NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Rapat

Sore itu gedung LYNX Entertainment masih dipenuhi kesibukan. Para staf lalu-lalang dengan berkas di tangan, sementara di lantai teratas, ruang rapat kaca besar telah disiapkan untuk pertemuan mendadak yang diminta oleh Junho.

Semua anggota SOLIX juga hadir. Seo Jinwoo duduk santai sambil memainkan ponselnya, Min Yoohan dengan ekspresi dingin menyalakan laptop, Jung Hoseung sibuk bercanda dengan Park Jihwan, sedangkan Choi Taeyang dan Jeon Kiyoon terlihat penasaran kenapa leader mereka tiba-tiba memanggil rapat sore-sore. Di ujung meja, Manajer Han Sungwoo duduk dengan wajah penuh tanda tanya.

Junho masuk terakhir, mengenakan coat hitam panjang dengan aura serius. Ia duduk di kursinya, mengetuk meja pelan sebelum membuka pembicaraan.

“Semalam, aku menghadiri acara penghargaan penulisan internasional,” ujarnya, suaranya dalam dan tegas. Semua orang otomatis menoleh. “Dan seperti yang kalian tahu aku diminta menjadi juri tamu. Dan ada sesuatu yang… berbeda dari acara itu,” lanjut nya yang membuat Jinwoo menyeringai.

“Jangan bilang kau jatuh cinta pada seorang penulis, hm?” godanya ringan. Junho hanya mengangkat alis, lalu menatapnya lurus.

“Aku tidak sedang berbicara soal cinta. Aku berbicara soal karya,” ujar nya dengan wajah serius yang membuat suasana tiba-tiba hening.

Semua orang menatap Junho dengan pandangan nya masing masing.

“Ada seorang pemenang,” lanjutnya. “Namanya Nala Aleyra Lareina, penulis dari Indonesia. Karyanya—aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata lain—menyentuh inti luka yang bahkan aku sendiri jarang bisa tuangkan dalam lirik.” Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu anggota grup.

“Aku ingin merekrutnya. Bukan sebagai penulis luar biasa yang diundang sekali lalu selesai. Tapi sebagai bagian dari tim penulisan lirik kita. Secara tertutup tentu,” lanjut nya yang membuat semua orang menatap terkejut bahkan manajer Han sampai terbatuk kecil.

“Junho, kau tahu apa yang kau katakan? Mengajak seorang penulis asing masuk ke lingkaran internal bukan keputusan kecil. Itu bisa memicu pertanyaan publik, juga risiko kebocoran rahasia musik,” ujar nya yang membuat Junho mengangguk, tenang.

“Aku tahu. Tapi aku juga tahu apa yang aku rasakan saat membaca tulisannya. Itu bukan sekadar prosa indah, itu resonansi. Dan kita membutuhkan itu,” ujar nya yang membuat Hoseung yang sedari tadi diam tiba-tiba mengangkat tangan, senyum menggoda.

“Tunggu dulu, Junho-ya. Kau yakin ini murni karena tulisannya? Atau karena dia kebetulan seorang wanita muda yang… cantik?” tanya nya yang membuat Yoohan dan Jinwoo menatap nya lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Junho.

Beberapa anggota lain juga tertawa kecil, tapi Junho hanya mendengus dingin.

“Jika itu alasannya, aku tidak akan repot-repot memanggil kalian semua sore-sore seperti ini. Aku sudah bertemu banyak wanita cantik dalam hidupku. Cantik tidak pernah cukup untuk membuatku mengambil keputusan sebesar ini. Nala berbeda,” ujar nya yang membuat Yoohan yang sejak tadi diam akhirnya bicara, nada suaranya skeptis.

“Aku tidak menolak ide baru. Tapi aku butuh alasan konkret. Bagaimana seorang penulis dari negara asing bisa memahami jiwa musik kita? Kita hidup dengan bahasa, budaya, dan realitas yang berbeda,” ujar nya yang membuat Junho menatapnya, lalu menjawab dengan mantap.

“Justru karena perbedaan itulah aku ingin mencobanya. Musik kita selalu bicara tentang harapan, luka, dan perjalanan hidup. Karya Nala membuktikan bahwa rasa sakit dan harapan itu universal. Dia bisa membawa perspektif baru yang tidak pernah kita miliki,” jawab nya, Hoseung yang duduk bersandar dengan tangan terlipat, akhirnya mengangguk kecil.

