"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: RAHASIA DI BALIK DINDING TUA
BAB 15: RAHASIA DI BALIK DINDING TUA
Mobil yang dikendarai Rio melaju membelah kegelapan jalur puncak menuju Bogor. Hujan rintik mulai turun, membuat jalanan aspal yang berkelok terlihat berkilat seperti sisik ular. Di kursi belakang, Alana duduk dengan napas yang masih memburu. Pakaiannya sedikit kotor terkena debu saat ia merangkak di kantor polisi tadi. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, menunggu kabar dari Kenzo yang tertinggal di tengah baku tembak.
"Nona, kita hampir sampai," suara Rio memecah keheningan. "Tuan Elvan sudah mengirimkan koordinat gudang itu. Ini adalah rumah peristirahatan lama milik mendiang ayah Raka yang sudah disita bank, tapi belum sempat dilelang."
Alana melihat sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang dikelilingi pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Suasananya sangat mencekam. Bangunan itu tampak seperti raksasa yang sedang tidur, menunggu mangsa masuk ke dalam perutnya.
Begitu mobil berhenti, Alana langsung keluar. Ia tidak peduli pada rintik hujan yang mulai membasahi rambutnya. Ia harus tahu. Ia harus tahu siapa dia sebenarnya jika rekaman suara Raka tadi benar.
"Hati-hati, Nona. Saya akan masuk duluan," Rio mencabut pistolnya dan menyalakan senter taktis.
Mereka masuk ke dalam rumah yang berbau debu dan kayu lapuk. Langkah kaki mereka bergema di lantai kayu yang rapuh. Alana mengikuti Rio menuju gudang bawah tanah yang pintunya tersembunyi di balik lemari dapur yang sudah hancur.
Setelah menuruni tangga beton yang lembap, mereka sampai di sebuah ruangan sempit yang berisi kotak-kotak kayu tua. Di sudut ruangan, terdapat sebuah peti besi kecil yang tampak masih baru dibandingkan benda-benda lainnya.
Alana mendekat. Ia melihat lambang yang terukir di atas peti itu. Sebuah lambang bunga mawar hitam yang dikelilingi duri.
"Itu bukan lambang keluarga Adiwangsa... dan bukan juga Ardiansyah," bisik Alana.
Ia membuka peti itu. Di dalamnya terdapat sebuah map plastik kedap air. Alana membukanya dengan tangan yang bergetar hebat. Isinya bukan hanya dokumen, tapi juga selembar foto lama.
Foto itu memperlihatkan seorang wanita cantik yang wajahnya sangat mirip dengan Alana, namun wanita itu tidak sedang bersama Ayah atau Ibu Adiwangsa. Ia sedang berdiri di depan sebuah gerbang megah di luar negeri bersama seorang pria asing yang tampak sangat berkuasa.
Di bawah foto itu terdapat sebuah akta kelahiran asli.
Nama: Alana Roseline von Heist.
Nama Ibu: Elena Roseline.
Nama Ayah: (Dihapus dengan tinta hitam).
Alana merasakan dunianya seolah runtuh. "Von Heist? Siapa... siapa mereka? Kenapa namaku bukan Adiwangsa di sini?"
Tiba-tiba, ponsel Rio bergetar. Ia mengangkatnya dan wajahnya mendadak pucat. "Nona, Tuan Kenzo... mobilnya baru saja diledakkan di depan kantor polisi."
Darah Alana serasa berhenti mengalir. Map di tangannya jatuh ke lantai. "Apa? Kau bohong, kan?!"
"Tuan Elvan baru saja menelepon. Kenzo mencoba mengejar sniper itu, tapi mobilnya disabotase. Sekarang dia sedang dilarikan ke rumah sakit pusat dalam kondisi kritis," Rio melaporkan dengan suara yang tercekat.
Alana tidak menangis. Rasa sakitnya sudah terlalu dalam hingga air matanya tidak mampu keluar. Ia justru mengepalkan tangannya. Rasa takutnya kini berubah menjadi amarah yang murni dan dingin.
"Bastian... Siska... Raka..." Alana menyebut nama-nama itu satu per satu dengan nada yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. "Kalian tidak hanya mencuri hidupku, tapi kalian juga mencoba mengambil napasku."
Ia memungut dokumen itu kembali. Di lembar terakhir, ada sebuah catatan kecil dari Ayah Raka:
“Keluarga Adiwangsa menemukanmu di tengah reruntuhan mobil orang tuamu, tapi mereka tidak tahu bahwa kau adalah kunci dari kekayaan dinasti Von Heist di Eropa. Aku menyimpanmu untuk kujadikan jaminan, tapi takdir membawamu menjadi menantuku. Jika surat ini terbaca, berarti rahasia besar tentang siapa yang sebenarnya membunuh orang tua kandungmu akan segera terungkap.”
