NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22: Surat dari Masa Lalu dan Kenangan yang Hangat

Setelah makan malam yang penuh kehangatan, Leonard dan Alexandria kembali ke kamar utama mereka. Udara malam semakin dingin, namun kehangatan tubuh mereka saling menyambut membuat rasa dingin itu terasa tidak begitu penting. Mereka berbaring bersandar di tempat tidur besar yang empuk, dengan tubuh mereka saling bersandar erat dan tangan yang saling menggenggam.

Leonard masih mengingat surat yang pelayan sebutkan tadi malam. Ia sedikit merasa penasaran siapa yang mengirimnya dan apa isi surat itu. Namun, rasa ingin tahu itu cepat hilang saat ia merasakan kehangatan tubuh Alexandria yang berada di pelukannya.

"Tapi kamu tahu kan, Alex..." bisik Leonard dengan suara yang penuh hasrat, tangannya mulai menjelajahi punggung lembut kekasihnya melalui kain gaun malam yang tipis. "Malam ini sepertinya masih panjang untuk kita berdua..."

Alexandria mengerang lembut, menggenggam bahu Leonard dengan kuat sambil menoleh untuk menatap wajahnya yang penuh hasrat. "Ya, Leo... aku juga merasa begitu. Aku ingin kamu lebih dekat denganku..."

Leonard tersenyum lembut, kemudian mulai melepaskan tali gaun malamnya dengan hati-hati. Setiap tali yang terbuka semakin mengungkapkan keindahan tubuhnya yang sudah begitu akrab baginya. Ia mencium lehernya yang sensitif, membuat Alexandria menggeliat dan mengeluarkan suara hembusan napas yang menggairahkan.

"Leo..." bisiknya dengan suara yang merengek, tangannya sudah mulai membuka kancing baju Leonard yang ketat. "Jangan pernah tinggalkan aku ya..."

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Alex," jawab Leonard dengan penuh cinta, melepaskan semua pakaiannya hingga tubuhnya yang kekar dan berotot bersentuhan langsung dengan kulit lembut Alexandria.

Ia membungkus tubuhnya dengan erat, menyatu dalam pelukan yang penuh cinta dan gairah.

Mereka bergoyang bersama dalam irama yang lambat namun penuh makna—setiap sentuhan penuh dengan rasa syukur dan cinta yang telah mereka bangun bersama selama ini. Leonard menunjukkan sisi pria yang penuh perhatian padanya, selalu memastikan bahwa ia merasa nyaman dan bahagia sebelum dirinya sendiri meraih kesenangan. Saat mereka meraih klimaks bersama, tubuh mereka bergoyang dalam irama yang penuh cinta, seperti ingin menyatu menjadi satu.

Setelah itu, mereka tetap berpelukan erat, tubuh mereka masih berkeringat namun penuh dengan kepuasan yang luar biasa. Leonard mencium dahinya dengan lembut, lalu membisikkan kata-kata cinta yang hanya untuknya.

"Kamu selalu membuatku merasa hidup seperti tidak pernah sebelumnya, Alex..."

Alexandria tersenyum dengan mata yang lelap, memeluk dada Leonard dengan erat.

"Dan kamu selalu membuatku merasa seperti orang yang paling berharga di dunia ini, Leo..."

Mereka berbicara tentang banyak hal—rencana mereka untuk mengunjungi desa-desa di seluruh Eldoria, rencana membangun rumah kecil di dekat desa Oakhaven, hingga impian mereka untuk memiliki keluarga besar nantinya. Namun, saat Leonard melihat arah meja sisi tempat tidur, ia kembali mengingat surat yang ada di sana.

"Alex, tunggu sebentar ya..." ucap Leonard dengan lembut, kemudian bangkit sedikit untuk mengambil surat itu dari meja.

"Pelayan bilang ini surat penting untukku. Aku belum sempat membukanya tadi malam."

Alexandria mengangguk dengan lembut, kemudian duduk bersandar di bantal sambil menatap Leonard yang mulai membuka amplop surat itu. Wajah Leonard yang tadinya penuh senyum perlahan berubah menjadi serius, bahkan sedikit terkejut.

"Ada apa, Leo?" tanya Alexandria dengan sedikit khawatir, melihat ekspresi wajahnya yang berubah.

Leonard menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian memberikan surat itu padanya. "Bacalah sendiri, Alex..."

