Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Ara dan Alea.
Di alam bawah sadar, tubuh Alea seolah terjatuh ke dalam suatu ruangan. Namun bukan sirkuit, bukan pula kamar rumah sakit. Saat membuka mata, Alea mendapati dirinya berdiri di lorong rumah sakit.
Lorong itu ramai.
Di sana, Alea melihat Ara berdiri di dekat dinding. Bahunya menunduk, tasnya terjatuh di lantai. Beberapa siswa mengelilinginya. Ada yang tertawa kecil, ada yang berbisik sambil menunjuk ke arahnya. Salah satu dari mereka sengaja menyenggol pundak Ara hingga gadis itu hampir terjatuh.
“Heh, jalan dong. Jangan ganggu pemandangan,” ujar seseorang sambil tertawa.
Ara tidak membalas. Ia hanya memungut tasnya dengan tangan gemetar.
“Astaga, Ara kenapa dia selemah itu,” gumam Alea pelan. “Hidup lo ternyata seburuk ini.”
Alea menggelengkan kepala. Dadanya terasa panas melihat Ara hanya diam saat seseorang menarik rambutnya sebentar lalu mendorongnya ke depan. Tidak ada guru, bahkan dari banyaknya siswa di sekolah tidak ada satu orang pun yang membelanya.
Kalau itu Alea, mungkin dia akan melawan dan membalas perbuatan mereka semua satu persatu tanpa ada yang terlewat satu orang pun.
“Eh, ayo ikut,” kata dua orang perempuan sambil menarik lengan Ara dengan kasar.
“Itu si Ara mau dibawa ke mana?” Alea bertanya pada dirinya sendiri.
Alea mengikuti mereka hingga ke sebuah gudang di belakang sekolah. Pintu besi itu ditutup dengan keras, menimbulkan suara dentuman yang membuat Ara tersentak.
Ruangan itu sempit dan pengap. Bau debu bercampur karat menusuk hidung.Ara didorong hingga punggungnya membentur rak besi.
Beberapa kardus di atasnya bergoyang dan hampir saja menimpa tubuh Ara. Mereka berdua bukannya membantu Ara, justru malah menertawakannya.
“Lihat tuh, lebay banget sih,”katanya sambil menyilangkan tangan.
Ara mencoba mundur, tapi tangannya ditarik lagi. Jemarinya mencengkeram lengan Ara terlalu kuat, meninggalkan bekas kemerahan.
“Lepasin aku, aku mohon,” suara Ara bergetar dengan nafas memburu.
“Apaan sih? Cuma bercanda,” sahut yang lain sambil menepuk pipi Ara pelan—bukan keras, tapi cukup membuat Ara menegang.
Ara menunduk bahunya gemetar hebat diiringi dengan Air mata yang jatuh ke lantai semen yang dingin.
Salah satu dari mereka mengambil ponsel, mengarahkannya ke wajah Ara.
“Ayo dong, senyum. Biar cocok sama reputasi lo,” ejeknya.
Ara menggeleng kuat. Tangannya terangkat menutupi wajahnya. Tubuhnya meringkuk, seolah ingin menghilang.
“Heh, jangan nutupin muka,” bentak yang lain sambil menarik pergelangan tangannya.
Ara berteriak dengan keras suaranya pecah. Tapi gudang itu terlalu tertutup. Sampai tidak ada yang mendengar teriakan Ara.
Tawa mereka justru semakin keras.Alea merasakan dadanya berdenyut hebat. Tangannya mengepal sampai kuku-kukunya menekan telapak tangan.
Rahangnya mengeras melihat Ara yang kini hanya bisa menangis tanpa melawan.
Ara di dorong sampai jatuh. Lututnya menghantam lantai. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya gemetar, terlalu lemah untuk berdiri.
“Udah ah, bosen,” kata salah satu dari mereka akhirnya.
Ara dilepas begitu saja, seolah benda yang sudah tidak menarik lagi.
Saat tangan Ara akhirnya dilepaskan, gadis itu hampir terjatuh. Nafasnya terengah, kakinya gemetar saat mencoba berdiri.
Namun sebelum Ara sempat menjauh, salah satu dari mereka menoleh ke sudut gudang.Tangannya meraih sebuah balok kayu yang bersandar di dekat rak besi.
Alea menegang.
" Apa yang akan mereka kakukan kepada Ara?"
Perempuan itu berbalik, menggenggam balok kayu dengan erat, lalu melangkah mendekat.
“Heh, jangan buru- buru pergi,” ucapnya sambil tersenyum miring.
