NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Mengajak Makan Bersama

Keesokan harinya, Meng Lin menerima uang 5000 Yuan dari Pamannya. Jumlah yang sangat banyak di tahun itu, bisa dibilang dia sudah jadi nona kaya.

Sebenarnya itu juga sudah sangat kurang, tapi Meng Lin tidak mempermasalahkannya, anggap saja sisanya biaya hidupnya selama tinggal dengan mereka.

Dan untuk Meng Ji, dia juga setuju bayar sewa selama tiga tahun. Dia langsung membayar lunas 180 yuan, tidak ada surat kontrak hanya mereka saja yang tahu.

Meng Lin sangat puas, untuk sementara dia tidak perlu takut kekurangan uang. Untuk beberapa hari kedepannya, dia harus pergi ke pasar gelap untuk menimbun persediaan untuk di bawa ke desa.

Meng Wan sangat marah saat melihat Ayahnya menyerahkan uang sebanyak itu kepada Meng Lin. Dia sempat bertanya kepada Ayahnya, apakah mereka masih punya tabungan, dia juga harus beli baju baru untuk persiapan kerja.

Belum lama Paman Lin pergi bekerja, terdengar suara beberapa gadis dari halaman depan.

Meng Wan yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.

Beberapa saat kemudian, tiga orang gadis masuk ke dalam rumah.Meng Wan tampak sedikit terkejut. "Cun Yu? Kalian datang?"

Cun Yin tersenyum lebar.."Ya. Kami sengaja datang mencarimu."

Meng Wan memasang senyum. "Ada apa?"

Cun Yu langsung menarik lengannya dengan antusias. "Kita mau mengajakmu jalan-jalan!"

"Jalan-jalan?"

"Iya." Cun Yu mengangguk cepat. "Kami dengar di Toko Serba Ada ada barang-barang baru. Katanya ada beberapa barang yang belum pernah kita lihat sebelumnya."

Teman-temannya yang lain ikut mengangguk.

"Kita lihat-lihat saja. Kalau ada yang bagus, mungkin bisa membeli sesuatu."

Senyum di wajah Meng Wan langsung membeku. Dadanya terasa sesak, Toko Serba Ada, barang baru. Dia tahu, teman-temannya memintanya untuk mentraktir mereka lagi.

Sekarang Meng Wan bahkan hanya memiliki dua yuan di sakunya. Uang tabungannya yang lain tidak mungkin ia sentuh.

Uang itu sudah ia kumpulkan sedikit demi sedikit dan akan digunakan untuk membeli barang-barang yang ia inginkan. Tidak mungkin ia menghabiskannya hanya untuk mentraktir teman-temannya.

"Kenapa diam?" Cun Yu menggoyangkan lengannya.

Meng Wan segera tersadar. Ia tersenyum seperti biasa. "Ah... tidak apa-apa."

"Kalau begitu ayo." Ajak temannya yang lain yang terlihat sangat bersemangat dan tidak sabar.

"Sebentar." Meng Wan buru-buru mengajak mereka duduk. "Kita mengobrol dulu. Aku juga ingin ingin keluar, tapi sebentar saja sekalian kita makan siang!."

Cun Yu mengerutkan kening. "Biasanya kau paling bersemangat kalau mendengar ada barang baru."

Meng Wan tertawa kecil. "Bukan begitu, aku baru selesai bersihkan rumah, jadi aku agak lelah!"

"Oh ternyata begitu.. Baiklah, kita pergi nanti saja!" kata Cun Yun dengan pasrah.

Ketiga gadis itu akhirnya duduk. Meng Wan terus mengajak mereka berbicara tentang berbagai hal. Ia sengaja memperpanjang percakapan, berharap bisa menemukan alasan untuk tidak pergi.

Namun di dalam hatinya, ia semakin kesal. Semua ini gara-gara Meng Lin. Kalau saja Meng Lin tidak meminta uang itu kembali, dia tidak perlu berada dalam situasi seperti ini.

Uang yang selama ini mereka gunakan untuk kebutuhan rumah sebenarnya juga biasa digunakan olehnya.

Meng Lin benar-benar egois. Ia mengambil kembali uang keluarga hanya demi dirinya sendiri. Padahal selama ini bukankah mereka tinggal bersama?

Bukankah uang itu juga digunakan untuk kebutuhan rumah? Meng Wan semakin kesal hanya dengan memikirkannya. Namun wajahnya tetap memasang senyum lembut.

