NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31 jamuan warisan satu suapan untuk masa depan

Tujuh hari telah berlalu sejak "Ledakan Kehendak" yang menghancurkan Aula Takhta. Kota Naga Emas tidak lagi sunyi dan kaku. Bendera-bendera berwarna cerah kini berkibar di setiap sudut jalan, dan bau kemenyan yang menyesakkan dari kuil-kuil Peramal Agung telah digantikan oleh aroma bawang goreng, jahe, dan rempah-rempah yang menggugah selera.

Han Shuo duduk di balkon lantai dua Restoran Naga Surgawi—bekas markas rahasia Mei Lin yang kini telah direnovasi total menjadi restoran termegah di Ibukota. Di bawah sana, ribuan orang mengantre dengan tertib. Bukan untuk menerima jatah makanan darurat, tapi untuk menghadiri Festival Perpisahan Koki Agung.

"Kau benar-benar akan pergi?" suara lembut Mei Lin terdengar dari belakang.

Han Shuo menoleh. Mei Lin tampak berbeda hari ini. Ia tidak lagi memakai pakaian serba hitam pembunuh bayarannya, melainkan jubah sutra hijau zamrud yang elegan.

"Ayahku tidak punya banyak waktu di dalam kotak itu," jawab Han Shuo, sambil menyentuh Kotak Bumbu Raja di pinggangnya. "Benua ini kekurangan energi spiritual untuk membangun kembali sebuah tubuh. Di Benua Atas, konon ada Pohon Kedelai Surgawi yang kayunya bisa menjadi kerangka bagi jiwa manusia. Aku harus menemukannya."

"Dunia itu berbahaya, Bos," Ying muncul sambil memanggul karung beras besar. "Aku dengar di sana, bahkan pelayan restoran pun bisa menghancurkan gunung dengan satu jari."

Han Shuo tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus memastikan perut mereka kenyang agar mereka tidak menghancurkan gunung saat aku lewat."

Bagian 1: Persiapan Menu Rakyat

Han Shuo turun ke alun-alun kota. Di sana, seratus kuali raksasa telah disiapkan. Hari ini, Han Shuo tidak akan memasak sendirian. Ia telah mengumpulkan seluruh koki dari penjuru negeri—mereka yang dulu tertindas oleh aturan kaku Kekaisaran.

"Dengarkan aku!" teriak Han Shuo. Suaranya diperkuat dengan Qi, menggema ke seluruh alun-alun.

Seribu koki terdiam, menatapnya dengan penuh pemujaan.

"Selama ini, kalian diajarkan bahwa memasak adalah tentang derajat. Bahwa makanan terbaik hanya untuk Kaisar dan Bangsawan. Hari ini, aku akan menunjukkan bahwa satu-satunya derajat dalam makanan adalah Ketulusan. Kita akan memasak satu hidangan yang sama untuk semua orang: Bubur Delapan Harta Kedamaian."

Xiao Hua, yang kini resmi menjadi murid pertama Han Shuo, berdiri di sampingnya dengan celemek yang terlalu besar.

"Kenapa bubur, Guru?" tanya Xiao Hua penasaran. "Bukankah hari ini festival besar? Kenapa bukan babi guling atau sup sirip hiu?"

Han Shuo mengelus kepala Xiao Hua. "Karena bubur adalah makanan pertama yang kita makan saat lemah, dan makanan terakhir yang bisa kita telan saat menua. Bubur adalah tentang kesabaran. Kau tidak bisa terburu-buru memasak bubur, atau bagian bawahnya akan hangus."

Bagian 2: Memasak Massal (Mass Crafting)

Han Shuo mulai bergerak. Ia tidak menggunakan Kuali Naga Merah-nya untuk dirinya sendiri. Ia melemparkannya ke udara.

"Teknik Manifestasi: Seribu Kuali Bayangan!"

