"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Penutup dari Sebuah Luka
Pagi di Jakarta Selatan selalu diawali dengan deru mesin dan klakson yang bersahutan, namun di balik pagar ruko "Ruang Temu", suasana terasa seolah berada di dimensi yang berbeda. Hana berdiri di depan mesin espreso, memperhatikan uap putih yang mengepul tipis. Harum kopi Gayo yang baru saja diseduh memberikan ketenangan yang ia butuhkan untuk menghadapi apa yang telah ia putuskan semalam.
Di atas meja barista, tergeletak sebuah surat izin kunjungan dari pihak kepolisian. Aris masih ditahan. Bukan karena kasus besar yang menggemparkan negara, melainkan karena rentetan kekacauan kecil yang menumpuk: keributan di tempat umum, pengrusakan properti, dan jeratan utang piutang yang tidak berujung.
"Kamu benar-benar yakin ingin pergi?" tanya Raka, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu masuk, memperhatikan Hana dengan tatapan cemas namun menghargai.
Hana mematikan mesin kopi, lalu menatap Raka. "Aku butuh ini, Ka. Bukan untuk membantunya, bukan untuk merasa kasihan, tapi untuk benar-benar meletakkan titik terakhir. Aku tidak ingin ada sisa rasa bersalah atau pertanyaan 'bagaimana kalau' di kepalaku. Aku ingin melihatnya sebagai manusia biasa, bukan lagi sebagai monster yang menghancurkan hidupku."
Raka mengangguk pelan. Ia melangkah mendekat, membetulkan kerah kemeja Hana dengan lembut. "Aku akan mengantarmu. Aku tunggu di parkiran. Kalau kamu merasa tidak sanggup, cukup beri tanda, kita langsung pulang."
"Terima kasih, Ka," bisik Hana.
Gedung kantor polisi itu terasa dingin dan berbau asap rokok serta kertas-kertas tua. Hana duduk di ruang kunjungan yang hanya dibatasi oleh meja kayu panjang yang kusam. Suara kunci diputar terdengar kasar, dan tak lama kemudian, pintu besi di ujung ruangan terbuka.
Sosok pria yang keluar dari sana membuat Hana harus menahan napas sejenak. Jika sebulan yang lalu Aris tampak berantakan, sekarang ia tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu. Kemeja tahanan berwarna oranye itu tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang menyusut. Rambutnya dipotong pendek asal-asalan, dan matanya cekung, kehilangan binar keangkuhan yang selama sepuluh tahun ini menghantui Hana.
Aris duduk di depan Hana. Ia tidak berani menatap mata Hana. Tangannya yang biasanya selalu sibuk memainkan jam tangan mewah, kini tampak gemetar dan kosong.
"Kamu datang..." suara Aris parau, hampir tidak terdengar.
"Aku datang karena Mama Sarah meneleponku," jawab Hana dengan nada yang sangat datar, tanpa benci namun juga tanpa kehangatan. "Dia sangat mengkhawatirkanmu, Aris."
Aris tertawa sinis, namun tawanya segera berubah menjadi batuk kering. "Mama... dia hanya mengkhawatirkan siapa yang akan memberinya uang untuk membeli tas-tasnya yang sudah disita itu. Kami berdua sama saja, Na. Kami hancur karena kami tidak pernah tahu cara hidup tanpa pura-pura."
Hana terdiam. Ia melihat pria di depannya bukan lagi sebagai suami yang ia puja, bukan juga sebagai pengkhianat yang ia benci. Ia hanya melihat seorang pria yang tersesat dalam egonya sendiri.
"Aku melihat 'Ruang Temu' di berita lokal tempo hari," Aris melanjutkan, kali ini ia memberanikan diri menatap Hana. "Kamu tampak... sangat cantik. Jauh lebih cantik daripada saat kamu memakai gaun-gaun mahal yang aku belikan. Kenapa aku tidak pernah melihat itu dulu?"
