NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Hari Kiamat / Fantasi Timur
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penelitian kristal

Pagi di kastil kaki Gunung Qingcheng terasa berbeda. Untuk pertama kalinya sejak kiamat, ada lebih dari dua orang yang duduk di meja makan besar.

Meja marmer putih sepanjang lima meter itu kini diisi oleh enam orang dengan Lin Feng di ujung, tiga ilmuwan di sisi kiri, dan dua kursi di sisi kanan kosong, milik Lin Yan yang belum turun. Piring-piring berisi makanan hangat tersusun rapi, uap mengepul di udara pagi.

Lin Feng sibuk menyiapkan sarapan yaitu bubur ayam dengan suwiran daging dan cakwe renyah, telur dadar gulung berisi sayuran, youtiao goreng keemasan, dan segelas susu kedelai hangat untuk masing-masing. Aroma sedap memenuhi seluruh ruangan.

Tiga ilmuwan duduk dengan canggung di kursi mereka, masih belum percaya bisa berada di tempat semewah ini setelah dua minggu terjebak di laboratorium dengan makanan kaleng kadaluarsa. Mata mereka berbinar melihat makanan segar.

Profesor Chen mengamati sekeliling ruang makan. Lampu gantung kristal berkilauan, lukisan-lukisan indah bergambar pemandangan gunung dan bunga mawar menghiasi dinding, perabotan mewah dari kayu jati ukir—semuanya seperti mimpi di tengah kiamat.

"Selamat pagi," sapa Lin Feng ramah sambil meletakkan piring terakhir. "Silakan makan. Kakakku biasanya bangun siang, jadi kita mulai dulu saja. Jangan tunggu dia, bisa kelaparan."

Xiao Li, asisten termuda dengan kacamata tebal, menatap makanan dengan mata berbinar-binar. "Ini... ini sungguh untuk kami? Makanan segar? Bukan kaleng? Bukan makanan keras?"

"Iya. Makanlah." Lin Feng tersenyum hangat. "Di sini makanan cukup banyak. Kakakku sudah siapkan persediaan untuk bertahun-tahun—beras, tepung, sayuran beku, daging, bahkan hewan ternak hidup di belakang."

Xiao Wang, asisten pendiam yang jarang bicara, langsung mengambil sendok. Tangannya sedikit gemetar—ini makanan hangat pertama dalam berminggu-minggu. Sejak kiamat, mereka hanya makan mie instan dan makanan kaleng yang tersisa di kantin laboratorium.

Saat mereka makan dengan lahap hampir tidak sopan Lin Feng mulai menjelaskan. Suaranya tenang tapi tegas, seperti sudah terbiasa menjadi "pengurus" kastil.

"Ada beberapa peraturan di sini. Pertama, jangan masuk area pribadi seperti kamar kakakku di lantai tiga, ruang kerjanya, dan ruang penyimpanan khusus. Kalau pintu terkunci, berarti jangan masuk. Simpel."

Ketiga ilmuwan mengangguk sambil mengunyah.

"Kedua, kalian akan bekerja di laboratorium yang sudah disiapkan. Kakakku bilang kalian ilmuwan, jadi buktikan. Dia tidak suka orang tidak berguna. Kalau kalian cuma makan tidur dan tidak berkontribusi..." Lin Feng menjeda, matanya menyipit. "Dia bisa marah. Dan percayalah, kalian tidak ingin lihat dia marah."

Xiao Li menelan ludah, sendoknya berhenti di mulut.

"Terakhir..." Lin Feng menatap mereka bergantian, matanya coklat hazel tajam sorot mata yang diwarisi dari ibu. "Jika kalian berkhianat dari kakakku, kalian akan merasakan artinya ingin mati tapi tidak akan bisa. Dia punya cara untuk membuat orang menyesal."

Kata-kata terakhir itu membuat ketiga ilmuwan merinding. Mereka langsung menganggukkan kepala dengan cepat, hampir serempak.

"K-Kami tidak akan berkhianat!" janji Profesor Chen, suaranya sedikit bergetar. "Kami hanya ingin bertahan hidup dan bekerja."

Profesor Chen mengangguk serius, berusaha tenang. "Kami akan bekerja sebaik mungkin. Tapi... laboratorium? Di sini ada laboratorium? Dengan peralatan?"

