NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

BAB 17: Singgasana Perak di Balik Kabut Berlin

Berlin menyambut kepulangan sang putra mahkota dengan badai salju yang membekukan. Di dalam kompleks kastil Hohenzollern yang luasnya menyerupai sebuah kota kecil, Aurelius Renzo berdiri di balkon kantor pribadinya. Ia mengenakan setelan jas tiga potong berwarna charcoal yang dipotong sangat tajam, mantel wol hitam tersampir di bahunya.

Ia tidak lagi memegang kunci pas. Di tangannya kini ada segelas wiski murni, dan matanya menatap lurus ke arah gerbang besi tinggi yang memisahkan dunianya dengan kebebasan yang ia tinggalkan di Tokyo.

Pintu jati besar di belakangnya terbuka. Dua sosok melangkah masuk. Elara, dengan gaun beludru hijaunya yang anggun, dan Julian, si bungsu yang selalu memegang tablet ramping di tangannya. Julian tampak lebih kurus sejak kembali ke Eropa; beban kerja yang diberikan Maximilian padanya untuk mengawasi aliran data pasar global mulai meninggalkan jejak di wajah remajanya.

"Kak," panggil Julian pelan. Suaranya sedikit bergema di ruangan yang luas itu. "Ayah sudah di ruang perjamuan. Sophia juga sudah sampai. Dia... dia membawa pers rilis baru tentang penggabungan bank mereka dengan sektor industri kita."

Aurelius tidak berbalik. "Apakah dia membawa senyum palsunya juga, Julian?"

Julian menunduk, jemarinya bergerak cepat di atas layar tablet. "Dia membawa segalanya, Kak. Ambisi, kekuasaan, dan daftar tamu untuk gala di Paris bulan depan. Ayah ingin kau menandatangani kesepakatan pra-nikah malam ini."

Aurelius meneguk wiskinya hingga habis. Rasa bakarnya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. "Dua bulan. Sudah dua bulan aku berada di penjara ini."

Elara mendekat, menyentuh lengan kakaknya. "Hana Asuka baru saja memenangkan tender besar di Osaka. Julian meretas jaringan berita lokal Jepang pagi ini. Dia... dia terlihat sangat kuat di televisi, Kak. Dia tidak hancur seperti yang Ayah harapkan."

Mendengar nama itu, bahu Aurelius yang tegang sedikit mengendur. Ia menoleh ke arah Julian. "Tunjukkan padaku."

Julian segera menggeser tampilan di tabletnya dan memproyeksikannya ke layar besar di dinding kantor. Gambar Hana muncul. Ia mengenakan setelan bisnis hitam, rambutnya disanggul rapi, berdiri di depan podium dengan tatapan mata yang dingin namun berapi-api. Tidak ada lagi jejak gadis rapuh yang menangis di taman mawar.

"Dia bukan lagi sekadar putri Asuka," bisik Julian dengan nada kagum. "Orang-orang di Tokyo menjulukinya 'The Blue Diamond'. Keras, indah, dan tak terjangkau."

Aurelius menatap layar itu lama. Sebuah kebanggaan pahit membuncah di dadanya. "Dia melakukan apa yang kuminta. Dia sedang berlari menuju puncak."

"Tapi Kak," sela Julian, wajahnya berubah serius. "Ada hal lain. Aku menemukan undangan digital dari panitia World Economic Gala di Paris. Ayah mengirimkan undangan VIP atas nama Asuka Group. Dia sengaja melakukannya."

Aurelius menyipitkan mata. "Ayah ingin menunjukkan pada Hana bahwa aku sudah menjadi milik Sophia sepenuhnya. Dia ingin menghancurkan mental Hana secara langsung di Paris."

"Atau," Elara menyambung, "dia ingin mengujimu. Dia ingin melihat apakah kau akan goyah saat melihatnya di sana."

Aurelius berjalan menuju meja kerjanya, mengambil pena emas yang berat. Aura kaisarnya kembali—dingin dan mematikan. "Jika Ayah ingin panggung, akan kuberikan panggung. Julian, siapkan jalur komunikasi satelit pribadi yang tidak bisa dilacak oleh sistem pusat Ayah. Aku butuh koordinat pasti di mana Hana akan menginap selama di Paris."

"Sudah kulakukan sejak satu jam yang lalu, Kak," jawab Julian dengan seringai kecil. Meskipun dia yang bungsu, kecerdasannya dalam urusan intelijen digital adalah senjata rahasia Aurelius.

Tiba-tiba, suara ketukan sepatu hak tinggi yang tegas terdengar di koridor. Sophia melangkah masuk tanpa mengetuk. Ia cantik, sempurna, dan membawa aroma parfum yang sangat mahal yang bagi Aurelius terasa mencekik.

"Sayang, kau membuat para tamu menunggu," ucap Sophia, langsung melingkarkan tangannya di lengan Aurelius. Ia melirik Julian dan Elara dengan tatapan meremehkan. "Kalian berdua, bukankah seharusnya kalian belajar cara menyambut tamu di ruang bawah?"

Julian mengeraskan rahangnya, namun Aurelius menatapnya dengan isyarat untuk tetap tenang.

"Mereka adalah saudaraku, Sophia. Di rumah ini, mereka tidak perlu belajar apa pun darimu," balas Aurelius dingin. Ia melepaskan tangan Sophia dari lengannya dengan halus namun tegas. "Mari kita temui Ayah. Aku ingin segera menyelesaikan formalitas ini."

Saat Aurelius berjalan melewati Julian, ia berbisik sangat pelan, "Pastikan semua siap untuk Paris, Adik Kecil. Kita akan melakukan pemberontakan di bawah hidung mereka."

Julian mengangguk samar, matanya kembali ke layar tablet. Di balik penampilan patuhnya, si bungsu Hohenzollern itu sedang menyusun algoritma yang akan meruntuhkan tembok-tembok sandiwara yang dibangun ayahnya.

Eropa mungkin dingin, dan takhta itu mungkin kaku. Namun, di dalam kegelapan Berlin, tiga bersaudara Hohenzollern mulai bergerak dalam satu harmoni. Mereka bukan lagi pion Maximilian. Mereka adalah badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak di kota Paris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!