"Karena kamu tidak pernah melihatku, Aris," jawab Hana tenang. "Kamu hanya melihat dirimu sendiri yang terpantul di mataku. Kamu hanya melihat seorang istri yang bisa kamu pamerkan, seorang pelayan yang bisa kamu perintah, dan seorang pendengar yang tidak punya suara. Kamu tidak pernah benar-benar mengenalku."
Aris menunduk lagi, air matanya menetes di atas meja kayu yang kotor. "Aku minta maaf, Hana. Untuk Citra... untuk rahasiamu yang aku bocorkan... untuk setiap hari yang aku buat kamu merasa tidak berharga. Aku baru sadar, saat aku tidak punya apa-apa lagi, hanya bayanganmu yang muncul di pikiranku. Tapi aku tahu, aku sudah terlambat."
"Ya, kamu sudah sangat terlambat," Hana mengangguk pelan. "Tapi aku datang ke sini bukan untuk mendengar permintaan maafmu, Aris. Aku datang untuk mengatakannya sendiri padamu: Aku sudah memaafkanmu."
Aris mendongak dengan tatapan tidak percaya. "Kamu... memaafkanku?"
"Ya. Tapi jangan salah paham. Aku memaafkanmu agar hatiku tidak lagi terikat padamu. Aku memaafkanmu agar rasa benci ini tidak menjadi racun di dalam kadeku yang baru. Aku memaafkanmu agar aku bisa benar-benar melupakanmu."
Hana berdiri dari kursinya. Ia merasa beban besar yang selama ini menghimpit dadanya benar-benar menguap. "Soal Mama Sarah, aku sudah mengatur pengiriman kebutuhan pokok untuknya selama tiga bulan ke depan. Setelah itu, dia harus mulai mandiri, begitu juga kamu saat keluar dari sini nanti. Jangan cari aku lagi, Aris. Jangan telepon, jangan datang. Bagiku, Aris Gunawan sudah meninggal di hari aku menandatangani surat cerai itu."
Hana berbalik, melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Ia mendengar suara isak tangis Aris yang semakin keras di belakangnya, namun kakinya tidak lagi ragu.
Di luar, matahari bersinar sangat terik, namun angin sepoi-sepoi Jakarta terasa begitu menyegarkan di kulit Hana. Raka berdiri di samping mobil, langsung membukakan pintu untuknya begitu melihat Hana keluar.
"Sudah selesai?" tanya Raka lembut.
Hana mengangguk, lalu ia memeluk Raka dengan sangat erat. Di dalam pelukan itu, Hana menangis—bukan karena sedih, tapi karena ia merasa benar-benar bersih. Semua sisa-sisa masa lalunya, semua rasa sakitnya, telah ia tinggalkan di dalam ruang kunjungan yang pengap itu.
"Sudah selesai, Ka. Benar-benar selesai," bisik Hana di pundak Raka.
Mereka kembali ke "Ruang Temu". Sore itu, kafe sangat ramai. Para wanita dari komunitas "Ruang Diskusi" tampak sedang berbincang akrab di meja-meja kayu jati Belanda. Musik jazz mengalun lembut, bercampur dengan aroma kopi dan tawa rendah para pengunjung.
Hana kembali ke balik meja barista. Ia melihat ke sekeliling kafenya yang hangat. Ia melihat Raka yang sedang membantu membereskan cangkir-cangkir kotor dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia melihat wanita-wanita yang kini memiliki harapan baru setelah mendengar ceritanya.
Hana menyadari satu hal yang luar biasa. Ia bukan lagi sekadar penyintas. Ia adalah seorang pemenang.
Ia telah mengubah rasa sakit menjadi energi kreatif. Ia telah mengubah pengkhianatan menjadi kepercayaan pada diri sendiri. Dan ia telah mengubah sebuah akhir yang pahit menjadi awal yang jauh lebih manis daripada yang pernah ia bayangkan.
Malam harinya, saat Hana menutup pintu kafe dan menggantung papan 'Closed', ia menatap jalanan yang masih sibuk. Hidup akan terus berjalan, tantangan akan terus ada, namun ia tidak lagi takut. Ia memiliki "Ruang Temu"—sebuah tempat di mana ia menemukan dirinya kembali, dan tempat di mana ia memberikan ruang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.