Sementara itu, di Rumah Sakit Pusat Jakarta, suasana sangat kacau. Kak Elvan, Gio, dan Satya berdiri di depan ruang operasi yang lampunya masih menyala merah. Pakaian mereka masih berlumuran debu dan sedikit darah.
"Jika terjadi sesuatu pada Kenzo, Ayah Dirgantara tidak akan tinggal diam," gumam Satya sambil terus memantau pergerakan musuh lewat laptopnya. "Dan Bastian... dia kabur saat baku tembak tadi. Dia tidak sendirian, ada kelompok tentara bayaran yang menjemputnya."
Elvan meninju dinding rumah sakit. "Kita kecolongan! Kita terlalu fokus pada Raka dan Siska, sampai kita lupa bahwa Bastian adalah ular yang paling berbisa."
Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Alana muncul dengan penampilan yang sangat berbeda. Matanya dingin, wajahnya tanpa ekspresi, dan ia memegang sebuah map erat-erat.
"Alana! Kau selamat?" Elvan mencoba memeluk adiknya, namun Alana menghindar.
"Di mana Kenzo?" tanya Alana pendek.
"Masih di dalam, Al. Operasinya sudah berjalan dua jam," jawab Gio dengan suara gemetar.
Alana menatap lampu merah ruang operasi itu. Ia teringat setiap momen saat Kenzo menjaganya, setiap kali Kenzo mengatakan bahwa dia adalah segalanya bagi pria itu.
"Kak Elvan," ucap Alana tanpa menoleh. "Kumpulkan semua aset tunai yang bisa kita cairkan dalam satu jam. Aku ingin membeli semua saham perusahaan cangkang yang digunakan Bastian dan Raka. Aku tidak ingin memenjarakan mereka lagi. Aku ingin mereka menjadi gelandangan yang paling hina sebelum aku sendiri yang mencabut nyawa mereka."
Ketujuh kakaknya (yang tersisa enam yang setia) tertegun. Mereka belum pernah melihat Alana yang seperti ini. Alana yang dulu lembut kini telah hilang, digantikan oleh seorang wanita yang siap membakar dunia demi pria yang dicintainya.
"Dan satu lagi," Alana memberikan map Von Heist kepada Elvan. "Baca ini. Cari tahu siapa keluarga ini di Eropa. Jika aku adalah alasan semua orang ini mati, maka aku akan menggunakan nama ini untuk menghancurkan mereka semua."
Dua jam kemudian, lampu ruang operasi mati. Dokter keluar dengan wajah yang letih. Tuan Besar Dirgantara, yang baru saja sampai dengan kursi rodanya, segera mendekat dengan panik.
"Bagaimana anakku?!" teriak Tuan Dirgantara.
Dokter itu menghela napas. "Tuan Kenzo selamat dari masa kritis, tapi... benturan di kepalanya sangat hebat. Kami tidak bisa menjamin kapan dia akan sadar. Dia sekarang dalam kondisi koma."
Tuan Dirgantara lemas di kursi rodanya. Ia menoleh ke arah Alana yang berdiri tak jauh dari sana. "Ini semua salahmu! Jika kau tidak masuk ke hidupnya lagi, dia tidak akan menjadi sasaran seperti ini!"
Alana berjalan mendekati Tuan Dirgantara. Ia tidak menunduk. Ia justru berlutut di depan pria tua itu, namun dengan tatapan yang sangat kuat.
"Anda benar, Tuan Besar. Ini karena saya. Maka dari itu, selama Kenzo belum bangun, saya yang akan mengambil alih semua tanggung jawabnya. Saya akan memimpin proyek-proyeknya, saya akan menjaga perusahaannya, dan saya yang akan memberikan kepala Bastian di depan meja Anda."
Tuan Dirgantara terdiam melihat keberanian Alana. "Kau? Kau hanyalah seorang wanita yang baru saja bercerai!"
"Saya adalah Alana Roseline von Heist," sahut Alana dengan suara yang mantap. "Dan saya tidak akan membiarkan siapapun menyentuh apa yang menjadi milik saya lagi. Termasuk putra Anda."
Di balik jendela kaca ruang ICU, Kenzo terbaring kaku dengan berbagai selang di tubuhnya. Alana menyentuh kaca itu dengan ujung jarinya.
"Bangunlah, Kenzo. Saat kau bangun nanti, aku akan memastikan dunia ini sudah menjadi tempat yang aman untuk kita, karena aku sudah memusnahkan semua iblisnya."