NovelToon NovelToon
Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Romantis
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Chitholl

Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Two Hearts One Love

Alkava Global Enterprises

Nama itu muncul di pikirannya seperti neon sign yang menyala di tengah kegelapan.

Alkava Global Enterprises. AGE.

Perusahaan yang Rafael bangun dari nol.

Tanpa investor.

Tanpa bantuan orang tua kaya.

Hanya dengan portfolio yang dia kumpulkan selama kurang dari setahun—seratus juta dollar lebih, hasil dari trading forex, saham, dan crypto yang dia lakukan dengan analisis yang hampir sempurna.

Seratus juta dollar.

Di usia tujuh belas tahun.

Angka yang membuat para trader profesional dengan pengalaman puluhan tahun merasa seperti amatir.

Rafael mengingat saat dia pertama kali masuk ke dunia trading. Dia tidak punya uang. Hanya punya laptop pemberian kakaknya dan koneksi internet murah di rumah sempit.

Tapi dia punya sesuatu yang lebih berharga—kemampuan untuk membaca pola.

Kemampuan untuk melihat data yang orang lain abaikan.

Kemampuan untuk mengambil keputusan dalam sepersekian detik yang membuat perbedaan antara profit dan loss.

Forex, saham, crypto—semua pasar dia kuasai. Grafiknya dia hapal di luar kepala. Pergerakan harga dia prediksi dengan akurasi yang menakutkan.

Dalam enam bulan, seratus ribu dollar menjadi satu juta. Dalam setahun, satu juta menjadi seratus juta.

Dan dengan uang itu, dia membangun AGE.

Perusahaan dengan tiga divisi utama.

Divisi pertama—Investment & Market Analysis. Dulu Rafael yang menjabat sebagai direktur di sini. Dia yang membaca pasar, membuat keputusan investasi, mengelola portfolio.

Tapi sekarang? Apakah masih Sylvia Hartman yang memegang posisi itu? Wanita cerdas dengan kemampuan analisis hampir setara dengannya?

Atau sudah ada orang lain?

Divisi kedua—Cyber Security & Digital Service. Ryzen Zinhai yang memimpin divisi ini. Sahabatnya. Orang yang membawanya ke rumah sakit ini. Raja hacking dengan skill yang membuat CIA dan NSA harus berpikir dua kali sebelum berhadapan dengannya.

Ryzen—rambut putih perak, mata merah yang tajam di balik sikapnya, sifat pemalas tapi jenius saat menyentuh keyboard. Orang yang bisa membobol sistem keamanan Pentagon dalam waktu kurang dari satu jam, tapi tidak mau bangun dari tempat tidur sebelum jam sepuluh pagi.

Apakah Ryzen masih memegang divisi itu?

Divisi ketiga—Green Technology & Renewable Energy. Zen Feng yang memimpin. Sahabat lainnya. Orang dengan kepribadian setenang air danau, tapi dengan kecerdasan yang tajam seperti silet.

Zen tidak banyak bicara—dia bicara hanya saat perlu. Tapi saat dia bicara tentang teknologi, matanya menyala dengan semangat yang hampir fanatik.

TWS—Headset bluetooth dengan desain yang elastis, baterai yang tahan sampai dua puluh empat jam, desain yang benar-benar terasa nyaman di telinga bahkan saat di pakai tiduran.

Smartwatch LED dengan sensor kecerdasan masa kini. mendeteksi detak jantung, tingkat darah, kesehatan dengan sensor nano teknologi. Tidak hanya itu. Saat sesama pengguna Smartwatch melakukan Video Call. Smartwatch akan menampilkan refleksi hologram pengguna tepat di depannya. Seperti dua orang yang saling mengobrol.

Apakah dia masih di sana?

***

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Rafael.

Bagaimana keadaan AGE?

Apakah AGE masih berjalan seperti yang seharusnya?

Atau justru AGE sudah tidak ada lagi—hancur karena ditinggal foundernya yang dinyatakan mati?

Dan Kimberly.

Kimberly Starlink.

Wanita cantik berusia dua puluh tiga tahun dengan gaya yang selalu energik. Asisten pribadinya. Rambut blonde dipotong bob, selalu tampil seperti model majalah fashion.

High heels, dress designer, makeup sempurna—Kimberly lebih peduli dengan penampilannya daripada opini orang lain.

Dia hidup dengan caranya sendiri. Tidak peduli apa yang dunia katakan.

