Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.
Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
song yan terluka
Mas Gatot benar-benar murka. Harga dirinya sebagai panglima elit hancur berkeping-keping karena bibir tebalnya dijadikan bahan percobaan lemak babi hutan oleh klan Oe. Dengan wajah memerah hingga ke telinga, ia memerintahkan pasukannya untuk mengejar dengan kecepatan penuh.
"Mebengek meken deye?! (Berengsek kalian semua?!)" teriak Mas Gatot, suaranya masih agak cadel karena sisa lemak di bibirnya. "Kejel mekele! Jengen melepasken Chen Song! (Kejar mereka! Jangan lepaskan Chen Song!)"
Pasukan Elang Emas membentuk formasi V-Lip (V-Lipstik), mengepung rumah melayang Ki Buyut Angin dari segala penjuru. Elang-elang mekanik itu menembakkan jaring-jaring energi yang mencoba mengikat rantai rumah tersebut.
Oe Asu (Melihat ke belakang) "Bos! Si Bibir Tebal itu tidak menyerah! Dia makin kencang, dan lihat... dia membawa pompa udara raksasa di punggungnya!"
Oe Lu Tung "Kurasa dia mau memompa bibirnya sendiri supaya bisa meledakkan rumah ini! Shan Tung, tambah gasnya!"
Oe Shan Tung (Sambil ngeden) "Gas habis, Bos! Tadi kebanyakan dipakai buat masak sup awan!"
Mas Gatot yang sudah berada tepat di belakang rumah Ki Buyut, mengambil sebuah alat berbentuk corong emas raksasa. Ia menempelkan bibir tebalnya ke corong tersebut, memperkuat resonansi suaranya hingga tingkat yang menghancurkan.
Mas Gatot "TIIIUUUUPAAAANNNNN RAZIAAAAA!!!!"
BOOOOMM! Gelombang suara dan angin yang keluar dari bibirnya menciptakan ledakan sonik. Rumah Ki Buyut berguncang hebat, genteng-gentengnya beterbangan, dan Oe Asu hampir saja terpental keluar kalau tidak ditarik oleh baju belakangnya oleh Luna.
Chen Song "Dia terlalu berisik. Luna, pinjamkan aku sedikit energi ungu-mu untuk memperkuat pedangku!"
Chen Song melompat ke atap rumah yang sedang bergoyang. Ia menyatukan api Bara Song dengan energi ungu Luna, menciptakan Pedang Plasma Es. Namun, Trio Oe punya ide yang lebih "brilian".
Oe Lu Tung "Song! Jangan dibunuh dulu! Kita kasih dia kejutan penutup! Shan Tung, lemparkan Karung Tepung Sagu!"
Oe Shan Tung melemparkan lima karung tepung sagu ke arah corong emas Mas Gatot. Saat Mas Gatot sedang asyik meniup dengan kekuatan penuh, tepung-tepung itu tersedot masuk ke dalam corong dan bercampur dengan air liur serta lemak babi yang masih tersisa di bibirnya.
Plok! Plok! Crot!
Udara yang tadinya murni kini dipenuhi gumpalan-gumpalan kenyal seperti cilok raksasa yang menempel di wajah Mas Gatot dan pasukannya. Karena panas dari mesin elang mekanik, tepung sagu itu langsung matang menjadi lem yang sangat lengket.
Mas Gatot: (Berusaha bicara tapi mulutnya terkunci oleh adonan sagu matang) "Mmph! Mmph! Mmmppphhh!"
Oe Asu "Wah, lihat! Panglima kita sekarang jadi Jenderal Cilok! Bibirnya terkunci rapat oleh kearifan lokal!"
Melihat Mas Gatot dan pasukannya sibuk mencungkil adonan sagu dari wajah dan mesin elang mereka, Chen Song memanfaatkan momen itu. Ia menghujamkan pedangnya ke mesin pendorong rumah Ki Buyut, menyuntikkan energi api untuk dorongan terakhir.
Chen Song "Selamat tinggal, Mas Gatot! Nikmati sarapan pagimu!"
Rumah itu melesat seperti roket, menembus awan kumulonimbus dan langsung menuju Puncak Nafas Terakhir, meninggalkan teriakan-teriakan tertahan dari Mas Gatot yang malang.
Di bagian lain dari Chika Sarenteng, jauh di bawah kemewahan pulau melayang, terdapat sebuah hutan purba yang dikenal sebagai Hutan Napas Tercekat. Di sinilah Song Yan merangkak keluar dari semak-semak berduri dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Jubah emasnya yang dulu melambangkan kemegahan kini hanya berupa kain compang-camping yang hangus. Lengan kanannya yang hilang akibat serangan Segel Kehampaan Luna Zhang kini dibalut dengan perban kasar dari kulit kayu sihir.
Song Yan bersandar pada sebuah pohon besar yang batunya berdetak seperti jantung. Setiap tarikan napasnya mengeluarkan darah hitam—tanda bahwa jiwanya telah terluka oleh energi ungu Luna.
Song Yan
(Terbatuk-batuk, suaranya parau dan penuh kebencian)
"Sialan... Segel Tua itu... Bagaimana mungkin gadis sekuler itu bisa menjadi wadah bagi kekuatan yang bahkan para Dewa pun takut"
Ia melihat ke arah langit, ke arah jalur yang dilewati Paus Angkasa tadi. Matanya yang merah karena amarah tidak lagi memancarkan kewibawaan, melainkan kegilaan.
Tiba-tiba, udara di sekitar Song Yan membeku, namun bukan hawa dingin milik Chen Song, melainkan dingin yang hampa. Sebuah bayangan muncul dari balik pepohonan—utusan rahasia dari Klan Zhang Utama.
Bayangan
"Kau tampak menyedihkan, Song Yan. Penguasa Pulau Rahasia dikalahkan oleh seorang wanita dan sekelompok preman konyol dari Ghudik?"
Song Yan
(Menyeringai sinis meskipun kesakitan)
"Diam kau, anjing Mo-nyong! Kalian juga tidak akan bisa menyentuhnya dengan mudah. Gadis itu bukan lagi Luna Zhang yang kalian buang... dia adalah bencana yang berjalan. Jika kau ingin dia, kau harus melewati mayat Chen Song yang kini memiliki api Bara Song."
Kini, tim lima orang harus berpacu dengan dua ancaman sekaligus: Mas Gatot yang masih sibuk dengan adonan cilok di bibirnya, dan Song Yan yang sedang menghancurkan fondasi energi negara tersebut dari bawah.
Oe Shan Tung
"Ayo semuanya! Pegangan pada perutku! Kita akan mendaki dengan gaya Bola Meriam!"