NovelToon NovelToon
Super Sistem Pekerjaan Impian

Super Sistem Pekerjaan Impian

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Bima berjalan santai menyusuri jalan setapak di taman tengah Universitas Nusantara.

Angin sore yang sejuk bertiup pelan membawa beberapa helai daun kering jatuh ke tanah.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore dan jadwal mengajarnya untuk hari ini sudah sepenuhnya selesai.

Bima berniat mencari udara segar sebelum pulang ke hotel mewah miliknya.

"Aku sudah bilang aku tidak mau datang ke kencan buta itu, Ma!"

Sebuah suara rengekan keras tiba-tiba memecah ketenangan taman kampus sore itu.

Bima menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara di dekat sebuah bangku taman.

Seorang mahasiswi berambut panjang sedang mondar-mandir dengan wajah panik sambil memegang ponselnya.

Gadis itu mengenakan kardigan merah muda dan rok lipit yang membuatnya terlihat sangat manis.

Sebuah tongkat swafoto beserta perlengkapan kamera kecil tergeletak begitu saja di atas bangku taman.

"Mama tidak bisa memaksaku menikah dengan dokter sombong itu hanya karena dia kaya!" teriak gadis itu lagi ke arah ponselnya.

Bima hanya tersenyum tipis melihat drama keluarga yang tidak sengaja dia dengar tersebut.

"Tapi Ma, aku sudah punya pacar sendiri di kampus!"

Gadis itu tiba-tiba berteriak dengan nada putus asa mencoba berbohong kepada ibunya.

Terdengar suara omelan yang cukup keras dari seberang telepon yang bahkan bisa didengar samar-samar oleh Bima.

"Kalau Mama tidak percaya, aku akan membawanya ke Restoran Bintang Harapan malam ini juga!"

Klik.

Gadis itu mematikan sambungan teleponnya dengan napas terengah-engah.

Dia lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas bangku taman dan mengacak-acak rambut panjangnya sendiri.

"Mati aku, dari mana aku bisa menyewa pacar palsu dalam waktu dua jam?" keluh gadis itu meratapi kebodohannya.

Bima tertawa pelan mendengar keluhan yang sangat klise tersebut.

Suara tawa Bima rupanya terdengar oleh gadis itu.

Gadis itu langsung mendongak dan menatap Bima dengan pandangan terkejut.

"Pak Bima?" sapa gadis itu sambil berdiri dari bangkunya.

Bima sedikit mengangkat sebelah alisnya karena mahasiswi ini ternyata mengenali dirinya.

"Kamu mengenalku?" tanya Bima santai sambil berjalan mendekat.

Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Tentu saja saya kenal, Bapak kan dosen pengganti baru yang tadi pagi mempermalukan Reza di kelas 4A."

"Berita itu langsung tersebar ke seluruh grup obrolan mahasiswa dalam hitungan menit."

Bima mengangguk pelan mengerti kecepatan penyebaran gosip di era digital ini.

"Panggil Bima saja kalau di luar jam kuliah," balas Bima tenang.

"Lalu kamu sendiri siapa?"

Gadis itu buru-buru merapikan rambutnya dan tersenyum canggung.

"Nama saya Siska, mahasiswa tingkat akhir dari Fakultas Komunikasi."

Siska menatap penampilan Bima dari atas sampai bawah dengan saksama.

Kemeja flanel pudar, kaus oblong biasa, dan celana jins yang sangat kasual.

Entah mengapa, sebuah ide gila tiba-tiba melintas di kepala Siska.

Pemuda di depannya ini punya keberanian luar biasa untuk melawan orang sombong seperti Reza dan dosen senior.

Dan penampilannya yang sangat biasa ini pasti akan membuat orang tuanya kesal dan membatalkan perjodohannya.

"Kak Bima, malam ini Kakak ada acara tidak?" tanya Siska tiba-tiba dengan mata berbinar penuh harap.

Bima menyilangkan tangannya di dada dan menatap Siska dengan pandangan curiga.

"Jangan bilang kamu mau memintaku menjadi tumbal kencan butamu malam ini," tebak Bima langsung pada intinya.

Siska membelalakkan matanya terkejut karena Bima bisa membaca pikirannya dengan sangat cepat.

Dia langsung merapatkan kedua tangannya di depan dada dengan gerakan memohon.

"Tolong aku, Kak Bima, tolong jadi pacar palsuku malam ini saja!" rengek Siska memelas.

"Orang tuaku memaksaku bertemu dengan Dokter Reyhan, anak teman mereka yang sangat sombong."

"Kalau aku datang sendiri, mereka pasti akan memaksaku bertunangan bulan depan."

Bima menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Siska, ini dunia nyata, bukan novel roman picisan."

"Menyewa pacar palsu hanya akan membuat masalahmu semakin panjang nantinya."

Siska tidak menyerah, dia justru melangkah maju dan menarik ujung lengan kemeja flanel Bima.

"Aku mohon Kak, aku akan membayar Kakak berapapun tarifnya!"

"Satu juta? Dua juta? Aku ini streamer yang cukup sukses, aku punya uang tabungan untuk menyewamu malam ini."

Bima tertawa pelan di dalam hatinya mendengar tawaran uang dari mahasiswi ini.

Bagi seorang pemilik hotel triliunan rupiah, uang dua juta hanyalah setara dengan harga permen karet.

Tapi melihat wajah Siska yang benar-benar putus asa dan hampir menangis membuat Bima merasa kasihan.

Ting.

Sebuah suara mekanis tiba-tiba bergema di dalam kepala Bima.