Tapi di balik penampilan glamornya, Kimberly punya sisi gelap. Dia pernah bekerja di dunia underground sebagai mata-mata—infiltrasi organisasi kriminal, mengumpulkan informasi, bermain di antara garis hitam dan putih dengan keterampilan yang membuat Rafael merekrutnya.

Apakah Kimberly masih di AGE?

Atau dia kembali ke dunia underground setelah Rafael mati?

Semua pertanyaan itu penting.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengalahkan semuanya.

***

Satu nama yang membuat dada Rafael sesak.

Salma.

Annisa Salma Zayyana.

Rafael menutup mata, dan wajah gadis itu muncul dengan jelas di pikirannya.

Enam belas tahun. Kecantikan yang kalem, anggun, lembut, dan imut dalam waktu yang bersamaan. Senyumnya seperti matahari pagi—hangat, menenangkan, membuat dunia terasa lebih baik. Matanya yang besar selalu menatap Rafael dengan kepercayaan penuh, dengan cinta yang tulus tanpa syarat.

Salma adalah anak tunggal dari keluarga Sanjaya—keluarga dengan pengaruh besar di Jakarta, Indonesia. Konglomerat peringkat kedua di ibu kota. Kekayaan yang tidak terhitung. Koneksi politik yang kuat. Bisnis yang tersebar di seluruh Asia Tenggara.

Salma bisa memilih pria manapun yang dia mau. Pria kaya, pria berkuasa, pria dengan darah biru.

Tapi dia memilih Rafael.

Rafael yang saat itu tidak punya apa-apa. Rafael yang baru saja kehilangan satu-satunya keluarga yang dia miliki—neneknya, orang yang membesarkannya setelah orang tuanya meninggal dalam sebuah tragedi.

Hubungan mereka dimulai tepat sebelum Rafael pergi ke Amerika. Tepat sebelum nenek Rafael meninggal dunia.

Bukan hubungan pacaran biasa.

Komitmen.

Rafael memberikan janji—selama tiga tahun, dia akan memperbaiki ekonominya, membangun fondasi yang kuat, memantaskan diri untuk berdiri sejajar dengan keluarga Salma.

Tiga tahun.

Dan setelah tiga tahun itu, mereka akan menjalani hubungan yang lebih serius.

Salma menerima janji itu tanpa ragu. Dia percaya. Dia menunggu.

Bahkan saat Rafael sempat kehilangan fokus, sempat putus asa setelah neneknya meninggal—Salma yang menguatkannya. Salma yang kembali membuat Rafael hidup dengan tujuan.

Tujuan untuk membahagiakan Salma.

Tujuan untuk bersanding dengan Salma sampai mereka menikah nanti.

Tujuan untuk membuktikan bahwa dia layak untuk wanita sebaik itu.

Tapi sekarang...

***

Sekarang seluruh dunia mengetahui bahwa Rafael Alkava sudah mati.

Berita itu pasti sudah sampai ke Indonesia.

Pasti sudah terdengar oleh telinga Salma.

Rafael membuka mata. Tangannya mengepal erat, sampai buku-buku jarinya memutih.

Bagaimana perasaan Salma saat mendengar orang yang dia cintai meninggal?

Apakah dia menangis?

Apakah dia hancur?

Apakah dia masih menunggu—atau sudah melepaskan semuanya?

***

Di suatu tempat, ribuan kilometer jauhnya, di Jakarta yang hangat dan ramai, seorang gadis mungkin sedang menatap foto Rafael dengan air mata yang mengalir tanpa henti.

Atau mungkin dia sudah melepaskan. Sudah move on. Sudah menerima bahwa cinta pertamanya telah pergi selamanya.

***

Rafael menatap langit-langit ruangan.

Untuk pertama kalinya sejak bangun, dia merasakan sesuatu yang lebih dalam dari kebingungan.

Dia merasakan rasa sakit.

Rasa sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh AH-Cell manapun.

Rasa sakit kehilangan seseorang yang dia cintai.

Ingatannya melayang kembali—ke momen terakhir mereka bersama sebelum dia terbang ke Amerika.

***

Enam Bulan Lalu – Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Salma berdiri di terminal keberangkatan internasional, mengenakan dress putih sederhana yang membuatnya terlihat seperti malaikat.

Rambutnya yang panjang tergerai di bahu, matanya berkaca-kaca tapi dia menahan air mata dengan keras kepala.

