Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salinan Di Atas Meja
Waktu seolah membeku di sudut ruangan divisi keuangan lantai dua puluh gedung perkantoran Jalan Sudirman. Suara dengung mesin pendingin udara dan rintik hujan yang menghantam kaca jendela luar mendadak lenyap, tersedot oleh ketegangan absolut yang tercipta di antara dua orang manusia berdiri dalam jarak kurang dari dua meter.
Davin berdiri kaku di samping meja kerja Nadia. Tangannya yang barusan ditarik dari dalam laci meja bagian bawah terasa dingin, sementara detak jantungnya bergemuruh hebat menghantam tulang rusuk.
Dia adalah seorang manajer yang terbiasa memegang kendali penuh di ruang rapat, orang yang kata-katanya didengar dan ditakuti oleh bawahannya. Namun di detik ini, tertangkap basah melanggar privasi dan mencoba memeriksa laci stafnya sendiri, seluruh wibawa profesional itu runtuh berkeping-keping dalam sekejap.
Nadia Enggak berteriak. Dia Enggak memanggil petugas keamanan gedung, dan dia juga tidak melempar gelas air hangat yang ada di genggamannya.
Perempuan itu hanya berdiri tegak, mengenakan blazer abu-abunya yang rapi, menatap Davin dengan sorot mata yang memancarkan kejutan dingin yang perlahan berubah menjadi ketajaman penuh kemenangan.
"Lagi mencari salinan dokumen pembanding yang selama ini Anda minta agar enggak dipersoalkan lagi, Pak Davin?" tanya Nadia dengan suara pelan namun menusuk tajam, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari atasan langsungnya itu.
Davin menelan ludahnya yang terasa pahit. dia, rahangnya mengeras, mencoba menegakkan kembali sisa-sisa harga diri dan otoritasnya sebagai seorang manajer.
Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar enggak terdengar terengah-engah, Davin menegakkan tubuhnya, merapikan letak kemejanya yang sedikit kusut, lalu memasang ekspresi dingin dan berwibawa.
"Jangan bicara sembarangan, Nadia," ucap Davin dengan nada suara tertahan namun penuh penekanan. "Saya enggak sedang mencari dokumen apa pun. Saya hanya... memeriksa apakah area meja staf saya bersih dari arsip sensitif yang bisa tercecer menjelang audit lanjutan dari pusat."
Sebuah senyuman sinis terukir tipis di sudut bibir Nadia. dia melangkah mendekat perlahan, meletakkan gelas air hangatnya di atas meja tepat di sebelah tumpukan map, lalu menatap lurus ke dalam mata Davin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Pemeriksaan arsip sensitif di dalam laci pribadi staf yang sedang enngak ada di tempat, tanpa koordinasi, dan dilakukan di jam istirahat saat ruangan sepi?"
Nadia memiringkan sedikit kepalanya, mengulangi kalimat tersebut dengan nada menyindir yang telak. "Cara kerja yang luar biasa teliti untuk seorang manajer divisi, Pak. Sayangnya, salinan lain dari dokumen pembanding audit itu sudah saya amankan di tempat yang jauh lebih aman sejak pertama kali saya tahu ada pihak-pihak yang ingin masalah ini ditutup-tutupi."
Mendengar kata-kata itu, darah di kepala Davin mendadak mendidih. Amarah yang sedari tadi dia tahan kini meledak di dalam dada, mengancam untuk meruntuhkan seluruh kendali dirinya. Tangannya mengepal erat di dalam saku celana, buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang teramat sangat.
Namun, Davin tahu betul dia tidak boleh kehilangan kendali di tempat terbuka seperti ini. Jika dia terpancing emosi dan berbuat kasar, Nadia justru akan mendapatkan bukti telak untuk melaporkannya secara resmi ke manajemen pusat.
Davin menarik napas dalam-dalam, memaksakan seulas senyuman sinis yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Kamu benar-benar keras kepala, Nadia," desis Davin dengan suara berbisik tajam, mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati perempuan itu. "Kamu pikir dengan memegang salinan dokumen itu kamu bisa menjatuhkan saya? Asal kamu tahu, di hadapan direksi dan sistem perusahaan, laporan akhir sudah disahkan dan ditandatangani. Dokumen tandingan apa pun yang kamu pegang secara ilegal enggak akan ada artinya selain dianggap sebagai upaya sengaja untuk merusak reputasi divisi kita."
Nadia enggak gentar sedikit pun. dia membalas tatapan tajam itu dengan kepala tegak. "Silakan buktikan itu di hadapan komite etika atau auditor independen jika laporan itu memang bersih tanpa rekayasa, Pak Davin. Tapi selama salinan ini ada di tangan saya, Anda enggak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak di atas kursi jabatan Anda."
Sebelum Davin sempat membalas ucapan tersebut, suara derap langkah kaki beberapa rekan kerja divisi keuangan yang baru saja kembali dari kantin lantai bawah mulai terdengar mendekati pintu masuk ruangan.