Tiba-tiba terdengar suara dari halaman. "Meng Lin ada di rumah?"

Meng Wan langsung menoleh. Seorang pemuda berdiri di depan pintu.

Tang Qi. Begitu melihatnya, ekspresi Meng Wan berubah, senyumnya makin lebar. Ia beranjak dan meminta Tang Qi untuk masuk.

"Aku mau bertemu Meng Lin."

Meng Wan menahan rasa kesalnya. "Kakak ada di kamarnya."

Tang Qi mengangguk. "Aku datang untuk mengajaknya keluar makan."

Mata Meng Wan langsung berbinar. Sebuah ide muncul di kepalanya. Makan? Kalau begitu...

Meng Wan menoleh kepada Cun Yu dan teman-temannya.

Kemudian ia kembali melihat Tang Q. Senyumnya makin melebar. Kalau Meng Lin keluar bersama Tang Qi, dia bisa ikut.

Dan kalau mereka makan bersama... Tentu saja Meng Lin yang akan membayar. Dengan begitu, dia tidak perlu membawa teman-temannya ke Toko Serba Ada dan mengeluarkan uangnya sendiri.

Dalam hati, ia sudah mulai menghitung. Kalau Meng Lin yang membayar makan, uangku bisa tetap kusimpan.

Rasa kesalnya kepada Meng Lin tadi seketika berubah menjadi rasa puas. Ia hanya perlu membuat Meng Lin bersedia mentraktir mereka.

Dan untuk itu, Meng Wan tahu betul bagaimana cara bersikap di depan orang lain. Ia kembali memasang wajah polosnya. Seolah-olah tidak pernah memiliki niat buruk sedikit pun.

Meng Wan segera berdiri dan berjalan menuju kamar Meng Lin. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu.

"Meng Lin."

Meng Lin yang sedang duduk di tepi kasur menghentikan kegiatannya. Beberapa potong tergeletak di atas kasur, dia sedang memilah pakaian yang akan dibawa ketika berangkat ke Desa Qinghe.

"Ada apa?" tanyanya sedikit kesal, karena Meng Wan masuk tanpa mengetuk pintu. Itu juga salahnya, lupa menguncinya.

"Tang Qi datang." balasnya yang tidak merasa bersalah.

Mendengar nama itu, tangan Meng Lin berhenti. Tang Qi. Baru saat itulah ia teringat sesuatu yang hampir terlupakan.Pemilik tubuh ini ternyata memiliki seorang kekasih. Meng Lin terdiam beberapa detik.

Selama beberapa hari terakhir, pikirannya terlalu sibuk mengurus keluarga Lin, pendaftaran pemuda terpelajar, persiapan keberangkatan, dan ruang dimensinya.

Ia bahkan hampir melupakan keberadaan Tang Qi.

"Dia datang untuk mengajakmu makan di luar," lanjut Meng Wan.

Meng Lin mengangguk. "Baik. Aku akan keluar sebentar." Kebetulan. Ia memang sudah berniat mengakhiri hubungan ini.

Mumpung masih ada waktu sebelum keberangkatannya, lebih baik masalah tersebut diselesaikan sekarang daripada terus berlarut-larut.

Namun baru beberapa langkah Meng Wan hendak pergi, gadis itu tiba-tiba berhenti. "Oh, iya." Ia berbalik. "Aku dan teman-temanku juga ingin ikut."

Meng Lin menatapnya. "Silakan."

Wajah Meng Wan langsung tersenyum. "Tapi kau yang traktir."

Meng Lin terdiam. "Maksudmu?"

"Kami semua ikut makan. Kau yang membayar."

Nada Meng Wan terdengar seolah-olah permintaannya sangat wajar.

Kemudian ia menambahkan dengan suara lebih pelan. "Tapi uangnya berikan kepadaku. Jangan sampai teman-temanku tahu kalau kau yang membayar. Aku akan bilang aku yang mentraktir mereka."

Meng Lin menatapnya beberapa detik.

Tatapannya kosong, bukan karena bingung.

Melainkan karena benar-benar tidak mengerti.

"Kenapa aku harus mentraktir mereka?"

Senyum Meng Wan langsung menghilang.

"Meng Lin, kau sekarang punya uang."

"Lalu?"

"Kau hanya perlu mentraktir sekali." kata Meng dengan geram.

