“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Dokter menurunkan stetoskopnya perlahan. Suaranya tenang, kontras dengan jantung ibunya Ridho yang terasa hendak meledak.
"Benturan di kepala cukup keras," ujar dokter itu lagi, menatap hasil pemeriksaan. "Untuk sementara, pasien mengalami amnesia parsial. Beberapa ingatan—terutama yang berkaitan dengan emosi dan kejadian sebelum kecelakaan—tidak bisa diakses."
"Apa maksudnya… lupa ingatan?" suara ibunya Ridho bergetar. "Anak saya lupa segalanya?"
Ridho menatap mereka satu per satu. Wajah-wajah itu dia ingat. Ayah dan ibunya. Tapi rasa nyeri di kepala membuatnya mengernyit. "Ibu? Apa yang terjadi?" tanyanya pelan. "Kenapa aku bisa ada di sini?"
"Tidak semua ingatannya hilang. Hanya sebagian memorinya saja," jelas dokter itu lagi.
Ibunya Ridho menutup mulut, lalu tangisnya pecah. "Ya Allah… anak Ibu…" Ia terisak, nyaris histeris, memeluk lengan Ridho erat-erat. "Kenapa ini bisa terjadi padamu, Nak?"
Ridho berusaha mengingat, namun kepalanya malah berdenging.
"Aakkkhh!" Ridho memekik pelan, bingung dan takut. "Kepalaku..."
"Ridho! Kamu kenapa?"
"Aku coba mengingat, Bu..."
"Sudah Ridho. Cukup, hentikan. Jangan ingat lagi." Ibunya histeris.
Ayah Ridho memegang bahu istrinya. "Bu… tenang dulu. Dengar penjelasan dokter." Lalu berganti pada sang dokter."Dok, apa anakku bisa pulih?"
"Tentu." Dokter mengangguk, "Kondisi ini bisa membaik dengan waktu. Tapi jangan dipaksa mengingat. Lingkungan yang tenang sangat membantu."
Setelah dokter pergi, ibunya Ridho masih terisak, namun di balik air matanya, ada sesuatu yang perlahan berubah. Ia menyeka wajah, menarik napas panjang.
"Amnesia..." gumamnya, nyaris tak terdengar.
Ayah Ridho menatap heran. "Bu..."
Ibunya Ridho menoleh, matanya merah, tapi sorotnya kini dingin dan tegas. "Mungkin ini… yang terbaik."
"Apa maksudmu?"
"Ridho enggak ingat apa-apa," katanya pelan sembari memandang anaknya yang kini pulas. "Berarti dia enggak perlu ingat Ning. Enggak perlu ingat keluarga itu. Kita bisa mulai dari awal. Tanpa mereka."
Ayah Ridho terdiam. Ada keraguan, tapi juga kelelahan panjang yang tak terucap.
****
Di sisi lain kota, Ning duduk di atas sajadah usai salat. Tangannya terangkat lama, bibirnya bergetar menahan doa.
"Ya Allah… sembuhkan Mas Ridho," bisiknya. "Aku memohon, Ya Allah. Biar Ning yang menanggung semuanya, Ning iklas. Ning mohon, sembuhkanlah Mas Ridho."
Ning terisak. Air mata jatuh membasahi sajadah. Cukup lama dia hanya berdiam dalam doanya. Lalu, ia bangkit ke dapur. Ada ketenangan kecil saat ia mulai meracik bumbu—mengiris bawang, menyiapkan sayur. Tapi saat membuka lemari, keningnya berkerut.
"Garam habis… cabe juga tinggal sedikit."
Ia mengambil kruknya, mengenakan jilbab tipis. "Ke warung sebentar," gumamnya.
Langit siang itu cerah, tapi langkah Ning tetap pelan. Di tikungan jalan, suara motor berhenti mendadak.
"Ning?"
Ia menoleh. Yuda berhenti di sampingnya, mengenakan jaket ojek online, helm masih di tangan.
"Mas Yuda?"
"Kamu mau ke mana?"
"Ke warung," jawab Ning singkat.
Yuda melirik kruk di tangan Ning. "Naik aja. Mas anter."
Ning menggeleng. "Enggak usah, Mas. Ning jalan pelan-pelan aja."
"Naik motor lebih cepat, Ning."
Ning tersenyum, lalu menunjuk kakinya sendiri. Yuda memperhatikan, lalu ia merasa paham sesuatu.
"Oh, iya. Maaf." Yuda nyengir, ia menurunkan standar motornya, lalu membantu Ning naik.
Ning sendiri bingung, tapi hanya menurut sampai dia sudah duduk di atas motor.
"Nah, sudah." Senyum di bibir Yuda melebar.
"Eh, bukan Mas. Maksud Ning, dengan kondisi Ning yang begini, susah naik motor.
"Nah ini bisa," kata Yuda. "Sorry, tadi Mas enggak peka," sambungnya nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya.
Ning menatap Yuda lama. Lalu tersenyum kecil, "Ning enggak minta Mas bantuin Ning naik motor."
"Loh, enggak, ya?"
Ning terdiam, salah paham itu membuatnya kikuk. Tapi, beberapa detik kemudian, dia tertawa kecil sambil menunduk. Yuda juga tertawa geli.
Yuda langsung menepuk jok. "Udah, naik. Enggak berat kok. Kita jalan. Kruknya, biar Mas yang bawa di depan."
Melihat wajah Yuda yang tulus, Ning akhirnya mengangguk kecil. "Terima kasih."
