Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19: Kepulangan Pak Rahardi
Pagi itu, Rumah Sakit Internasional tempat ayah Nara dirawat tampak lebih cerah dari biasanya. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul di lantai porselen yang mengkilap. Bagi Nara, ini adalah hari yang paling ia tunggu sekaligus paling ia takuti. Hari ini, Pak Rahardi, ayahnya, diizinkan pulang.
Nara sedang merapikan tas kain berisi pakaian ayahnya. Tangannya bergerak cekatan, memasukkan sisa obat-obatan dan berkas administrasi. Di ranjang rumah sakit, Pak Rahardi duduk dengan wajah yang jauh lebih segar, meski guratan lelah akibat operasi besar masih tersisa di sudut matanya.
"Nara, apa tidak berlebihan jika kita dijemput dengan mobil semewah itu?" tanya Pak Rahardi, menunjuk ke arah jendela bawah di mana mobil sedan hitam milik Danu sudah terparkir. "Ayah merasa seperti beban bagi suamimu."
Nara menghentikan gerakannya sejenak. Jantungnya berdenyut nyeri. Suami. Kata itu masih terasa seperti duri di lidahnya. Namun, ia segera memasang senyum terbaiknya senyum yang telah ia latih setiap malam di depan cermin mansion.
"Tidak, Yah. Pak... maksud saya, Mas Danu memang ingin menjemput sendiri. Katanya, ini bentuk bakti seorang menantu," ucap Nara bohong, sebuah kebohongan demi menjaga detak jantung ayahnya agar tetap stabil.
Pintu kamar terbuka. Danu Setiawan melangkah masuk. Ia tidak lagi mengenakan setelan jas kaku yang biasa ia pakai ke kantor. Kali ini, ia mengenakan kemeja katun biru muda yang lengannya digulung hingga siku, memberikan kesan lebih manusiawi. Di tangannya, ia membawa sebuah buket buah-buahan segar.
"Sudah siap, Pa?" tanya Danu. Suaranya tidak sedingin biasanya. Ada nada canggung yang berusaha ia tutupi dengan keramahan formal.
"Sudah, Danu. Terima kasih banyak. Kamu sudah terlalu banyak repot untuk orang tua ini," jawab Pak Atmadja haru.
Danu melirik Nara yang sedang menunduk merapikan tas. Ia melihat jemari wanita itu yang sedikit gemetar. Danu sadar, hari ini ia bukan sekadar menjemput orang sakit, tapi ia sedang memasuki dunia yang selama ini ia injak-injak dengan kesombongannya.
Mobil sedan mewah itu membelah jalanan Jakarta yang padat. Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan terasa sangat berat. Pak Rahardi duduk di depan di samping Danu permintaan Danu sendiri agar ayahnya lebih leluasa melihat jalan sementara Nara duduk di bangku belakang.
Nara menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi perlahan berubah menjadi deretan ruko, lalu berubah lagi menjadi pemukiman padat yang kumuh namun hidup. Ia melihat pedagang kaki lima, anak-anak yang berlarian di trotoar, dan aroma gorengan yang samar-samar menyelinap masuk saat kaca jendela sedikit terbuka.
Inilah dunianya. Dunia yang sangat jauh dari kemilau lampu gantung kristal di mansion Setiawan.
"Sebentar lagi sampai, Yah," bisik Nara saat mobil mulai memasuki gang yang lebih sempit.
Danu harus memutar kemudi dengan sangat hati-hati. Mobil mewahnya tampak seperti benda asing yang terdampar di tengah pemukiman sederhana. Anak-anak kecil di pinggir jalan berhenti bermain, menatap kagum pada mobil hitam yang mengkilap itu. Danu bisa merasakan keringat dingin di tengkuknya. Bukan karena takut, tapi karena ia mulai menyadari betapa jauh jarak yang selama ini ia ciptakan antara dirinya dan wanita yang kini menjadi istrinya.
"Belok kiri di depan itu, Mas," ucap Nara pelan. Ini adalah pertama kalinya Nara memanggilnya
"Mas" di depan orang lain, dan meski ia tahu itu hanya akting, jantung Danu berdegup sedikit lebih cepat.
Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil dengan cat tembok hijau pupus yang sudah mulai mengelupas di beberapa bagian. Namun, rumah itu sangat bersih. Di terasnya terdapat beberapa pot bunga melati yang harumnya menyerbak tertiup angin sepoi-sepoy.
Bu Amina, ibu Nara, sudah berdiri di depan pintu dengan mata berkaca-kaca. Begitu pintu mobil terbuka, ia langsung berlari memeluk suaminya.
"Bapak... alhamdulillah, Bapak sudah pulang," tangis Bu Amina pecah. Ia mencium tangan suaminya berkali-kali seolah meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi.
Nara turun dari mobil, matanya juga mulai basah. Ia segera memeluk ibunya, menghirup aroma minyak kayu putih yang selalu menenangkan aroma rumah yang tidak pernah ia temukan di mansion dingin milik Danu.
"Ibu..."
"Nara, terima kasih ya, Nak. Danu... terima kasih banyak," ucap Bu Amina sambil mendekati Danu. Ia hendak mencium tangan Danu, namun dengan cepat Danu menarik tangannya dan justru ia yang membungkuk mencium tangan ibu mertuanya itu.
Danu tertegun sejenak. Ia melihat gurat-gurat kebahagiaan yang begitu murni di wajah wanita tua itu. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya syukur yang tulus.
