Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Suara ribut yang mulai terdengar sampai ke telinga Nyonya Su, yang sedang menyambut tamu di ujung halaman. Dia menoleh, wajahnya berubah cemas melihat kerumunan yang mulai membesar di sekitar putrinya.
"Ruoxi!" Nyonya Su bergegas menghampiri, suaranya tajam menegur. "Kenapa kau berteriak-teriak di depan tamu?"
Ruoxi tersentak, seolah baru sadar berapa banyak pasang mata yang sudah memperhatikannya sejak tadi. Dia buru-buru menurunkan suaranya, tapi wajahnya masih memerah menahan amarah yang belum sepenuhnya reda.
"Ibu, Yuxin... dia berlagak paham sastra padahal..."
"Cukup." Nyonya Su memotong cepat, matanya melirik ke sekeliling, menyadari beberapa tamu penting sudah berbisik-bisik sambil menutup mulut dengan kipas mereka. "Ini pesta penyambutan, Ruoxi, bukan tempat untuk bertengkar."
Yuxin berdiri diam, membiarkan ibunya menangani situasi tanpa perlu dia membela diri. Semakin dia diam, semakin jelas siapa yang terlihat kehilangan kendali di mata orang-orang yang menonton.
"Maafkan aku, Ibu," Yuxin akhirnya bersuara, nadanya lembut dan penuh penyesalan yang terlatih sempurna. "Aku tidak bermaksud membuat Ruoxi kesal. Mungkin aku memang seharusnya diam saja tadi, tidak usah ikut bicara soal puisi."
Kalimat itu, meski terdengar seperti permintaan maaf, justru menempatkan seluruh kesalahan kembali ke pundak Ruoxi, siapa yang memulai obrolan itu, dan siapa yang berteriak di depan umum hanya karena kalah beradu kata.
Nyonya Su menghela napas, menatap kedua putrinya bergantian. "Sudahlah. Ruoxi, kembali ke kamarmu dan tenangkan diri. Aku akan bicara denganmu nanti."
"Tapi Ibu..."
"Sekarang, Ruoxi!"
Wajah Ruoxi mengeras, tapi dia tidak berani membantah lebih jauh di depan begitu banyak mata. Dia membungkuk kaku, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Meihua dan gadis-gadis lain yang saling berpandangan bingung, tidak yakin harus mengikuti atau tinggal.
Kerumunan tamu perlahan bubar, kembali ke percakapan masing-masing, meski bisik-bisik tentang kejadian barusan masih terdengar samar di sana-sini.
Yuxin menatap kepergian Ruoxi sejenak, lalu menoleh dan mendapati sepasang mata dari kejauhan masih tertuju padanya, pemuda berjubah biru sederhana yang sejak tadi berdiri sendirian.
Kali ini, dia tidak mengalihkan pandangan secepat sebelumnya.
Pemuda itu melangkah pelan mendekat, melewati kerumunan tamu tanpa seorang pun menghentikannya atau bahkan menyadarinya, sampai akhirnya berhenti tepat di hadapan Yuxin.
"Penjelasanmu tadi soal syair itu," ucapnya, suaranya rendah namun jelas, "sangat menarik. Aku penasaran, dari mana seorang gadis yang katanya baru tiga hari belajar sastra, bisa memaknainya sedalam itu?"
Yuxin menatapnya, mempertahankan ketenangan yang sama seperti saat menghadapi Ruoxi barusan. "Mungkin karena aku belajar dari kehidupan, bukan hanya dari kitab, Tuan."
Pemuda itu mengangkat alis, tertarik dengan jawaban yang tidak biasa. "Jawaban yang menarik. Kebanyakan orang di pesta ini lebih suka mengutip kitab daripada mengakui belajar dari pengalaman."
"Mungkin karena pengalaman tidak selalu terdengar terhormat untuk diakui di depan kalangan atas," balas Yuxin, sedikit tersenyum.
Dia menatap pemuda itu lebih lama dari yang seharusnya. Wajah itu, sikap tenangnya, semuanya cocok dengan sosok yang dia temui di pasar beberapa hari lalu. Tapi ada satu hal yang mengganggunya, kenapa dia terus muncul di dekatnya, seolah tertarik pada sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan.
"Boleh aku tahu namamu, Tuan?" tanya Yuxin, sengaja memancing, ingin melihat apakah dia akan tetap menyembunyikan identitasnya atau tidak.
Pemuda itu terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan jawabannya. "Panggil saja aku Chen," jawabnya akhirnya, memilih nama yang cukup umum untuk tidak menimbulkan kecurigaan, meski jelas bukan nama lengkapnya.
"Chen," ulang Yuxin pelan, pura-pura tidak menyadari kejanggalan itu. "Kau tamu siapa, Tuan Chen? Aku tidak ingat pernah melihatmu di daftar buku tamu. Apa ada yang mengundangmu secara langsung."
"Aku datang bersama salah satu kerabat pejabat," jawabnya santai, terlalu santai untuk seseorang yang sebenarnya berbohong. "Aku hanya penasaran seperti apa sosok yang baru saja mengubah susunan bangsawan di ibu kota."
Kepulangan Yuxin memicu titah pertunangan dari kaisar, yang otomatis mengguncang posisi banyak keluarga bangsawan lain yang tadinya menganggap Chen Ruoxi sebagai putri sulung Lin. Dia penasaran ingin melihat langsung sosok yang menyebabkan kehebohan itu.
"Kudengar," lanjut pemuda itu, suaranya turun sedikit, hanya untuk didengar mereka berdua, "kau akan menghadap istana tiga hari lagi."
"Kabar cepat sekali menyebar," jawab Yuxin, mencoba menyembunyikan kewaspadaan di balik nada ringan.
"Ibu kota ini kecil untuk urusan gosip," dia tersenyum tipis. "Terutama kalau menyangkut Putra Mahkota."
Yuxin menatapnya lekat, mencoba membaca apakah kalimat itu sekadar obrolan biasa, atau isyarat bahwa dia sedang menguji seberapa jauh Yuxin bisa menebak siapa sebenarnya yang sedang berbicara dengannya.
"Kudengar juga," Yuxin membalas hati-hati, "Putra Mahkota jarang terlihat di pesta-pesta bangsawan biasa."
"Mungkin dia hanya bosan dengan basa-basi istana," jawab pemuda itu, matanya berkilat jenaka. "Dan lebih tertarik melihat bagaimana orang-orang bersikap ketika mereka pikir tidak sedang diawasi orang penting."
Jantung Yuxin berdegup sedikit lebih cepat. Kalimat itu terlalu dekat dengan kebenaran untuk sekadar kebetulan.
Sebelum dia sempat menjawab, suara Xiao Yan terdengar tergopoh dari kejauhan, memanggil namanya.
"Nona! Nona Yuxin!"
Pemuda itu melirik ke arah suara itu, lalu kembali menatap Yuxin, senyumnya melebar sedikit. "Sepertinya kau dipanggil. Sampai jumpa lagi, Nona Lin. Mungkin lebih cepat dari yang kau kira."
Dia membungkuk sopan, lalu berbalik pergi, menghilang di antara kerumunan tamu secepat dan setenang kemunculannya, meninggalkan Yuxin dengan jantung berdebar dan satu pertanyaan yang semakin menguat di benaknya.