“Aku mengerti maksudmu. Kalau benar dia sekuat itu dalam menulis, mungkin memang layak dicoba. Selama semuanya bisa dijaga rahasianya,” ujar nya yang membuat Junho mengangguk.

"Aku bisa pastikan itu, aku yakin dia bisa menjaga rahasia," jelas nya yang akhirnya membuat Jinwoo menimpali.

"Apa ini yang membuat mu tidak pokus sejak kemarin? Aku lihat kau selalu uring-uringan semenjak dapat undangan dari acara itu?" Ujar Jinwoo yang membuat semua orang langsung menatap Junho.

Semua orang juga menyadari sikap dan perubahan Junho semenjak dia mendapatkan undangan untuk menjadi juri tamu di acara penghargaan tersebut.

"Tidak Hyung." Junho menatap kearah lain, seolah berusaha menghindar dari pembahasan itu.

Suasana tiba-tiba menjadi canggung hingga akhirnya Kiyoon berkata dengan nada bersemangat.

“Hyung, aku baca karyanya tadi malam. Aku cari di internet. Dia luar biasa! Kalimatnya menusuk sekali. Aku malah jadi penasaran seperti apa kalau dia ikut menulis bersama kita,” ujar nya yang membuat senyum kecil akhirnya muncul di wajah Junho.

“Itu yang kumaksud. Kita butuh energi baru. Aku tidak peduli berapa banyak kritik yang akan muncul nanti. Yang kupedulikan adalah bagaimana karya kita bisa terus bernyanyi jujur. Dan aku yakin, Nala bisa membantu kita mencapai itu,” ujar nya yang membuat manajer Han menghela napas panjang, lalu menatap Junho lekat.

“Kalau ini benar-benar keputusanmu, maka aku akan menyiapkan langkah-langkahnya. Tapi ingat, kau akan bertanggung jawab penuh jika ada konsekuensi. Ini bukan hal kecil Junho-ssi,” ujar nya dan Junho mengangguk mantap.

“Aku siap. Ini bukan sekadar keputusan impulsif. Ini keyakinan,” jawab nya yang membuat ruangan itu hening kembali.

Beberapa member masih tampak ragu, yang lain justru mulai penasaran. Namun satu hal pasti—pagi itu, untuk pertama kalinya, nama Nala mulai bergaung di ruang rapat SOLIX. Dan sejak saat itu, takdir mereka perlahan mulai terjalin.

"Baiklah kita akhiri di sini saja, selamat sore semuanya. Untuk kelanjutannya saya akan bicarakan dulu dengan para petinggi lain," ujar manajer Han sembari merapihkan barang barang nya lalu keluar dengan tenang meninggalkan ruangan tersebut.

Setelah kepergian Manajer Han, semua member mengubah posisi duduk mereka menjadi lebih santai. Beberapa bersandar di sofa, ada yang selonjoran di karpet tebal ruang latihan itu. Mereka kembali menatap Junho. Suasana hening sejenak, hanya terdengar dengung pelan pendingin ruangan, lalu Taeyang tiba-tiba bicara.

“Dia memang cantik… sangat cantik. Ada sesuatu di wajahnya yang berbeda dari yang lain,” ujarnya pelan.

Semua kepala langsung menoleh ke arahnya, sejak tadi Taeyang hanya diam dan tidak ikut berkomentar. Begitu ia bicara, perhatian ruangan otomatis beralih padanya.

“Tapi… aku rasa dia bukan hanya cantik. Dengan pencapaiannya bisa sampai ke tahap ini saja sudah luar biasa. Untuk wanita semuda dia… jinjja, itu tidak mudah,” lanjutnya.

Ia tidak menatap siapa pun, fokus pada ponselnya seolah di ruangan itu hanya ada dirinya dan layar di tangannya.

“Aku belum lihat dia,” ujar Jihwan, membuat Taeyang akhirnya mendongak. Ia menyerahkan ponselnya tanpa banyak kata.

Dengan santai Jihwan menerima ponsel itu. Di layar terlihat foto Nala dan Junho di atas panggung—momen ketika Junho menyerahkan trofi kristal itu padanya. Cahaya lampu sorot memantul di antara mereka, menciptakan kilau yang hampir dramatis.

