Alana adalah jaksa muda yang cerdas, karirnya menanjak drastis, berkacamata tebal, kaku, dan berpenampilan tidak menarik untuk menyembunyikan kecantikannya karena ia memiliki trauma di masa lalu terkait dengan kecantikan. Suatu ketika Alana menerima banyak sekali ancaman dan setelah itu, teman kantornya mengajaknya ke perusahaan besar yang menyediakan jasa bodyguard. Alana terpaksa mendatangi perusahaan besar itu meskipun ia tahu pemiliknya adalah pria yang selalu ia hindari, Archie Cwvendish. Archie adalah kakak tirinya Arthur dan Arthur adalah mantan pacarnya Alana. Archie juga dulunya tutornya Alana dan Archie diam-diam jatuh cinta pada Alana tapi Archie memilih mundur saat Arthur mengatakan bahwa Arthur mencintai Aluna. Apa yang akan terjadi saat Alana nekat menemui Archie dan meminta Archie menjadi bodyguard-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isak tangis
Archie melongo kaget saat langkahnya sampai di ruang makan.
"Bi, Alana mana?"
Bi Inah yang sedang mengelap meja makan menoleh ke Archie dan berkata, "Non Alana habis mencuci piring ijin mandi terus Bibi antar ke kamar tamu"
"Oh, kalau begitu aku tunggu dia di ruang tengah saja, makasih Bi" Archie tersenyum ke Bi Inah.
"Iya tuan muda" Sahut Bi Inah dengan senyuman.
"Tuan muda tunggu!" Pekik Bi Inah kemudian.
Archie menghentikan langkahnya lalu berbalik badan, "Ada apa, Bi?"
"Emm, Bibi kasih pinjam daster sama baju dalam ke Non Alana dan Non Alana tidak keberatan. Tidak apa-apa, kan, Tuan muda?"
"Hah? Dia tidak keberatan memakai bajunya Bi Inah?"
"Tidak. Bibi juga kaget. Bajunya bibi kan daster semua"
GLEK! Jakun Archie naik turun. Bayangan Alana memakai daster membuat juniornya kembali menggeliat.
Archie meraup wajah tampannya dengan cepat u tuk mengusir fantasi nakal yang hendak bercokol di benaknya lalu ia berkata, "Tidak apa-apa, Bi. Kalau Alana mau tidak apa-apa" Archie tersenyum.
Bi Inah ikut tersenyum lalu mengangguk lega.
Archie kemudian berjalan ke ruang tengah sambil melempar angannya ke beberapa Minggu yang lalu saat Rosaline kehujanan dan Archie ajak mampir ke rumahnya. Rosaline jijik melihat baju ganti yang dibawakan oleh Bi Inah. Archie melihatnya dari kejauhan dan Rosaline tidak menyadari kehadiran Archie. Archie melihat Rosaline menepis kasar tangan Bi Inah dengan berkata, "Aku tidak mau memakai daster jelek begitu" Archie melihat Bi Inah menghela napas panjang lalu berbalik pergi. Akhirnya Archie yang mengalah keluar, berjalan kaki memakai payung untuk membelikan Rosaline baju di butik milik tetangganya.
Archie duduk di sofa, menghidupkan televisi dan bergumam lirih, "Alana memang tidak berubah. Dia anak tunggal konglomerat tapi tidak pernah pilih-pilih orang dalam bergaul. Dia baik dan tulus sama semua orang tanpa membedakan kelas orang tersebut. Tapi, itu justru berbahaya untuk......"
"Apa yang berbahaya?" Alana duduk di sebelahnya Archie.
Archie menoleh kaget dan glek! Jakun Archie naik turun saat ia melihat tubuh Alana hanya dibalut kain tipis seolah itu adalah kulit keduanya Alana. Lekuk tubuh Alana terlihat jelas dan........GLEK! Indah sekali, gumam Archie di dalam hatinya.
Sial! Dia menyembunyikan lekuk tubuh indahnya di balik blus dan blazer kedodoran untuk apa? Lalu......lalu.....rambutnya yang indah lurus di atas dan bergelombang indah di bagian bawah, tebal dan berwarna sedikit kecoklatan, kenapa selalu ia cepol? Mata Archie berhenti di belahan dada Alana yang sedikit terlihat karena dasternya Bi Inah sedikit kebesaran di badan rampingnya Alana. Archie meraup wajahnya dengan cepat lalu mengarahkan pandangannya ke televisi sambil meraih bantal sofa untuk dia pakai menutupi juniornya yang kembali menggeliat dan kali ini lebih liar dari yang sebelumnya.
Alana menepuk bahu Archie, "Apanya yang berbahaya?"
Archie berucap tanpa menoleh ke Alana, "Rambut kamu basah itu berbahaya bisa bikin flu. Keringkan dulu sana terus balik ke sini!"
"Aku terbiasa begini dan aku kuat kok jarang sakit flu. Oh, itu kertas dan pulpennya? Aku tulis nama-nama orang yang aku curigai, ya" Alana mengambil kertas dan pulpen dari atas meja.
Archie hampir mengalami sesak napas saat rambut basahnya Alana menyabet pelan bibirnya. F*CK! Kenapa rambut basahnya yang indah dan seksi harus kena di bibirku. Rasanya ingin aku rebahkan Alana sekarang juga di sofa lalu aku ciumi sampai Alana sesak napas.
"Ini" Alana mengulurkan kertas yang sudah berisi nama-nama orang di depan Archie.
Archie mengerjap kaget lalu bergegas menerima kertas berisi daftar nama-nama orang sambil meraup kasar wajah tampannya agar kesadarannya terkumpul sepenuhnya.
"Jessy Wilde?" Archie menoleh kaget ke Alana, "Siapa Jessy Wilde?"
"Anak papaku dengan pacar pertamanya. Papaku kan dijodohkan dengan mamaku dan diam-diam masih menjalani hubungan dengan pacarnya lalu lahirlah Jessy Wilde. Dua tahun lebih muda dariku"
Archie menghela napas panjang untuk mengusir kekagetannya lalu ia bertanya, "Kenapa ia ada di urutan pertama?"
"Dia dan mama tiriku tidak pernah menyukai kehadiranku. Tapi, aku menyembunyikan kenyataan itu dari papaku karena aku tidak ingin melihat papaku kecewa dan sedih. Aku juga tidak ingin papaku terkena serangan jantung lalu meninggal seperti......."
"Seperti?" Archie mengusap bahu Alana yang terlihat melengkung.
"Mamaku. Mamaku meninggal dunia dengan kening berlubang dan ada peluru di dalamnya......hiks, hiks, hiks, i....itulah kenapa aku belajar keras agar aku bisa menjadi jaksa sehingga aku bisa, hiks, hiks, hiks, mengungkap kebenaran kasusnya Mama"
"Kebenaran kasus mama kamu?" Archie mengusap lembut airmata di pipi Alana dengan wajah sedih.
Aku ikut sedih kalau kamu sedih, Na. Astaga! Aku ingin menelan airmata kamu saat ini juga, Na. Batin Archie.
"Mama diduga bunuh diri. Menembak dirinya sendiri karena ada pistol di tangannya. Suami dan anak yang dibawa oleh suaminya tidak mengijinkan adanya autopsi" Alana menutup wajahnya yang menunduk lalu menangis sesenggukan.
Archie langsung memeluk Alana. Hatinya hancur melihat Alana mengalami banyak sekali kejutan yang mengerikan.
"Kapan mama kamu meninggal?"
"Satu tahun setelah aku menetap di Jerman dan aku tidak diijinkan papa pulang ke Indonesia. Saat itulah aku tahu watak asli mama dan adik tiriku. Saat papa pergi ke Indonesia untuk ikut pemakamannya mama" Ucap Alana di sela isak tangisnya.
Tanpa sadar Archie mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya Alana dan membuat Alana sontak menghentikan isak tangisnya lalu mengerjap kaget...........