NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua menit di gerbang neraka

Gudang garam Bang Jago yang biasanya sunyi oleh debu, kini berguncang oleh deru mesin motor dan dentuman sepatu bot di atas atap seng. Suara itu terdengar seperti hujan batu yang tak kunjung usai.

"Juna! Berapa persen?!" teriak Bagas Putra sambil mempererat genggamannya pada besi panjang.

"Delapan puluh dua persen! Upload speed-nya lambat gara-gara cuaca buruk di luar!" sahut Juna Pratama, jarinya bergerak seperti kesurupan di atas papan ketik, mencoba mengalihkan bandwidth dari sisa-sisa sinyal yang ada.

Di atas, pintu besi gudang mulai dihantam sesuatu yang berat. DUM! DUM! Suaranya menggema di seluruh ruang bawah tanah, membuat debu-debu berjatuhan dari langit-langit.

"Bang Jago, tahan pintunya!" teriak Eno Surya. Dia tidak lagi memakai kostum jerapah, tapi keberaniannya saat ini melampaui ukuran hewan apa pun. Dia mengambil tumpukan ban bekas, melemparnya ke arah tangga untuk menghambat laju siapa pun yang berani turun.

Pintu atas jebol. Tiga orang berpakaian taktis hitam dengan penutup wajah merosot turun menggunakan tali. Tanpa aba-aba, Bagas menerjang yang pertama. Dengan gerakan yang ia pelajari dari tahun-tahun di lapangan basket—lincah dan penuh tenaga—Bagas menghantamkan besi panjangnya ke arah kaki lawan, membuatnya jatuh tersungkur sebelum sempat mencabut senjata.

"Rhea, senter!" teriak Bagas.

Rhea Amara menyalakan lampu tembak berkekuatan tinggi tepat ke arah mata lawan yang baru turun. Cahaya menyilaukan itu memberi jeda bagi Bagas untuk melumpuhkan orang kedua.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Di atas, masih ada belasan orang yang siap turun.

"Sembilan puluh persen!" teriak Juna. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari dahinya. "Sedikit lagi... ayolah, sedikit lagi!"

Tiba-tiba, suara tembakan terdengar. DOOR!

Bukan ke arah mereka, tapi ke langit-langit. Bang Jago berdiri di tengah tangga dengan tangan memegang suar (flare) yang menyala merah membara. "WOY! KALAU KALAU MAU LEWAT, LANGKAHIN DULU MAYAT GUE!" teriaknya dengan suara menggelegar. Asap merah memenuhi ruangan, menciptakan kabut yang menyesakkan mata para penyerang.

Di tengah kekacauan itu, Dewi Laras melihat seseorang menyelinap dari ventilasi samping—seorang pria kecil dengan pisau di tangan, mengincar laptop Juna.

"JUNA, AWAS!" pekik Laras.

Laras melakukan sesuatu yang tak pernah ia sangka bisa ia lakukan. Dia menerjang pria itu, menjatuhkan tubuhnya ke tumpukan karung garam. Mereka bergulat di lantai yang dingin. Pisau itu hampir mengenai lengan Laras, tapi Gia Kirana datang dari belakang dan menghantamkan sebuah botol kaca ke punggung pria itu.

"Jangan sentuh teman-teman gue!" desis Gia dengan mata yang berapi-api.

"SELESAI! UPLOAD BERHASIL!" raung Juna.

Dia langsung membanting laptopnya hingga tertutup dan mencabut kabel LAN. "Data sudah terkirim ke sepuluh server media internasional dan satu alamat email anonim milik Mabes Polri! Dalam sepuluh menit, dunia bakal tahu semuanya!"

Bagas menatap ke atas. Para penyerang tampak terhenti sejenak. Salah satu dari mereka menekan earpiece-nya, seolah menerima perintah baru.

"Target sudah meledakkan data. Operasi batal! Mundur! Mundur!" suara itu terdengar samar dari radio komunikasi mereka.

Satu per satu, para penyerang itu ditarik kembali ke atas. Suara motor mereka menjauh secepat saat mereka datang. Mereka bukan lagi aset yang berharga untuk ditangkap; mereka sekarang adalah saksi yang terlalu panas untuk disentuh secara ilegal.

Suasana mendadak senyap. Hanya ada suara napas mereka yang tersenggal-senggal dan kepulan asap merah dari suar Bang Jago yang mulai meredup.

Eno terduduk di atas ban, menutupi wajahnya dengan tangan yang bergetar. "Kita... kita masih hidup?"

Rhea mendekati Eno, memeluknya erat tanpa peduli lagi pada gengsi. "Kita hidup, No. Kita hidup."

Bagas menghampiri Laras, menariknya bangun dari tumpukan karung garam. Dia memeriksa wajah Laras dengan cemas. "Lo nggak apa-apa, Ras?"

Laras menggeleng. Dia menatap laptop Juna yang tergeletak di lantai. "Duniaku yang dulu sudah hancur malam ini, Gas. Papa, Global Eco-Tech, semuanya... sudah tamat."

"Bukan hancur, Ras," sahut Gia sambil memperbaiki kacamata yang miring. "Tapi dibersihkan. Sama seperti sampah di pasar itu."

Tiba-tiba, suara sirene polisi yang asli terdengar mendekat. Kali ini bukan satu atau dua, tapi belasan mobil dengan lampu biru-merah yang membelah kegelapan malam dermaga.

"Itu tim bokap gue," bisik Bagas. "Gue yang kasih koordinat terakhir tadi lewat email Juna."

Bang Jago tertawa parau sambil menghapus jelaga di wajahnya. "Kayaknya gue bakal masuk berita besok pagi sebagai pahlawan nasional, bukan preman pasar."

Namun, di saku jaket salah satu penyerang yang pingsan di lantai, Juna menemukan sebuah ponsel yang masih menyala. Ada satu pesan masuk yang belum dibaca:

"Jika data bocor, aktifkan Rencana B: Darmono harus lenyap sebelum mereka sampai di sana."

Bagas dan Laras saling pandang. Pertempuran di gudang selesai, tapi balapan sesungguhnya baru dimulai. Saksi kunci mereka, Pak Darmono, sekarang menjadi orang paling terancam di dunia

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!