"Kata kakakku, ada di basement. Nanti kalian lihat sendiri." Lin Feng menyuap buburnya dengan tenang. "Oh iya, satu lagi: kakakku itu... unik. Dia gampang marah kalau diganggu saat tidur, paling malas sedunia, kadang aku curiga dia kucing itu jadi-jadian dan kalau sedang tidak mau diganggu, lebih baik jangan diganggu. Tapi dia baik, kok. Kalian diterima di sini berarti dia anggap kalian berguna walaupun 'dipungut'."

Xiao Li bertanya pelan, penasaran, "Kakakmu itu... laki-laki atau perempuan? Soalnya kemarin lihat pakai jaket dan tudung, suaranya juga agak netral... Badannya juga ramping... Kami jadi bingung."

Lin Feng tersenyum misterius, matanya berbinar nakal. "Nanti kalian lihat sendiri. Mungkin kalian akan mendapatkan Kejutan."

Satu jam kemudian, setelah sarapan selesai dan piring-piring dibereskan, Lin Feng membawa mereka ke basement. Pintu besi tebal dengan pemindai sidik jari terbuka dengan desisan pelan, menampilkan ruangan luas yang remang-remang.

Lampu-lampu otomatis menyala satu per satu, memperlihatkan pemandangan yang membuat ketiga ilmuwan itu terpaku.

Ruang basement seluas 200 meter persegi itu kini telah berubah total. Di sepanjang dinding, rak-rak berisi peralatan laboratorium canggih, mikroskop elektron dengan resolusi tinggi, sentrifus berpendingin, inkubator CO2, lemari asam dengan ventilasi khusus, spektrofotometer, PCR untuk analisis DNA, dan berbagai alat yang bahkan Profesor Chen hanya lihat di katalog. Di tengah ruangan, meja-meja kerja panjang dengan wastafel dan instalasi gas. Di sudut, lemari pendingin bersuhu -80 derajat untuk menyimpan sampel.

"Ini... ini laboratorium kelas atas!" seru Profesor Chen, matanya berbinar-binar seperti anak kecil di toko mainan. "Peralatannya lebih lengkap dari lab universitas tempatku mengajar! Bahkan ada alat yang kami tidak punya!"

Xiao Li berlari ke mikroskop elektron, jari-jarinya gemetar menyentuh selubung pelindung. Xiao Wang sudah membuka lemari penyimpanan, menemukan tabung reaksi, pipet, dan berbagai peralatan gelas dalam jumlah besar. Mereka seperti anak kecil di toko permen.

Lin Feng tersenyum bangga melihat reaksi mereka. "Kakakku memang menyiapkan semuanya. Dia beli barang-barang ini sebelum kiamat eh entahlah dari mana uangnya, entah bagaimana caranya. Yang jelas, dia selalu berpikir ke depan."

Ia berjalan ke meja kerja utama, membuka laci, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis besi. Diletakkan di meja, dibuka perlahan.

Di dalam kotak itu, berjejer rapi inti-inti kristal hasil buruan Lin Yan beberapa hari sebelumnya. Warnanya beragam: merah menyala seperti bara, biru membeku seperti es, coklat seperti tanah, kuning berkilau seperti petir. Semuanya sebesar kelereng, memancarkan cahaya samar.

"Apa ini?" tanya Profesor Chen, mengambil satu kristal merah dengan pinset. Ia mengamatinya dari dekat, matanya penuh rasa ingin tahu.

"Inti kristal zombie level 2." Lin Feng menjelaskan, mengulangi apa yang dikatakan kakaknya. "Kakakku bilang, zombie yang lebih kuat yang sudah berevolusi punya ini di otaknya. Katanya bisa digunakan untuk meningkatkan kekuatan manusia. Tapi kami belum tahu caranya. Tugas kalian: cari tahu. Teliti, analisis, eksperimen—apa saja."

Mata Profesor Chen berbinar lebih terang dari lampu laboratorium. "Ini... ini penemuan luar biasa! Ini bisa mengubah segalanya! Xiao Li, Xiao Wang, kita mulai sekarang! Cepat ambil alat-alatnya!"

Tiga hari berlalu.

Para ilmuwan bekerja tanpa lelah di laboratorium, hanya keluar untuk makan dan tidur sebentar. Mereka bergantian menjaga peralatan, mencatat data, menganalisis sampel. Profesor Chen hampir tidak pernah meninggalkan ruangan, tidur hanya beberapa jam di kursi.

Lin Feng sesekali mengantarkan makanan, memastikan mereka tidak kelaparan. Ia juga membawakan kopi kata Profesor Chen, kopi adalah bahan bakar ilmuwan untuk begadang.