Alexandria membaca surat itu dengan cermat. Tangan surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang agak gores namun jelas, berasal dari Pak Mentari dari desa Oakhaven:

Kepada Yang Mulia Raja Leonard dan Ratunya Alexandria,

Semoga surat ini menemukan Anda dalam keadaan sehat dan bahagia. Kami dari desa Oakhaven selalu mendoakan kebaikan bagi Anda berdua.

Kami menulis surat ini untuk memberitahu bahwa rumah kecil yang pernah menjadi tempat tinggal Nona Alexandria saat pertama kali tiba di Eldoria telah kami rawat dengan baik. Pohon-pohon yang Anda tanam bersama masih tumbuh dengan subur, dan bunga-bunga yang Anda rawat setiap pagi kini telah menjangkau seluruh halaman rumah.

Kami juga ingin memberitahu bahwa penduduk desa sangat merindukan kedatangan Anda berdua. Kami ingin mengundang Anda berdua untuk mengunjungi desa kami kembali, menikmati suasana damai hutan dan mengingat masa-masa awal ketika cinta Anda berdua mulai tumbuh.

Selain itu, kami menemukan sebuah kotak kecil di bawah lantai rumah itu—kotak yang penuh dengan kenangan masa lalu Anda berdua. Kami menyimpannya dengan baik dan akan menyerahkannya kepada Anda saat Anda datang.

Dengan hormat,

Pak Mentari dan seluruh penduduk desa Oakhaven

Alexandria menutup surat dengan hati-hati, matanya sudah berkaca-kaca karena emosi yang meluap. Ia melihat Leonard dengan wajah yang penuh dengan rasa rindu.

"Desa Oakhaven..." bisiknya dengan suara yang penuh nostalgia.

"Rumah kecil itu... aku sangat merindukan tempat itu, Leo. Tempat di mana kita menghabiskan malam pertama kita sebagai pasangan manusia yang saling mencintai..."

Leonard menariknya ke dalam pelukan dengan lembut, mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Aku juga merindukan suasana disana, Alex. Malam pertama kita di rumah itu... ketika kita benar-benar menyadari bahwa cinta kita bisa melampaui batasan apapun."

Mereka terdiam sejenak, mengingat momen indah itu—ketika Leonard akhirnya bisa merasakan hidup sebagai manusia yang penuh cinta, ketika mereka menghabiskan malam bersama dalam pelukan yang erat tanpa harus takut akan bahaya apa pun.

"Kita pergi saja ke sana ya, Leo?" pinta Alexandria dengan suara yang lembut.

"Aku ingin melihat lagi rumah kecil itu, ingin berjalan-jalan di hutan yang pernah menjadi tempat kita bertemu lagi setelah kutukanmu terpecahkan sebagian..."

"Baiklah, sayangku," jawab Leonard dengan senyum hangat.

"Kita akan pergi ke sana besok pagi sekali. Kita akan menghabiskan beberapa hari di sana, menikmati suasana damai desa Oakhaven dan mengingat semua kenangan indah yang kita buat bersama."

Alexandria tersenyum lebar, kemudian mencium bibir Leonard dengan lembut.

"Terima kasih, Leo. Ini adalah hadiah terbaik yang bisa kamu berikan padaku."

Mereka kembali berpelukan erat, membayangkan bagaimana rasanya akan kembali ke tempat di mana cinta mereka mulai tumbuh dengan kuat. Alexandria merasa hati nya penuh dengan rasa bahagia dan syukur—bahwa setelah semua perjuangan yang mereka lalui, mereka masih bisa kembali ke tempat yang pernah menjadi rumah bagi mereka berdua.

"Saat kita di sana, kita akan mengulang momen indah itu kan, Leo?" bisik Alexandria dengan nada yang sedikit menggairahkan, menyentuh dada Leonard dengan lembut.

Leonard tersenyum sinis, kemudian menggenggam tangannya dengan erat.

"Tentu saja, Alex. Kita akan membuat kenangan baru yang lebih indah lagi di sana..."

Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang rencana mereka untuk kunjungan ke desa Oakhaven—makan makanan khas desa yang mereka suka, berjalan-jalan di hutan yang penuh kenangan, dan menghabiskan malam-malam bersama di rumah kecil yang pernah menjadi tempat mereka menemukan cinta yang sejati.

Di tengah kedamaian malam istana, mereka merasakan bahwa perjalanan mereka akan selalu membawa mereka kembali ke tempat di mana semuanya dimulai—ke desa Oakhaven, ke rumah kecil di tengah hutan, dan ke cinta yang telah mengubah hidup mereka selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!