NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21

"Sekarang kamu udah jadi jendral yang hebat. Aku bangga banget sama kamu! " wanita itu masih nyaman memeluk tubuh atletis Adriel.

Sedangkan pria itu tidak bergerak di tempat nya sama sekali. Bukan karena menerima pelukan itu. Tapi karena benar-benar tidak siap dengan sesuatu yang mendarat di dadanya tiba-tiba tanpa peringatan, seperti seseorang yang berdiri di jalanan sepi lalu tiba-tiba ada yang menabraknya dari samping.

Tangannya masih di sisi tubuhnya, tidak membalas, tidak juga mendorong.

Di teras itu sunyi mendadak. Kang Djarot yang tadi ribut soal foto sabun cuci piring sekarang hanya bisa melongo. Mbak Nila berdiri di ambang pintu dengan nampan di tangan dan ekspresi yang tidak tahu harus diapakan. Bu Nelis tiba-tiba sangat tertarik dengan tanaman di pojok teras.

Dan Violet sendiri masih bergeming di tempat nya.

Ia berdiri dua langkah di sebelah kiri Adriel, menatap ke depan dengan ekspresi yang ia jaga tetap biasa. Tapi tangannya sudah menggenggam tali tas lebih erat dari yang diperlukan.

Lalu Adriel akhirnya bergerak.

Tangannya pelan-pelan mendorong bahu perempuan itu menjauh, bukan kasar tapi jelas, lalu ia mundur setengah langkah sambil mengernyit.

Ia memandang perempuan di depannya.

Rambut blonde bergelombang. Mata cokelat yang berbinar terlalu antusias. Senyum yang terlalu lebar untuk seseorang yang baru saja datang tanpa pemberitahuan.

Adriel membuka mulutnya.

Lalu menutupnya lagi.

Ia tidak ingat.

Siapa wanita yang tiba- tiba memeluknya ini?

Lalu seolah menyadari kebingungan sang pria, wanita itu tampak melongo lebar. "J- jangan bilang kamu melupakan ku? " wajahnya yang tadi penuh binar perlahan meredup. Mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang dibuat ngambek.

"Aku bakal kesal kalau kamu enggak ingat aku, huh! "

Tapi Adriel benar-benar tak ingat. "Memangnya kau siapa?"

"Tuhkan, bener. " wanita itu mendengus. "Adriel!!!! aku teman masa kecil mu, yang dulu kita sering mancing di tepi sungai! " karena gemas suaranya jadi menggebu-gebu.

Adriel terdiam sebentar, wajahnya keras mengingat.

Lalu sesuatu di wajahnya bergeser. Bukan senyum. Tapi pengakuan.

"Nadia." satu kata singkat, sukses membuat wanita itu kegirangan.

"Nah! Akhirnya." Nadia menepuk lengannya ringan seperti tidak ada yang aneh dengan semua ini. "Kukira kamu benar-benar lupa aku."

Adriel tidak menjawab itu. Matanya bergeser.

Ke arah Violet.

Dan Violet yang dari tadi menatap ke arah lain memilih untuk tidak berbalik. Tapi ia bisa merasakan tatapan itu. Merasakannya dengan sangat jelas bahkan tanpa perlu melihat langsung.

Nadia juga menoleh ke arah yang sama.

"Oh." Suaranya tidak berubah. Ramah. Terlalu ramah mungkin. "Aku tahu. Kamu istrinya, Ady kan? "

Ady?

Violet tak bergerak. Ternyata mereka sedekat itu sampai wanita itu memiliki panggilan khusus untuk Adriel.

Ia berjalan menghampiri Violet dengan langkah yang ringan, mengulurkan tangan dengan senyum yang tampak tulus.

"Hai, aku Nadia Wijaya. Sahabat kecilnya Adriel, dulu kita tetanggan, ibunya adriel dan ibuku juga sahabatan. Maaf ya tadi langsung nyerobot, sudah lama banget tidak ketemu dia jadi lupa diri." Ia tertawa kecil. Seolah- seolah tindakannya yang tadi adalah hal yang wajar.

Violet menatap tangan itu.

Lalu menjabatnya. Singkat. "Violet."

"Violet." Nadia mengulangnya seperti mencicipi namanya. "Cantik namanya."

Violet tersenyum dengan senyum yang paling aman yang ia punya. Tidak dingin, tidak hangat. Cukup untuk terlihat sopan.

Bibi Matilda dari sudut teras mengamati semuanya dengan mata yang tidak melewatkan satu detail pun.

