Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suku Duyung Kelam & Sabotase Komandan Morvath
Pusaran air raksasa berdiameter satu mil itu menarik Bahari Purba meluncur turun ke dalam kegelapan jurang laut. Dinding-dinding air berputar kencang di sekeliling kapal, membendung lautan asam dengan pendar Runa pelindung kuno yang membiaskan warna biru laut yang menenangkan.
Setelah melewati batas pendar Runa di kedalaman ribuan meter, tekanan air mendadak lenyap. Kapal Bahari Purba jatuh melayang secara perlahan, mendarat dengan mulus di atas permukaan danau jernih di dalam sebuah kubah udara bawah air yang amat luas.
Di sekeliling mereka membentang lanskap kota kuno yang menakjubkan. Bangunan-bangunan berbahan batu karang putih dan kristal laut berdiri megah di antara terumbu karang raksasa yang menyala terang oleh pendar alami. Udara segar yang kaya akan tenaga batin murni mengalir memenuhi seluruh kubah, terpisah sepenuhnya dari racun Lautan Hitam di luar sana.
Namun, keindahan kota bawah air ini diselimuti oleh suasana muram dan duka yang mendalam.
Belum sempat Kapten Roderick menambatkan jangkar di dermaga kristal, puluhan tombak bermata tulang raksasa telah teracung mengelilingi Bahari Purba. Sosok-sosok bertubuh manusia dengan bersisik biru tua dan ekor ikan berhias sirip tipis melompat keluar dari dalam danau, menatap para pendatang dengan sepasang mata merah ketakutan dan permusuhan.
Mereka adalah Suku Duyung Kelam—bangsa penjaga gerbang Istana Bawah Air sejak era purba.
"Tahan senjata kalian!"
Sebuah suara merdu namun penuh wibawa menghentikan gerakan para prajurit duyung. Dari balik barisan penjaga, melangkah keluar seorang wanita anggun berambut perak panjang yang terurai bagaikan sutra air. Tubuhnya dibungkus zirah sisik perak berukir Runa gelombang, dan di tangannya tergenggam sebuah trisula kristal biru yang memancarkan pendar energi tingkat tinggi.
Dialah Putri Nerida, pemimpin tertinggi Suku Duyung Kelam.
Putri Nerida menatap Hiraisin, Liora, dan Kapten Roderick secara bergantian. Wajahnya yang jelita tampak sangat pucat, dan garis-garis kelelahan batin terukir jelas di sekitar matanya.
"Manusia daratan..." bisik Putri Nerida dengan nada dingin bercampur cemas. "Bagaimana mungkin kalian bisa menembus benteng Leviathan milik Abyss di permukaan?"
"Monster itu telah dimusnahkan oleh rekan kami," jawab Liora seraya melangkah maju dengan tangan terbuka, menunjukkan bahwa mereka tidak membawa niat jahat. "Kami datang bukan untuk mengganggu wilayah kalian. Kami mencari jalan menuju Istana Bawah Air untuk mengamankan Artefak Pedang Kilat Kedua sebelum jatuh ke tangan Abyss."
Mendengar nama artefak purba tersebut, reaksi para prajurit duyung mendadak gempar. Namun sebelum Putri Nerida sempat merespons, dari balik bangunan kristal terdengar rintihan kesakitan yang memilukan dari ratusan warga duyung yang terbaring lemas di tempat tidur karang.
Hiraisin menyipitkan matanya. Dari balik kulit dan sisik para warga duyung yang terbaring, mengalir guratan-guratan pembuluh darah berwarna kehitaman yang membuih beracun.
"Racun Pasang Hitam..." desis Kapten Roderick dengan nada penuh benci. "Itu racun sihir yang sama yang digunakan Abyss untuk melumpuhkan armada kuku sepuluh tahun lalu."