Kuali itu berputar cepat, membelah diri menjadi proyeksi energi yang jatuh tepat di atas setiap api yang disiapkan para koki. Ini adalah teknik tingkat tinggi yang mengonsumsi Qi dalam jumlah besar, namun Han Shuo ingin setiap koki merasakan aliran energinya.

"Sekarang, masukkan berasnya!" perintah Han Shuo.

Ribuan ton beras kualitas terbaik dituangkan. Air dari mata air pegunungan dialirkan.

Han Shuo mulai menari di tengah alun-alun. Setiap gerakannya diikuti oleh para koki. Ini bukan sekadar memasak, ini adalah Kultivasi Masak Massal.

"Rasakan apinya! Jangan dilawan, tapi ajjak dia bicara!"

Han Shuo mengeluarkan bumbu-bumbu rahasia dari Kotak Bumbu Raja. Ia tidak menyimpannya untuk diri sendiri. Ia menyebarkannya ke udara, membiarkan angin membawa partikel rempah itu ke dalam setiap kuali.

[Sistem Notifikasi: Anda melakukan 'Teaching Mode' (Mode Mengajar).]

[Kemajuan Murid (Xiao Hua): Meningkat Pesat! Mempelajari 'Vibrasi Spatula'.]

[Reputasi di Benua Bawah: Mencapai Level 'Dewa Penyelamat'.]

Aroma bubur itu mulai matang. Harumnya menyebar hingga berkilo-kilometer ke luar tembok kota. Hewan-hewan di hutan berhenti berkelahi, burung-burung hinggap di dahan pohon, semua terbius oleh aroma kedamaian tersebut.

Bagian 3: Warisan untuk Xiao Hua

Di tengah keriuhan, Han Shuo memanggil Xiao Hua ke sebuah kuali kecil yang tersembunyi.

"Xiao Hua, ini adalah pelajaran terakhirmu di benua ini," kata Han Shuo serius.

Ia menyerahkan sebuah pisau dapur kecil yang terbuat dari baja hitam tua. Itu adalah pisau pertama yang Han Shuo gunakan di desa dulu.

"Pisau ini tidak punya jiwa naga, tidak punya kekuatan sihir. Tapi pisau ini telah memotong ribuan bawang dan memberikan makan ratusan orang lapar. Jaga ini."

Xiao Hua menerima pisau itu dengan tangan gemetar. Air mata jatuh ke pipinya yang tembem. "Guru... aku akan menjaga restoran ini. Aku akan memastikan tidak ada orang yang kelaparan di Kota Naga Emas."

"Aku tahu kau bisa," Han Shuo tersenyum. "Ingat, koki yang baik bukan yang memiliki bahan paling mahal, tapi yang tahu kapan harus berhenti menambahkan garam."

Han Shuo kemudian menyerahkan sebuah gulungan perkamen. "Ini adalah resep dasar Nasi Goreng Penyatuan. Jangan gunakan sampai kau mencapai tingkat Inti Emas. Itu adalah beban yang berat bagi jiwa."

Bagian 4: Perjamuan dan Penglihatan

Matahari mulai terbenam. Festival mencapai puncaknya. Seluruh penduduk kota makan bersama di meja-meja panjang yang dipasang di sepanjang jalan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, antara tentara dan warga sipil.

Saat Han Shuo menyuap buburnya sendiri, sebuah getaran aneh muncul di benaknya.

Ding!

Pandangannya tiba-tiba ditarik ke dimensi lain. Bukan lagi alun-alun kota, tapi sebuah ruang hampa yang penuh dengan bintang-bintang berbentuk bahan makanan.

Di depannya, berdiri seorang pria tua berjenggot panjang dengan pakaian compang-camping, memegang sumpit raksasa.

"Siapa kau?" tanya Han Shuo, waspada.

"Aku? Aku hanya seorang pengembara yang lapar," pria tua itu tertawa. Suaranya terdengar seperti guntur yang jauh. "Kau melakukan hal yang baik, Nak. Memberi makan satu jiwa adalah tugas, tapi memberi makan satu bangsa adalah Takdir."

