Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 - Into the Unkown
Setelah kemarin Caca berhasil membuat proposal tepat sebelum jam pulang dengan beberapa kali bertanya ide kepadaku, hari ini proposal itu akan dipresentasikan.
Pagi ini suasana kantor terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada acara khusus, tapi karena aku sendiri datang dengan perasaan yang tidak sepenuhnya tenang. Ada rapat besar hari ini—rapat yang akan menentukan apakah ide gila Caca kemarin hanya akan berhenti sebagai wacana, atau benar-benar menjadi langkah besar perusahaan.
Aku duduk di ruang rapat bersama beberapa orang dari berbagai divisi. Meja panjang berbentuk oval itu sudah terisi sebagian. Di kursi sebelah kanan, Henry duduk dengan postur tegap dan ekspresi tenang yang selalu sulit kubaca. Di sisi kirinya ada Pak Arman. Aku dan Raka dari divisi produksi duduk di samping Pak Arman. Di samping Henry ada Caca, Arvin dan Pak Andi dari Finance.
Kulihat wajah Caca terlihat serius—lebih serius dari biasanya. Sesekali ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.
Aku dan Arvin sempat bertatapan tapi Arvin langsung menunduk melihat dokumen di depannya. Aku senang Arvin tidak menggangguku lagi, tapi di sisi lain rasanya tidak nyaman harus seperti perang dingin seperti ini.
Henry melirik jam tangannya, lalu mengetuk meja pelan.
“Baik,” ucapnya. “Kita mulai.”
Semua percakapan kecil langsung terhenti. Ruangan menjadi hening.
“Caca,” lanjut Henry. “Silakan presentasikan proposalmu.”
Caca berdiri. Ia merapikan posisi laptopnya, lalu menekan tombol untuk menyalakan layar proyektor. Slide pertama muncul menampilkan judul besar.
PROPOSAL BRAND AMBASSADOR — PROJECT K
Caca menarik napas, lalu mulai bicara.
“Beberapa waktu lalu, perusahaan kita meluncurkan dua produk baru, yaitu jajangmyeon instan dan tteokbokki instan,” ucapnya dengan suara yang cukup stabil. “Respons pasar menunjukkan ketertarikan yang cukup tinggi, terutama dari konsumen yang menyukai budaya Korea.”
Aku melirik Pak Arman. Ia mengangguk kecil, menandakan data itu memang sesuai dengan laporan marketing.
“Berdasarkan tren tersebut,” lanjut Caca, “saya mengajukan strategi pemasaran dengan menghadirkan figur publik dari Korea Selatan sebagai brand ambassador.”
Slide berganti.
Wajah seorang aktor pria muncul di layar.
KIM HYUN-WOO
Kecuali aku dan Arvin, sebagian besar orang di ruangan itu tampak saling berpandangan. Bagi mereka yang tidak mengikuti dunia drama Korea, nama Kim Hyun-woo terdengar asing—tidak sepopuler aktor yang sering muncul di media arus utama, tapi cukup dikenal di kalangan penonton setia drama Korea.
“Kim Hyun-woo adalah aktor Korea Selatan dengan citra positif,” jelas Caca dengan suara yang tetap terkontrol. “Ia dikenal melalui beberapa drama populer dan memiliki basis penggemar yang cukup kuat, khususnya di kalangan penonton drama Korea.”
Ia mengganti slide. Kali ini layar menampilkan beberapa potongan gambar—cuplikan iklan, wawancara, serta dokumentasi kegiatan sosial.
“Selain kariernya sebagai aktor,” lanjut Caca, “Kim Hyun-woo juga dikenal memiliki reputasi yang baik. Ia beberapa kali terlibat dalam kegiatan sosial dan donasi, sehingga citranya tidak hanya sebagai selebritas, tetapi juga figur publik yang hangat dan peduli.”