Putri Nerida menundukkan kepalanya, kepalan tangannya meremas gagang trisulanya hingga memutih. "Bangsa kami berada di ambang kemusnahan. Komandan Morvath telah meracuni sumber air suci di bawah kubah kami. Jika dalam tiga hari kami tidak menyerahkan kunci Istana Bawah Air kepadanya, seluruh rakyatku akan berubah menjadi monster darah yang mati mengenaskan."
"Biarkan aku memeriksa mereka," pangkas Liora tegas tanpa keraguan sedikit pun.
Gadis tabib itu melompat turun dari geladak kapal, berjalan mendekati seorang anak duyung yang sedang terbaring kejang. Liora berlutut, menempelkan dua jarinya di dahi anak itu seraya mengalirkan tenaga batin berwarna hijau seroja murni.
"Racun ini menggerogoti Inti Elemen Air di dalam tubuh mereka," ujar Liora seraya menganalisis aliran racun. "Sihir Abyss ini sangat pekat, tetapi tidak mematikan secara langsung—ia hanya merusak kesucian tenaga batin mereka."
Liora menoleh ke arah Hiraisin. "Hiraisin, aku butuh sedikit pancaran Qi Petir Purba dari pedangmu! Sifat penyucian dari petir keemasanmu adalah katalis terbaik untuk menghancurkan inti racun ini tanpa merusak organ tubuh mereka!"
"Gunakan sesukamu," balas Hiraisin seraya menarik Pedang Kilat Purba beberapa inci dari sarungnya.
Pendar cahaya ungu keemasan yang hangat memancar keluar. Liora mengibaskan kedua lengan bajunya, menarik ratusan jarum perak yang melayang menyerap pancaran petir suci tersebut. Dengan gerakan jemari yang teramat sangat lincah dan indah bagaikan tarian seroja, Liora menancapkan jarum-jarum perak berdaya petir itu ke titik-titik meridian vital ratusan warga duyung secara serentak!
"Teknik Jarum Perak Pemurni: Seroja Penawar Jiwa!"
HUMMMMMM!
Cahaya hijau seroja berpadu kilatan emas meledak lembut menyelimuti seluruh pelataran kota. Asap hitam pekat berbau busuk menyembur keluar dari pori-pori kulit warga duyung, menguap menjadi abu netral di udara.
Dalam hitungan detik, guratan hitam di kulit mereka sirna sepenuhnya. Rintihan kesakitan berganti menjadi helaan napas lega, dan anak duyung yang tadinya kejang kini membuka matanya dengan warna biru jernih yang sehat.
Ratusan warga duyung bangkit berlutut, menatap Liora dengan tatapan penuh rasa syukur dan takjub yang mendalam.
Putri Nerida terpana, matanya berembun oleh air mata haru. Ia menjatuhkan trisulanya dan membungkukkan tubuhnya secara khidmat di hadapan Liora dan Hiraisin.
"Kalian... kalian telah menyelamatkan bangsa kami dari kehancuran," ucap Putri Nerida penuh kepasrahan dan hormat. "Atas nama Suku Duyung Kelam, aku bersumpah akan membantu kalian memasuki Istana Bawah Air!"
Namun, tepat saat harapan baru merekah, sebuah tawa dingin yang penuh cemoohan bergema dari atas pilar kristal tertinggi.
"Betapa indahnya pemandangan aliansi yang menyedihkan ini..."
Sesosok duyung tua bertubuh kurus dengan jubah bertatahkan tengkorak karang melangkah keluar. Dia adalah Tetua Vaelen—penasihat tertinggi Suku Duyung Kelam.
"Tetua Vaelen? Apa maksudmu?!" bentak Putri Nerida terkejut.
Tetua Vaelen memandangi warga sukunya dengan tatapan penuh kebencian. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah belati batu meteorit hitam yang telah ditancapkan tepat di pusat kuncian Runa pelindung kubah!