Sementara itu, Lin Yan?

Di kamarnya di lantai tiga, ia berguling-guling di ranjang.

【Kau tidak mau turun? Lihat kerja mereka?】 suara Sistem Xiyue mengganggu tidur siangnya.

"Malas." Lin Yan membalikkan badan, menarik selimut hingga ke dagu. "Biar adikku yang urus. Dia lebih rajin. Aku ini kakaknya, tugasnya cuma melindungi dia."

【Dasar pemalas. Mereka bekerja keras untukmu! Meneliti kristal, menemukan rahasia kekuatan—ini semua untuk kebaikanmu juga!】

"Aku sudah menyelamatkan mereka dari kematian. Itu cukup." Lin Yan menguap lebar, matanya masih terpejam. "Sekarang mereka harus buktikan diri. Kalau berhasil, bagus. Kalau gagal..." Ia mengangkat bahu malas. "Yah, setidaknya mereka sudah makan enak beberapa minggu."

Sistem Xiyue menghela napas digital—suara statis panjang yang menunjukkan frustrasi. 【Kadang aku tidak mengerti cara berpikirmu. Sungguh. Kau bisa sangat kejam tapi juga sangat baik. Kontradiksi hidup.】

"Namanya juga orang gila."

Seminggu kemudian, Profesor Chen memanggil Lin Yan. Pesannya singkat: "Kami punya hasil. Tolong datang."

Dengan malas, Lin Yan turun ke laboratorium. Penampilannya? Hanya menggunakan gaun tidur sutra hitam yang panjangnya di atas lutut yang memperlihatkan paha jenjangnya yang putih mulus. Rambut pendeknya agak berantakan, masih ada bekas bantal di pipi. Ia menguap malas sambil berjalan, tidak mempedulikan tatapan ketiga orang berjenis laki-laki itu.

Ketiga ilmuwan menoleh saat pintu terbuka. Dan... membeku.

Xiao Li hampir jatuh dari kursi, matanya membelalak. Xiao Wang yang pendiam itu membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar. Profesor Chen terbata-bata, kacamatanya hampir jatuh.

"K-Kau... kau perempuan?!" seru Profesor Chen, suaranya meninggi satu oktaf.

Lin Yan mengerutkan kening, masih setengah mengantuk. "Memangnya kenapa? Ada masalah?"

Xiao Li menunjuk-nunjuk dengan tangan gemetar. "T-tapi... selama ini... kau pakai jaket dan tudung... suaramu juga... dan cara bertarungmu... brutal, tanpa ampun... kami kira kau pria! Mungkin preman atau mantan tentara!"

"Memangnya perempuan tidak bisa bertarung?" Lin Yan mendengus, matanya merah delima menyipit. "Dasar picik. Sekarang dunia udah kiamat, perempuan paling gila adalah yang paling berbahaya."

Profesor Chen cepat-cepat meredakan situasi, mengangkat kedua tangan. "Bukan begitu, Nona. Kami hanya... terkejut. Maaf. Sangat maaf. Kami tidak bermaksud menyinggung."

Lin Yan mengabaikan, duduk di kursi dengan malas, menyilangkan kaki. Gaun tidurnya sedikit naik, tapi ia tidak peduli. "Ada apa panggil aku? Cepet, aku mau tidur lagi."

Profesor Chen mengatur napas, berusaha tenang. Ia menunjuk layar komputer besar di dinding. "Kami sudah menganalisis inti kristal. Hasilnya luar biasa."

Layar menampilkan grafik-grafik rumit, data-data yang hanya dipahami ilmuwan. Profesor Chen menjelaskan dengan antusias.

"Kristal ini mengandung energi murni dalam konsentrasi tinggi seperti baterai, tapi jauh lebih padat. Kami berhasil mengekstraknya dalam bentuk cairan dengan metode khusus."

Ia menunjukkan beberapa tabung kecil berisi cairan bercahaya merah menyala, biru membeku, coklat hangat, kuning berkilau sesuai warna kristal asal. Cairan itu memancarkan cahaya sendiri di dalam tabung kaca.

"Cairan ini, jika disuntikkan ke tubuh manusia, berpotensi meningkatkan kemampuan fisik secara drastis. Berdasarkan simulasi, bisa meningkatkan kekuatan, kecepatan, ketahanan, bahkan mungkin memicu kekuatan super yang sesuai dengan elemennya."

