Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Rencana Rawa Ancol
Di kamar kos Gang Kenari, pertahanan Arya runtuh seketika.
Melihat pengakuan sejujur itu, kemarahannya menguap tak berbekas. Dia merasa bodoh. Dia terlalu fokus pada perasaannya sendiri—merasa dibohongi—sampai lupa bahwa beban Alina jauh lebih berat. Alina harus hidup dengan pengetahuan tentang kematian orang yang dicintainya setiap detik.
Arya melihat pistol di mejanya. Benda itu terlihat dingin dan jahat.
Lalu dia melihat mesin tik itu. Benda itu terlihat hangat.
Arya menyingkirkan pistolnya. Dia menarik kursi mendekat.
> Alina...
>
Satu kata itu membuat Alina mengangkat kepalanya di tahun 2024.
> Jangan menangis, Nona.
> Maafkan saya.
> Saya yang egois. Saya lupa bahwa kau menanggung beban sejarah sendirian di pundakmu.
> Kau benar. Tawanya hilang beberapa hari ini. Tapi bukan karena tanggal kematian itu. Tawanya hilang karena saya menjauhimu.
>
Alina tersenyum di sela isakannya.
> Kau masih marah?
>
> Tidak. Sudah tidak. Mana bisa saya marah pada tunangan yang takut jadi janda?
> Alina, dengarkan saya.
> Saya baru saja membeli pistol. FN Browning. Mahal sekali.
> Saya berniat melawan Si Mata Satu. Saya berniat menembak kepalanya sebelum dia menembak saya.
>
Alina terbelalak.
> Pistol?! Arya, kau gila! Mata Satu itu pembunuh bayaran profesional! Dia membunuh orang sambil merem! Kau cuma penulis!
> Kau tidak akan menang adu tembak dengannya!
>
> Saya tahu. Tangan saya masih gemetar memegangnya.
> Tapi apa pilihan saya? Lari? Dia akan mengejar sampai ke lubang semut. Van Heutz tidak akan berhenti.
> Kecuali...
>
Arya berhenti mengetik. Sebuah ide melintas di kepalanya. Ide yang muncul karena kata-kata Alina tadi: "Menjadi wanita yang mengenang pria yang jasadnya tak pernah ditemukan."
Jasad tak ditemukan.
Hilang.
Operasi Senyap.
Arya mengetik lagi, kali ini dengan tempo lambat, berpikir keras.
> Alina, kau bilang sejarah mencatat saya "hilang" dan "diduga mati" di Rawa Ancol pada 31 Desember, kan?
>
> Iya. Mayatmu tidak pernah ditemukan. Itu sebabnya Hendrik bilang kau mati.
>
> Bagaimana kalau sejarah itu benar... tapi interpretasinya salah?
>
Alina mengernyit. Maksudnya?
> Bagaimana kalau saya memang "hilang" di Ancol... tapi bukan karena mati?
> Van Heutz ingin saya mati. Mata Satu ingin bayaran.
> Jika mereka melihat saya mati... atau jika mereka yakin saya mati... pengejaran berhenti, kan?
>
Mata Alina berbinar. Otaknya yang cerdas langsung menangkap arah pembicaraan ini.
> Kamu mau memalsukan kematianmu?
>
> Tepat.
> Kita berikan Van Heutz apa yang dia mau. Mayat. Atau setidaknya, bukti kematian yang tak terbantahkan.
> Kita tipu sejarah, Alina. Kita biarkan buku sejarah mencatat "Raden Mas Arya tewas", supaya Raden Mas Arya yang asli bisa hidup bebas.
>
Alina bangkit dari kursinya, mondar-mandir penuh semangat.
> Itu berisiko tinggi, Arya. Tapi itu satu-satunya cara.
> Tapi bagaimana? Mata Satu bukan orang bodoh. Dia butuh bukti fisik untuk lapor ke Van Heutz.
> Dan Ancol itu rawa-rawa. Kalau kau cuma menghilang, mereka akan mencarimu.
>
> Kecuali kalau saya "tenggelam" di rawa hisap. Atau dimakan buaya.
> Alina, kau punya akses peta Ancol tahun 1930 dan 2024 kan?