"Kau berasal dari Benua Atas?"

Pria tua itu mengangguk. "Namaku tidak penting sekarang. Tapi ketahuilah, di atas sana, mereka tidak memasak untuk perdamaian. Mereka memasak untuk keabadian. Mereka memakan esensi bintang dan meminum air mata dewa. Jika kau datang dengan hati yang terlalu lembut, kau akan dimakan hidup-hidup."

Pria tua itu melemparkan sebutir biji kecil berwarna hitam ke arah Han Shuo.

"Tanam itu saat kau sampai di sana. Itu adalah Biji Lada Hitam Kehancuran. Kau akan membutuhkannya."

Bayangan itu menghilang. Han Shuo kembali ke alun-alun, menggenggam biji hitam yang terasa dingin di telapak tangannya.

Bagian 5: Gerbang Dimensi Terbuka

Tengah malam tiba. Waktunya telah datang.

Ying, Mei Lin, dan Xiao Hua mengantar Han Shuo ke puncak Bukit Doa di pinggiran kota, tempat di mana energi spiritual paling stabil.

"Kami akan menunggumu kembali, Bos," kata Ying, mencoba menahan tangis namun gagal.

Mei Lin melangkah maju dan memberikan sebuah kompas perak kecil. "Ini adalah Kompas Pencari Jiwa. Jika kau tersesat di antara dimensi, ini akan selalu menunjuk ke arah kami... ke arah rumah."

Han Shuo menerima kompas itu dan menyimpannya baik-baik. ia menatap teman-temannya satu per satu, lalu menatap kota yang kini bercahaya terang di bawah sana.

"Jaga diri kalian," kata Han Shuo singkat.

Ia mengeluarkan Kuali Naga Merah. Kali ini, ia tidak memasak makanan. Ia memasak Jalan.

Han Shuo menuangkan seluruh Qi-nya ke dalam kuali. Bahan-bahannya adalah: Batu Ruang, Darah Naga, dan Keinginan untuk Maju.

BOOOOOM!

Sebuah pilar cahaya keemasan melesat dari kuali langsung ke langit, merobek awan dan menciptakan lubang dimensi yang berputar-putar. Angin kencang mulai menarik apa pun di sekitarnya.

"Sampai jumpa di puncak tertinggi!" teriak Han Shuo.

Dengan satu lompatan mantap, Han Shuo masuk ke dalam lubang cahaya tersebut. Tubuhnya menghilang, meninggalkan sisa-sisa aroma bubur yang harum dan tangisan haru para sahabatnya.

Bagian 6: Melintasi Batas (Interdimensional Travel)

Di dalam lorong dimensi, Han Shuo merasa tubuhnya ditarik ke segala arah. Jika bukan karena fisik koki yang telah ditempa oleh Api Jantung Bumi, ia mungkin sudah hancur menjadi debu.

Sistem di kepalanya mulai menggila.

[Peringatan: Tekanan Atmosfer Meningkat 500%!]

[Peringatan: Kadar Oksigen Menurun, Energi Spiritual Murni Terdeteksi!]

[Proses Adaptasi Tubuh: Dimulai...]

Han Shuo melihat kilasan-kilasan dunia lain di balik dinding dimensi. Ia melihat naga raksasa yang terbang di atas lautan awan, ia melihat kota-kota yang terapung di atas daun teratai raksasa, dan ia melihat koki-koki yang bertarung melawan monster setinggi gunung hanya untuk mengambil satu tetes empedunya.

"Jadi ini... Benua Atas," gumam Han Shuo, matanya berbinar dengan semangat baru.

Tiba-tiba, lubang dimensi di depannya melebar. Cahaya putih yang menyilaukan membutakan matanya.

Bagian 7: Pendaratan yang Kasar

BRUAAAKK!

