NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran

**

Reyhan terus saja menguap, badannya lelah, kakinya pegal, dia hanya ingin tiduran tapi sekarang malah terjebak di sebuah pesta pernikahan desa. Katanya, dia ini masih pihak keluarga, tapi tetap saja tugas utama dia lebih mengambil piring-piring kotor lagi.

Dia heran, apa orang-orang tidak bisa melihat wajah tampannya? Apa di mata mereka hanya terlihat tumpukan piring kotor saat melihat wajahnya?

Terserahlah, apa dia kabur saja, yah?

Dia celingukan, mencari Ayana yang hari ini sangat terlihat sibuk menyapa para tamu, entah kenalan keluarga pamannya atau menyapa teman-temannya juga.

"Memang cantik istri gue."

Dia tersenyum senang saat melihat wanita yang dicarinya ada di sekumpulan wanita-wanita muda yang seumurannya. Dilihat dari sini entah kenapa wanita yang berkebaya pink yang serupa dengan warna bajunya yang kebetulan juga baju keluarga terlihat paling cantik di antara mereka semua.

"A, enak-enakan atuh di sini, urang  capek ieu!"

Ucok tiba-tiba duduk di sampingnya begitu kelelahan. Memang Ucok adalah satu satu partner kerja timnya hari ini.

"Gue baru aja duduk, capek sama!" keluh Reyhan, padahal aslinya dia sudah kira-kira sejam duduk bersembunyi di sini, sudut meja tamu bagian belakang. Bisa-bisanya ketahuan Ucok.

"Bohong, dari tadi leungit oge (hilang juga)!"

"Leungit itu apaan? Enak, kan? Kaya legit gitu?" Reyhan yang buta bahasa sunda sebelumnya perlahan-lahan belajar karena terpaksa sering tidak mengerti saat orang-orang berbicara.

Ucok langsung tertawa. "Beda atuh!"

"Yehhh ... malah ketawa curut!" Reyhan menjitak Ucok, mereka memang sudah seakrab ini. "Apaan artinya?"

"Hilang cintaku gitu," jawab Ucok sambil ngakak.

"Gak jelas lo!"

Reyhan sudah rebahan, karena memang tadi dia sudah mengambil kardus untuk alas dia duduk bersembunyi di sini. 

"A?"

"Apaan?" Matanya memejam, rasanya seheboh apapun itu musik dangdut diputar, dia bisa tidur sekarang.

Semalam dia hampir bergadang bersama Ayana, tapi anehnya wanita itu terlihat segar tidak mengantuk padahal semalam paling heboh. Dia jadi tersenyum sendiri jika mengingat itu.

"Hati-hati sama cowok berjaket jins di sudut itu!" Ucok menunjuk sudut seberang Ayana, dimana ada beberapa pemuda berkumpul. "Eh, hati-hati sama mereka semua pokoknya."

"Siapa sih?" Reyhan beranjak duduk lagi. "Emang kenapa mereka? Preman kampung?"

"Semacam itu juga sih, tapi bukan itu yang paling penting. Itu yang make jaket jeans pernah bogoh (suka) sama neng Ayana, tapi ayeuna katinggalina (kelihatanya) masih sih. Dia ngejar-ngejar Ayana bertahun-tahun, makanya ngamuk waktu tahu neng Ayana nikah," jelas Ucok membuat Reyhan yang tiba-tiba kesal.

"Heran, banyak amat para buaya yang deketin istri gue!"

Ucok tertawa. "Kan, sudah dibilang mun neng Ayana kembang desa. A, itu kayaknya mau nyamperin neng Ayana siah!"

"Akh ... sialan!" Reyhan buru-buru berdiri untuk menghampiri Ayana sebelum pemuda itu.

"Sayang!" teriak Reyhan membuat orang-orang melihat ke arah dia termasuk Ayana yang langsung menatap syok.

Terserah lah, sekarang dia perlu mengamankan wanitanya dari para buaya darat yang menatap lapar. Sudah dia bilang itu baju terlalu terbuka, makin lapar bukan para buaya melihatnya.

"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Reyhan langsung merangkul pinggang Ayana, kemudian dia menoleh ke arah pemuda itu sambil tersenyum menang.

"Anu aing!" kata Reyhan pelan ke arah pemuda itu, mengklaim apa yang memang menjadi miliknya.

Cup

Sekarang, Reyhan semakin berani dengan mencium pipi Ayana membuat teman-teman wanita itu di sana heboh.

"Apaan sih?" bisik Ayana tapi Reyhan abaikan.

"Ayana, kenalin dong suaminya. Dari Tadi kita gak dikenalin atuh!"

"Iya-iya ih ... mau kenalan kita atuh!"

"Mau-mau!"

"Iya, kenalin!"

Mereka semua sudah heboh memperkenalkan diri yang Reyhan jawab seadanya, bahkan 5 menit kemudian dia sudah lupa nama-nama gadis itu. Tidak penting karena paling penting sekarang yaitu mengamankan Ayana dari para buaya.

"Masih jauh?"

Ayana menggeleng. "Enggak, bentar lagi sampe kok. Itu di sana."

Reyhan melihat hamparan sawah yang luas, salah satu alasan dia merasa selalu nyaman saat berada di desa. Hal indah yang tidak bisa dia temukan di kota.

"Itu."

Ayana berlari kecil dengan setelan kebaya lengkapnya, membuat Reyhan yang melihatnya takut kesandung. Acara nikahan sebenarnya belum selesai, tapi mereka sengaja kabur, lebih tepatnya Reyhan yang sudah bosan dan mengajak Ayana pergi.