Di perjalanan, Yuda melirik lewat spion. "Kemarin Dewi nyuruh Mas ke rumah. Kenapa,?"
Ning menunduk. "Enggak ada, Mas. Maafin sikap Mbak Dewi ya."
"Kenapa? Kayaknya semalam penting banget. Tapi, badanku udah capek. Jadi enggak datang, udah malam juga."
"Mbak Dewi, cuma lagi emosi semalam. Maaf, ya."
Motor melambat. "Enggak papa, kok. Emang, maunya Dewi apa?"
Ning diam tak menjawab.
"Apa? Mas penasaran banget."
"Mbak Dewi... Mau Mas nikah sama Ning."
Ciiitt!
Yuda mengerem mendadak.
"Ning minta maaf," lanjut gadis berwajah teduh itu cepat. "Mas Yuda pasti ngerasa enggak nyaman sekarang. Ning tau, Mas Yuda baik sama Ning, mungkin karena Ning adik Mbak Dewi, tapi..."
Ning menunduk, ia sangat sadar diri bagaimana dirinya. Dia hanya seorang gadis pincang yang cacat. Ia merasa tak pantas untuk Yuda, apalagi untuk Ridho yang jelas punya derajat lebih tinggi.
"Maaf, Mas..."
Yuda tertawa pendek, motor itu perlahan bergerak lagi. "Kamu lucu, Ning."
"Lucu kenapa, Mas?"
"Lucu aja," jawab Yuda santai. "Tapi... Kalau disuruh milih, Mas malah lebih milih nikah sama kamu."
Ning terdiam. Ia tersenyum pahit. Ia tau, lelaki di depannya ini sangat baik. Sampai-sampai, mengatakan hal konyol seperti itu.
"Makasih, Mas. Ning tau Mas Yuda orang baik."
Kini, ganti Yuda yang terdiam, ia tersenyum kecut. "Aku enggak sebaik yang kamu pikirin, Ning."
Hening...
Hingga motor itu sampai di sebuah warung.
"Biar Mas bantu."
Ning turun perlahan, dibantu Yuda. Beberapa ibu-ibu melirik penasaran.
"Eh, Ning… udah punya pacar, ya?" celetuk salah satu sambil menunjuk Yuda.
Ning tersenyum kaku. "Teman, Bu."
Yuda mengangguk sopan.
Ning membeli bahan yang kurang, lalu kembali naik motor. Tak lama, mereka sampai di rumah.
"Makasih, ya Mas."
"Enggak usah sungkan. Dewi ada? Semalam Mas enggak sempat kemari."
"Umm, Mbak Dewi..." belum sempat Ning melanjutkan, Dewi sudah muncul di teras, disusul Bu Sumi keluar dari dalam.
"Ke mana aja, kamu? Pacaran?" suara Bu Sumi langsung meninggi.
"Ning beli micin sama garem, Buk. Habis."
"Halah, alasan! Beli micin aja lama. Emang pacaran kamu kan? Keluyuran, haaa?" Dewi menyilang tangan. "Inilah, Buk, kerjaan dia. Godain laki terus! Nggak inget dia udah bikin celaka orang!"
Ning terperanjat. "Mbak! Ning cuma ke warung, Mbak."
"Nah, itu apa!?" Bu Sumi menunjuk Yuda. "Kau bawa lelaki pulang!"
Yuda sejak tadi diam, mengamati keributan. Setidaknya, dia harus tau keributan apa ini.
"Kamu Ning! Emang perempuan gatel! Udah selesai menggoda Ridho.. Ridho kau buat celaka, sekarang udah godain lagi tukang ojek! Dasar gatel." bu Sumi menunjuk-nunjuk.
"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa makin ke sini, malah semakin kasar omongannya." Yuda akhirnya tak tahan juga buat ngomong.
"Heh! Asal kamu tau, ya! Gara-gara Ning, Ridho, calon suaminya Dewi kecelakaan!" ujar Bu Sumi keras.
"Kecelakaan?"
"Kalau benar kecelakaan, kenapa malah Ning yang disalahkan? Ridho kecelakaan kan karena tidak hati-hati berkendara," ucap Yuda lugas.
"Kamu jangan ikut campur!" potong Dewi tajam. "Kamu tukang ojek aja malah ngajarin."
"Justru karena gua tukang ojek, gua paham jalanan! Gua emang harus ngajarin mulut yang enggak sekolah!"
"Heh! Kurang ajar kamu ya!?" Dewi maju menunjuk Yuda.
Belum sempat Yuda menjawab, ponsel Bu Sumi berdering. Ia mengangkatnya dengan wajah kesal—lalu berubah kaget.
"Apa? Ridho siuman?" suaranya meninggi. "Iya… iya…"
Telepon ditutup. Dewi menahan napas. "Ada apa, Buk? Mas Ridho udah sadar!?" senyumnya langsung melebar.
"Iya, ayo kita ke rumah sakit," ajak Bu Sumi. Lalu menoleh pada Ning. "Kamu! Jangan datang-datang ke rumah sakit! Jangan sok-sokan cari muka sama dia! Dasar anak pembawa sial!"
Mereka berbalik pergi.
Yuda menatap Ning lama. "Kamu enggak papa?"
Ning mengangguk lemah. Ada kelegaan di wajahnya.
"Terima kasih, Mas."
"Aku enggak tau keluargamu setoxic itu."
Ning hanya tersenyum, meski pipinya basah. Dia sangat lega. Doanya, telah diijabah...