"Tiga tahun," katanya pelan, tangannya menggenggam tangan Rafael.

"Aku akan menunggu tiga tahun."

Rafael menatap wajah gadis itu—wajah yang sudah dia hafal di setiap detail. Dia ingin mengatakan banyak hal. Ingin berjanji bahwa dia akan kembali lebih cepat. Ingin mengatakan bahwa dia akan sukses dan membawa Salma hidup bahagia.

Tapi yang keluar hanya satu kalimat.

"Tunggu aku."

Salma tersenyum—senyum yang membuat dada Rafael sesak. "Aku pasti akan selalu menunggumu."

Mereka tidak memeluk. Tidak mencium. Hanya berdiri di sana, tangan saling menggenggam, dalam keheningan yang lebih bermakna dari ribuan kata.

Pengumuman boarding membuat mereka harus berpisah. Rafael melepaskan genggaman—pelan, seolah setiap detik berpisah dari sentuhan Salma adalah siksaan.

Dia berbalik, berjalan menuju gate.

Tidak menoleh ke belakang. Karena jika dia menoleh, dia takut tidak akan punya kekuatan untuk pergi.

***

Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Saat Ini.

Rafael merasakan dadanya sesak. Tiga tahun. Janji itu masih bergaung di telinganya.

Tapi sekarang, janji itu sudah hancur.

Karena di mata dunia, Rafael Alkava sudah mati.

Berita kematiannya pasti sudah menyebar ke seluruh dunia. Media pasti sudah memberitakannya—Rafael Alkava, trader jenius berusia tujuh belas tahun, pendiri Alkava Global Enterprises, meninggal dunia dalam insiden yang tidak dijelaskan.

Dan berita itu pasti sampai ke Jakarta.

Pasti sampai ke keluarga Sanjaya.

Pasti sampai ke Salma.

Rafael membayangkan gadis itu—duduk di kamarnya yang mewah, menatap layar ponsel dengan tangan gemetar, membaca berita kematian orang yang dia cintai.

Apakah dia menangis sendirian?

Apakah dia menolak percaya?

Apakah dia masih berharap ini semua hanya mimpi buruk?

Atau... apakah dia sudah menerima kenyataan dan melanjutkan hidupnya?

Pikiran terakhir itu membuat Rafael meremas seprai tempat tidur rumah sakit dengan kekuatan yang hampir merobek kain.

Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi.

Dia tidak bisa membiarkan Salma menderita karena kebohongan ini.

Tapi bagaimana dia bisa kembali?

Bagaimana dia bisa muncul ke publik lagi setelah seluruh dunia mengenalnya sebagai orang yang sudah mati?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa jawaban.

***

Dan di suatu tempat, sangat jauh dari New York, di kota yang masih hangat meskipun malam sudah larut, seorang gadis mungkin sedang menatap bulan yang sama.

Dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir.

Dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Dengan doa yang terus diulang—berharap bahwa entah bagaimana, dengan keajaiban apapun, orang yang dia cintai bisa kembali.

***

Rafael menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, air mata mengalir di pipinya.

***

BERSAMBUNG...

Nulis sendiri mewek sendiri :(

1
Danil Septia n
lanjut thor
Arlen Mirza
lanjut Thor
Kurniawan Wawan
🥺🥺🥺
My Name Is Koplo
panjangin lagi min, nanti gua ngambek
ricky hayathe
mantap. lanjutin jga anak nya si rafael thot
mielle
keren bgt kalimatnya 😍
Bang Chitholl: makasih loh ya🙏
total 1 replies
ricky hayathe
smangat thorr
Arlen Mirza
dikit banget gila
Dandung Lamase
taek dikit bngtttt🤣
ricky hayathe
gacorrr
Arlen Mirza
kek terlalu dikit Thor
KIMI
mana nih
Bang Chitholl: apanya?
total 1 replies
Rifqi Ilham
Lanjutt thorr, jangan nanggung
KIMI: mn nih
total 1 replies
Arlen Mirza
dikit banget thorr
Bang Chitholl
buset dah kenapa pada ngamuk cok 🤣
Michael Bangun
kambing lah
KIMI
monyet lh Thor🤣🤣
Dandung Lamase
chitol taek suka bngt gantungggg🤣
My Name Is Koplo
yang panjang thor
Kurniawan Wawan
lanjut thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!