Henry menyilangkan tangannya di dada, menatap layar tanpa menyela. Tatapannya tenang, tapi jelas sedang menilai.
“Saya menilai citra tersebut sejalan dengan produk kita,” lanjut Caca. “Produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mudah diakses, dan tidak terasa berjarak dengan konsumennya.”
Pak Andi akhirnya angkat bicara.
“Kalau dari sisi citra, memang kuat,” ujarnya hati-hati. “Tapi saya ingin memastikan—apakah reputasi baik ini konsisten dalam jangka panjang? Karena kalau suatu hari muncul isu, dampaknya langsung ke perusahaan.”
“Saya jamin Kim Hyun-woo bersih dari isu,” jawab Caca cepat, seolah sudah mengantisipasi pertanyaan itu. “Selama hampir dua puluh tahun berkarier, ia tidak pernah terseret skandal. Ia juga dikenal sangat dekat dengan ibunya—karena memang hanya itu keluarga yang ia miliki setelah kehilangan ayahnya saat masih kecil.”
Ruangan sejenak hening.
Pak Andi mengangguk pelan, mencatat sesuatu di kertasnya.
Slide berikutnya muncul, menampilkan konsep iklan.
“Saya mengusulkan konsep iklan yang sederhana dan membumi,” jelas Caca. “Bukan konsep yang terlalu mewah, melainkan menampilkan aktivitas sehari-hari—makan setelah pulang kerja, makan malam sederhana, atau momen santai bersama keluarga dan teman.”
Aku tanpa sadar membayangkannya. Iklan yang terasa hangat. Bukan sekadar menonjolkan wajah aktor, tapi menghadirkan perasaan akrab.
“Lokasi syuting diusulkan di Korea Selatan,” lanjut Caca. “Dengan latar yang natural, agar kesan autentik tetap terjaga.”
Raka menyahut, suaranya terdengar tenang dan realistis.
“Kalau syuting di Korea, kita perlu menentukan sejak awal apakah akan menggunakan vendor lokal atau kombinasi dengan tim internal. Itu akan berpengaruh ke timeline dan koordinasi di lapangan. Konsep sederhana justru bagus, tapi tetap butuh perencanaan detail supaya hasilnya konsisten.”
Caca mengangguk. “Betul.”
Pak Arman mengangkat tangan sedikit.
“Target pasar?”
“Utamanya konsumen usia produktif dan keluarga muda,” jawab Caca. “Namun efek viral serta eksposur dari penggemar budaya Korea juga menjadi pertimbangan.”
Henry akhirnya bicara.
“Bagaimana estimasi biayanya?”
Slide berganti lagi. Angka-angka muncul di layar.
Aku menahan napas tanpa sadar. Bagian ini selalu menjadi penentu.
“Ini estimasi awal,” kata Caca hati-hati. “Masih dapat disesuaikan tergantung hasil negosiasi dengan pihak agensi.”
Henry tidak langsung bereaksi. Ia membaca, menghitung, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Angka ini masih wajar untuk skala nasional,” ujar Pak Andi, “tapi kita perlu menetapkan batas maksimal sebelum masuk tahap negosiasi.”
“Lili,” panggil Henry tiba-tiba.
Aku sedikit terkejut. “Iya, Pak?”
“Kamu dari sisi marketing. Bagaimana pendapatmu?”
Semua mata langsung tertuju padaku.
Aku menarik napas pelan.
“Menurut saya, Pak, figur seperti Kim Hyun-woo cukup relevan untuk target pasar kita. Ia tidak terkesan terlalu eksklusif, sehingga lebih mudah diterima konsumen sebagai bagian dari keseharian.”
Henry mengangguk tipis.
“Namun,” lanjutku jujur, “risikonya tetap ada. Baik dari sisi biaya maupun konsistensi citra. Tapi untuk positioning produk, ini langkah yang cukup kuat.”
Ruangan kembali hening.