Davin langsung menarik mundur tubuhnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik badan dengan langkah cepat meninggalkan meja Nadia, berjalan kembali menuju ruang kerjanya sendiri di sudut ruangan, lalu membanting pintu kaca ruangannya rapat-rapat di bawah tatapan heran beberapa pegawai yang baru saja masuk.
Di dalam ruangan kerjanya yang kedap suara, Davin menjatuhkan diri ke kursi putar, mencengkeram tepi meja dengan napas memburu dan dada yang naik-turun menahan amarah yang meluap-luap.
Perangkap itu semakin menyempit, dan dia tahu dia harus segera mengantisipasi langkah Nadia sebelum dokumen salinan di tangan stafnya itu memicu pemeriksaan internal dari pusat.
Sementara itu, di Jalan Melati, di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter yang terasa lebih hangat setelah hujan reda, Keira sedang menikmati sisa sorenya dengan tenang.
Buku sketsa bersampul hitam tebal tergeletak tertutup di atas meja plastik.
Kolaborasi edisi kedua untuk zine independen milik Rian telah disepakati, dan draf awalnya sudah selesai dikirimkan tanpa ada revisi. Di bawah tumpukan diktat kuliah, map plastik berisi salinan dokumen pembanding pertama dari Nadia tersimpan rapat, aman, dan tersembunyi.
Keira merasa ada beban tak kasat mata yang terangkat dari pundaknya. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dia bisa bernapas dengan kelegaan yang murni—sebuah kelegaan yang lahir dari kerja keras tangannya sendiri, di luar dari apa yang diberikan atau diizinkan oleh Davin.
Dia sedang menyeduh teh hangat ketika mendengar suara deru motor matic Davin memasuki halaman kos.
Biasanya, setiap kali mendengar suara motor itu, ada refleks cepat di dalam diri Keira untuk segera merapikan meja, menyembunyikan buku sketsa, dan bersiap menyambut kekasihnya dengan senyuman paling sempurna. Namun sore ini, gerakan Keira sedikit melambat. Dia berdiri sejenak di dekat kompor portabel, memegang cangkir teh hangat, sambil merenungkan betapa jauhnya dia telah berubah dalam diam.
Ketukan tiga kali di pintu kayu terdengar menyusul seketika.
Keira meletakkan cangkirnya, menarik napas dalam-dalam untuk menyamakan ritme napasnya, lalu melangkah tenang membukakan pintu.
Davin berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang tampak jauh lebih berantakan dari biasanya. Kemejanya sedikit keluar di sisi kiri, dasinya longgar, dan garis-garis kelelahan serta kemarahan yang tertahan tergambar jelas di wajah lelaki itu.
Meskipun dia mencoba menampilkan senyuman tipis saat melihat Keira, mata Davin menyembulkan sorot gelisah yang tidak bisa disembunyikan.
"Sore, Sayang," sapa Davin dengan suara yang terdengar sedikit parau, langsung melangkah masuk dan merengkuh tubuh Keira ke dalam pelukan bukan pelukan hangat yang penuh kelembutan seperti biasanya, melainkan pelukan erat yang terasa tergesa-gesa, seolah lelaki itu sedang berpegangan pada jangkar terakhir di tengah badai.
Keira tertegun sejenak, merasakan debar aneh di dada saat tubuh mereka bersentuhan. dia membalas pelukan itu dengan kaku, mengelus punggung kekasihnya pelan.
"Sore, Vin... Kamu kelihatan capek banget. Ada apa lagi di kantor?" tanya Keira lembut, berusaha menyembunyikan getar kekhawatiran di balik suaranya.
Davin melepaskan pelukan, menatap wajah Keira lekat-lekat selama beberapa detik, lalu tersenyum tipis sambil mengusap pipi kekasihnya dengan lembut sebuah sentuhan yang terasa begitu kontras dengan badai kemarahan yang baru saja ia hadapi di kantor siang tadi.
"Enggak ada apa-apa, Kei... Cuma hari ini kerjaan di kantor benar-benar bikin penat," bohong Davin dengan suara lirih, menyandarkan keningnya di bahu Keira.
"Cuma di sini... di kamar ini... aku bisa merasa tenang."
Mendengar kalimat itu, dada Keira berdesir nyeri. Kalimat yang sama yang selalu diucapkan Davin setiap kali lelaki itu datang membawa beban dunia luarnya.
Namun kali ini, di balik dekapan yang erat itu, Keira tahu persis bahwa dunia luar yang coba ditolak oleh Davin sedang merangsek masuk, merusak dinding-dinding perlindungan mereka, dan membawa rahasia-rahasia gelap yang cepat atau lambat akan menghancurkan segalanya.
Dan di dalam keheningan kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu, di bawah tumpukan diktat kuliah di sudut meja, map plastik berisi salinan dokumen audit Nadia tetap bersemayam diam-diam menjadi saksi bisu atas keretakan yang kian melebar di antara dua manusia yang saling terikat dalam kepalsuan.