"Duduk." Ayana menatap tanah di sebelahnya, kedua kakinya sebatas mata kaki sudah berada di dalam air sungai. "Gak papa kotor, aku yang cuci ini. Lagian sejak kapan sih, kamu takut kotor? Kamu kan si ahli jorok di kosan juga."

Reyhan cengengesan, lagipula antara jorok sama duduk di atas tanah dengan baju kebaya lengkap mereka ini, itu termasuk dalam beda konteks.

"Ah ... seger, padahal cuman kaki aja yang nyemplung di air, ini kok bisa jadi seger sebadan-badan, yah?"

"Iya kan, seger? Ini itu tempat favorit aku dengan berendam kaki di sungai dengan pemandangan sawah. Kamu tahu gak?"

Reyhan menoleh, melihat Ayana yang juga tengah melihat ke arahnya. "Enggak."

"Rey!" Ayana merenggut kesal.

Reyhan tertawa, menjahili Ayana adalah favoritnya. "Iya, apa?"

"Dulu, awal aku pindah ke kampung rasanya itu memuakkan." Ayana terkekeh mengenang momen itu. "Bayangin aja, aku masih kecil tiba-tiba kehilangan orangtua, terus dari kehidupan keluarga lumayan kaya di kota pindah ke kehidupan sederhana di desa dengan segala perbedaannya. Aku diam-diam tiap hari nangis, gak betah. Mau pulang, tapi gak tahu pulang ke mana. Sampai suatu hari pulang sekolah, aku iseng jalan ke sini terus lihat sungai, sepatu dibuka, duduk dan masukin kaki gini sambil lihatin orang-orang lagi kerja di sawah. Tiba-tiba, perasaan aku merasa damai dan aku mulai berpikir 'oh ... ternyata, desa gak seburuk itu'. Setelah itu, tiap lagi sedih aku suka ke sini."

Reyhan merangkul pundak Ayana. "Terus sekarang lagi sedih jadi datang ke sini?"

Ayana menggeleng. "Enggak." Kemudian mendongak, bertemu dalam satu tatapan dengan Reyhan.

Cup

Kembali, Reyhan mencium bibir dengan kecupan singkat, kemudian cowok itu terkekeh.

"Kebiasaan. Jangan cium-cium sembarangan coba, ini lagi di luar, gimana kalau ada orang. Gimana kalau digrebek dua kali?"

Reyhan mencubit hidung Ayana gemas. "Gak papa, malah bagus itu."

"Apa bagusnya?"

"Grebeg pertama, kita dinikahin akad. Nah, grebeg kedua kita dibikinin resepsi. Kan, mantap tuh gak usah modal."

Ayana memukul lengan Reyhan. "Gila, jadi laki gak modal banget."

Reyhan menatap Ayana sedih. "Serius ngomong gitu? Selama ini perjuangan aku dianggap apa?"

Ayana mendengus, seolah tahu itu hanyalah drama Reyhan. "Gak jelas. Tiba-tiba aku jadi inget, semalam kamu ... pake ... pengaman, kan?"

Reyhan terlihat berpikir. "Emang semalam kita ngapain?"

"Rey, serius!" Ayana mencubit pinggang Reyhan.

"Aduh, kdrt mulu sih dari tadi." Reyhan mengusap pinggangnya, semakin memeluk Ayana erat. "Tenang aja aku pake, aku gak sebodoh itu disaat kondisi kita kaya gini buat punya anak."

"Emang kamu gak mau punya anak sama aku?" Entahlah, obrolan semakin lama menjadi random.

"Emang apa alasan aku gak mau punya anak sama kamu?"

"Yah, karena kamu gak cin--cinta sama aku," jawab Ayana sebenarnya sangat malu mengatakannya.

Tiba-tiba, Reyhan merangkum wajah Ayana dengan kedua tangannya membuat tatapan mereka kembali bertemu.

"Ay."

"Iya."

"Kayaknya, aku udah jatuh cinta deh sama kamu."

*

Ayana berjalan gontai keluar dari kamar menuju dapur, berjalan perlahan karena memang semua ruangan gelap karena semua lampu dimatikan karena ini memang tengah malam dimana semua orang sudah tidur.

Dia keluar karena kebetulan haus saat terbangun dari tidur. Tiba-tiba dia tersenyum lagi saat mengingat momen tadi siang, seperti drama saat tiba-tiba ada telepon yang mengharuskan mereka kembali ke acara nikahan. Setelah itu tidak ada obrolan lagi, Reyhan tidak pernah membahasnya lagi dan dia tidak seberani itu untuk membahas duluan.

Lampu area dapur terlihat temaram, terdengar ada sebuah obrolan. Ayana berniat mencari tahu, tapi saat akan masuk satu kalimat menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk.

"Jadi, Ayana bukan anak kandung mas Bayu dan mbak Ayu?"

"Iya Pak, Ibu juga baru tahu setahun sebelum kecelakaan pada saat kita berkunjung waktu itu, mbak Ayu cerita. Tidak ada yang tahu cerita ini, selain kita berempat."

"Orang-orang tidak akan tahu dan curiga kalau sebenarnya bayi mereka meninggal dan mengambil bayi orang lain di rumah sakit. Ini tindak kejahatan Ibu, harusnya Ayana kita beritahu ini."

"Ibu juga mau memberitahukan ini, tapi Ibu bingung bagaimana harus bilangnya, Pak. Bantu Ibu yah, tolong Pak."

"Iya Bu, Ba--"

"Tolong kasih tahu semuanya."

"Ay-yana ...."

"Nak, sejak kapan kamu di sini?"

"Paman, Bibi, tolong kasih tahu aku semuanya."

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!