> Bantu saya mencari lokasi yang tepat. Tempat di mana arus lautnya deras, atau lumpurnya dalam.
>
Alina segera membuka laptopnya. Dia membuka peta hidrologi pesisir Jakarta Utara.
> Ada satu titik. Muara Kali Ancol.
> Di tahun 1930, itu adalah pertemuan arus sungai dan laut. Sangat berbahaya saat pasang naik.
> Dan tanggal 31 Desember nanti...
>
Alina mengecek data fase bulan tahun 1930.
> ...adalah Bulan Purnama. Air pasang tertinggi.
> Kalau kau jatuh ke muara saat pasang naik di malam tahun baru... tidak ada yang akan berani menyelam mencarimu. Arusnya akan menyeret apa saja ke laut lepas.
>
> Sempurna.
> Jadi skenarionya: Saya dikejar Mata Satu. Saya terpojok di dermaga tua muara. Saya tertembak (atau pura-pura tertembak), lalu jatuh ke air yang sedang pasang gila.
> Mata Satu akan melihat saya jatuh. Dia akan lapor saya mati hanyut.
> Van Heutz puas.
> Dan saya... saya akan berenang ke sisi lain.
>
> Tapi kau bisa benar-benar mati tenggelam, Arya! Arus pasang purnama itu kuat!
>
> Saya perenang yang baik, Alina. Saya anak sungai. Dulu kecil saya sering berenang di Bengawan Solo.
> Yang saya butuhkan adalah alat bantu napas. Sesuatu yang bisa membuat saya bertahan di bawah air atau di balik akar bakau sampai Mata Satu pergi.
>
Alina berpikir cepat.
> Batang bambu kecil? Untuk snorkel darurat?
>
> Bisa. Atau kantong udara dari kulit kambing.
> Dan saya butuh darah. Banyak darah. Supaya airnya merah.
> Mata Satu harus melihat darah itu.
>
> Darah ayam? Darah sapi?
>
> Saya akan siapkan. Saya akan masukkan ke dalam kantong di balik baju saya.
>
Rencana gila itu mulai tersusun rapi. Sebuah teater kematian di malam pergantian tahun.
Alina merasa ngeri sekaligus takjub. Pria ini... tunangannya ini... punya nyali yang luar biasa.
> Satu hal lagi, Arya.
> Kalau rencana ini berhasil... kau akan dianggap mati oleh semua orang.
> Ibumu. Teman-temanmu. Yamin. Amir. Sarsinah.
> Kau akan kehilangan segalanya. Namamu, identitasmu, hidupmu.
> Kau akan jadi hantu sungguhan. Tidak bisa muncul lagi di pergerakan.
> Siapkah kau?
>
Arya terdiam lama di kamarnya.
Menjadi hantu. Kehilangan kesempatan melihat Indonesia merdeka sebagai "Arya". Kehilangan kehormatan sebagai pejuang yang dikenal.
Tapi alternatifnya adalah mati sungguhan.
Arya menatap cincin perak ibunya yang kini tidak ada di jarinya (karena ada di jari Alina). Dia sudah melepaskan masa lalunya.
> Saya siap, Alina.
> Biarlah nama Raden Mas Arya mati di tahun 1930 sebagai martir.
> Saya akan lahir baru di tahun 1931 sebagai orang biasa.
> Yang penting saya masih bisa bicara denganmu. Selama mesin tik ini ada, saya hidup.
>
Alina tersenyum haru.
> Baiklah.
> Kita punya waktu 27 hari untuk menyempurnakan sandiwara ini.
> Kita akan jadikan kematianmu sebagai pertunjukan sulap terbesar abad ini.
>
Malam itu, tidak ada lagi air mata kesedihan. Yang ada adalah air mata nekat. Dua kekasih lintas dimensi itu kembali bersatu, diikat oleh rahasia yang lebih besar dari sekadar rindu.
Mereka akan melawan takdir dengan cara menipunya.
Dan di luar sana, di markas rahasia Van Heutz, Si Mata Satu sedang mengasah pisau belatinya, tidak menyadari bahwa targetnya sedang menyusun naskah kematiannya sendiri.
...****************...
...Bersambung... ...
...Terima kasih telah membaca📖 ...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan