NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Biarkan Mauren Memilih Lagi

Sore itu matahari menggelayut di ufuk barat, menyinarkan semburat warna jingga ke lapangan basket yang sudah perlu direnovasi itu. Lapangan basket yang terletak di samping aula sekolah yang merangkap dojo ini menjadi zona nyaman bagi Rommy yang tidak ikut ekskul karate yang diikuti Mauren. Sembari latihan lari keliling lapangan basket, skipping, dan melakukan shadow boxing, Rommy bisa menunggui Mauren berlatih karate bersama Sensei Nakamura.

Selain itu, dari jendela aula yang terbuka lebar, Rommy kadang mengintip latihan karate Mauren, dan sesekali, merekam wajah Mauren yang tengah berpeluh dan bekostum karate putih itu dengan kamera DSLR yang dibawanya juga. Sesekali terdengar instruksi Sensei Nakamura yang lantang, atau teriakan Mauren dan anak-anak lain ketika melakukan gerakan karate.

Ekskul karate dimulai pukul empat sore, dan Rommy sudah memulai latihan tinjunya di lapangan basket itu dengan lari beberapa putaran. Saat Rommy berlari, Mauren tiba dengan balutan busana karate dan mulai menggoda Rommy sambil tersenyum, “Latihan terus dulu jo, nanti kapan-kapan bisa sparring sama torang.” Lalu Mauren masuk aula untuk melakukan latihan di dojo darurat itu.

Hati Rommy meleleh bukan saja karena digoda sang gebetan, tapi juga karena senyumannya yang “wow” itu. Dia lalu teringat nasehat Coach Barda yang pernah bilang, “Tinju itu bukan cuma baku pukul, Rom, tapi harus bisa menahan diri.” Rommy cuma bisa nyengir dalam hati. Dia yang disegani dalam memimpin Geng Kelelawar Hitam yang dulu sangat disegani di sekolah, sekarang malah kesulitan menahan diri, menahan perasaan yang selalu bergejolak setiap kali Mauren muncul di hadapannya.

Tak lama kemudian terdengar teriakan lantang Sensei Nakamura memberi instruksi, “Mauren, kekalahan kamu kemarin karena kamu kehilangan kime. Kime adalah kontrol diri dalam karate.”

“Haik sensei!” jawab Mauren sambil membungkuk hormat kepada Sensei Nakamura.

Rommy berhenti latihan sejenak untuk mengabadikan beberapa adegan Sensei Nakamura dan Mauren dengan kamera DSLR-nya yang dilengkapi lensa zoom jarak jauh itu.

Dari balik lensa jarak jauhnya itu, Rommy mengintip bagaimana anggunnya Mauren dalam balutan baju karate putih atau gi, tampak bergerak lincah dan bersemangat berteriak, memukul dan menendang dengan peluh membasahi baju putihnya.

“Mana nyalimu Rom?” kata Rommy dalam hati lalu menelan ludah. “Cuma tiga kata, ‘I love you’ yang bocil aja gampang ngucapin.”

Tapi setiap kali senyum manis Mauren berada di hadapannya, Rommy langsung mundur teratur kaya undur-undur. Ini bukan perkara nyali, tapi seperti Coach Barda bilang, dia belum boleh melakukan sparing karena belum waktunya.

Kemudian dia meletakkan kamera DSLR-nya dengan hati-hati, lalu melanjutkan shadow boxing-nya. Jab, straight, hook, uppercut, semua pukulan dalam tinju dia lepaskan dengan cepat. Kakinya juga menari-nari, dan nafasnya masih teratur, walau terdengar mulai ngos-ngosan.

Hari-hari pertama sejak Mauren kalah diskualifikasi dalam final turnamen karate antar SMA, dia sempat terpukul, dan beberapa kali bolos ekskul. Tapi baik sensei maupun mama-papa Mauren meyakinkannya untuk segera kembali berlatih karate, dan jangan sampai kekalahan membuatnya terpuruk. Dan sore ini, mutiara cantik itu telah kembali dengan semangatnya. Diam-diam Sensei Nakamura tersenyum; murid asuhannya yang paling berbakat itu telah kembali.

Akhirnya latihan karate sore itu, sekelompok murid SMA Tunas Bangsa keluar satu per satu setelah menyampaikan salam hormat ala karate, yaitu membungkuk kepada sang sensei, Sensei Nakamura.

Rommy juga segera menyelesaikan latihannya dan membereskan barang-barangnya. Mauren tampak keluar dari dojo dengan pipi merah dan berpeluh. Setelah selesai membereskan barang-barang bawaannya, dia siap-siap berlari menemui Mauren, dan hati kecilnya berkata, “It’s now or never, Rom.”

Namun belum sempat dia mengayunkan langkah, sesosok asing muncul dari gerbang sekolah. Walau dia pakai kaos, tapi jelas tampak badan cowok itu kekar dan tangannya terlihat sangat kuat, tanda sudah terlatih bertahun-tahun. Bandingkan dengan tangan Rommy yang ceking, yang belum lama latihan tinju. Dari wajahnya sepertinya dia sepantaran Rommy dan Mauren. Dia melangkah santai dengan tas ransel hitam yang dicangklong dan sedikit menyunggingkan senyum. Mungkin dia anak dari SMA lain.

