NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:90.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Satu Kata yang Salah Tempat

Begitu mengenali mobil itu, seketika wajah Alvian berubah cerah.

“Kakek! Nenek!”

Ia langsung berlari kecil begitu pintu mobil terbuka.

Husain turun lebih dulu. Disusul Fatima di sisi lain. Wajah mereka seperti biasa, tenang dan hangat.

Tidak ada yang berubah. Semua terlihat baik-baik saja.

“Alvian…” suara Fatima langsung melembut. Tangannya terbuka menyambut.

Alvian memeluknya erat.

“Kangen!” serunya polos.

Husain tersenyum lebar, mengusap kepala cucunya.

“Sudah tambah besar,” gumamnya ringan.

Ayza masih berdiri di tempatnya. Belum melangkah mendekat. Tatapannya tertahan pada dua orang itu.

“Assalamu’alaikum, Nak.”

Suara Husain akhirnya sampai padanya.

Ayza tersadar. Sedikit tersentak, lalu melangkah mendekat.

“Wa’alaikumsalam…”

Suaranya tetap lembut seperti biasa. Namun jemarinya… tanpa sadar saling mengunci.

Fatima memerhatikan menantunya lebih lama dari biasanya.

“Capek?” tanyanya pelan. “Kamu kayak kurang tidur.”

Garis tipis terbentuk di bibir Ayza.

“Enggak kok, Bun.” Jawabnya ringan.

Husain mengangguk. Tidak curiga.

“Mana Kaisyaf?” tanyanya santai. “Ayah tadi coba hubungi, tapi gak diangkat.”

Untuk satu detik… Ayza tidak menjawab.

"Ayza?" panggil Fatima karena Ayza terdiam.

Ayza tersentak pelan saat namanya dipanggil.

“Iya, Bun?”

“Kamu baik-baik saja?” Pertanyaan Fatima sederhana. Tapi entah kenapa… terasa seperti sedang menguji.

Ayza mengangguk kecil. “Baik, Bun.”

Namun sebelum suasana kembali netral—

“Umi pasti kangen Abi,” celetuk Alvian polos. “Aku juga.”

Kalimat itu membuat Husain dan Fatima langsung menoleh.

“Ayo masuk, Yah, Bun,” ucap Ayza cepat. Seolah ingin memindahkan suasana.

 

Ruang tengah terasa hangat seperti biasa. Namun hari ini… ada sesuatu yang berbeda.

Alvian sudah duduk di atas karpet bulu, sibuk membuka oleh-oleh. Wajahnya kembali ceria.

Sementara itu, Ayza masuk ke dapur menyiapkan teh. Ia kembali dengan nampan di tangan. Dua cangkir teh dan dua toples berisi cemilan di atasnya.

“Minum dulu, Yah, Bun…”

Namun sebelum cangkir itu benar-benar menyentuh meja—

“Memangnya Kaisyaf ke mana?”

Pertanyaan Husain membuat tangannya berhenti sepersekian detik di udara. Tapi cukup terlihat… bagi yang memerhatikan.

Ayza menurunkan cangkir itu pelan.

“Abi ke luar kota, Yah.” Nada suaranya tenang.

“Sudah lama?” tanya Fatima lagi.

“Baru beberapa hari,” jawab Ayza singkat.

“Abi sekarang suka pulang malam,” sahut Alvian tanpa beban. “Kadang aku gak ketemu Abi, meskipun Abi pulang.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan polos—

“Sekarang malah makin jarang pulang.”

Husain dan Fatima saling pandang sejenak. Lalu… perlahan, tatapan mereka kembali ke Ayza.

“Kalian baik-baik saja, 'kan?” tanya Fatima pelan.

“Iya, Bun." Jawaban Ayza keluar tanpa jeda.

Fatima tidak langsung percaya.

“Jadi karena itu… kalian sudah lama tidak ke rumah?”

Pertanyaan itu cukup membuat Ayza tidak punya banyak ruang lagi untuk menghindar.

“Ayza…” suara Fatima pelan, “…kamu yakin baik-baik saja?”

Ayza tersenyum kecil terlalu cepat.

“Iya, Bun.”

Jawabannya ringan, tapi tidak benar-benar menenangkan.