“Dia orang Indonesia?” tanya Jihwan, melirik Junho sekilas sebelum kembali pada layar.

“Iya. Indonesia,” jawab Junho singkat, Jihwan mengangguk pelan.

“Tae, kau benar. Dia berbeda. Aku pikir dia bukan hanya cantik, tapi juga berbakat. Aigoo… auranya bukan aura biasa,” Ucap nya yang membuat Taeyang mengangguk setuju.

“Aku tidak sabar melihatnya secara langsung. Oh ya, apa dia bisa bahasa Korea?” tanya Jihwan lagi, Junho menggeleng pelan.

“Tidak tahu. Tapi… bahasa Inggrisnya cukup fasih.” Ia mengotak-atik ponselnya sebentar, lalu memutar sebuah video dari media sosial—rekaman Nala saat berpidato di atas podium.

Semua langsung terdiam. Hanya suara Nala yang terdengar jelas memenuhi ruangan.

Video itu tak sampai lima menit, tetapi cukup membuat mereka terpaku. Setelah video selesai, Hoseung bersandar dan berkata serius.

“Bahasa Inggrisnya bahkan lebih baik daripada kita.” Ucapan itu membuat hampir semua orang tertawa, kecuali Junho, Yoohan, dan Hoseung sendiri.

“Itu benar dia bisa mengucapkan dan merangkai kalimat sulit dengan baik. Bahkan aku saja sulit bicara seperti itu, apalagi di depan kamera,” lanjut Jinwoo, kali ini lebih serius, Kiyoon langsung tertawa.

“Hyung bahkan tidak bisa bahasa Inggris, arasseo?” godanya.

Tawa kembali pecah, termasuk Jinwoo yang hanya mengangkat tangan menyerah. Di antara semua member SOLIX, memang hanya Junho yang benar-benar fasih berbahasa Inggris. Member lain hanya bisa seperlunya, cukup untuk bertahan di wawancara singkat.

“Aku ingat saat acara penghargaan itu, waktu Junho hyung tidak ada. Rasanya aku seperti mati rasa saat harus pidato dalam bahasa Inggris,” ujar Jihwan dramatis.

“Jinjja! Tanganku sampai berkeringat dingin, bahkan bergetar hebat. Saat itu yang kuingat cuma Tuhan. Selebihnya ya sudah… pasrah,” sambung Taeyang, membuat tawa di ruangan semakin keras.

“Aku bahkan melihat jarum jam bergerak sangat lambat sampai kupikir jamnya mati,” tambah Hoseung, Kiyoon mengangguk cepat.

“Aku hampir menangis. Tapi malu pada tatoku sendiri,” katanya setengah bercanda.

Tawa kembali meledak, mengisi ruangan dengan energi hangat khas persahabatan lama. Sementara itu, Yoohan melirik ke arah Junho.

Junho tetap diam sejak tadi. Ia menyimak semua percakapan dengan tenang, tidak terusik oleh gurauan sahabat-sahabatnya. Ponselnya masih berada di tangannya, layar menampilkan gambar Nala yang tersenyum di atas panggung. Sudut bibirnya terangkat sedikit dan entah apa yang sebenarnya ia pikirkan dalam hatinya.

Tawa mereda perlahan, menyisakan suasana santai yang masih hangat di ruang rapat. Yoohan menutup laptopnya, lalu bersandar di kursi sambil melipat tangan di dada.

“Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya Junho bicara panjang lebar tentang seseorang di luar lingkaran musik kita, Biasanya, kalau bukan soal tempo atau aransemen, dia tidak pernah seantusias itu,” ujarnya datar tapi nada suaranya jelas mengandung sindiran halus. Jinwoo segera menyambung dengan nada teatrikal.

“Ah, mungkin karena dia menemukan the muse baru untuk menyalakan bara seni di hatinya,” ledek nya sembari memainkan alis nya naik turun.

“Hyung, tolong berhenti bicara seperti penyair gagal,” sahut Hoseung cepat, membuat semua orang kembali tertawa. Namun Junho hanya menggeleng pelan.

“Kalian benar-benar tidak bisa serius, ya?” ujar nya kesal dia mengusap wajahnya pelan.