“Mauren!” panggil cowok itu.

Mauren tampak terkejut. “Halo Jino, lama kita tidak bakudapa!” Mauren tersenyum kepada cowok itu.

Rommy mengamati dari lapangan basket, apa yang terjadi berikutnya.

“Eh, ngana pindah Jakarta rupanya,” kata Mauren kaget dan keluar logat Manadonya.

“Iya, kan waktu itu ngana so kasih tahu?” jawab pemuda itu, atau cowok itu. “Tapi karena torang sedang bersiap-siap pertandingan berikutnya, jadi nggak sempat menemui nna waktu itu.”

“Hahaha, maafin, torang lupa,” jawab Mauren.

Adegan selanjutnya membuat darah Rommy mendidih. Mauren dan cowok itu berpelukan dan cipika-cipiki!

Dunia seakan berhenti sejenak dan seperti chaos saat Hiroshima dibom atom oleh Amerika. Siapa itu, teman lama? Mantan yang mau CLBK? Rommy coba mengingat-ingat. Ya, dia ingat wajah cowok itu ada di FB Mauren waktu foto bareng-bareng. Tapi kenapa harus pakai pelukan dan pakai cipika-cipiki?

“Bagaimana ngana bisa tahu torang sekolah di sini?” tanya Mauren setelah melepaskan pelukannya.

“Ngana ikut turnamen karate tempo hari,” jawab Jino. “Tapi karena torang sedang bersiap-siap pertandingan berikutnya, jadi nggak sempat menemui nna waktu itu.”

“Kan bisa setelah turnamen?” tanya Mauren.

“Ngana lagi nangis dan dikerubutin sama teman-teman ngana dan dihibur Sensei dari Jepang itu,” balas Jino.

“Hihihihi. Jadi malu… torang kalah, gagal juara,” kata Mauren.

“Berhasil Ren. Torang berhasil jadi juara,” katanya. “Ngana kalah diskualifikasi, tapi tendangan mawashi gerinya mantul banget waktu itu. Pasti sensei torang yang dari Jepang itu hebat, bisa ngajarin mawashi geri sejago itu.”

“Yang nglatih torang selain Sensei Nakamura, mama, dan Opa Lardo,” jawab Mauren pela.

“Opa Lardo? Siapa itu?” tanya Jino.

“Opa baru, baru kenalan di panti jompo, dia mantan karateka nasional,” kata Mauren pela.

Rommy diam saja, dia ragu-ragu mau mendekat atau tidak melihat kedekatan mereka berdua. “Rommy.”

Jino juga mengulurkan tangannya sambil berkata, “Jino. Latihan karate juga barusan?”

“Oh enggak, saya berlatih tinju di lapangan basket tadi,” jawab Rommy.

“Rommy mau gantiin Papa dan Kak Andre sebagai juara tinju,” jawab Mauren sambil tertawa.

Dalam hati Rommy syukurlah Mauren ngomong begitu, jadi Rommy nggak kelihatan lemah-lemah amat di hadapan cowok karateka ini.

“Tin! Tin!” suara klakson mobil Papa Mauren tiba-tiba terdengar dan dia langsung turun lalu berjalan menjemput Mauren.

“Pa, masih inget nggak, Jino, teman Mauren dulu di Manado?” Tanya Mauren sambil menggandeng papanya.

“Oh inget, masih latihan karate, Jin?” tanya Papa Mauren.

“Iya masih, Om. Apa kabar, Om?” sapa Jino.

“Kabar baik,” jawab Papa Mauren lalu mengalihkan pandangan ke Rommy. “Rom masih latihan tinju kah?”

“Masih, Om,” jawab Rommy.

“Kamu sudah dengar ada turnamen tinju remaja se-DKI 3 bulan lagi?” tanya Papa Mauren.

“Oh belum, Om,” jawab Rommy. “Besok saya tanya Coach Barda.”

“O, kalau Rommy ikut turnamen tinju, aku siap jadi sparing partnernya,” gurau Mauren, yang membuat hati Rommy meleleh lagi dan melupakan hatinya yang panas karena kehadiran Jino.

“Jangan bikin Mauren memilih lagi,” kata Papa Mauren dengan pelan kepada Jino.

Jino diam saja, tapi Rommy mengernyit dan berkata, “maksudnya memilih apa, om?”

Papa Mauren seperti tersadar telah salah bicara. “Sudahlah, om cuma salah ngomong.”

Mobil melaju pergi. Tapi kata “memilih lagi” itu bergema di kepala Rommy.

Berarti dulu sudah pernah ada pilihan. Dan Rommy tidak tahu dia sedang masuk ke medan perang yang dulu sudah pernah ada sebelum dirinya eksis.

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!