Fatima tidak langsung membalas. Hanya mengangguk kecil… meski jelas belum puas.

Di sampingnya, Husain sejak tadi diam. Namun sorotnya tidak lepas dari Ayza. Ia meraih ponselnya. Jarinya sudah menekan satu nama.

Kaisyaf.

Ayza yang melihat itu… seketika menegang.

Panggilan tersambung, tapi tak kunjung diangkat. Dan setiap detik yang berlalu… terasa semakin berat.

-

Sementara itu di tempat yang jauh dari Ayza. Ponsel di atas meja bergetar.

Nara yang sedang mengecek catatan medis menoleh. Nama di layar membuatnya diam.

Ayah.

Ia melirik ke arah ranjang. Kaisyaf akhirnya terlelap. Napasnya masih belum stabil, wajahnya pucat.

Ponsel itu terus bergetar.

Nara ragu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat.

“Halo?”

Suaranya langsung berubah. Profesional. Terukur.

“Selamat siang, Pak. Saya sekretaris Pak Kaisyaf.”

 

Di rumah Ayza.

Husain sedikit mengernyit.

“Sekretaris?” ulangnya.

“Iya, Pak,” jawab Nara tenang. “Bapak sedang istirahat. Tadi ada meeting panjang.”

Jawaban itu terlalu rapi.

Husain belum sempat bicara lagi—

Pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka. Seorang perawat masuk tergesa.

“Doctor —” ucapnya cepat. “Patient in room 312 is critical—”

Nara langsung menoleh. Wajahnya berubah. Namun terlambat, kalimat itu… sudah terdengar jelas.

 

Di rumah Ayza.

Husain terdiam.

Ekspresinya yang semula biasa… perlahan berubah. Tidak drastis, tapi cukup untuk membuat sesuatu terasa berbeda.

“Critical…?” ulangnya dalam hati.

Fatima menoleh, mengernyit melihat perubahan itu.

“Yah…?” panggilnya pelan.

Husain tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng tipis.

Di sampingnya, Ayza berdiri diam. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi di ujung telepon tadi. Tapi ada firasat buruk yang perlahan merambat.

“Maaf, Pak. Itu bukan—” suara Nara terdengar, berusaha menutup.

Namun Husain sudah lebih dulu memotong.

“Di mana Kaisyaf sekarang?”

Nada suaranya rendah, tenang. Tapi kali ini… tidak memberi ruang untuk jawaban yang dibuat-buat.

Nara bingung harus menjawab apa.

“Pak—” ia mencoba lagi, tapi kali ini tidak meyakinkan seperti tadi.

Husain tidak mengulang pertanyaannya. Ia hanya menunggu. Dan justru itu… yang membuat tekanan terasa lebih kuat.

“Excuse me—” ucap perawat tadi. Suaranya mendesak.

Tanpa berkata apa-apa, Nara mengakhiri panggilan itu. Lalu ia berbalik. Mengikuti perawat dengan langkah cepat, seolah panggilan tadi… bukan lagi prioritas.

 

Kembali di ruang tamu—

Husain menutup telepon perlahan. Tidak ada ekspresi berlebihan atau pun kepanikan. Justru itu… yang membuatnya terasa lebih berat

“Siapa tadi?” tanya Fatima.

Husain menghela napas pelan.

“Orang kantor,” jawabnya singkat, terdengar wajar. Terlalu wajar.

Fatima mengangguk kecil. Tidak curiga.

Namun berbeda dengan Ayza. Ia tidak bertanya, tapi matanya… sempat menangkap sesuatu.

Husain menyandarkan punggungnya. Arah matanya lurus ke depan.

Namun pikirannya… tidak lagi di ruangan itu. Potongan-potongan kecil mulai tersusun.

Telepon yang lama baru diangkat.

Suara asing.

Kata yang tidak seharusnya terdengar.

“Critical.”

Rahangnya menegang sedikit.

Dan kali ini… sesuatu yang selama ini ia anggap biasa… mulai terasa tidak masuk akal.

Ia melirik sekilas ke arah Ayza. Hanya sebentar. Namun cukup untuk memastikan satu hal.

Ada sesuatu yang disembunyikan. Dan kali ini… ia tidak akan tinggal diam.