"Putri yang bodoh!" raung Tetua Vaelen histeris. "Kau pikir manusia-manusia ini bisa mengalahkan keagungan Abyss?! Komandan Morvath adalah penguasa sejati samudera ini! Menyerah dan menjadi hamba Abyss adalah satu-satunya cara agar bangsa kita bisa bertahan hidup!"
"Vaelen! Kau mengkhianati bangsa sendiri?!" jerit Nerida murka.
"Sudah terlambat!" jerit Vaelen seraya memutar belati hitamnya.
KRRRRRRRAK-BOOM!
Runa pelindung kubah udara pecah berkeping-keping!
Dinding air laut yang ditahan di atas kubah mendadak runtuh meledak, menyemburkan jutaan kubik air asam hitam yang mengamuk masuk membantai kota bawah air tersebut!
Bersamaan dengan air bah yang runtuh, sebuah sosok raksasa berzirah baja hitam meluncur turun membelah air bah. Sosok itu memiliki delapan tentakel raksasa bermata api yang memegang paku-paku baja beracun, dan sepasang matanya menyala merah darah dari balik topeng ksatria terlarang.
Dialah Komandan Pasukan Pasang Surut Abyss: Komandan Morvath!
"Hahaha! Kerja bagus, Vaelen!" gema suara Morvath bagaikan dentuman meriam laut. "Ratakan kota ini! Tangkap Putri Duyung dan bawa kepala Pewaris Petir kepadaku!"
Di belakang Morvath, ribuan prajurit monster pasang surut—berwujud manusia kepiting berzirah dan pahlawan tengkorak laut—menyembur masuk mengikuti arus air bah, siap membantai seluruh warga suku Duyung yang tak berdaya.
"Roderick! Bawa warga duyung dan Putri Nerida mengungsi ke area kapal!" perintah Hiraisin cepat.
"Liora, bersamaku!"
"Siap!" seru Liora seraya melompat berdiri di samping Hiraisin.
Monster-monster pasang surut gelombang pertama meluncur kencang menerjang ke arah mereka dengan pedang dan tombak teracung.
"Kunci gerakan mereka, Liora!" seru Hiraisin.
Liora menancapkan belasan jarum perak raksasa ke tanah batu karang, menumpahkan seluruh Qi serojanya. "Teknik Rahasia: Formasi Penjara Jarum Perak!"
SZSSSH!
Ratusan benang cahaya hijau membentang di udara, membentuk jaring raksasa yang mengikat lunak pergerakan ratusan monster pasang surut dan delapan tentakel Morvath seketika, menghentikan laju serangan mereka di udara!
"Sekarang, Hiraisin!" jerit Liora.
Hiraisin menarik penuh Pedang Kilat Purba dari punggungnya. Pendar cahaya ungu keemasan meledak hebat, menerangi seluruh kubah yang tertutup air.
"Jurus Pedang Kilat Purba: Tebasan Pembalasan Badai!"
FLASH-BOOOOOOM!
Sebuah tebasan kilat mendatar sepanjang seratus meter menyapu bersih perairan di hadapan mereka. Gelombang petir suci itu merobek jaring penjara Liora sekaligus menghancurkan ratusan monster pasang surut menjadi abu dalam satu kali ayunan pedang yang sempurna!
Shockwave tebasan itu bahkan terlempar menghantam zirah baja Komandan Morvath, memaksa monster gurita raksasa itu terdorong mundur puluhan meter dengan bagian dada zirahnya yang meretak memercikkan api.
Komandan Morvath meraung murka, sepasang mata merahnya mengunci sosok Hiraisin dan Liora yang berdiri tegap berdampingan di tengah rerintihan air bah.
"Bocah Petir..." desis Morvath seraya menarik dua pedang raksasa dari punggungnya. "Kau akan mati di dalam Istana Bawah Air ini!"
Hiraisin mengangkat Pedang Kilat Purba-nya, mengarahkan bilahnya lurus ke mata Morvath.
"Coba saja jika kau mampu," pangkas Hiraisin dingin.