. Foto yang selalu ada di atas nakas, yang telah Arhan rapikan.
Itu foto mereka saat menikah. Di atas pelaminan. Anya memakai gaun putih sederhana, rambutnya disanggul rapi, wajahnya bersinar. Arhan di sampingnya memakai kemeja putih, tersenyum kaku karena gugup.
Anya mengelus kaca figura itu dengan jarinya.
"Han, sini," panggilnya pelan tanpa menoleh.
Arhan mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Lihat deh," kata Anya, menunjukkan foto itu pada Arhan. Suaranya pelan dan sedikit bergetar. "Dulu aku cantik ya?"
Arhan menatap foto itu, lalu menatap Anya.
"Dulu aku keliatan cantik, rambutnya tebal, pipinya isi. Nggak kayak sekarang," lanjut Anya. Ia menunduk, menatap lengannya sendiri yang kurus. "Sekarang jelek. Kulitnya pucat, rambutnya tipis, badannya kayak tulang. Aku aja nggak mau lihat kaca."
"An, kamu ngomong apa sih?" Arhan langsung merebut figura itu dengan lembut dan meletakkannya kembali di atas nakas, supaya Anya tidak terus menatapnya dan membandingkan.
Arhan meraih wajah Anya, mengangkat dagunya pelan agar menatapnya.
"Dengerin aku. Kamu di foto itu cantik. Iya. Tapi kamu sekarang juga tetap cantik. Cantik banget malah."
Anya menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Bohong. Kamu ngomong gitu biar aku nggak sedih aja."
"Bukan bohong," Arhan mengusap pipi Anya. "Dulu cantik kamu itu cantik karena gaun, karena makeup. Sekarang cantik kamu itu beda. Cantik karena kamu kuat. Cantik karena kamu masih bisa senyum padahal lagi sakit. Itu jauh lebih cantik, An."
Anya terdiam, menatap mata Arhan yang tulus.
"Jangan ngomongin diri kamu jelek lagi ya. Di mata aku, kamu tetap Anya yang sama yang bikin aku jatuh cinta di pelaminan itu. Nggak ada bedanya."
Kata-kata itu berhasil. Anya yang tadinya sudah di ambang tangis, bibirnya yang bergetar akhirnya tertarik menjadi senyum kecil. Senyum haru.
"Kamu bisa aja, Han."
"Beneran," Arhan membalas senyumnya. "Udah, jangan pegangin foto itu terus. Nanti kamu capek. Tidur ya?"
Anya mengangguk pelan. Ia meletakkan kepalanya kembali ke bantal. Arhan membantu menarik selimut hingga ke dadanya.
Jam dinding menunjukkan hampir tengah malam. Jarumnya bergerak pelan menuju angka dua belas.
Anya masih terjaga, tapi matanya sudah berat. Ia meraih tangan Arhan dan menggenggamnya erat, lalu ia bergeser mendekat.
"Peluk aku, Han," bisiknya.
Arhan naik ke atas kasur dengan hati-hati, tidak ingin mengguncang kasur terlalu keras. Ia berbaring di samping Anya dan memeluknya dari samping. Tubuh Anya yang ringan terasa pas di dalam pelukannya. Kepala Anya bersandar di dadanya.
Mereka berbaring seperti itu cukup lama dalam diam. Hanya suara napas mereka yang terdengar.
"Han," panggil Anya pelan, matanya sudah setengah terpejam.
"Iya?"
"Jangan pergi ya."
"Nggak. Aku di sini terus."
Anya mengangguk pelan dalam pelukannya. Perlahan, napasnya menjadi lebih teratur, lebih dalam. Genggaman tangannya di baju Arhan mengendur.
Akhirnya, Anya tertidur pulas di pelukan Arhan. Wajahnya yang tadi tegang kini terlihat damai.
Arhan menatap wajah istrinya yang tertidur. Ia mengusap rambutnya pelan.
Ia merasa letih. Letih yang luar biasa, bukan hanya fisik karena seharian mengurus kepulangan, tapi letih di hati. Letih karena harus menjadi aktor selama seharian penuh.
Ia menarik selimut lebih tinggi, menutupi bahu mereka berdua. Ia menatap langit-langit kamar yang temaram.
Di dalam hati, ia berbisik pada dirinya sendiri, sebuah harapan yang sangat kekanak-kanakan tapi ia butuhkan.
"Semoga ini semua cuma mimpi. Semoga besok aku bangun, dan Anya sehat lagi seperti biasa. Semoga besok Anya bangun dan marah-marah karena aku belum nyiram bunga di halaman."
Harapan itu ia genggam erat sambil matanya perlahan terpejam. Kantuk yang berat akhirnya menariknya ke dalam tidur.
Rumah itu sunyi. Hanya suara detik jam dan napas Anya yang teratur.
Arhan tertidur lelap. Benar-benar lelap karena kelelahan yang sudah tidak tertahankan seharian penuh menahan tangis dan berpura-pura kuat.
Entah sudah berapa lama mereka tertidur. Mungkin satu jam, mungkin dua jam. Lampu tidur masih menyala temaram.
Di tengah tidurnya yang dalam, di dalam pelukannya sendiri, Arhan merasakan sesuatu yang aneh.
Tubuh Anya yang tadinya lemas dan hangat, tiba-tiba menegang kaku.
Lalu kejang pelan.
Genggaman tangan Anya yang tadi mengendur, tiba-tiba mencengkeram baju Arhan dengan kuat.
Napas Anya yang tadinya teratur dan dalam, tiba-tiba berubah menjadi sesak, pendek-pendek, dan berat. Seperti ada yang menyumbat di dadanya.
"An... Anya?"
Arhan terbangun dengan panik.