"Sama-sama, Bu. Ini sudah kewajiban saya," ucap Danu, suaranya sedikit bergetar.
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruang tamunya kecil, hanya diisi oleh satu set kursi kayu tua dan sebuah meja jengki. Di dindingnya terpajang foto wisuda Nara, di mana ia tampak tersenyum lebar memegang ijazah diapit kedua orang tuanya yang tampak sangat bangga.
Danu duduk di kursi kayu itu. Kursinya sedikit keras, sangat jauh berbeda dengan sofa kulit Italia-nya yang empuk. Namun, entah kenapa, Danu merasa lebih "menapak" di sini.
"Maaf ya Danu, rumahnya sempit. Kamu pasti tidak biasa," ucap Bu Amina malu-malu sambil membawa nampan berisi teh hangat dan piring berisi tempe goreng serta sambal terasi. "Ibu hanya bisa masak ini. Ini makanan kesukaan Bapak dan Nara."
Danu menatap piring tempe itu. Di mansionnya, makanan selalu disajikan oleh chef profesional dengan presentasi bintang lima. Tapi di sini, uap panas dari tempe goreng itu membawa aroma cinta yang tidak bisa dibeli dengan miliaran rupiah.
Nara duduk di samping ibunya, menyuapi ayahnya perlahan. "Enak, Bu. Nara kangen masakan Ibu."
"Danu, ayo dimakan. Jangan sungkan," ajak Pak Rahardi.
Danu mengambil sepotong tempe. Ia mencicipinya. Rasanya gurih, hangat, dan... jujur. Ia melirik ke arah Nara yang sedang tertawa kecil mendengar cerita ibunya tentang tetangga sebelah.
Inilah Nara yang sebenarnya, batin Danu. Bukan Nara yang dingin dan penuh kebencian di rumahku. Dia adalah cahaya di rumah kecil ini. Dan aku... aku adalah kegelapan yang mencoba mencurinya dari kebahagiaan sesederhana ini.
Rasa bersalah kembali menghujam Danu. Ia teringat bagaimana ia menyeret Nara keluar dari kehidupannya yang damai ini hanya untuk memuaskan egonya dan menutupi kesalahannya.
Sesaat setelah makan, Nara pergi ke dapur untuk mencuci piring. Danu mengikutinya, beralasan ingin mengambil air minum. Di dapur yang kecil dan pengap itu, Danu melihat Nara sedang mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya.
"Nara..." panggil Danu lirih.
Nara tersentak, segera membelakangi Danu. "Kenapa? Apa Bapak merasa tidak nyaman di sini? Kalau mau pulang duluan, silakan saja. Saya bisa pulang nanti naik taksi."
Danu melangkah mendekat, namun berhenti tepat di ambang pintu dapur. "Aku tidak ingin pulang. Aku... aku hanya ingin tahu, apakah kamu selalu sebahagia ini jika tidak bersamaku?"
Nara berbalik, matanya yang basah menatap Danu dengan tajam namun penuh luka. "Di sini, saya adalah manusia, Pak Danu. Saya tidak perlu memakai topeng. Orang tua saya tidak tahu bahwa pernikahan kita adalah sebuah transaksi berdarah. Mereka pikir Bapak adalah penyelamat, padahal..."
Nara tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak ingin merusak suasana bahagia di ruang depan.
"Tolong," bisik Nara, suaranya serak. "Jangan pernah katakan yang sebenarnya pada mereka. Biarkan mereka mati dalam damai dengan percaya bahwa anak mereka bahagia. Itu satu-satunya hal yang saya minta dari Bapak."
Danu merasa jantungnya diremas. Ia melihat pengorbanan Nara yang begitu besar. Wanita ini bersedia hidup dalam neraka bersamanya hanya agar orang tuanya bisa tersenyum di surga kecil ini.
Sore mulai menjelang. Danu dan Nara harus kembali ke mansion sesuai perjanjian, meski berat bagi Nara untuk melepaskan pelukan ibunya.
"Nara, sering-sering pulang ya. Danu, titip Nara ya. Dia anak kami yang paling berharga," pesan Pak Rahardi saat mereka berdiri di depan mobil.
Danu mengangguk mantap. Ia menatap Pak Rahardi, lalu menatap Nara. "Saya janji, Pa. Saya akan menjaganya."
Kalimat itu bukan lagi sekadar basa-basi bagi Danu. Ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya setelah melihat rumah hijau pupus itu. Ia menyadari bahwa kekayaan Setiawan tidak ada artinya jika ia terus menghancurkan hati orang-orang sebaik mereka.
Saat mobil mulai melaju meninggalkan gang sempit itu, Nara terus melambaikan tangan hingga sosok orang tuanya hilang di tikungan. Ia kembali menyandarkan kepalanya di jok mobil yang mewah, menutup matanya rapat-rapat.
Danu sesekali melirik Nara melalui spion tengah. Ia melihat bahu Nara yang gemetar kecil karena menahan tangis. Tanpa kata-kata, Danu mematikan AC mobil yang terlalu dingin dan memperkecil volume radio.
Malam itu, perjalanan pulang terasa lebih panjang. Namun, untuk pertama kalinya, Danu tidak merasa ingin melarikan diri ke kantor atau ke botol alkoholnya. Ia ingin berada di samping Nara. Ia ingin belajar bagaimana caranya menjadi "Mas Danu" yang dipercayai oleh orang tua Nara, bukan lagi Danu Setiawan yang ditakuti oleh dunia.
...***...