Han Shuo jatuh dari ketinggian sepuluh meter dan mendarat di atas tumpukan sesuatu yang empuk tapi berbau tajam.

"Aduh..." ia mengerang, mencoba bangkit.

Ia melihat sekeliling. Ia tidak mendarat di istana atau kuil megah. Ia berada di sebuah gang sempit yang kotor. Dan yang ia timpa tadi adalah tumpukan sayur-sayuran busuk di belakang sebuah dapur besar.

"Hei! Siapa itu?!" sebuah suara kasar membentak.

Seorang pria raksasa dengan tinggi tiga meter, berkulit biru, dan memiliki empat tangan muncul dari pintu belakang sebuah bangunan. Pria itu memegang spatula yang ukurannya sebesar tubuh Han Shuo.

"Seorang manusia?" pria biru itu meludah. "Dan dia jatuh di tempat sampahku? Kau menghancurkan Kubis Langit-ku, Dasar Sampah!"

Han Shuo berdiri, membersihkan debu dari jubah kokinya yang kini kotor. Ia merasakan tekanan udara di tempat ini sangat berat. Setiap gerakannya membutuhkan energi sepuluh kali lipat.

"Maaf," kata Han Shuo tenang. "Aku tidak sengaja jatuh di sini."

Pria biru itu tertawa, suara tawanya membuat dinding bergetar. "Jatuh? Kau datang dari Benua Bawah, ya? Bau amis 'Dunia Rendah' masih menempel padamu."

Pria itu mendekat, aura kekuatannya menekan Han Shuo. Pria ini hanyalah seorang pembantu dapur, tapi kekuatannya setara dengan Jenderal di dunia lama Han Shuo!

"Di Kota Gastronomi Surgawi, manusia dari Benua Bawah hanya punya dua pilihan," kata si pria biru sambil mengangkat pisaunya. "Jadi budak di dapur pemotongan, atau jadi bahan sup untuk babi-babi kami."

Han Shuo tersenyum tipis. Ia meraba gagang Pisau Bulan Sabit-nya.

"Aku punya pilihan ketiga," kata Han Shuo.

"Oh ya? Apa itu?"

"Aku yang akan menjadi pemilik dapur ini dalam waktu lima menit."

Pria biru itu tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. Namun, tawanya terhenti saat ia melihat Han Shuo mengeluarkan sebuah bawang bombay dari sakunya dan melemparkannya ke udara.

Dengan gerakan yang tidak bisa dilihat mata telanjang, Han Shuo mengiris bawang itu menjadi ribuan lembaran setipis kertas di udara sebelum bawang itu menyentuh tanah.

Aroma pedas yang sangat kuat tiba-tiba memenuhi gang itu, membuat keempat mata si pria biru mulai berair deras.

"Pelajaran pertama di dunia baru," bisik Han Shuo di belakang telinga si pria biru, secepat kilat. "Jangan meremehkan koki yang membawa bumbunya sendiri."

Petualangan besar di Benua Atas baru saja dimulai.

* Lokasi Baru: Kota Gastronomi Surgawi (Sektor Pinggiran).

* Kondisi Fisik: Sedang beradaptasi dengan gravitasi dan Qi murni yang 10x lebih padat.

* Tantangan Utama: Di Benua Atas, koki manusia dianggap kelas rendah dibandingkan ras-ras kuliner lain (Raksasa Biru, Elfin Rasa, dll).

* Target Segera: Mencari informasi tentang Pohon Kedelai Surgawi untuk tubuh ayahnya.

1
ddrhart
mulai langkah merekrut pengikut
ddrhart
semakin menarik dengan persahabatan yang tidak biasa
ddrhart
lanjut thor.... cukup menarik
ddrhart
malah datang bahan makanan yang lebih berkualitas
ddrhart
dari awal sudah terima berbagai macam ujian
ddrhart
ayo chef han suo.... jangan kasih kendor !!!
ddrhart
menarik.... berbeda dari yang sudah ada
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!