NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

​“Apa Ibu menyuntikkan terlalu banyak asam hialuronat sampai masuk ke otak? Pergi sekarang juga! Jangan mengganggu pekerjaan orang lain!”

Suara Arga terdengar dingin dan tegas. Arga sama sekali tidak asing dengan Ratna. Di kehidupan sebelumnya, setelah Ratna ditahan karena skandal korupsi dan pelanggaran hukum, stasiun TV lokal pernah melakukan wawancara khusus dengannya. Arga ingat betul isi wawancara yang memalukan itu.

​“Apa yang kamu katakan?!” Ratna menjerit seperti kucing yang ekornya diinjak.

​“Apa aku salah bicara? Bukankah semuanya terlihat jelas?” Arga tersenyum tipis. “Atau jangan-jangan sarafmu rusak saat melakukan operasi hidung? Atau otakmu ikut bermasalah setelah membuka sudut mata?”

​“Kamu… diam! Aku tidak pernah operasi plastik! Ini wajah alami!” Ratna berteriak dengan malu dan marah. Namun di dalam hatinya, ia sangat terkejut. Bahkan suaminya sendiri tidak tahu rahasia itu.

​Arga mengetahui seluruh rahasia Ratna. Ucapan tentang operasi plastik hanyalah peringatan. Masih ada rahasia yang jauh lebih memalukan. Namun, karena Ratna berani menindas Sherly, maka jangan salahkan dirinya!

​“Hm? Kenapa aku merasa wajahmu begitu familiar?” Arga tampak teringat sesuatu. “Ah, aku ingat! Bukankah dulu Ibu pernah bekerja di panti pijat di Jalan Timur?”

​“Kamu yang bekerja di panti pijat! Seluruh keluargamu yang kerja di sana! Kalau kamu berani bicara sembarangan lagi, aku robek mulutmu!” Wajah Ratna memerah karena emosi.

​Memang benar—ia pernah bekerja di sana lebih dari sepuluh tahun lalu sebelum bertemu Hadi Setiawan. Itu adalah rahasia paling memalukan baginya.

​“Jangan terlalu emosional. Itu semua sudah lebih dari sepuluh tahun lalu. Saat itu aku masih kecil. Aku hanya lewat dan tidak sempat menikmati pelayananmu. Aku minta maaf,” ujar Arga santai, lalu membungkuk sopan dengan nada mengejek.

​“Pfft—” Sherly tak kuasa menahan diri dan tertawa di tempat.

​“Kamu berani memfitnahku! Aku… aku akan merobek mulutmu!” Ratna mengangkat tas bermereknya dan hendak menghantam kepala Arga. Ia panik, karena semua yang dikatakan Arga adalah kebenaran yang terkubur dalam.

​“Nyonya Setiawan, mohon tenang…” Seorang staf segera memeluk Ratna dari belakang untuk melerai.

​“Perempuan jalang! Kamu pikir memanggil preman ini bisa melindungimu? Kalau hari ini aku tidak merusak wajahmu, namaku bukan Ratna Setiawan!”

​Ratna tak berani lagi memprovokasi Arga secara fisik, maka ia kembali menunjuk Sherly dengan kasar.

​Plak!

​Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Ratna. Tamparan itu—bukan hanya membuat Ratna tertegun, tetapi seluruh orang yang hadir pun terpaku dalam keterkejutan!

Perempuan di hadapannya adalah istri Hadi Setiawan, pimpinan tertinggi Bank Semarang!

Bahkan Pak Gunawan—ayah Sherly—harus menaruh hormat jika bertemu dengannya di tempat ini. Namun, pemuda di hadapan mereka benar-benar berani menamparnya di depan umum! Semua orang terpaku, suasana seketika menjadi mencekam.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Pada saat itu, seorang pria paruh baya berusia sekitar empat puluh lima tahun keluar dari lift. Wajahnya tegas dengan pembawaan berwibawa, tubuhnya sedikit berisi, dan ia mengenakan setelan jas rapi yang memancarkan karisma seorang petinggi finansial.

Hadi Setiawan adalah Direktur Utama Bank Semarang saat ini, sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia keuangan di wilayah Jawa Tengah.

Hari itu, Hadi datang ke Gedung Semarang Sekuritas untuk menghadiri sebuah rapat koordinasi. Ia meminta istrinya, Ratna, untuk menunggu atau pergi berbelanja terlebih dahulu. Namun tak disangka, sebelum rapat usai, staf sekuritas memanggilnya dengan nada panik, melaporkan bahwa telah terjadi keributan yang melibatkan istrinya.

