Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dua jam kemudian, Karin melangkah masuk ke lantai paling atas gedung Dirgantara Group. Ia mengenakan gaun musim panas berwarna pastel yang dipilihkan oleh Bu Marta, terlihat seperti gadis desa yang tersesat di menara gading. Para staf menatapnya dengan tatapan kasihan dan sedikit geli.
Begitu pintu ruang CEO terbuka, aroma parfum mahal yang manis langsung menyengat hidung Karin. Di sana, duduk di sofa kulit dengan anggun, adalah Vanessa. Wanita itu mengenakan blazer putih bersih, memegang sebuah kotak tupperware kaca yang elegan.
"Arlan!" Vanessa berdiri, tersenyum manis, tapi matanya langsung menajam saat melihat Karin. "Oh, Kak Karin ikut? Aku... aku tidak tahu kalau hari ini ada makan siang keluarga."
"Mbak Vanessa!" sapa Karin riang, berlari kecil dan langsung duduk di sebelah Arlan, menjepit lengan suaminya. "Mbak Vanessa bawa apa? Baunya enak! Apa ini bau uang?"
Vanessa tersenyum kaku, jelas tersinggung. "Ini sup burung walet dan steak wagyu yang aku masak sendiri untuk Kak Arlan. Untuk menjaga kesehatannya yang sering stres."
"Oh, bagus! Kak Arlan memang butuh sup, soalnya lehernya kaku kayak robot kalau kebanyakan mikir," celetuk Karin.
Arlan menatap Karin, lalu menatap Vanessa. "Terima kasih, Vanessa. Tapi Bu Marta sudah menyiapkan makan siang."
"Tapi ini spesial, Arlan," Vanessa memajukan kotak itu, lalu mengalihkan perhatiannya pada Karin, berniat menunjukkan superioritasnya. "Ngomong-ngomong, Kak Karin. Tadi pagi aku baru saja kembali dari pameran seni dan wine tasting. Kak Arlan suka sekali wine merah, terutama yang punya body dan tannin yang kuat. Kak Karin pasti tidak mengerti soal wine, ya?"
Ini adalah serangan langsung. Vanessa ingin membuktikan bahwa ia adalah pasangan yang sempurna untuk Arlan secara intelektual, sementara Karin hanyalah istri yang tidak tahu apa-apa. Tokoh asli Karin dulu akan menangis dan berkata, Arlan nggak pernah ajak aku minum wine!
Karin menatap Vanessa dengan mata berbinar polos. "Wine merah? Oh, aku tahu, Mbak! Itu kan anggur yang lagi marah!"
Vanessa tertawa kecil, menatap Arlan dengan tatapan 'lihatlah betapa bodohnya istrimu'. "Bukan, Kak Karin. Body dan tannin itu istilah untuk rasa dan tekstur. Wine yang bagus harus memiliki karakter yang kuat."
"Oh, jadi wine-nya punya badan?" potong Karin, wajahnya terlihat sangat prihatin. "Mbak Vanessa, Mbak kasih makan apa wine-nya sampai badannya sebesar itu? Kalau wine-nya obesitas, kasihan dong, Mbak. Pantas saja Kak Arlan bilang perutnya sering kembung habis minum itu. Ternyata wine-nya kegemukan! Nggak sehat, Mbak! Harusnya wine-nya disuruh diet, jangan dikasih tannin terus, nanti kolesterolnya naik!"
Pfft!
Arlan yang sedang meneguk air putih langsung menyemburkannya ke tisu. Pria itu menutup mulutnya, bahunya berguncang hebat saat ia berusaha menahan tawa.
Wajah Vanessa memerah padam, antara malu dan kesal. "Kak Karin, tannin itu bukan makanan! Itu senyawa polifenol dari kulit anggur! Kau benar-benar tidak tahu apa-apa!"
"Terus kenapa Mbak Vanessa bilang wine-nya punya badan? Kalau wine-nya nggak punya badan, berarti wine-nya hantu dong, Mbak? Waduh, Mbak Vanessa minum hantu? Nanti perutnya masuk angin, lho!" Karin menatap Vanessa dengan tatapan penuh kekhawatiran yang tulus.
Vanessa berdiri, napasnya memburu karena menahan emosi. Ia tidak bisa berdebat dengan orang gila. "Arlan, aku... aku permisi dulu. Supnya kutinggal di meja. Selamat makan siang."
Tanpa menunggu jawaban, Vanessa berbalik dan hampir berlari keluar dari ruangan, meninggalkan aroma parfumnya yang tertinggal.
Ruangan kembali hening, kecuali suara Arlan yang akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Tawa itu terdengar renyah, mengisi sudut-sudut ruangan yang biasanya dingin.
"Kau sengaja, ya?" tanya Arlan di sela tawanya, menatap Karin dengan mata yang berbinar aneh.
Karin mengedipkan matanya, memasang wajah bingung. "Sengaja apa, Kak? Sengaja lapar? Kalau sengaja lapar, aku boleh makan sup hantunya Mbak Vanessa nggak?"
Arlan menggelengkan kepala, masih tersenyum. Ia menarik kursi di sebelahnya, mendekatkan Karin. "Makanlah sup waletnya. Tapi jangan yang kegemukan."
Di dalam hati, Karin bersorak. Langkah kelima berhasil! Pelakor kabur, CEO dingin tertawa terbahak! Tapi tunggu... kenapa tatapan Kak Arlan makin tajam? Jangan-jangan dia mulai curiga!
lanjut kn thor💪