Ara membelalakkan mata. Wajahnya langsung pucat. Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dengan tergesa dan berjalan mundur. Langkahnya terseret, punggungnya hampir menabrak dinding.
Balok kayu itu terangkat sedikit.
Ara menelan ludah. Jarak antara dirinya dan pintu gudang hanya beberapa langkah.
Saat perempuan itu kembali melangkah maju, Ara berbalik. Tangannya meraih gagang pintu dengan panik. Pintu terbuka setengah.
“Berhenti!” teriak salah satu dari mereka.
Namun Ara tidak peduli.
Ia mendorong pintu sekuat tenaga, lalu berlari keluar gudang tanpa menoleh lagi. Nafasnya tersengal, air matanya jatuh tanpa henti, kakinya terus bergerak seolah kalau ia berhenti sedetik saja, semuanya akan berakhir lebih buruk.
Alea mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Tubuhnya terasa kaku, seolah ingin maju, tapi kakinya tidak bisa bergerak sedikit pun.
Tak lama kemudian, adegan itu berubah.
Kini Alea melihat Ara berlari keluar dari sekolah. Napasnya tersengal. Tangannya gemetar saat ia menyeka air mata di pipinya. Langkahnya tidak terarah, pikirannya kacau.
Ara menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri.
Sebuah minibus hitam melaju kencang.
BRAK!
Tubuh Ara terpental. Suara benturan itu membuat Alea tersentak.
“Kamu sudah melihat semuanya, kan, Alea?”
Suara itu terdengar tepat di sampingnya.
Alea menoleh.
Ara berdiri di sana. Wajahnya pucat, matanya kosong, tapi ekspresinya tenang—terlalu tenang.
“Lo, Ara?” tanya Alea pelan.
“Iya.”
“Alea,” kata Ara lagi. “Aku minta tolong sama kamu.”
Alea mengernyit. Dadanya masih terasa berat. “Gue bisa apa? Gue juga hancur.”
Ara menatap Alea tanpa berkedip. Tangannya mengepal pelan.
“Tolong balaskan dendamku.”
Nada suaranya datar, tapi sorot matanya menyimpan kelelahan. Seolah itu satu-satunya permintaan yang tersisa dari seseorang yang sudah tidak punya apa-apa lagi.
" Tunggu, Maksud lo apa?" tanya Alea. Dia menatap Ara dengan tatapan bingung ada rasa curiga yang terbesit dalam hatinya saat mendengar ucapan Ara.
" Apa jangan- jangan ucapan dokter tadi benar kalau gue itu Ara," ucap Alea kepada dirinya sendiri.
" Ya kamu memang Ara sekarang, Alea," jawab Ara sambil tersenyum menatap Alea.
" Hah, bagimana bisa? Jangan -jangan gue mengalami...."
Alea menggelengkan kepalanya dengan kuat, berharap semua yang dia lihat saat ini hanyalah halusinasi biasa dan sekedar mimpi bunga tidur.
" Tidak, itu tidak mungkin, Mana ada hal seperti itu di dunia ini," kata Alea meyakinkan dirinya sendiri.
" Tapi kenyataannya kamu memang mengalami Transmigrasi jiwa kedalam tubuhku Alea," timpal Ara dengan tenang.
" Apa? Transmigrasi jiwa?"
Ucapan itu membuat dunia di sekitar Alea seolah berhenti bergerak.Perlahan, Alea menunduk.Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang tadi gemetar ketakutan di gudang.
Tangan yang didorong, ditarik, dan hampir dipukul balok kayu.
Bukan tangannya tapi tangan Ara.
Suara tawa para pembully itu kembali terngiang jelas di kepalanya. Wajah-wajah mereka muncul satu per satu, sama seperti saat di gudang tadi.
Jika ini benar-benar tubuh Ara,
Maka semua rasa sakit itu belum berakhir.Dan kali ini, Ara tidak lagi sendirian.Alea mengangkat wajahnya perlahan.Sorot matanya berubah—dingin, tajam, dan penuh tekad.
“Kalau ini hidup lo,” gumam Alea pelan,“berarti sekarang, giliran gue yang jalanin.”
" Iya."
" Aku harap kamu membalaskan dendam kepada mereka semua yang telah menyakitiku Alea." Lanjutnya.
" Akan gue pastikan mereka semua membayar mahal atas apa yang mereka lakukan Ara. Tanpa ada satu orang pun yang bisa lolos dari genggamanku."
"Mereka semua salah mencari lawan,"