Lin Yan mengambil tabung merah, mengamatinya dengan rasa ingin tahu. "Jadi ini kayak ramuan ajaib di novel-novel Xianxia?"

"Kurang lebih begitu." Profesor Chen mengangguk. "Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi kami belum tahu efek sampingnya." Wajah Profesor Chen berubah serius. "Bisa berbahaya. Bisa merusak tubuh. Bisa menyebabkan mutasi. Bisa... berubah jadi zombie."

Sunyi. Lin Yan menatap tabung itu, lalu ke Profesor Chen. "Berapa lama untuk uji coba?"

"Minimal tiga bulan. Untuk uji keamanan, stabilitas, dosis tepat, dan efek samping. Dengan peralatan lengkap, kami bisa percepat, tapi tetap butuh waktu."

Lin Yan menghela napas panjang. "Tiga bulan? Lama."

【Tiga bulan cepat, bodoh! teriak Sistem Xiyue di kepalanya. Kau bisa santai! Tidur, merokok, jahilin adik—apa saja! Ini waktu sempurna buat pemalas sepertimu!】

"Iya juga sih."

Lin Yan menatap Profesor Chen. "Kerjakan. Tiga bulan. Kalau berhasil, kalian dapat bonus mungkin kamar lebih besar, atau jatah rokok tambahan atau bisa makanan mewah." Ia tersenyum tipis senyum yang hampir ramah. "Kalau gagal..." Senyum itu berubah, dingin, seperti es. "Kalian tahu sendiri."

Profesor Chen menelan ludah. "K-Kami mengerti, Nona. Kami tidak akan mengecewakan."

Malam harinya, Lin Yan memanggil Lin Feng ke ruang tamu. Adiknya datang dengan wajah penasaran, masih memakai baju latihan kaos basah keringat, celana olahraga kotor tanah.

"Jie, ada apa? Penting?"

Lin Yan mengeluarkan tabung cairan bercahaya yang merah, kristal api. "Ini hasil penelitian mereka. Cairan kristal. Katanya bisa ningkatin kekuatan. Mungkin bisa memicu kekuatan super."

Mata Lin Feng berbinar. "Serius?! Aku boleh coba?"

Lin Yan mengamati adiknya sebentar. Tinggi 1,9 meter, tubuh berotot, wajah tampan—hasil latihan iblis selama berminggu-minggu. Tapi di matanya, ia masih anak kecil yang antusias.

"Kau yakin?" suara Lin Yan lembut, berbeda dari biasanya. "Risikonya bisa jadi zombie. Bisa mati. Bisa berubah jadi monster."

Lin Feng tersenyum yakin. "Aku percaya Jie. Jie tidak akan biarkan aku mati. Lagipula, kalau aku mati, siapa yang masak buat Jie?"

Lin Yan diam. Dadanya terasa hangat perasaan aneh yang hanya muncul saat bersama adiknya.

Lalu, tanpa banyak bicara, ia mengambil alat suntik steril yang disiapkan Profesor Chen. Menyuntikkan cairan merah itu ke lengan adiknya.

Sekejap, tubuh Lin Feng menegang. Matanya terpejam rapat. Otot-ototnya menegang, urat-urat di leher tampak jelas. Keringat dingin membasahi dahinya.

Lin Yan mengamati dengan waspada, kekuatan mentalnya siap jika terjadi sesuatu. Satu pikiran, dan ia bisa mengubah realitas, menyelamatkan adiknya.

Tiga detik... lima detik... sepuluh detik...

Lin Feng membuka mata. Napasnya tersengal, tapi matanya jernih. "Jie... rasanya aneh... seperti ada sesuatu mengalir di dalam tubuh... hangat... tapi... tidak ada yang berubah?"

Lin Yan mengerutkan kening. Ia memeriksa adiknya dengan kekuatan mental—memindai tubuh, merasakan energi. Tidak ada perubahan signifikan. Energi dalam cairan itu sepertinya terserap tapi tidak aktif.

"Turun ke lab."

Mereka turun ke laboratorium. Profesor Chen yang masih bekerja langsung memeriksa Lin Feng dengan berbagai alat. Xiao Li dan Xiao Wang ikut membantu, memasang sensor, mengambil sampel darah, memindai tubuh.

Setelah satu jam, Profesor Chen menghela napas.