 

...🔸🔸🔸...

..."Kadang bukan kebohongan yang menghancurkan, tapi satu kata yang terdengar di waktu yang salah."...

..."Kebenaran tidak selalu muncul dengan suara keras, kadang ia hanya terselip, lalu mengubah segalanya."...

..."Yang disembunyikan dengan rapi, justru paling mudah runtuh saat tak sengaja terbuka."...

..."Ada hal yang bisa kita tutupi dari dunia… tapi tidak dari orang yang benar-benar memerhatikan."...

..."Ketika satu orang mulai curiga, kebohongan tak lagi punya tempat untuk bersembunyi."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dew666
💝💝💝
Yunita Sophi
akhir nya semua orang menyerah krn Al menginginkan Fahri...
Yunita Sophi
Al kangen sama om Fahri yah...
Anonim
Fatima sedih dan prihatin pastinya melihat cucunya tak seceria biasanya.

Fatima bertanya - Om Fahri ngga ke sini ? Ayza yang menjawab.

Alvian tahu Umi bohong dengan jawabannya.

Alvian sampai tak ada selera untuk makan. Padahal lapar.

Alvian...big hug 🥲
Anonim
Ayza - itu anakmu tidur pun memanggil "Om." Sampai terbawa di tidurnya saking rindunya sama Om Fahri.

Tega sekali Ayza.

Ayza. Coba resapi apa kata kedua mertuamu.

Fatima di sini baru tahu yang terluka yang paling kecil.

Fahri juga terluka.

Husain mesti ketemu dengan Fahri ini. Bicara dari hati ke hati. Apa Fahri setuju dengan jalan yang di pilih Ayza.
Anonim
Fahri kangen sama Alvian. Dengan duduk di atas motor yang berhenti, dia berada di seberang jalan di depan sekolah Alvian.

Mesin tidak dimatikan.

Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.

Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.

Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.

Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.

Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.

Tak ada sambutan dari Alvian.
Anonim
Pada menjalankan perjodohan yang dipilihkan orang tua masing-masing.

Bertemu calon yang dijodohkan.

Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.

Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.

Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.

Naila - mundur saja.
abimasta
pertahankan sikapmu ayza,lama2 juga al terbiasa
Puji Hastuti
kasian Al
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
GK ada masalah klo Fahri tetap dekat dg Alvian..tapi bukan berarti kawin semangat ayza dong..kan Fahri diamanatin suruh ngurusin perusahaan sampe Alvian cukup umur 🤭
menjaga bukan berarti MEMPERISTRI 👻🤣
abimasta: setuju,lebih baik fahri menikah dengan wanita lain
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal Kaisyaf melakukan itu karena dia tahu kalo Alvian butuh seseorang yang bisa membuatnya nyaman,,,
Sugiharti Rusli
dan orang yang sangat dipercayai olehnya adalah Fahri, tapi Ayza kekeh menolaknya
Sugiharti Rusli
mendiang Kaisyaf bukan hanya sekedar menitipkan, tapi dia juga mengiklaskan sang istri dan putranya mendapatkan perlindungan utuh,,,
Sugiharti Rusli
padahal kedua mertuanya sudah memahami apa yang dulu disampaikan mendiang putranya tuh sangat mendalam yah,,,
Sugiharti Rusli
karena Ayza hanya berpikir tentang perasaannya sendiri yang tidak mau memberi kesempatan orang lain masuk
Sugiharti Rusli
sepertinya apa yang diutarakan oleh ibu mertua Ayza tentang ada hal kecil yang dipaksa menjauh dan menimbulkan luka itu sangat benar,,,
Wardi's
fahri tetaplah jd om nya elfayen tanpa metubah posisi.., silahkan pilih jodoh yang lain.,
Oma Gavin
ternyata ayza egois demi ego nya alvian yg jadi korbannya jgn sampai kamu nyesel ayza teruskan ego mu tinggal tunggu waktu alvian akan jadi anak introvert
Marsiyah Minardi
Ayolah Ayza ,kesampingkan dulu egomu dan sederet alasan lainnya
Kasihanilah Alvian yang kehilangan figur ayah
Dek Sri
ayolah ayza biarkan Fahri jemput Alvian, daripada Alvian kenapa-napa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!