“Kami serius, Hyung,” balas Jihwan sambil menahan tawa. “Serius ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di acara itu. Kau tiba-tiba jadi memilih karya nya, lalu tiba-tiba pula memuji seorang penulis asing, lalu—tiba-tiba rapat darurat. Aneh, bukan?” lanjut nya yang membuat Junho menggeleng cepat.

“Tidak ada yang aneh,” balas Junho tenang, meski jemarinya mengetuk meja seolah mencoba menahan sesuatu. “Aku hanya menemukan seseorang dengan bakat luar biasa, dan aku ingin mengajaknya bekerja,” lanjut nya yang membuat Taeyang mengangkat alis, nadanya menggoda tapi masih terdengar sopan.

“Tentu saja, dengan alasan profesional yang sangat… mendalam, kan?” ujar nya dengan senyuman aneh nya, Kiyoon menimpali cepat tidak ingin kehilangan kesempatan untuk meledek Junho.

“Hyung, kalau alasanmu murni profesional, kenapa siang tadi aku lihat kau memutar video pidato pemenang itu tiga kali berturut-turut?” tanya nya yang membuat ruangan seketika pecah oleh tawa besar.

Bahkan Jinwoo sampai menepuk meja sambil berkata di antara tawanya.

“Kau bahkan menghitungnya, Kiyoon-ah? Luar biasa sekali dedikasimu sebagai maknae intel,” ujar Jinwoo tak bisa menahan tawa nya lagi, Jihwan bahkan tertawa sampai jatuh dari kursi nya seperti kebiasaan yang sudah menjadi ciri khas nya.

Junho menatap Kiyoon datar.

“Aku tidak menyangka kau memperhatikan sedetail itu. Darimana kau tahu?” selidik Junho menatap maknae nya itu.

“Aku tidak memperhatikan, Hyung, Aku hanya dengar dari Taeyang hyung. Dia yang lihat,” jawab Kiyoon polos, mendengar ucapan itu Taeyang langsung tersedak air mineral yang baru diminumnya, membuat ruangan kembali riuh.

“Hei! Aku hanya kebetulan lewat studio nya tadi siang, karena Hoseung Hyung menyuruh ku untuk mengajak Junho Hyung makan siang, bukan mengintai!” ujar nya sembari menatap Hoseung tapi bukan nya mendapatkan pembelaan, Hoseung malah terkekeh geli.

“Alasan klasik seorang pengintai,” sahut Hoseung cepat.

Jinwoo menepuk pundak Junho dengan ekspresi jahil yang tak bisa disembunyikan.

“Kalau benar kau tertarik secara profesional, pastikan perasaanmu tidak ikut terlibat. Dunia tahu betapa rumitnya hidup seorang leader yang jatuh hati. Aku tidak mau kau terlibat masalah skandal di depan publik Junho-ya,” ujar Jinwoo memperingati Junho.

Karena bagaimanapun skandal kecil saja bisa membuat mereka goyah, apalagi sekarang ini dengan kepopuleran mereka membuat para media semakin haus mencari berita dan rumor. Junho tersenyum samar, nada suaranya tetap datar tapi matanya sedikit melembut.

“Aku tidak punya waktu untuk jatuh hati, Hyung. Aku hanya ingin musik kita tumbuh,” ujar nya, suaranya bergetar seperti pria yang menahan sesuatu untuk tidak di ungkapkan sepenuhnya. Jihwan menyela cepat.

“Ah, kalimat defensif nomor satu seorang pria yang sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri,” celetuk Jihwan, disambut tawa gemuruh dari seluruh ruangan.

Yoohan, yang sejak tadi diam dengan wajah datar, akhirnya berkata pelan.

“Aku tidak akan ikut menggoda. Tapi aku akan mengatakan satu hal—kalau kau benar-benar yakin dengan instingmu, maka pastikan kau juga siap dengan konsekuensinya,” ujar nya yang membuat Junho menatapnya sejenak, lalu mengangguk.

“Selalu,” jawab nya mantap, hal itu membuat seisi ruangan sunyi sesaat.

Hanya bunyi kursi yang bergeser dan kertas yang dirapikan terdengar. Tapi kemudian Jinwoo, dengan ekspresi yang kembali santai, berkata .

“Dan itu, teman-teman, adalah alasan kenapa leader kita tetap jadi penyair terselubung di balik semua rapnya,” ujar nya yang membuat semua orang menatap nya dalam diam, sedangkan Junho tetap tenang di kursinya.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!