"Hasilnya... tidak ada perubahan signifikan." Ia menunjuk layar. "Kadar energi dalam tubuhnya meningkat, tapi tidak teraktivasi. Cairan ini mungkin butuh waktu untuk berinteraksi dengan tubuh, atau butuh pemicu tertentu. Seperti katalis dia ada, tapi reaksinya belum mulai."

Lin Feng sedikit kecewa, bahunya merosot. Tapi cepat tersenyum, berusaha tegar. "Tidak apa-apa. Aku tunggu. Setidaknya tidak jadi zombie, kan?"

Lin Yan mengacak rambut adiknya—hitam legam, sedikit basah oleh keringat. "Kau sabar. Nanti juga bisa. Jie akan tunggu."

【Kesimpulan: butuh waktu.】 bisik Sistem Xiyue. 【Setidaknya 3 bulan sesuai perkiraan Profesor. Cairan ini mungkin perlu proses inkubasi di dalam tubuh.】

"Berarti aku bisa santai 3 bulan?"

【Iya. Tapi jangan terlalu santai! Tetap latihan! Kau masih punya kewajiban!】

"Nanti deh."

Tiga bulan ke depan...

Lin Yan benar-benar menikmati hidup tanpa misi. Tapi tidak bisa lepas dari latihan neraka versi sistem. Walaupun tiga bulan di dunia nyata, di dunia simulasi sistem, waktu berjalan berbeda setiap malam, ia masuk ke simulasi dan menjalani latihan yang setara 30 tahun.

Ia disiksa, dipaksa bertarung melawan ribuan zombie, monster, bahkan klon dirinya sendiri. Ia merasakan sakit, putus asa, ingin menyerah, ingin cepat mati saja. Tapi setiap kali, sistem membangunkannya dengan segar dan keesokan harinya, ia harus mengulang lagi.

Tapi setidaknya, latihan itu membuahkan hasil. Ia sudah bisa menguasai kemampuan Reality Warper-nya dengan hampir sempurna. Api, air, tanah, angin, petir hampir semua elemen ia kuasai. Teleportasi, menciptakan benda, mengubah realitas semua bisa ia lakukan.

Tapi ada satu penghalang: kemalasannya.

Di dunia nyata, ia tetap pemalas. Latihan? Nanti. Bangun pagi? Nanti. Turun ke lab? Nanti. Semua ditunda, kecuali kalau sistem sudah berteriak-teriak di kepalanya.

Pagi-pagi, ia tidur sampai siang. Jam 12 baru bangun, itu pun karena lapar. Setelah bangun, ia sarapan enak buatan Lin Feng adiknya sudah jadi koki handal. Sorenya, ia kadang latihan sebentar di hutan tidak terlalu keras, hanya sekedar menjaga tubuh tetap bugar. Malamnya, ia duduk di balkon, merokok sambil memandangi bintang-bintang yang mulai muncul.

Sesekali ia turun ke laboratorium, melihat kemajuan para ilmuwan. Profesor Chen selalu melaporkan perkembangan dengan detail data, grafik, analisis. Xiao Li sibuk dengan berbagai eksperimen, rambutnya makin berantakan. Xiao Wang mendokumentasikan semua data dengan rapi, tidak pernah bicara banyak. Mereka bekerja keras, takut kalau Lin Yan tiba-tiba marah dan mengusir mereka.

Tapi Lin Yan? Ia hanya mengangguk, berkata "lanjutkan", lalu pergi lagi. Kadang meninggalkan sebungkus rokok atau makanan mewah untuk Profesor Chen juga yang lain, ilmuwan tua itu ternyata perokok juga.

1
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
Ellasama
kak kapan update lagi? dah gak sabar ni
Ellasama
semangat up ny jgn patah semangat pembaca setiamu ini akan selalu menanti dan terus mendukung dengan like Koment dan Gift 💪/Determined/
Ellasama
padahal novel ny sebagus ini tp kok gak ada yg baca y?/NosePick/
azka Heebat: iya bagus
total 1 replies
Ellasama
makin penasaran siapa yg jadi pasangan nya si Lin yan/NosePick/
Ellasama
yang s mangat💪
Ellasama
logika lurus yg patut dipertahankan di banyak novel bertema kan akhir dunia/Determined/
Ellasama
lanjut 💪 makin dibaca makin seru gila💪😊
Ellasama
seruu banget, yg belum baca diwajibkan baca seru banget alurnya beda dari kebanyakan novel bertema Apocalypse 💪😘
Ellasama
lanjut thor💪
Ellasama
semangat up ny💪😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!