Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33—Garis Darah Yang Terbukti
Dan seperti apa yang Wuxu duga. Ibu Yuofan mengamuk pada pagi hari kala melihat seorang bayi tergeletak disampingnya. Ia menendang bayi tersebut membuat bayi itu menangis dan terluka di bagian jidatnya.
Yuofan yang terbangun akibat keributan itu, dengan cepat memisahkan keduanya. Ia menggendong adiknya dan menginjak tangan ibunya yang terus berusaha menyakiti bayi itu.
Yuofan membuat pola rune menggunkan energi qi nya, kemudian ia lemparkan pola tersebut pada ibunya hingga wanita itupun kembali tertidur dan menjadi lebih tenang. Sebelum mengikat ibunya, ia menggoyang-goyangkan tubuh bayi itu yang terus menangis.
Awalnya Yuofan berniat untuk mengambil obat-obatan dari dalam ruang hampa, tetapi tak sampai beberapa menit, luka itu perlahan hilang dan sembuh begitu saja. Hal ini tentu membuat Yuofan dan Wuxu menatap takjub tubuh bayi ini, dan semakin yakin bahwa bayi ini memang memiliki kekuatan pria itu.
“SUDAH AKU DUGA!” ucap Wuxu penuh semangat menunjuk bayi itu. Ia pun yakin bahwa ibu Yuofan sendiri bukanlah orang biasa, apalagi Yuofan sendiri memiliki keanehan didalam tubuhnya, dimana ia memiliki serpihan jiwa raja iblis didalam tubuhnya.
Wuxu pun terdiam ketika mengingat hal tersebut. “Tunggu,” bisik Wuxu dengan wajah serius.
Yuofan hanya menatapnya datar dan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Wuxu. “Kau sendiri adalah keturunan ras campuran, kan?” tanya Yuofan yang diangguki oleh Wuxu.
“Bisa jadi akupun keturunan ras campuran, karena aku yakin dia ibu kandung ku!” ucap Yuofan kemudian mengambil kasur bayi dan membawanya keluar.
“Ta-tapi ini aneh,” ucap Wuxu yang melayang mengejar Yuofan yang tiba-tiba berjalan keluar.
“Jika kau adalah gabungan dari ibu mu yang seorang Dewi dan seorang pria dari ras iblis. Lalu bagaimana dengan adikmu? Dia memiliki darah seorang dewa.” tanya Wuxu sembari menatap Yuofan yang sedang meletakkan bayi itu diatas kasur kecil itu.
“Mungkin ibuku yang iblis?” ucap Yuofan tak memalingkan pandangannya sekalipun dan tetap fokus menyelimuti adiknya. Ia pun tersenyum kecil melihat adiknya yang berhenti menangis dan kembali tertidur dengan nyenyak.
“Tapi aku tidak merasakan energi iblis dari dalam tubuh ibumu, bahkan tak sedikitpun.” Wuxu menatap wanita dibelakangnya dengan tatapan heran.
Begitupun dengan Yuofan yang kini duduk disamping bayi itu sembari menatap kearah ibunya. “Lalu bagaimana dengan energi dewa nya?” tanya Yuofan membuat Wuxu terdiam.
Tak lama, Wuxu pun menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak bisa merasakan apapun dari tubuh wanita itu.
“Ah!" Wuxu memukulkan tanganya dengan tangan satunya, teringat sesuatu. “Siapa nama ibumu?” tanya Wuxu sembari menatap kearah Yuofan penuh keyakinan.
Mendengar pertanyaan itu, Yuofan tersenyum kikuk. Lalu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, “Tidak tahu.” balasnya.
Wuxu terjatuh kecewa mendengar jawaban bocah itu. Ia tidak percaya bahwa bocah itu mati-matian melindungi seorang ibu, yang bahkan namanya sendiri Yuofan tidak kenal. Ia tidak yakin apakah benar Yuofan ini benar anaknya atau tidak, tetapi melihat rupa Yuofan yang masih terlihat tampan walau wajahnya terluka, iapun menjadi bimbang.
“Ibuku jarang bicara, jarang berkomunikasi, dan keluar rumah hanya untuk berbelanja. Ia juga hanya tersenyum kecil jika aku mengajaknya bicara, walau sesekali ia menjawab dengan singkat.” ucap Yuofan sembari menundukkan kepalanya mengingat masalalu.
“Bukankah dia terdengar kejam?” balas Wuxu yang merasa bahwa prilaku wanita itu kurang baik baginya.
“Tidak! Di-dia baik, dia memberiku makan, menyayikan lagu tidur, dan… dan,” Yuofan mengangkat bola matanya keatas, berpikir sekaligus menghindari kontak mata dengan Wuxu.