Begitu keluar dari lift, pemandangan pertama yang dilihat Hadi adalah istrinya ditampar oleh seorang pemuda di depan banyak orang! Berdasarkan pemahamannya terhadap tabiat Ratna, Hadi tidak perlu berpikir panjang; ia yakin istrinya pasti yang lebih dulu mencari masalah.

Namun bagaimanapun juga, itu adalah istrinya—istri seorang Hadi Setiawan! Menampar istrinya di depan umum sama saja dengan menginjak-injak harga dirinya secara terang-terangan.

Melihat Hadi datang, Ratna yang semula hendak mengamuk mendadak berubah akting. Ia menutupi bekas tamparan di wajahnya, air mata mulai menggenang, lalu ia berseru dengan nada penuh kepiluan:

“Mas Hadi! Kenapa baru datang sekarang?”

“Dia memukul dan memaki aku! Dia bilang wajahku hasil operasi plastik, bahkan menuduhku dulu bekas perempuan panti pijat!”

“Kamu harus belain aku hari ini! Kalau tidak, aku malu, Mas... lebih baik aku mati saja... hiks...”

Wajah Hadi langsung menggelap. Sebagai pemimpin bank besar, namanya sangat disegani. Kini, istrinya dihina seolah wanita murahan di depan kolega dan bawahannya. Terlebih lagi, Hadi adalah sosok yang sangat menjaga kehormatan keluarga.

“Tenanglah. Aku pasti akan memberimu penjelasan atas kejadian hari ini.”

Usai berkata demikian, Hadi melangkah mendekati Arga dan berkata dengan suara dingin yang menusuk, “Anak muda, aku menuntut penjelasan.”

Tak ada teriakan, namun bobot kalimat itu jauh lebih berat daripada ancaman mana pun. Arga tetap tenang. Ia tersenyum tipis, melangkah maju, lalu mengulurkan tangannya dengan sikap sopan.

“Halo, Pak Hadi. Perkenalkan, nama saya Arga Bimantara.”

Namun Hadi mengabaikan tangan yang terulur itu. “Aku tidak tertarik mengetahui siapa namamu,” ujarnya dingin.

Arga tidak tersinggung. Ia justru mendekat selangkah lagi, hingga jarak mereka sangat dekat, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga Hadi.

Awalnya, Hadi merasa terganggu dengan kelancangan Arga. Namun begitu kalimat pertama terucap, tubuhnya seketika menegang. Matanya melebar tak percaya. Tanpa ragu, ia segera menarik Arga ke sudut ruangan yang sepi dan memberi isyarat agar Arga melanjutkan pembicaraannya.

Seiring bisikan Arga, ekspresi Hadi berubah-ubah; dari terkejut, marah, hingga sangsi. Mereka berbicara pelan selama hampir lima menit. Sesekali Hadi mengerutkan dahi dan mengajukan pertanyaan pendek dengan nada mendesak.

Semua orang yang menyaksikan adegan itu diliputi kebingungan. Skenario yang mereka bayangkan—Arga diseret petugas keamanan atau dipolisikan—sama sekali tidak terjadi. Apa sebenarnya yang dikatakan pemuda itu hingga seorang Hadi Setiawan tampak begitu terguncang?

Sebenarnya, Arga memiliki kesan baik terhadap Hadi. Di kehidupan sebelumnya, Hadi dikenal sebagai sosok yang lurus dan jujur dalam bekerja. Namun, akhir hidupnya sangat tragis. Tiga tahun dari sekarang, ia akan mengalami kecelakaan mobil tragis yang membuatnya koma permanen. Dan dalang di balik tragedi itu adalah istrinya sendiri bersama kekasih gelapnya.

Dulu, Hadi mengalami gangguan kesuburan yang membuatnya menceraikan istri pertamanya karena terobsesi memiliki keturunan demi mendiang ayahnya. Hingga akhirnya ia bertemu Ratna. Setahun setelah menikah, Ratna hamil dan melahirkan anak kembar. Hadi bahkan melakukan tes DNA, dan hasilnya menyatakan mereka adalah darah dagingnya. Hadi sangat bahagia dan memanjakan Ratna tanpa batas.

Namun kenyataannya, berdasarkan skandal yang meledak di televisi bertahun-tahun kemudian, Arga tahu bahwa anak kembar itu adalah anak dari Dedi, sopir pribadi Hadi. Dedi mengetahui kelemahan Hadi, lalu mengatur siasat dengan membawa Ratna—yang ditemukannya di sebuah panti pijat—untuk mendekati Hadi. Dedi juga menyuap petugas laboratorium untuk memalsukan hasil tes DNA tersebut.

1
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!