Caca menutup presentasinya dan duduk. Bahunya terlihat sedikit turun, seolah baru saja melepas ketegangan yang sejak pagi ia tahan.
Henry berdiri.
“Proposal ini menarik,” ucapnya. “Namun kita belum bisa mengambil keputusan hari ini.”
Aku tidak terkejut.
“Kita akan lanjutkan dengan diskusi internal,” lanjut Henry. “Caca, siapkan juga alternatif aktor. Kita perlu opsi lain.”
Wajah Caca sempat berubah, tapi ia segera mengangguk.
“Baik, Pak.”
“Pak…” Arvin yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. “Bagaimana kalau alternatifnya girl group saja?”
“Girl group?” Henry mengernyit bingung.
“Siapa, Vin?” tanyaku.
“Ellaive,” jawab Arvin. “Mereka baru debut enam bulan lalu, tapi langsung booming dan sering trending. Citra mereka juga bagus, sesuai dengan usia dan target pasar.”
“Tapi Ellaive dari agensi besar, Vin,” kataku. “Kerja samanya pasti nggak gampang. Mereka juga grup—konsepnya harus cocok untuk semua member. Dan kemungkinan besar biayanya jauh lebih mahal.”
“Iya sih…” Arvin tampak kecewa. “Tapi sayang banget kalau nggak kerja sama.”
Aku meliriknya. “Vin… jangan-jangan kamu Eden?”
Arvin langsung terkejut. Wajahnya panik.
“Eden itu apa?” tanya Henry.
“Eden itu nama fandom Ellaive, Pak,” jelasku. “Vin, kamu Eden, ya?”
“Nggak!” bantah Arvin cepat. “Aku ngusulin Ellaive karena mereka lagi booming aja kok.”
“Udah, nggak apa-apa,” kataku santai. “Cowok ngefans sama girl group itu hal biasa.”
“누나! 아니라고! 난 엘라아브 팬 아니야! (Kak! Aku bilang bukan! Aku bukan fans Ellaive!)”
Ruangan seketika hening.
“Arvin!” seru Henry tegas. “Kamu bicara apa? Bisa tidak menggunakan bahasa yang dimengerti semua orang? Jangan mentang-mentang ada yang paham bahasa Korea, lalu kamu bicara seenaknya.”
“Maafkan saya, Pak.” ucap Arvin sambil menunduk.
“Untuk idemu,” lanjut Henry, “saya setuju dengan Lili. Saya tidak terlalu paham dunia hiburan Korea, tapi bekerja sama dengan grup jelas akan lebih kompleks dan mahal. Untuk kerja sama pertama, kita fokus pada aktor atau artis individu saja.”
“Baik, Pak.” jawab Arvin pelan.
“Lili,” Henry menoleh lagi padaku. “Kamu tetap terlibat. Kita butuh sudut pandang pasar.”
“Baik, Pak.” jawabku.
Rapat ditutup tak lama kemudian. Orang-orang mulai berdiri, merapikan dokumen, dan kembali ke urusan masing-masing.
Saat aku berjalan keluar ruangan, pandanganku tanpa sengaja bertemu dengan Arvin. Ada sesuatu di matanya—seperti ingin bicara, tapi memilih diam. Aku pun melakukan hal yang sama.
Di koridor, Caca berjalan di sampingku.
“Gimana?” tanyaku pelan.
Caca menghembuskan napas panjang.
“Setidaknya idenya nggak langsung ditolak.”
Aku tersenyum kecil.
“Ini baru awal,” lanjutnya. “Dan entah kenapa… aku deg-degan.”
Aku mengangguk.
“Aku juga.”
Langkah ini mungkin belum tentu membawa kami ke Korea. Tapi jelas, kami sudah melangkah ke arah yang belum pernah kami lewati sebelumnya.
Dan begitu melangkah ke wilayah yang belum dikenal, tidak ada jaminan semuanya akan berjalan sesuai rencana.