"Sepertinya akan ada cinta segitiga. "

Celetuk nya dalam hati.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Nadia rupanya tidak datang tanpa agenda.

Setelah Kang Djarot membawakan minuman dan semua orang perlahan kembali ke aktivitas masing-masing dengan telinga yang masih setengah mendengarkan, Nadia duduk di kursi teras dan mulai bercerita dengan cara orang yang sudah mempersiapkan penjelasannya sejak tadi.

Ia kembali ke kota ini untuk melanjutkan riset tesisnya. Program doktoral, katanya, soal kajian sosial yang membutuhkan data lapangan di kota ini selama beberapa bulan ke depan. Penginapan yang ia booking ternyata bermasalah di menit terakhir dan ia baru tiba dengan semua kopernya.

"Jadi aku langsung kepikiran ke sini," katanya dengan nada yang paling santai di dunia. "Ady bolehkan aku menginap dulu disini? tidak lama- lama kok, hanya sampai aku dapat tempat yang proper."

Adriel tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di tepi teras dengan tangan menyilang, wajahnya sudah kembali ke ekspresi hariannya, datar dan tidak memberi informasi apapun. Tapi ada sesuatu di cara ia menimbang-nimbang yang Violet bisa baca meski tidak diminta.

Ia ragu.

Dan Violet tahu kenapa ia ragu. Tradisi di lingkungan ini tidak memandang baik perempuan asing yang menginap di rumah laki-laki yang sudah beristri, tidak peduli seberapa lama persahabatan mereka. Itu bukan aturan tertulis tapi semua orang tahu dan semua orang akan membicarakannya.

Adriel sudah hendak membuka mulut ketika suara lain memotong dari arah pintu.

"Adriel."

Semua kepala sontak berbalik.

Nyonya Ayln berdiri di ambang pintu dengan tas kecilnya di tangan dan senyum yang sama seperti ketika Violet pamit dari rumahnya tadi siang. Tenang. Hangat. Dan sama sekali tidak terkejut dengan situasi yang ada di depannya.

Adriel tidak bergerak selama dua detik penuh.

Lalu sesuatu di wajahnya yang tadi rapat dan terkontrol retak di bagian yang paling kecil.

"Ibu Ayln."

Suaranya berbeda. Bukan lembut dalam pengertian biasa. Tapi ada sesuatu di sana yang tidak ada di semua kalimat lain yang keluar dari mulut laki-laki itu sejak Violet mengenalnya.

Nyonya Ayln berjalan ke arahnya dan menggenggam tangannya dengan kedua tangan, cara seorang ibu memegang tangan anaknya yang sudah lama tidak dipegang.

"Sudah lama sekali," kata nyonya Ayln pelan.

Adriel tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menarik tangannya.

Matanya bergerak sedetik ke arah Violet.

Violet tercekat langsung mengertu tatapan penuh tuduhan itu. Namun ia memilih mengabaikan nya meski Adriel semakin lekat memberi tatapan itu.

Nadia yang mengenali nyonya Ayln langsung berdiri dengan wajah yang jauh lebih antusias dari tadi. "Ibu Ayln! Ya ampun, masih ingat aku tidak?"

Nyonya Ayln menoleh dan tersenyum. "Nadia. Sudah besar ya, kamu."

Nadia tahu Adriel ragu untuk menerima nya menginap dan adanya nyonya Ayln ini seolah menjadi lampu hijau untuk nya. "Ibu juga kesini? wah sekarang aku tidak sendiri ya, ada aku, ada ibu dan istrinya Adriel. Semakin ramai. " ia tersenyum namun dibaliknya memiliki maksud yang lain.

"Adriel, mumpung ada ibu Ayln juga disini, jadi pliss dong ijinkan aku menginap, ya, ya, ya?! "

Adriel menatap Nadia.

Lalu menatap nyonya Ayln.

Lalu, singkat sekali, menatap Violet.

Violet tidak memberikan ekspresi apapun yang bisa dibaca sebagai ya atau tidak.

Adriel menghela napas satu kali yang sangat pelan.

"Baiklah, hanya dua malam."

Nadia langsung tersenyum lebar. "Deal! "

Ade berdiri kemudian menghampiri Violet dengan caranya menatap yang membuat wajah Nadia yang semula seperti kelopak bunga mekar langsung berubah malas dan sinis tanpa bisa ia sembunyikan..

"Kita perlu bicara, hanya berdua, " kata Adriel rendah namun ada penekanan disana. Violet mengangguk kemudian mengikuti langkah Adriel yang sudah lebih dulu keluar.

Dan Nadia langsung badmood seketika.

****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!