“Itu karena kewajiban dia sebagai seorang ibu, bodoh.” balas Wuxu sembari memegangi wajah Yuofan agar kontak mata mereka tak lepas.
“Ta-tapi…” Yuofan melirik kebawah menghindari tatapan Wuxu. “Aku tak memiliki siapapun lagi.” lanjutnya seraya menatap Wuxu.
Mendengar jawaban itu Wuxu terdiam. Ia pun melepaskan Yuofan dan ikut duduk di samping bayi itu. Ia menundukkan kepalanya, teringat dengan masa lalunya dimana ia sama sekali tak memiliki siapapun disampingnya. Sedari kecil ia selalu dikucilkan, tetapi seorang dewa datang, bukan untuk membunuhnya, tetapi memberikannya makanan dunia atas.
Ia pun paham dengan perasaan Yuofan saat ini, ia juga pernah ingin melindungi dewa itu. Namun, dirinya yang memiliki perwujudan seperti iblis tentu tidak bisa memasuki wilayah dewa, apalagi dirinya selalu di buru oleh para dewa.
“Pada intinya, kau dan aku memiliki kehidupan yang rumit. Dan aku merasa bahwa pertemuan kita memang memiliki garis takdir, entah mengapa aku banyak kemiripan diantara kita dan hal itulah yang sedikit membuat mereka aman,” Yuofan menatap kearah langit yang masih gelap.
“Rahasia kehidupan kita sangatlah besar, dan untuk mencari kebenaran kita perlu kekuatan yang besar. Apalagi aku harus menepati janjiku padamu untuk mencarikan wadah sebagai tubuh baru mu, jadi…” Yuofan menatap kearah Wuxu dengan sudut bibir yang terangkat.
“Bisakah aku mengandalkan mu? Bisakah kau mempercayai ku?” ucap Yuofan membuat Wuxu tertawa.
Hal itu membuat suasana yang awalnya hangat menjadi canggung. Yuofan pun menjatuhkan sudut bibirnya dan menatap sinis kearah Wuxu, ia menyesali perkataannya dan menarik kembali semuanya.
“Aku sudah mempercayai dari lama, bocah. Kau saja yang masih ragu padaku.” ucap Wuxu sembari memberikan ibu jari yang ia balikkan.
Namun, obrolan mereka terhenti kala bayi itu kembali menangis kencang. Yuofan ingat bahwa ia sama sekali belum memberikan asupan nutrisi pada bayi itu, dengan cepat ia mengambil kain dari dalam ruang hampa dan menggendong bayi itu dalam dekapannya.
Ia berlari untuk berburu. Kali ini bukan hanya daging, tetapi ia akan berburu susu sebagai asupan nutrisi adiknya. Walaupun ini masih terlalu berat bagi bayi seusianya, tetapi Yuofan tahu bahwa adiknya pasti bisa karena ia bukanlah bayi biasa.
Tak berselang lama pada akhirnya Yuofan berhasil menangkap dan memperoleh susu yang sudah diperah, ia juga mendapatkan seekor kelinci hutan yang cukup gemuk untuk ia jadikan sarapan mereka.
Yuofan pun memasukkan hasil perburuan kedalam ruang hampa dan berjalan kembali menuju gua seraya mencari beberapa ranting kayu kering untuk dijadikan perapian. Dimana setelah ini ia berniat mengolah terlebih dahulu susu ini, kemudian juga membuat beberapa pil penambah energi untuk ibunya.
“Sabar ya, Yu'er. Kakakmu ini pasti memberikan yang terbaik untuk mu!” ucap Yuofan seraya mengelus pelan pipi adiknya.
Sesampainya di gua, Yuofan meletakkan Anyu diatas kesur tidur kembali. Kemudian ia membuat api sedikit lebih jauh dari gua, agar asap dari api tersebut tidak mengenai adiknya. Ia juga mengeluarkan sebuah tungku, yang mana tungku ini adalah pemberian dari Chen Huo sebagai hadiah atas keberhasilan Yuofan membuat pil pertamanya dahulu.
“Apa guru baik-baik saja, ya?” gumamnya sembari meniup-niup bawah tunggu agar api cepat membesar.
Wuxu duduk diatas kepala Yuofan, “Seharusnya pria itu baik-baik saja. Lagipula aku sempat melihat para pria itu membawa tas besar seperti tas yang dibawa oleh pria itu.” ujar Wuxu.
Yuofan pun mengangguk sedikit merasa tenang dibuatnya. Ia kemudian mulai memasak susu sapi itu dengan sedikit menambahkan air agar tidak terlalu berat untuk adiknya.