Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Di Bawah Langit Lantai 45
Sabtu pagi di lantai 45 diselimuti oleh pancaran sinar matahari hangat yang menembus tirai tipis ruang tamu. Tidak ada bunyi alarm berdering, tidak ada deretan berkas audit yang menumpuk di meja bar, dan tidak ada rapat darurat dewan direksi.
Dania terbangun dengan perasaan hangat yang membuncah di dadanya. Saat ia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Arvin yang berada tepat di sampingnya—tampak tenang dan damai dalam lelapnya, tanpa gurat ketegangan atau kerutan stres yang biasanya selalu menghiasi dahi sang CEO.
Dania tersenyum tipis, meraba pelan garis rahang tegas Arvin dengan ujung jemarinya.
Merasakan sentuhan halus di wajahnya, mata pekat Arvin perlahan terbuka. Pria tegap itu tidak langsung berbicara, melainkan hanya menarik tubuh Dania makin rapat ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah anggun wanita itu di balik dada bidangnya.
"Selamat pagi, Tuan CEO," bisik Dania lembut seraya tertawa kecil di dalam pelukan Arvin.
"Selamat pagi, Nyonya Dirgantara," sahut Arvin dengan suara khas bangun tidur yang bernada rendah dan amat seksi. Ia mengepalkan tangannya di pinggang Dania, mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala istrinya. "Jam berapa sekarang?"
"Baru jam delapan pagi," jawab Dania seraya mendongak menatap Arvin. "Ini rekor tidur terlamamu sepanjang yang aku tahu."
Arvin menyunggingkan senyum tipis yang tampan, merapikan helai rambut Dania yang terurai. "Kamar ini terasa jauh lebih nyaman sejak kamu pindah ke sini sepenuhnya."
Siang harinya, suasana penthouse dipenuhi oleh keceriaan yang belum pernah ada sebelumnya.
Di ruang tengah, Rehan—adik Dania—duduk di sofa empuk seraya tertawa gembira memegang pengontrol konsol permainan video terbaru yang terhubung ke layar TV raksasa. Rehan yang kini sudah pulih total pasca-operasi jantung tampak sangat sehat, dengan rona merah alami di pipinya.
"Kak Arvin! Ayo ke kiri! Serang musuhnya dari belakang!" seru Rehan heboh, jemarinya menari lincah di atas tombol konsol.
Di samping Rehan, Arvin—seorang CEO dingin yang memimpin ribuan karyawan—duduk memegang konsol permainan lainnya dengan raut wajah yang sangat serius, mencoba mengikuti instruksi adik iparnya.
"Tunggu, Rehan. Tombol mana yang untuk melompat?" tanya Arvin kaku, alisnya berkerut hebat saat karakternya di layar TV justru berjalan menabrak dinding.
"Tombol yang warna biru, Kak!" gelak Rehan tertawa geli melihat kecanggungan Arvin di dunia permainan video. "Masa CEO raksasa kalah sama musuh level satu?"
Dania berdiri di dekat meja dapur bersih membawa nampan berisi jus buah segar dan camilan waffle hangat yang baru dibaginya. Ia mematung sejenak menatap pemandangan di ruang tamu tersebut. Senyuman tulus terukir di bibir Dania, hatinya tersentuh hebat melihat Arvin yang begitu sabar dan telaten meladeni keceriaan Rehan—sesuatu yang tak pernah ia bayangkan saat pertama kali mengenal pria kaku itu beberapa bulan lalu.
Dania melangkah mendekat, meletakkan nampan di meja kopi. "Cukup mainnya, Rehan. Waktunya minum jus dan makan waffle dulu."
Rehan meletakkan pengontrolnya dengan patuh. "Siap, Kak Dania! Kak Arvin tadi kalah tiga kali berturut-turut, lho!"
Arvin berdeham kaku, merapikan kaus santainya seraya menyunggingkan senyum tipis pada Rehan. "Itu karena aku hanya memberi kesempatan padamu untuk menang, Rehan."
"Alasan!" goda Dania seraya menyerahkan segelas jus jeruk pada Arvin.
Arvin menerima gelas itu, lalu meraih pergelangan tangan Dania dengan lembut, menarik wanita itu mendudukkan tubuhnya tepat di sampingnya di atas sofa. Arvin melingkarkan lengannya di bahu Dania tanpa ragu di depan Rehan.
"Terima kasih sudah membawa Rehan ke sini hari ini, Arvin," bisik Dania pelan di samping telinga Arvin, matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam.
"Rumah ini terlalu luas kalau hanya kita tempati berdua di akhir pekan," sahut Arvin jujur, mengusap bahu Dania. "Dan Rehan adalah bagian dari keluargaku juga sekarang."
Malam hari merayap turun. Setelah Rian mengantar Rehan kembali ke asrama sekolah khusus dengan pengawalan yang aman, suasana penthouse kembali hening dan romantis.
Di balkon luar lantai 45, hembusan angin malam yang sejuk membelai lembut. Pemandangan gemerlap pendar lampu megapolitan Jakarta terhampar indah bagai lautan bintang di bawah sana.
Dania berdiri bersandar pada pagar kaca balkon, mengenakan gaun terusan bahan sutra tipis bertali spageti yang dipadukan dengan selendang rajut hangat.
Suara langkah kaki mendekat. Arvin berdiri tepat di belakang Dania, melingkarkan kedua tangannya di sekeliling pinggang Dania dan menarik punggung wanita itu menyandar erat pada dada hangatnya. Arvin menyerahkan segelas red wine hangat ke tangan Dania, sementara tangannya sendiri menggenggam jemari Dania yang dingin akibat angin malam.
Dania menyandarkan kepalanya pada dada tegap Arvin, menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Dania?" bisik Arvin rendah, bibirnya menyentuh lembut kulit leher Dania.
Dania menatap kilau lampu kota di bawah sana, membalikkan tubuhnya perlahan hingga kini berhadapan langsung dengan Arvin. tangannya terangkat, merapikan kerah kaus Arvin.
"Aku cuma sedang mengingat pertama kali aku melangkah ke penthouse ini," ujar Dania lembut, matanya berbinar dalam redupnya cahaya balkon. "Saat itu, tempat ini terasa sangat dingin, asing, dan penuh aturan yang menekan. Aku pikir aku hanya akan bertahan selama tiga ratus enam puluh lima hari demi adikku... lalu pergi tanpa meninggalkan jejak."
Arvin menatap mata Dania dengan kedalaman rasa cinta yang kian membara. Jemari kokohnya mengelus pipi halus Dania.
"Dan sekarang?" tanya Arvin pelan, suaranya sarat akan harapan yang ingin didengarnya.
Dania menyunggingkan senyum paling manis yang pernah ada, melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher Arvin, mengikis jarak di antara wajah mereka.
"Dan sekarang... aku sadar bahwa rumah ini bukan tentang lantai empat puluh lima atau perhiasan mahal di dalamnya," bisik Dania penuh kehangatan. "Rumah ini adalah tempat di mana kamu berada, Arvin."
Dada Arvin berdesir hebat mendengar kalimat seindah itu. Tanpa menunggu sedetik pun, Arvin menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya di atas bibir Dania. Ciuman di bawah langit malam Jakarta itu terasa begitu dalam, manis, dan sarat akan janji cinta yang abadi—sebuah pengikatan dua jiwa yang kini tak lagi membutuhkan draf kertas perjanjian untuk membuktikan kebenaran perasaan mereka.