Meng Lin masih menatapnya datar. "Mereka temanmu, bukan temanku."

Wajah Meng Wan mulai memerah.

"Traktir sekali saja, memangnya kenapa?"

"Kenapa aku harus membayar makanan orang yang bahkan tidak kukenal dekat?"

Meng Wan mengepalkan tangannya. Dasar pelit! Bukankah Meng Lin baru saja mendapatkan kembali uangnya?

Apa salahnya mengeluarkan sedikit uang untuk mentraktir mereka? Namun ia tidak bisa marah.

Teman-temannya masih berada di ruang depan.

Kalau ia bertengkar dengan Meng Lin sekarang, mereka pasti akan mendengar. Meng Wan menarik napas dalam-dalam.

Kemudian wajahnya berubah. Seketika ia mengangkat tangannya sendiri.

Plak...!

Telapak tangannya menghantam pipinya. Wajahnya langsung merah, karena dia benar-benar memapar pipinya dengan keras agar lebih nyata.

Meng Lin terdiam, adegan seperti ini sangat kampungan. Mau melawan senior? Jangan mimpi.

Meng Wan menundukkan kepala sambil memegangi pipinya. Kemudian ia mengangkat wajah dan memberikan senyum kecil yang aneh. Senyum mengejek. "Aku tahu kau tidak suka padaku."

Setelah mengatakan itu, Meng Wan berbalik hendak keluar. Namun baru satu langkah, tangannya tiba-tiba ditarik.

"Ah!" Tubuh Meng Wan tersentak ke belakang.

Meng Lin sudah berdiri di belakangnya dan mencengkeram kerah bajunya. "Kau mau ke mana hmm...?"

Wajah Meng Wan berubah. "Lepaskan aku!"

Meng Lin tidak melepaskannya. Ia menatap pipi Meng Wan yang memerah. Sejak awal ia sudah mengetahui sifat gadis ini.

Meng Wan pasti berniat keluar dan membuat teman-temannya mengira bahwa Meng Lin telah menamparnya. Sayangnya, rencana itu terlalu mudah ditebak.

Meng Lin menarik sudut bibirnya. "Kalau kau ingin memfitnahku..." Tangannya masih mencengkeram kerah Meng Wan. "...setidaknya lakukan dengan sedikit lebih pintar."

Meng Wan menatapnya dengan panik. "Apa yang kau bicarakan?"

Meng Lin mendekat sedikit. "Kalau memang kau ingin mengatakan aku yang menamparmu, maka tamparan tadi akan menjadi sia-sia."

Wajah Meng Wan semakin pucat.

Meng Lin kemudian tersenyum tipis. "Jadi, kalau begitu..." Ia mengangkat tangannya. "Lebih baik aku yang menamparmu."

Mata Meng Wan langsung membesar. "Kau—"

Plak.. Plak..!

Suara tamparan menggema di dalam kamar.

Kali ini benar-benar berasal dari tangan Meng Lin.

Meng Wan membeku. Dia menatap Meng Lin dengan tatapan tak percaya. Meng Lin memukulnya?.Sejak kapan dia begitu berani?

Meng Lin melepaskan kerah bajunya. "Nah..."

Ia kembali duduk di tepi kasur dan mengambil salah satu bajunya. "Kalau sekarang kau keluar dan mengatakan aku yang menamparmu, setidaknya fitnahmu tidak sia-sia."

Meng Wan masih berdiri terpaku. Tangannya menutupi pipinya. Ia tidak pernah menyangka Meng Lin akan membalas triknya dengan cara seperti itu.

Dan yang paling membuatnya kesal... Ia bahkan tidak bisa mengatakan bahwa Meng Lin berbohong. Karena kali ini, memang Meng Lin yang menamparnya.

"Keluar lah.. Dan katakan sesuai apa yang sudah kau rencanakan. Aku akan mengikuti alur..!"

"Kau.. Dasar anak yatim tunggu saja kau...!"

Kali ini Meng Lin benar-benar marah. Dia kembali beranjak dan menampar Meng Wan sekuat tenaga..

"Plak....!"

.

.

.

1
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
Rochmanah Setyowati
ditunggu upnya thor 💪💪💪👍👍👍
Yani
lanjut Thorr
gift ☕ biar semangat 🥰🥰
Fauziah Daud
sehat selalu n lanjut
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat 😍💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n terus sehat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!