[Sistem Pekerjaan Impian: Misi Sampingan Terdeteksi]

[Bantu seorang mahasiswi menyelesaikan krisis pribadinya dan hancurkan ego pihak yang mencoba menindasnya]

[Hadiah Misi Sampingan: Peningkatan loyalitas dan reputasi sosial tingkat elit]

Bima membaca layar holografik transparan itu dengan senyum tipis di bibirnya.

Sistem tampaknya sangat suka mengarahkannya ke situasi yang penuh dengan konflik sosial.

"Baiklah, aku akan membantumu malam ini," ucap Bima akhirnya.

Siska langsung melompat kegirangan dan nyaris memeluk Bima saking senangnya.

"Terima kasih banyak Kak Bima, Kakak memang pahlawan sungguhan!" seru Siska antusias.

"Tapi simpan saja uangmu, anggap ini bantuan gratis dari dosen barumu."

Siska mengangguk cepat meski merasa sedikit tidak enak hati.

Dia lalu mulai memikirkan skenario untuk malam nanti.

"Kak Bima, keluarga Reyhan itu sangat memandang status dan kekayaan."

"Mereka pasti akan merendahkan pekerjaan Kakak sebagai dosen pengganti."

"Tidak apa-apa," jawab Bima santai.

"Aku sudah kebal menghadapi orang-orang yang merasa dirinya paling hebat."

Siska masih terlihat sedikit khawatir sambil menatap penampilan Bima.

"Kakak tidak punya baju yang agak rapi untuk malam ini?" tanya Siska ragu-ragu.

"Tidak punya, lemari pakaianku isinya cuma kemeja flanel seperti ini semua."

Bima tentu saja berbohong, lemari di hotelnya penuh dengan jas miliaran rupiah.

Namun dia sengaja ingin memakai pakaian lusuh ini untuk memancing kesombongan lawan kencan Siska.

"Ya sudah tidak apa-apa, baju ini justru bagus untuk membuat orang tuaku marah," ucap Siska mencoba berpikir positif.

Mereka berdua lalu mulai berjalan menuju area parkir kampus.

"Jam berapa kita harus sampai di Restoran Bintang Harapan?" tanya Bima memecah keheningan.

"Jam tujuh malam Kak, kita bisa berangkat pakai taksi online sekarang kalau Kakak tidak bawa kendaraan."

Bima merogoh saku celananya perlahan.

"Tidak usah pesan taksi, kita pakai mobilku saja," ucap Bima santai.

Siska menoleh dengan tatapan penuh tanya.

"Kak Bima bawa mobil? Mobil apa Kak?"

"Orang tuaku dan Reyhan itu sangat pemilih, mereka pasti akan menilai Kakak dari mobil yang Kakak bawa."

"Kalau cuma motor atau mobil tua, Reyhan pasti akan menertawakan Kakak habis-habisan."

Bima menatap Siska dengan wajah datar yang dibuat-buat.

"Tenang saja, aku bawa SUV keluarga kok."

"SUV keluarga?" ulang Siska merasa sedikit lega.

Setidaknya sebuah SUV keluarga biasa masih pantas untuk dibawa ke restoran kelas atas meskipun bukan mobil mewah.

"Iya, SUV keluarga yang bodinya lumayan besar," tambah Bima semakin meyakinkan.

Siska mengangguk percaya dan menghentikan langkahnya di dekat gerbang fakultas.

"Kalau begitu aku harus pulang ke kosan sebentar untuk berganti baju dan mengambil beberapa barang, Kak."

"Kakak berangkat duluan saja ke restoran, aku menyusul naik taksi ke sana agar lebih cepat."

"Nanti kita bertemu langsung di lobi restorannya jam tujuh kurang sepuluh menit."

Bima mengiyakan rencana tersebut dengan santai.

"Baiklah, jangan sampai terlambat, aku tunggu di lobi nanti."

Siska melambaikan tangannya dan berlari kecil menuju pintu gerbang utama kampus.

Bima memandangi punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangan.

"SUV keluarga yang bodinya lumayan besar," gumam Bima mengulang kata-katanya sendiri sambil tertawa kecil.

Dia melanjutkan langkahnya menuju tempat Lamborghini Urus hitamnya terparkir.

Sebuah SUV dengan tenaga ratusan daya kuda seharga puluhan miliar tentu sangat cocok disebut mobil keluarga, bukan?

Malam ini, Bima bersiap untuk kembali menghancurkan mental orang-orang sombong yang berani merendahkannya.

Dia membuka pintu mobil super mewahnya dan duduk di balik kemudi dengan sangat rileks.

Vrooom.

Mesin buas itu menyala, siap membawa Bima menuju pertunjukan komedi kencan buta yang sangat dia nantikan.

1
Naga Hitam
wahh tidak ada truk tronton
YUI: tidak perlu ketabrak truk dulu🤣🤣
total 1 replies
Yuliana Tunru
bodoh dan arogan x kau vina ..tak sabar mau tau gmn reaksi x saat tau siapa bima 🤣🤣 makin seruuu dan yg pasti up x benar2 bikin puasss 👍👍
Oarashi
gas
Yuliana Tunru
cuma bisa bilang wooow bima ..cslon pacar udaman tuh siska 🤭🤭
Kasma Wati
.🤣🤣🤣🤣🤣
Heri Susanto8246
bodoh
Yuliana Tunru
up x ndk kaleng3 ..ma kasih thorr 💪💪 trs ya 👍👍
aldo
lanjut author semangat terus 🙏🙏🙏🙏
Yuliana Tunru
cerita yg bagus thorr wuka gaya bima yg tenang tp cerdik..bonus vote buat kisah mu
YUI: terimakasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!